Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Garis yang Tak Terlihat

 

“Kamu sengaja mencariku, ya?”

Alina menghentikan langkahnya. Suara itu… terlalu familiar. Ia menoleh perlahan.

Arya berdiri di belakangnya, satu tangan dimasukkan ke saku celana, kemejanya masih sedikit basah oleh sisa hujan semalam.

“Aku?” Alina mengangkat alis. “Aku bahkan tidak tahu kamu bakal ada di sini.”

“Menarik,” Arya tersenyum tipis. “Karena aku tahu kamu akan lewat sini.”

Alina mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Aku lihat kamu dari halte kemarin,” jawabnya santai. “Jalur ini satu-satunya menuju rumah sakit umum terdekat.”

Alina langsung menegang. “Kamu mengikutiku?”

“Memastikan,” koreksi Arya. “Ada bedanya.”

“Buatku sama saja.”

“Buatku tidak.”

Hening sejenak. Alina menghela napas. “Kalau cuma mau memastikan aku tidak mencuri lagi, kamu bisa langsung pergi.”

“Aku tidak pernah bilang kamu mencuri.”

Alina menatapnya tajam. “Tapi kamu juga tidak membelaku.”

“Karena aku belum tahu kebenarannya.” Arya tidak mau disalahkan. 

“Dan sekarang?”

Arya mendekat satu langkah. “Aku masih mencari.”

“Bagus,” balas Alina cepat. “Cari saja. Tapi jangan ganggu hidupku.”

“Aku justru ingin membantumu.”

Alina tertawa kecil. “Orang seperti kamu membantu orang seperti aku? Kedengarannya seperti lelucon.”

“Kenapa kamu selalu pakai kalimat ‘orang seperti kamu’ dan ‘orang seperti aku’?” tanya Arya.

“Karena itu kenyataan.”

“Atau karena kamu sudah terbiasa diposisikan seperti itu?”

Alina terdiam. Sejenak. Lalu hening 

Lalu ia menggeleng. “Aku tidak punya waktu untuk diskusi filosofi pagi-pagi.”

Ia berbalik hendak pergi. “Alina.”

Langkahnya terhenti lagi. “Apa?”

“Aku bisa memberimu pekerjaan.”

Hening. Alina menoleh perlahan. “Kamu bercanda?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku butuh seseorang yang jujur.”

Alina terkekeh pahit. “Lucu. Semua orang bilang aku pencuri, tapi kamu cari orang jujur dariku?”

“Karena aku tidak melihatmu sebagai pencuri.”

“Lalu sebagai apa?”

Arya menatapnya lurus. “Seseorang yang sedang dijebak.”

Deg. Jantung Alina berdegup lebih cepat.

“Kamu terlalu percaya diri,” katanya pelan.

“Dan kamu terlalu cepat menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

“Lalu kenapa kamu pergi begitu saja kemarin?”

“Karena tidak ada yang mau mendengarku!”

Nada suaranya naik tanpa ia sadari. Arya tidak mundur.

“Sekarang aku mendengarmu.”

Hening. Angin pagi berhembus pelan.

Alina memalingkan wajah. “Aku tidak butuh simpati.”

“Aku juga tidak memberi simpati.”

“Lalu apa?”

“Kesempatan.”

Alina menatapnya lagi. Lama. “Kenapa aku harus percaya kamu?”

“Kamu tidak harus,” jawab Arya tenang. “Tapi kamu juga tidak punya banyak pilihan, kan?”

Kalimat itu menusuk. Tepat sasaran. Alina mengepalkan tangan.

“Kamu pintar membaca situasi.”

“Aku terbiasa.”

“Dan terbiasa mengendalikan orang?”

Arya tersenyum tipis. “Tidak semua orang bisa dikendalikan.”

“Bagus,” balas Alina cepat. “Karena aku bukan salah satunya.”

Arya tertawa pelan. Dan entah kenapa… suara itu terasa ringan. Berbeda dari yang ia bayangkan.

 

---

 

“Jadi… kamu benar-benar serius?”

Suara itu memotong suasana. Alya. Ia berdiri beberapa meter dari mereka, mengenakan kacamata hitam besar, tapi ekspresinya tetap terbaca jelas. Tajam. Dingin. Dan… tidak senang.

“Mas Arya,” suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. “Aku kira kita punya jadwal meeting pagi ini.”

Arya menoleh. “Kita masih punya waktu.”

Alya melangkah mendekat. Tatapannya langsung beralih ke Alina. “Kamu lagi.”

Alina menyilangkan tangan. “Sayangnya iya.”

“Apa kali ini?” tanya Alya. “Mencari target baru?”

"Apa maksudmu?” Alina menyipitkan mata.

Alya tersenyum tipis.

“Kamu cepat sekali beradaptasi.”

“Aku tidak mengerti.”

“Baru kemarin dipecat,” lanjut Alya santai, “hari ini sudah dekat dengan orang yang sama.”

