Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Di Bawah Langit Chiang Mai

 

"Kamu mau membuang sisa nasi itu? Kamu tahu berapa banyak keringat petani yang ada di dalam mangkuk kecil ini?"

Alya tertegun, tangannya yang memegang piring plastik membeku di atas tempat sampah. Ia menoleh, menatap seorang pria lokal berkaus oblong pudar yang sedang sibuk memotong bambu di teras pondok.

"Ini cuma sisa tiga suap, Kai. Sudah dingin dan keras," bantah Alya, suaranya masih membawa sisa keangkuhan dari Jakarta, meski kini ia hanya mengenakan celana kain longgar dan kaus oblong yang dibelinya di pasar loak.

Pria bernama Kai itu meletakkan parangnya, lalu berjalan mendekat. Ia mengambil mangkuk dari tangan Alya. "Di sini, nasi bukan cuma makanan. Ini adalah nyawa. Kalau kamu tidak sanggup menghabiskannya, berikan pada ayam-ayam di belakang. Jangan biarkan tanah menangis karena mubazir."

Alya menghela napas panjang, lalu merampas kembali mangkuknya. Dengan wajah cemberut, ia menyuapkan sisa nasi keras itu ke mulutnya. "Puas?"

Kai terkekeh, matanya menyipit ramah. "Bagus. Kamu mulai belajar. Jadi, sudah berapa hari kamu tidak menyentuh kartu kreditmu?"

"Sepuluh hari, dua jam, dan lima belas menit," sahut Alya cepat. Ia duduk di bangku kayu yang kasar, menatap jemarinya yang kini tak lagi berhias manikur mahal. "Rasanya seperti mau mati, Kai. Aku ingin kopi mahal, aku ingin tidur di kasur yang tidak ada kutunya, dan aku ingin mandi tanpa harus menimba air sendiri."

"Tapi kamu masih hidup, kan?"

"Secara teknis, iya. Tapi jiwaku rasanya sedang diperas."

"Itu namanya pembersihan, Alya. Kamu terlalu banyak menimbun sampah kemewahan di kepalamu sampai kamu lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang berpijak di bumi."

Alya terdiam, menatap hamparan sawah di pinggiran Chiang Mai yang mulai menguning. Sudah sebulan ia melarikan diri dari bayang-bayang kejayaan Wijaya Corp. Ia memilih tempat terpencil ini karena tidak ada yang mengenalnya sebagai "Putri Wijaya". Di sini, ia hanya Alya, turis yang tampak bingung dan tidak bisa melakukan apa-apa.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Kai? Kenapa kamu mau menampung orang manja sepertiku di pondokmu?"

Kai kembali memotong bambu. "Karena matamu mirip dengan seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku dulu."

Alya mengernyit. "Siapa?"

"Seorang gadis petarung di jalanan Bangkok. Dia tegas, bicaranya pedas, dan tenaganya seperti banteng. Tapi saat dia melihat anak kucing yang kelaparan, dia akan memberikan sisa uang terakhirnya untuk membeli susu," Kai tersenyum tipis. "Melihatmu pertama kali di stasiun kemarin, kamu terlihat sangat sombong, tapi matamu ketakutan. Kamu seperti seseorang yang sedang berusaha keras menjadi jahat padahal hatimu lelah."

Alya menunduk, memainkan ujung kausnya. "Aku punya kembaran. Dia persis seperti gadis yang kamu ceritakan. Kuat, tangguh, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namanya Alina."

"Lalu kenapa kamu tidak bersamanya?"

"Karena aku iri padanya. Aku benci karena dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun, sementara aku... aku cuma parasit yang memakai tas bermerek."

Keesokan harinya, Kai mengajak Alya ke pasar lokal pukul lima pagi. Udara pegunungan Chiang Mai sangat menusuk tulang.

"Kita mau beli apa? Aku cuma punya sisa uang seratus Baht," keluh Alya sambil mengeratkan jaketnya.

"Kita tidak beli apa-apa. Kita bekerja," ujar Kai pendek.

"Bekerja? Maksudmu?"

Kai menunjuk ke sebuah gerobak sayur yang baru datang. "Bantu Bibi Sumi membongkar muatan itu. Dia akan memberimu sekantong sayuran dan telur sebagai upah. Itu makan siangmu nanti."

Alya melongo. "Kai, kamu bercanda? Aku tidak pernah mengangkat beban seberat itu!"

"Pilihan ada di tanganmu. Kerja dan makan, atau diam dan lapar."

Alya menatap tangannya yang halus, lalu menatap Bibi Sumi—wanita tua yang punggungnya sudah membungkuk namun tetap semangat mengangkat keranjang sawi. Tiba-tiba, wajah Alina terlintas di benaknya. Ia teringat bagaimana Alina bercerita tentang masa-masanya menjadi kasir minimarket, berdiri belasan jam hanya untuk sesuap nasi.

"Minggir, Kai. Aku akan melakukannya," desis Alya.

Selama dua jam, Alya bergelut dengan lumpur, keringat, dan bau sayuran busuk. Ia berkali-kali nyaris menyerah saat punggungnya terasa mau patah. Namun setiap kali ia ingin berhenti, ia teringat tatapan tajam Alina yang seolah berkata, 'Baru segini saja sudah menyerah?'

