Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Taring di Balik Senyum

Angin kencang berembus di balkon lantai tiga puluh enam gedung Wijaya Group, menerbangkan ujung rambut Alina yang terikat rapi. Ia tidak menoleh saat mendengar suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama angkuh yang sangat ia kenali.

"Foto itu sangat artistik, bukan? Cahaya apinya pas, dan dramanya... oh, sangat menyentuh. Putri pahlawan menyelamatkan ibunda dari maut," suara Alya terdengar melengking, penuh kemenangan yang dipaksakan.

Alina tetap menatap hamparan gedung pencakar langit di depannya. "Kamu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk memuji kemampuan fotografimu, Al? Aku sedang sibuk menyiapkan dokumen tender proyek pelabuhan. Kalau tidak ada hal penting, silakan keluar."

Alya berjalan mendekat, menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Alina. Di sana terpampang foto buram namun jelas—sosok Alina yang memanggul Shinta di tengah kepulan asap.

"Jangan berlagak bodoh! Aku tahu Ibu masih hidup. Kamu menyembunyikannya, kan?" desis Alya. "Bayangkan apa yang akan dilakukan Papa kalau dia tahu mainan kesayangannya ini sudah membohonginya. Papa benci pengkhianatan, Alina. Dan dia sangat ingin Ibu 'hilang' selamanya. Satu klik, dan foto ini sampai ke ponsel Papa."

Alina akhirnya menoleh. Bukannya pucat atau gemetar, ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat Alya mendadak merasa tidak nyaman.

"Silakan, Al. Kirim sekarang. Aku bahkan bisa meminjamkan *powerbank* kalau bateraimu lemah," ucap Alina tenang, suaranya sedatar garis cakrawala.

"Kamu pikir aku bercanda?!"

"Tidak, aku tahu kamu serius. Tapi masalahnya, kamu selalu bermain catur tanpa melihat seluruh papan," Alina melangkah maju, membuat Alya mundur satu langkah hingga punggungnya membentur pagar balkon. "Kalau Papa tahu Ibu masih hidup, dia memang akan marah padaku. Tapi dia juga akan bertanya: *'Alya, kenapa kamu menyimpan foto ini selama dua hari dan tidak langsung melapor?'*"

Alina mencondongkan tubuh, menatap mata kembarannya dengan sorot yang mematikan. "Papa akan berpikir kamu sedang mencoba memeras kakaknya sendiri. Dia akan melihatmu sebagai ancaman yang tidak setia. Dan kamu tahu apa yang Papa lakukan pada orang yang tidak setia, kan? Dia baru saja membakar rumah untuk melenyapkan Ibu. Apa menurutmu dia akan ragu untuk 'melenyapkan' anak yang mencoba bermain api dengannya?"

Wajah Alya memucat seketika. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar.

"Lagi pula," Alina melanjutkan sambil merampas ponsel Alya dengan gerakan yang sangat cepat hingga Alya tidak sempat bereaksi, "Aku sudah meretas *cloud* pribadimu sejak sepuluh menit yang lalu melalui jaringan Wi-Fi kantor. Semua salinan foto ini sudah kuhapus. Dan sebagai gantinya..."

Alina menunjukkan layar ponselnya sendiri. Di sana terdapat rekaman suara Alya saat sedang berbicara dengan salah satu manajer vendor saingan tentang rencana sabotase tender pelabuhan.

"Ini namanya pengkhianatan korporasi, Alya. Nilainya jauh lebih berat daripada sekadar menyembunyikan orang tua yang sakit. Jadi, siapa yang sekarang memegang leher siapa?"

Alya ternganga. Ia merasa seperti kancil yang terjebak di depan harimau. Ia lupa bahwa Alina bukan hanya pesilat, tapi juga wanita yang ditempa oleh kerasnya intrik jalanan dan kecerdasan yang diasah melalui penderitaan.

Persaingan tender proyek Pelabuhan Merdeka memasuki fase krusial. Ini adalah proyek triliunan rupiah yang menjadi ambisi terbesar Wijaya tahun ini. Lawan mereka bukan sembarang perusahaan, melainkan *Nusantara Corp* yang dipimpin oleh tangan dingin pengusaha muda yang ambisius.

Di ruang rapat utama, suasana sangat panas. Wijaya duduk di kepala meja, matanya yang tajam mengawasi setiap presentasi. Alya, yang masih gemetar karena konfrontasinya dengan Alina tadi pagi, mencoba fokus pada data yang ia bawa.

"Strategi kita adalah pemotongan biaya operasional sebesar lima belas persen melalui vendor logistik baru," Alya mempresentasikan idenya dengan suara yang sedikit parau. "Dengan begitu, margin keuntungan kita akan paling tinggi di mata pemerintah."

Wijaya mengangguk pelan, namun tatapannya masih dingin. "Bagaimana menurutmu, Alina?"

Alina berdiri, memutar sebuah pena di jarinya dengan ketangkasan yang mengintimidasi. "Strategi Alya bagus untuk jangka pendek, tapi bunuh diri untuk jangka panjang. Vendor logistik yang dia ajukan memiliki rekam jejak buruk dalam pemeliharaan alat berat. Satu kecelakaan di pelabuhan akan membuat nama Wijaya Group hancur di bursa saham."

