Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Di Balik Debu Pelabuhan
“Kalau kamu datang ke sini untuk menyuruhku berhenti, lebih baik putar balik mobilmu sekarang juga, Alina!”
Alya berdiri di bawah kerangka crane pelabuhan yang menjulang tinggi, tangannya yang bersarung tangan kain kotor memegang selembar manifes digital yang tercetak kasar di atas kertas buram. Angin laut malam itu membawa butiran garam dan aroma besi berkarat, menampar wajah mereka berdua. Alina, yang mengenakan setelan blazer sutra seharga mobil kelas menengah, tampak sangat kontras dengan latar belakang kontainer baja yang ditumpuk semrawut.
Alina melangkah maju, sepatunya yang bertumit tinggi sedikit goyah di atas permukaan beton dermaga yang tidak rata. “Siapa yang bilang aku mau menyuruhmu berhenti? Aku hanya tidak menyangka, sebagai Direktur Utama, aku harus datang ke Tanjung Priok jam sembilan malam hanya untuk menjemput adikku yang sedang menjadi kuli manifes.”
Alya tertawa, suaranya tenggelam oleh deru mesin genset kapal kargo. “Bukan kuli, Al. Aku sedang memastikan bahwa tiga puluh kontainer yang tertahan kemarin tidak akan terulang lagi. Ingat celah sistem kita? Aku sedang mengetes sistem baru yang kita rancang bersama tim lapangan.”
“Hasilnya?” Alina menyibakkan rambutnya yang tergerai karena angin, matanya menatap tajam ke arah jejeran truk yang mulai bergerak masuk ke area gerbang.
“Seratus persen akurasi. Tidak ada lagi pesan error karena resolusi foto yang rendah. Kita menghemat dua jam waktu bongkar muat,” jawab Alya bangga, lalu menyerahkan kertas manifesnya. “Lihat, tidak ada lagi coretan manual di sini.”
Alina menerima kertas itu, memeriksanya sejenak di bawah lampu sorot dermaga yang temaram. “Pintar. Tapi, Al, kamu tidak bisa terus-terusan berada di bawah sini. Besok, Papa sudah mengundang dewan direksi untuk makan siang resmi di lantai empat puluh dua. Beliau ingin kamu hadir sebagai tamu kehormatan atas keberhasilan divisi komplain.”
Alya terdiam, menatap deretan kontainer yang perlahan menjauh ke arah gerbang keluar. “Tamu kehormatan? Apa itu artinya aku harus memakai gaun berenda yang disediakan Papa?”
“Aku sudah menyiapkan setelan pantalon sutra hitam. Tidak ada renda, tidak ada manik-manik,” Alina tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Kamu harus menunjukkan pada mereka bahwa Wijaya Corp sekarang memiliki pemimpin lini dasar yang kompeten.”
“Baiklah, Nona Direktur. Tapi dengan satu syarat,” Alya menatap Alina dengan jahil.
“Apa syaratnya?”
“Setelah acara selesai, kamu harus ikut aku makan sate kambing di warung Cak Mul. Aku sudah janji pada Pak Joko kalau kita akan meninjau langsung operasional pengiriman mereka minggu depan.”
Alina bergidik ngeri, namun ia mengangguk pasrah. “Demi Wijaya Corp, aku rela makan sate di bawah jembatan layang.”
Keesokan harinya, ruang rapat lantai empat puluh dua tampak seperti istana yang hening. Bau parfum mahal dan kesunyian yang mencekam mengisi setiap sudut ruangan. Meja panjang itu diisi oleh pria-pria tua berjas rapi yang menatap Alya dengan pandangan merendahkan—seperti menatap seorang anak kecil yang tersesat di perpustakaan orang dewasa.
“Jadi, Nona Alya, Anda merasa bahwa mengubah sistem logistik kita dengan bahasa lapangan adalah kemajuan?” tanya Pak Tan, salah satu direktur senior yang paling konservatif.
Alya berdiri di ujung meja, kemeja hitamnya tampak elegan dan tegas. “Bahasa lapangan yang saya gunakan adalah realitas, Pak. Perusahaan kita memproduksi baja, bukan menulis puisi hukum. Kalau sistem yang kita buat membuat vendor tidak bisa berkomunikasi, maka sistem itulah yang gagal, bukan vendornya.”
“Lancang sekali,” gumam salah satu direktur lainnya.
Wijaya, yang duduk di kepala meja, hanya terdiam, memutar cangkir kopinya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Izinkan saya menunjukkan sesuatu,” Alya menekan tombol remote, memunculkan grafik pada layar besar di depan. Bukan grafik keuntungan yang rumit, melainkan foto-foto perbandingan antara sistem lama dan sistem baru. Ia menunjukkan foto tangan sopir yang tertutup debu, lalu menunjukkan hasil pindai dokumen di layar ponsel mereka yang kini terbaca dengan sempurna.
“Ini adalah data yang dihasilkan oleh keringat. Bukan oleh teori di balik meja ruang ber-AC ini,” lanjut Alya dengan suara yang tenang namun berwibawa. “Jika kita ingin Wijaya Corp mendominasi proyek pelabuhan fase dua, kita harus berhenti melihat vendor kita sebagai beban, dan mulai melihat mereka sebagai ujung tombak.”
Ruang rapat mendadak senyap. Tidak ada lagi yang berbisik. Bahkan Pak Tan yang tadi tampak kesal, kini menatap layar itu dengan dahi yang berkerut dalam.
