Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Debu dan Rahasia yang Terkubur
"Ibu! Jangan lewat depan, ikut aku!"
Suara Alina nyaris tertelan oleh deru api yang melahap tiang-tiang kayu rumah aman itu. Asap hitam pekat memenuhi ruangan, membuat paru-paru terasa seperti terbakar. Di tengah keremangan yang mencekam, Alina bergerak bukan seperti seorang direktur, melainkan seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Ia telah menanggalkan jas mahalnya di mobil, kini hanya mengenakan kaus hitam ketat yang memudahkan pergerakannya.
Shinta terbatuk-batuk hebat di pojok ruangan, tangannya menutupi wajah. "Alina... kamu harus pergi, Nak! Mereka tidak akan membiarkan kita hidup!"
"Tidak ada yang mati hari ini, Bu," desis Alina tegas. Ia menyambar tubuh ibunya yang ringkih, memanggulnya dengan teknik bela diri yang efisien agar beban terasa ringan.
Di luar, suara sirine polisi dan teriakan anak buah Wijaya saling bersahutan. Tangan kanan Wijaya—pria bernama darto—berdiri dengan senyum puas di depan kobaran api. Ia yakin, dengan suhu setinggi itu, tidak akan ada nyawa yang tersisa di dalam. Baginya, tugas menghapus saksi kunci masa lalu Wijaya telah selesai.
Namun, mereka meremehkan satu hal: Alina telah mempelajari denah rumah itu lebih baik daripada siapapun. Ia tidak menuju pintu depan yang dikepung. Ia menuju ke dapur, menggeser sebuah ubin lantai yang sebenarnya menutupi jalur pembuangan air tua yang kering.
Dengan gerakan cepat dan senyap, Alina membawa ibunya merayap melalui lorong bawah tanah yang sempit dan pengap selama sepuluh menit yang terasa seperti selamanya. Saat mereka keluar di balik bukit kecil yang rimbun oleh semak belukar, rumah itu telah meledak, mengirimkan lidah api ke langit malam.
Alina menatap api itu dari kejauhan. Wajahnya diterangi cahaya jingga yang mengerikan. "Biarkan mereka mengira kita sudah jadi abu, Bu. Hanya dengan cara ini, Bapak akan berhenti memburu Ibu."
Shinta menangis tanpa suara, melihat tempat perlindungannya musnah. "Dia benar-benar ingin Ibu mati, Alina. Rahasia itu... rahasia itu terlalu besar untuknya."
"Rahasia itu akan tetap terkubur bersama debu rumah ini, sampai tiba saatnya aku yang akan membukanya di depan peti matinya nanti," ujar Alina dingin.
Tiga hari kemudian, di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi di pesisir utara, sebuah kapal nelayan tua bersiap untuk lepas sauh. Dunia sedang gempar dengan berita "kematian tragis" mantan istri Wijaya dalam sebuah kebakaran hebat. Wijaya bahkan melakukan akting luar biasa di televisi, menangis di depan nisan kosong, seolah ia adalah duda yang paling terluka.
"Semuanya sudah beres, Bu. Tidak ada catatan sipil, tidak ada jejak digital. Di pulau itu, Ibu adalah orang baru," ucap Alina sambil membantu ibunya naik ke kapal.
Kapal itu membelah ombak selama hampir dua belas jam menuju sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan yang masih asri, jauh dari jangkauan sinyal ponsel dan pengaruh korporasi Wijaya Group. Pulau itu adalah tempat yang bahkan tidak ada dalam peta wisata utama—sebuah suaka hijau dengan pasir putih yang tenang.
Saat kapal merapat di dermaga kayu yang sedikit reyot, matahari sedang terbenam, menyepuh air laut dengan warna emas. Di ujung dermaga, berdiri seorang pria dengan pakaian safari kumal dan topi lebar. Tubuhnya tegap dengan bekas luka di lengan kiri yang terlihat jelas.
"Sudah lama sekali, Harimau Kecil," suara pria itu berat namun hangat.
Alina tersenyum—senyum tulus pertama yang ia tunjukkan sejak masuk ke istana emas Wijaya. "Alex. Kamu tidak berubah. Masih beraroma tembakau dan keringat."
Alex tertawa kecil. Pria ini adalah Alex, sosok yang dulu menjadi pelindung Alina saat ia masih remaja yang luntang-lantung di pasar gelap. Mereka pernah berbagi sepotong roti di emperan toko dan saling menjaga punggung saat tawuran antar preman jalanan pecah. Alex kemudian menghilang untuk membangun hidup baru sebagai pengelola konservasi di pulau ini.