Saat matahari mulai naik, Bibi Sumi memberikan Alya sekantong plastik berisi telur, sawi, dan dua ikat kangkung.

"Terima kasih, Bibi," ucap Alya dengan suara tulus yang jarang ia gunakan.

"Sama-sama, Nak. Kamu punya tenaga yang bagus," puji Bibi Sumi dalam bahasa lokal yang sederhana.

Alya berjalan kembali ke pondok dengan langkah gontai, tapi ada senyum kecil di bibirnya. Ia memandangi kantong sayur itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.

"Rasanya beda, kan?" tanya Kai yang berjalan di sampingnya.

"Beda apa?"

"Makan hasil keringat sendiri. Rasanya lebih manis daripada makanan di restoran bintang lima yang dibayar pakai uang orang tua."

Alya mengangguk pelan. "Aku baru sadar, Kai. Selama ini aku bukan membenci Alina. Aku membenci diriku sendiri yang terlalu lemah untuk menjadi seperti dia."

Sore harinya, mereka duduk di pinggir sungai kecil di belakang pondok. Kai sedang memperbaiki atap bocor, sementara Alya belajar memotong sayur dengan benar.

"Kai, kamu benar-benar mengingatkanku pada seseorang."

"Siapa lagi?"

"Alex. Teman Alina. Dia juga pendiam dan menyebalkan sepertimu, tapi dia orang paling tulus yang pernah kutemui," Alya meletakkan pisau, menatap pantulan dirinya di air sungai. "Dulu aku berpikir hidup itu tentang siapa yang paling banyak punya harta. Tapi di sini, melihatmu bahagia hanya dengan bambu dan sawah... aku merasa sangat kecil."

"Harta itu seperti air laut, Alya. Semakin banyak kamu minum, semakin haus kamu jadinya," Kai turun dari tangga, lalu duduk di samping Alya. "Kamu tahu apa yang paling mahal di dunia ini?"

"Apa? Berlian?"

"Bukan. Kedamaian saat kamu bisa tidur nyenyak karena tidak berutang budi atau menyakiti siapa pun hari itu."

Alya terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana ia mencoba menjatuhkan Alina di kantor, bagaimana ia bekerja sama dengan musuh hanya untuk memuaskan egonya. Rasa malu mulai menjalar di dadanya.

"Apa menurutmu Alina akan memaafkanku?"

"Orang sekuat dia biasanya punya hati yang lapang. Tapi dia tidak butuh permintaan maafmu, Alya. Dia butuh melihatmu berdiri di atas kakimu sendiri."

Tiba-tiba, ponsel tua Alya yang hanya bisa digunakan untuk berkirim pesan pendek bergetar. Sebuah pesan dari nomor internasional masuk.

“Alya, Ibu menanyakanmu setiap hari. Dia merajutkan syal untukmu karena katanya udara di Chiang Mai sedang dingin. Pulanglah kalau kamu sudah menemukan apa yang kamu cari. Kursi di meja makan selalu kosong untukmu.”

Alya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah begitu saja. Pesan itu dari Alina. Singkat, padat, tanpa basa-basi, namun penuh kehangatan yang menusuk jantung.

"Dia tahu aku di sini?" tanya Alya terisak.

Kai tersenyum misterius. "Mungkin dia yang memintaku menjagamu di stasiun waktu itu."

Alya menoleh tajam. "Apa? Kai! Jadi kamu..."

"Aku tidak bilang aku bekerja untuknya," potong Kai cepat sambil tertawa. "Aku cuma bilang aku kenal gadis petarung yang hebat. Dia mengirimimu uang saku lewat aku, tapi aku menolaknya. Aku bilang padanya, 'Saudarimu butuh belajar mencangkul, bukan belanja'."

Alya tertawa di tengah tangisnya. Ia melemparkan segenggam rumput ke arah Kai. "Kalian berdua benar-benar jahat! Komplotan yang luar biasa!"

"Tapi berhasil, kan?"

Alya menghapus air matanya, lalu berdiri tegak. Ia menatap ke arah selatan, ke arah rumah. "Iya, berhasil. Sampaikan padanya, Kai. Bilang pada Alina, aku tidak akan pulang sebagai parasit lagi. Aku akan pulang sebagai orang yang bisa dia andalkan untuk menjaga Ibu."

"Bagus," Kai mengangguk puas. "Tapi sebelum pulang, selesaikan dulu itu sayurnya. Aku lapar."

Alya mengambil pisau itu kembali, memotong sawi dengan gerakan yang lebih mantap. Di bawah langit Chiang Mai yang tenang, Alya akhirnya mengerti bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang yang berlutut di bawah kakimu, tapi pada seberapa berani kamu berlutut untuk memungut sisa nasi dan menghargai setiap napas yang diberikan Tuhan.

Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih... Alina. Tapi dengan versinya sendiri.

"Kai, ajari aku cara menanam padi besok," ujar Alya mantap.

"Tanganmu bakal kapalan."

"Tidak apa-apa. Kapalan ini akan jadi bukti kalau aku bukan lagi boneka kaca yang mudah pecah."

Kai tersenyum, menatap langit yang mulai jingga. Di kejauhan, burung-burung terbang kembali ke sarangnya, persis seperti Alya yang kini sedang menyiapkan jalan untuk kembali ke rumah dengan martabat yang baru.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!