Setelah rapat selesai, ruangan perlahan mulai kosong. Wijaya tetap duduk di kursinya, menunggu hingga putrinya mendekat.
“Papa tidak pernah menyangka kamu akan menggunakan pendekatan agresif seperti itu,” ucap Wijaya sambil tersenyum bangga.
“Tadi itu bukan agresif, Pa. Itu kejujuran,” jawab Alya sambil merapikan tas kerjanya.
“Al, Papa sudah memikirkannya. Mulai bulan depan, Papa ingin kamu menjadi Vice President operasional di lantai empat puluh dua. Kamu butuh staf, butuh asisten, dan fasilitas yang memadai.”
Alya menatap ayahnya, lalu menatap Alina yang berdiri di samping mereka. Ia melihat kilatan harapan di mata saudarinya itu.
“Terima kasih, Pa. Tapi saya masih butuh satu bulan lagi di lantai dasar,” Alya menjawab dengan nada rendah.
“Satu bulan lagi? Untuk apa?” tanya Wijaya heran.
“Ada satu masalah yang belum selesai, Pa. Soal transparansi harga pengadaan alat berat yang masih dimanipulasi oleh oknum internal di tingkat manajer lapangan. Saya butuh waktu untuk mengumpulkan bukti fisiknya agar tidak ada lagi yang bisa berdalih.”
Wijaya menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. “Ternyata kamu benar-benar rayap pembersih yang berbahaya, ya?”
“Bukan berbahaya, Pa. Cuma memastikan fondasi kita tidak keropos lagi,” Alya tersenyum lebar.
Sore harinya, Alya benar-benar memenuhi janjinya. Ia menunggu di depan gerbang utama, dan tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berhenti. Alina keluar dengan pakaian yang jauh dari kata formal—ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans.
“Jadi, mana warung sate Cak Mul itu?” tanya Alina sambil menatap sekeliling dengan ragu.
“Ikut saja, Direktur Utama yang terhormat,” Alya menarik tangan kembarannya menuju taksi daring yang sudah menunggu.
Setibanya di warung tenda Cak Mul, suasana benar-benar berbeda. Asap sate mengepul, aroma bumbu kacang memenuhi udara, dan Pak Joko bersama rekan-rekannya sedang duduk di kursi plastik yang berdecit.
“Lho, Nona Alya datang lagi? Dan ini... ini Nona Alina?” tanya Pak Joko sambil berdiri dengan kaget.
“Iya, Pak Joko. Saya ajak kembaran saya buat mencicipi sate terbaik di seluruh area pelabuhan,” jawab Alya riang.
Alina duduk dengan kikuk di kursi plastik. Cak Mul segera datang membawa dua piring penuh sate dengan bumbu kacang yang melimpah.
“Silakan, Nona,” ujar Cak Mul ramah.
Alina memperhatikan saudarinya yang sedang memakan sate dengan lahap menggunakan tangan, tidak peduli bumbu kacang yang sedikit menempel di jarinya. Perlahan, Alina mengambil sepotong sate, lalu memakannya dengan hati-hati.
“Bagaimana?” tanya Alya dengan mulut penuh.
Alina terdiam sejenak, merasakan ledakan rasa gurih dan manis di lidahnya. Ia menoleh ke arah Pak Joko yang sedang tertawa bersama sopir-sopir lainnya, lalu kembali menatap saudarinya.
“Ini... jauh lebih enak daripada makan malam di ruang direksi,” jawab Alina jujur.
Alya tersenyum, menyandarkan tubuhnya ke meja kayu yang sederhana. “Di sini, kita tidak perlu jadi Direktur atau staf magang. Kita cuma manusia yang butuh makanan untuk bekerja besok pagi. Dan itulah yang membuat Wijaya Corp nantinya akan benar-benar besar, Lin. Karena kita sudah belajar untuk turun ke bawah dan mencicipi keringat yang sama dengan mereka.”
Alina menatap langit malam Jakarta yang tertutup asap, namun di matanya, gedung Wijaya Corp yang tampak dari kejauhan tidak lagi terlihat seperti menara gading yang angkuh. Itu adalah tempat di mana mereka, bersama-sama, telah mengubah cara pandang mereka terhadap dunia.
Ponsel Alya bergetar. Sebuah pesan dari Kai masuk:
“Sudah makan sate kambing? Jangan lupa, kambing di sana tidak sekeras hidup di lantai dasar, kan?”
Alya terkekeh, mengetik balasan dengan jemari yang masih berbau bumbu kacang:
“Hidup di lantai dasar sudah jadi sarapanku setiap pagi, Kai. Dan sate ini? Ini adalah kemenangan terlezat yang pernah kurasakan. Sampai bertemu di proyek pelabuhan bulan depan.”
Alya menutup ponselnya, lalu menatap Alina yang kini tampak begitu rileks dan damai. Di warung tenda sederhana ini, di bawah deru suara pelabuhan yang tidak pernah tidur, Alya tahu bahwa perjalanannya baru saja mencapai babak baru yang lebih menantang. Namun, dengan seorang kembaran di sampingnya dan segumpal keyakinan di dalam dada, Alya siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan. Jalan di depan masih panjang, berbatu, dan penuh debu, tetapi Alya tidak lagi ingin menghindar. Ia justru ingin merasakannya—setiap debu, setiap tantangan, setiap kemenangan—karena di sanalah, di balik kilap baja yang dingin, ia telah menemukan jiwanya yang sebenarnya.