"Selamat datang, Bu Shinta," Alex membungkuk hormat, mengambil alih tas bawaan mereka. "Alina sudah menceritakan semuanya lewat radio sandi. Di sini, tidak ada Wijaya, tidak ada wartawan. Hanya ada angin laut dan orang-orang yang bisa menjaga rahasia."
Shinta menatap Alex dengan haru. "Terima kasih, Nak Alex. Ibu tidak tahu harus membalas apa."
"Alina sudah membayar semuanya dengan menyelamatkan nyawaku berkali-kali di masa lalu, Bu. Sekarang, mari kita ke pondok. Aku sudah menyiapkan teh jahe hangat," ajak Alex ramah.
Malam itu, di teras pondok kayu yang menghadap ke laut lepas, Alina dan Alex duduk berdampingan sementara Shinta sudah tertidur pulas di dalam. Suara deburan ombak dan jangkrik menjadi musik latar pembicaraan mereka.
"Kamu akan kembali ke sana, kan?" tanya Alex tanpa menoleh. Ia tahu isi kepala Alina lebih baik dari siapapun.
"Aku harus, Lex. Kalau aku menetap di sini, Wijaya akan curiga. Dia akan mencari sampai ke lubang semut jika dia merasa aku menyembunyikan sesuatu," Alina memainkan belati kecil di jemarinya. "Aku harus tetap menjadi 'putrinya yang penurut' sementara aku menghancurkan fondasi perusahaannya dari dalam."
"Itu berbahaya, Alina. Sekarang dia tahu kamu punya taring. Dia tidak akan membiarkanmu mendekati dokumen sensitif lagi."
"Justru karena dia pikir Ibu sudah mati, dia akan merasa aman. Dia pikir dia sudah menang. Dan saat seorang pria merasa di atas angin, saat itulah dia paling ceroboh."
Alex menatap Alina dengan cemas. "Lalu bagaimana dengan Alya? Dia saudarimu."
Alina terdiam sejenak. "Alya adalah korban yang juga merupakan pelaku. Aku akan memberinya kesempatan untuk memilih pihak. Tapi jika dia tetap memilih untuk menjadi bayangan ayahnya, aku tidak akan ragu untuk menjatuhkannya bersama pria itu."
"Aku punya beberapa orang di kota yang masih setia padaku," Alex menawarkan. "Kalau kamu butuh pengalihan atau butuh menyelundupkan sesuatu, beri kode lewat frekuensi biasanya."
Alina mengangguk. "Terima kasih, Lex. Jaga Ibu. Dia adalah satu-satunya alasan aku masih ingin tetap menjadi manusia."
Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing, Alina sudah bersiap untuk kembali. Ia menatap wajah ibunya yang tampak tenang dalam tidurnya—sebuah ketenangan yang tidak pernah ia lihat selama dua puluh lima tahun terakhir.
"Aku akan kembali untuk menjemput Ibu saat semuanya sudah rata dengan tanah," bisik Alina pelan.
Ia turun ke dermaga, di mana Alex sudah menunggu dengan perahu motor kecil untuk membawanya ke kapal transit.
"Alina," panggil Alex saat mesin mulai menderu. "Ingat satu hal. Jangan biarkan kebencian pada Wijaya membuatmu berubah menjadi dia. Dunia bisnis bisa mengubah emas menjadi besi berkarat dengan sangat cepat."
Alina menoleh, matanya berkilat di bawah cahaya fajar yang biru. "Besi berkarat tetap bisa digunakan untuk menggorok leher, Lex."
Kapal itu melaju menjauh, meninggalkan pulau asri tersebut. Alina berdiri di buritan, memperhatikan bayangan Alex dan pulau itu perlahan menghilang ditelan kabut pagi. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara bersih untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali ke kota yang penuh dengan polusi dan kemunafikan.
Saat ia sampai kembali di pelabuhan kota dan menghidupkan ponselnya, ratusan notifikasi masuk. Salah satunya adalah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang membuatnya tersentak.
*“Aku tahu dia masih hidup, Alina. Abu tidak pernah mengeluarkan aroma minyak kayu putih. Mari kita buat kesepakatan sebelum Papa tahu.”*
Alina mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. Pesan itu berasal dari Alya. Rupanya, kembarannya itu jauh lebih cerdik daripada yang ia duga.
Di layar ponselnya, muncul sebuah lampiran foto. Foto yang diambil dari jarak jauh saat Alina menggendong ibunya keluar dari jalur pembuangan air yang gelap. Alya tidak hanya memantau, ia telah mengikuti Alina ke lokasi kebakaran tanpa sepengetahuan siapapun. Kini, Alina sadar bahwa ancaman terbesarnya bukanlah senjata Wijaya, melainkan kecemburuan dan rahasia yang digenggam oleh saudaranya sendiri.