"Lalu apa tawaranmu?" tanya Wijaya tertarik.

"Digitalisasi sistem logistik dan kemitraan strategis dengan koperasi lokal di sekitar pelabuhan," jawab Alina mantap. "Kita tidak memotong biaya, tapi kita meningkatkan efisiensi dan keamanan sosial. Pemerintah sedang gila-gilanya dengan isu pemberdayaan lokal. Jika kita membawa koperasi mereka masuk, tender ini sudah pasti di tangan kita. Dan risikonya? Hampir nol karena kita didukung oleh warga sekitar."

Wijaya terdiam lama, lalu ia memukul meja dengan pelan. "Setuju. Alina, kamu pimpin eksekusi tendernya. Alya, kamu bantu bagian administrasi saja."

Alya mengepalkan tinjunya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Lagi-lagi ia terhempas ke pojok ruangan sebagai figuran.

Malam harinya, setelah semua orang meninggalkan kantor, Alina masih berkutat dengan berkas-berkasnya. Pintu ruangannya terbuka kasar. Alya masuk dengan wajah penuh dendam.

"Kamu sengaja mempermalukanku di depan Papa! Kamu ingin mengambil semuanya dariku, kan?!" teriak Alya.

Alina tidak mendongak. "Aku tidak mengambil apa pun, Al. Kamu sendiri yang menjatuhkan barang-barangmu karena tanganmu terlalu lemah untuk menggenggamnya."

"Jangan sok bijak! Kamu itu cuma orang asing yang beruntung punya wajah sepertiku! Aku akan menghancurkanmu, Alina. Kalau bukan dengan foto Ibu, aku punya cara lain!"

Alina berdiri, perlahan berjalan mendekati Alya. "Alya, dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya. Aku di sini bukan untuk berebut kasih sayang Papa yang beracun itu. Aku di sini untuk sebuah misi. Kalau kamu pintar, kamu akan diam dan menikmati kemewahanmu tanpa mengusikku. Tapi kalau kamu terus merongrongku..."

Alina tiba-tiba mencengkeram leher baju Alya, mendorongnya hingga terpojok ke dinding dengan gerakan silat yang sangat presisi. Matanya berkilat dingin.

"Aku bisa mematahkan tanganmu dalam tiga detik tanpa meninggalkan bekas lebam. Aku bisa membuatmu kehilangan akses ke seluruh rekening bankmu dalam satu malam. Dan aku bisa membuat Papa mengirimmu ke asrama di luar negeri yang paling terpencil hanya dengan satu bisikan. Kita satu rahim, tapi kita beda kasta dalam hal bertahan hidup. Pahami posisimu."

Alina melepaskan cengkeramannya. Alya terbatuk-batuk, menatap Alina dengan rasa takut yang murni. Untuk pertama kalinya, Alya menyadari bahwa saudaranya ini bukan sekadar tangguh—ia adalah predator yang sedang menyamar.

"Pulanglah, Al. Tidur yang nyenyak. Besok kamu harus menyiapkan dokumen administrasi untukku," ucap Alina kembali duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Di pulau asri, Alex menatap laut yang tenang. Radio sandinya berbunyi pelan. Kode dari Alina masuk.

“Target terkendali. Persiapan tender 80 persen. Jaga Ibu tetap dalam bayangan.”

Alex menghela napas lega. Namun, saat ia berbalik menuju pondok, ia melihat Shinta berdiri di sana, memegang sebuah foto lama—foto Alina dan Alya saat masih bayi.

"Mereka sedang berperang, kan, Alex?" tanya Shinta lirih.

"Alina sedang berusaha menyelamatkan semuanya, Bu," jawab Alex pendek.

Shinta meneteskan air mata. "Aku takut, Alex. Aku takut Alina akan menjadi terlalu kuat hingga dia lupa cara menjadi lembut. Dan aku takut Alya akan menjadi terlalu hancur hingga dia lupa cara menjadi manusia."

Di kota, Alina menatap dokumen tender yang sudah selesai. Di salah satu halamannya, terselip catatan kecil tentang skandal lama Wijaya di lahan pelabuhan tersebut. Rahasia besar yang akan ia ledakkan tepat saat tender dimenangkan.

Ia tahu, kemenangannya dalam tender ini adalah awal dari kehancuran Wijaya. Namun, di saat yang sama, ia melihat bayangan Alya di jendela—saudaranya yang kini sedang menelepon seseorang dengan suara berbisik, merencanakan sesuatu yang lebih gelap di luar sepengetahuan Wijaya.

Alya tidak menelepon anak buah Wijaya. Ia menelepon saingan terberat mereka, pimpinan Nusantara Corp. "Aku punya data lengkap penawaran Alina. Aku akan memberikannya padamu malam ini, asal kamu membantuku melenyapkan dia dari perusahaan ini selamanya."

Alina melihat pantulan Alya di kaca, namun ia tetap diam, membiarkan saudaranya menggali lubang yang lebih dalam bagi dirinya sendiri. Pertempuran sesungguhnya baru saja bergeser dari ruang rapat ke medan yang berdarah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!