Alina tertawa kecil.

“Kalau kamu cemburu, bilang saja.”

Suasana langsung menegang. Arya mengangkat alis.

“Cemburu?” ulang Alya, nadanya turun. “Pada siapa?”

Alina melangkah mendekat. “Pada kemungkinan bahwa kamu salah.”

Deg. Alya menatapnya tajam. “Aku tidak pernah salah.”

“Semua orang bilang begitu sebelum terbukti sebaliknya.”

“Dan kamu pikir kamu yang akan membuktikannya?”

“Aku tidak perlu berpikir,” jawab Alina pelan. “Aku akan melakukannya.”

Hening. Ketegangan terasa semakin tebal. Alya beralih ke Arya.

“Jadi ini rencanamu?” tanyanya dingin. “Mendekati dia?”

“Aku menawarkan pekerjaan,” jawab Arya santai.

Alya tertawa kecil.

“Kamu serius?”

“Kenapa tidak?”

“Karena dia—”

“—Bukan pencuri,” potong Arya tegas.

Sunyi. Alya membeku. Alina juga. Itu pertama kalinya Arya mengatakannya secara langsung. Di depan Alya.

“Kamu yakin?” suara Alya berubah tajam.

“Tidak,” jawab Arya jujur. “Tapi aku juga tidak yakin dia bersalah.”

“Itu cukup untuk membuatmu membawanya masuk ke dalam hidupmu?”

“Aku tidak membawa siapa pun,” balas Arya. “Aku hanya membuka pintu.”

Alya menatapnya dalam. Lalu tersenyum. Tapi kali ini… senyumnya dingin.

“Satu hal yang harus kamu ingat,” katanya pelan. “Tidak semua orang yang kamu selamatkan… layak diselamatkan.”

Alina mendengus. “Dan tidak semua orang kaya… tahu cara menilai orang,” balasnya.

Alya menoleh cepat.

“Kamu—”

“Aku apa?” tantang Alina.

“Berani sekali kamu.”

"Karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.”

Kalimat itu membuat Alya terdiam. Sejenak. Hanya sejenak. Arya memperhatikan keduanya. Matanya menyipit tipis.

“Ini bukan hanya tentang pekerjaan, ya,” gumamnya.

“Jangan ikut campur,” kata Alya.

“Aku sudah terlibat,” balas Arya.

“Karena kamu memilih,” tambah Alina.

Hening. Tiga orang. Tiga arah. Satu benang kusut yang mulai menjerat mereka semua.

“Baik,” Alya mengangguk pelan. “Kalau kamu ingin bermain seperti ini…”

Ia menatap Alina lurus-lurus.

“Aku akan pastikan kamu menyesal.”

Alina tidak mundur.

“Aku sudah terbiasa menyesal,” jawabnya. “Sekarang giliran orang lain.”

Tatapan mereka kembali bertabrakan. Lebih panas dari sebelumnya. Lebih berbahaya. Arya menghela napas pelan.

“Sepertinya aku harus mulai mencari tahu lebih cepat,” katanya.

“Silakan,” jawab Alya dingin.

“Dan saat kamu menemukan kebenarannya,” tambah Alina, “jangan kaget kalau itu tidak sesuai harapanmu.”

Arya menatap mereka bergantian. Lalu tersenyum tipis.

“Aku justru berharap begitu.”

Hening. Beberapa detik berlalu. Lalu—“Aku tunggu jawabanmu,” katanya pada Alina. “Tentang pekerjaan itu.”

Alina tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Lama.

“Kenapa aku merasa ini bukan cuma soal pekerjaan?” tanyanya pelan.

Arya menatapnya balik. “Karena memang bukan.”

Deg. Jantung Alina kembali berdegup tidak teratur.

Alya memperhatikan itu. Dan untuk pertama kalinya… ada sesuatu yang mengusik di dadanya. Bukan marah. Bukan kesal. Tapi… tidak nyaman.

“Mas Arya,” suaranya lebih dingin dari sebelumnya. “Kita pergi sekarang.”

Arya tidak langsung bergerak. Matanya masih tertuju pada Alina.

“Jangan lama-lama,” kata Alya lagi. Nada itu… sedikit berbeda. Alina menyadarinya. Dan ia tersenyum tipis.

“Kamu takut?” tanyanya pelan.

Alya menoleh tajam. “Aku tidak pernah takut.”

“Kalau begitu kenapa terburu-buru?”

Alya tidak menjawab. Ia hanya berbalik.

“Mas Arya.” Kali ini lebih tegas. Arya akhirnya menghela napas.

“Kita

lanjut nanti,” katanya pada Alina.

Alina mengangguk kecil.

“Kalau aku tertarik.”

Arya tersenyum. “Aku akan membuatmu tertarik.”

Deg.

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa…terasa berbeda. Alya melihat semuanya. Dan kali ini—ia benar-benar tidak menyukainya.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!