Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Di Lantai Atas

 

“Jadi, kamu sengaja membiarkan tanganmu kapalan seperti ini hanya untuk membuktikan pada Papa kalau kamu bisa jadi kuli?”

Suara Alina memecah keheningan ruang kerja Direktur Utama di lantai empat puluh dua. Ia meletakkan cangkir porselennya dengan denting halus, matanya tertuju pada jemari Alya yang sedang memegang tepi meja kaca. Di luar dinding kaca raksasa, lampu-lampu kota Jakarta malam hari berkerlap-kerlip seperti berlian yang terserak.

Alya tidak menarik tangannya. Ia justru tersenyum, menatap telapak tangannya yang kini agak kasar di bagian bawah jemari. “Ini bukan kapalan kuli, Alina. Ini tanda kalau aku tidak lagi menggunakan tangan ini hanya untuk menunjuk dan menyuruh orang lain.”

“Papa terus menanyakanmu sejak rapat pleno sore tadi.” Alina menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk. “Beliau heran kenapa laporan audit logistik bulan ini bisa sebersih ini. Tidak ada satu pun angka yang melesat.”

“Katakan pada Papa, itu karena Pak Hadi dan tim gudang tidak perlu takut lagi pada bayang-bayang Mas Haryo.”

“Kamu tahu Mas Haryo mencoba menghubungiku dari balik sel?”

Alya mendongak, matanya menyipit. “Untuk apa? Meminta belas kasihan?”

“Dia bilang kamu menjebaknya. Dia bilang anak manja seperti kamu tidak mungkin tahu cara kerja manifes digital kalau tidak ada yang membocorkannya.” Alina terkekeh pelan—sebuah suara yang sangat langka. “Dia pikir aku yang menyetirmu dari atas sini.”

“Biarkan saja dia berpikir begitu,” sahut Alya tenang, menyesap teh hangat yang disediakan sekretaris Alina. “Orang seperti Mas Haryo tidak akan pernah paham kalau seseorang bisa berubah karena terbiasa melihat ketulusan, bukan uang.”

Ruangan mewah itu terasa sangat kontras dengan dermaga pelabuhan tempat Alya menghabiskan waktu seminggu terakhir. Di sini, udara beraroma parfum mahal dan pendingin ruangan berembus tanpa suara. Sangat bersih. Namun, bagi Alya, udara di sini terasa sedikit lebih mencekik daripada bau solar di bawah sana.

“Lalu sekarang apa rencanamu, Al?” Alina melipat tangannya di atas meja. “Pak Hadi bilang kamu sudah menyelesaikan semua verifikasi aset di lantai dasar.”

“Aku mau minta izin pindah divisi.”

Alina menaikkan sebelah alisnya. “Ke mana? Keuangan? Pemasaran? Ruangan di lantai tiga puluh masih kosong kalau kamu mau.”

“Aku mau ke divisi layanan pelanggan dan komplain,” jawab Alya mantap.

“Layanan pelanggan? Tempat orang-orang marah-marah karena barang terlambat atau rusak?” Alina menggelengkan kepala. “Kamu gila. Di sana tidak ada ruang untuk negosiasi, Al. Isinya cuma makian dari vendor dan konsumen makro.”

“Justru karena itu aku harus di sana, Alina. Di logistik aku belajar bagaimana barang itu bergerak. Di layanan pelanggan, aku mau mendengar suara mereka yang kecewa karena kesalahan kita.”

“Kamu tidak perlu menurunkan derajatmu sampai sedalam itu hanya untuk membuktikan sesuatu pada dunia, Alya Wijaya.”

Alya berdiri, berjalan mendekati dinding kaca, menatap kemacetan Jakarta di bawah sana yang tampak seperti aliran lava merah. “Ini bukan tentang pembuktian, Al. Ini tentang aku yang tidak mau lagi hidup di dalam toples kaca.”

Alina tertegun mendengar kalimat terakhir adiknya. “Toples kaca?”

“Iya. Tempat di mana kita merasa aman, merasa paling tinggi, tapi sebenarnya kita cuma tontonan yang tidak tahu bagaimana rasanya menginjak tanah basah.” Alya menoleh, menatap kembarannya dengan sorot mata lembut. “Aku belajar istilah itu dari seseorang di Chiang Mai.”

Pintu ruangan terbuka setelah ketukan dua kali yang pelan. Arya masuk membawa beberapa dokumen bersampul merah, namun langkahnya terhenti saat melihat kedua saudari kembar itu sedang berhadapan.

“Wah, aku mengganggu rapat rahasia para penguasa masa depan, ya?” canda Arya, mencoba mencairkan atmosfer.

“Masuk saja, Kak Arya,” kata Alya sambil tersenyum. “Aku baru saja minta dipindahkan ke divisi komplain.”

Arya melotot, menatap Alina lalu beralih ke Alya. “Komplain? Kamu serius, Al? Di sana itu ketuanya Bu Ratna. Kamu tahu sendiri kan, julukan Bu Ratna di kantor ini apa?”

“Macan Kebayoran?” tebak Alya sambil tertawa.

“Bukan, itu terlalu halus,” sahut Arya sambil meletakkan dokumen di meja Alina. “Julukannya adalah ‘Mesin Penghancur Gengsi’. Staf baru biasanya menangis di hari pertama karena cara bicaranya yang tidak pakai saringan. Kamu yakin kuat?”

“Aku sudah pernah menghadapi Paman Somchai saat sapinya mengamuk karena telat diberi makan, Kak. Cara bicara Bu Ratna tidak akan lebih buruk dari serudukan sapi.”

Alina menghela napas panjang, lalu menarik dokumen merah di depannya. “Arya, buatkan surat perpindahan tugas untuk Alya per besok pagi. Taruh dia di meja paling depan, bagian penanganan klaim vendor macet.”

Arya menatap Alina dengan tidak percaya. “Kamu benar-benar mengizinkannya, Lin?”

“Dia yang meminta,” jawab Alina dingin, namun jarinya mengetuk meja dengan ritme yang halus. “Dan jujur saja, aku ingin tahu seberapa kuat anggrek pilihan Rendy itu bertahan di bawah semprotan Bu Ratna.”

Alya tersenyum lebar, membungkuk pelan ke arah adiknya. “Terima kasih, Ibu Dirut. Saya tidak akan mengecewakan perusahaan.”

Pukul sebelas malam, Alya berjalan keluar dari gedung Wijaya Corp. Kali ini ia tidak pulang bersama Arya. Ia memilih untuk memesan taksi daring dari lobi depan. Saat menunggu di undakan tangga, angin malam Jakarta yang hangat menerpa wajahnya.

Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang bergetar pendek. Sebuah pesan teks masuk dari nomor yang sangat ia kenal.

“Anggreknya sudah mekar dua kelopak pagi ini. Di Jakarta sudah ada yang layu?”

Alya terkekeh, jemarinya dengan cepat mengetik balasan di layar:

“Belum ada yang layu, Kai. Malah besok aku akan masuk ke kandang macan yang baru. Doakan saja cermin darimu tidak pecah kena amukan vendor.”

Hanya butuh beberapa detik sampai balasan berikutnya masuk:

“Macan atau babi sama saja, Al. Yang penting jangan lupa pakai sepatu bot mentalmu. Selamat bertarung.”

Alya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya. Ia membuka pintu taksi, duduk di kursi belakang, dan menatap gedung Wijaya Corp yang menjulang tinggi ke langit malam melalui jendela.

Dulu, gedung itu terasa seperti istana tempat ia bisa bermanja dan bersembunyi di balik nama besar ayahnya. Sekarang, gedung itu adalah arena tempat ia membentuk dirinya sendiri menjadi manusia yang utuh. Langkah pertamanya di lantai dasar sudah selesai, dan besok, di meja komplain yang bising, Alya siap menghadapi badai berikutnya dengan kepala tegak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!