Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Jejak yang Terhapus
“Nona Alina, mobil sudah siap di lobi bawah untuk mengantar Anda ke kantor pusat.”
Alina menoleh pada pengawal bertubuh tegap yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia memberikan senyum tipis yang tampak sangat patuh—senyum yang telah ia latih selama berhari-hari di depan cermin besar kamarnya.
“Tunggu di bawah. Saya harus mengambil berkas analisis yang tertinggal di perpustakaan. Lima menit,” ucap Alina datar.
Begitu pengawal itu membungkuk dan melangkah pergi, raut wajah Alina berubah total. Ia segera mengunci pintu kamar. Dengan gerakan lincah yang hanya bisa dimiliki oleh seorang pesilat tingkat tinggi, ia membuka lemari pakaian mewahnya. Di balik deretan gaun sutra, terdapat sebuah celah kecil yang menuju ke ruang pipa pembuangan udara—hasil investigasi rahasianya selama satu minggu terakhir.
Alina mengganti setelan jasnya dengan *hoodie* hitam dan celana kargo gelap yang ia sembunyikan di sana. Ia meluncur turun melalui pipa besi, mendarat tanpa suara di area gudang belakang yang tidak terjangkau CCTV. Di sana, ia sudah menyiapkan sebuah sepeda motor tua yang dipinjamkan oleh salah satu kurir logistik yang pernah ia tolong diam-diam.
“Maaf, Pak Wijaya. Naga Anda hari ini sedang ingin lepas dari sangkarnya,” bisik Alina sambil memakai helm.
Ia memacu motornya melalui jalur tikus, melewati gang-gang sempit yang becek sisa hujan semalam. Ia tahu cara mengecoh pengejaran. Ia mengganti motornya tiga kali di tempat yang berbeda dan menggunakan transportasi umum yang penuh sesak untuk memutus jejak. Strategi yang ia pelajari dari jalanan jauh lebih efektif daripada teknologi pelacakan GPS manapun.
Rumah aman itu terletak di pinggiran kota, tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu yang bergesekan ditiup angin sore. Suasananya begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kediaman Wijaya yang penuh intrik.
Alina melangkah masuk melalui pintu kayu yang berderit. Aroma minyak kayu putih dan masakan rumahan menyambutnya—aroma yang membuatnya ingin menangis seketika.
“Ibu?” suara Alina bergetar.
Di sudut ruangan, Shinta sedang duduk di kursi goyang tua, menatap ke arah jendela. Mendengar suara itu, tubuhnya yang ringkih tersentak. Ia menoleh perlahan, matanya yang mulai kabur mencari sosok yang sangat ia rindukan.
“Alina? Benarkah itu kamu, Nak?”
Alina menghambur ke pelukan ibunya. Ia berlutut di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Shinta. Isak tangis yang selama ini ia tahan di depan Wijaya, di depan Alya, dan di depan dunia, akhirnya pecah di sana.
“Ini Alina, Bu. Alina pulang sebentar,” bisik Alina di sela isakannya.
Tangan Shinta yang kasar dan berkerut mengelus kepala Alina dengan penuh kasih. “Kamu kurus, Nak. Matamu... matamu menyimpan beban yang sangat besar. Apa pria itu menyakitimu?”
Alina menggeleng kuat. “Dia tidak bisa menyakiti Alina, Bu. Tapi rumah itu... rumah itu sangat dingin. Tidak ada cinta di sana. Hanya ada angka dan rencana jahat.”
Shinta menarik napas panjang, air matanya jatuh membasahi rambut Alina. “Ibu minta maaf. Harusnya Ibu tidak membiarkanmu pergi. Harusnya Ibu yang menghadapi ayahmu.”
“Tidak, Bu. Kalau Ibu yang pergi, Ibu mungkin tidak akan pernah kembali,” Alina mendongak, menatap mata ibunya yang penuh kesedihan. “Alina kuat. Ibu tahu kan, Alina bisa jaga diri? Alina sudah mempelajari semua kelemahannya. Sebentar lagi, Bu. Sebentar lagi kita akan benar-benar bebas.”
Pertemuan itu berlangsung mengharu biru. Shinta bercerita bagaimana ia selalu mendoakan Alina setiap sujudnya, sementara Alina bercerita—dengan versi yang jauh lebih ringan—tentang kehidupannya di rumah megah itu. Namun, Shinta tetaplah seorang ibu. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan putrinya.
“Alya datang ke sini kemarin,” ucap Shinta tiba-tiba.
Tubuh Alina menegang. “Dia menyakiti Ibu?”
“Tidak. Dia hanya menangis. Dia terlihat sangat hancur, Alina. Dia merasa tidak ada yang menyayanginya. Ibu kasihan padanya... tapi saat Ibu mencoba membandingkan ketangguhanmu dengannya, dia malah marah.”
Alina menghela napas. “Dia tidak butuh kasih sayang, Bu. Dia butuh pengakuan. Dan sayangnya, dia mencari pengakuan dari orang yang salah.”
Waktu seolah terbang terlalu cepat. Cahaya jingga di ufuk barat mulai memudar, pertanda Alina harus segera kembali sebelum tim keamanan Wijaya menyadari kehilangannya.
“Alina harus pergi sekarang, Bu. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali Pak Hadi.”
Shinta memegang tangan Alina erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya, putrinya akan hilang selamanya. “Hati-hati, Nak. Ingat pesan kakekmu dulu... *harimau yang paling berbahaya bukan yang mengaum paling keras, tapi yang bergerak paling senyap.*”
Alina mencium tangan ibunya lama, menghirup aroma yang menjadi kekuatannya selama ini. Ia mengenakan kembali masker dan *hoodie*-nya, lalu menghilang ke balik rimbun bambu secepat ia datang.
Saat Alina kembali ke kediaman Wijaya melalui jalur rahasia yang sama, ia mendapati suasana rumah sedang gempar. Mobil-mobil penjaga tampak berlalu lalang di halaman depan.
Ia segera berganti pakaian ke jas kerjanya dan keluar dari perpustakaan dengan wajah mengantuk yang dibuat-buat, tepat saat Wijaya melangkah masuk dengan raut wajah murka.
“Dari mana saja kamu?!” bentak Wijaya.
Alina mengangkat sebuah buku tebal tentang hukum agraria. “Saya tertidur di pojok perpustakaan, Pak. Membaca bab tentang sengketa tanah tahun 90-an ternyata sangat membosankan.”
Wijaya menatap Alina dengan mata menyipit, mencari kebohongan di sana. Namun, Alina telah melatih detak jantungnya agar tetap stabil di bawah tekanan.
“Penjaga bilang kamu tidak ada di kamarmu saat mereka mengecek sepuluh menit yang lalu.”
“Mungkin mereka kurang teliti mencari di balik rak buku besar itu,” sahut Alina tenang. “Lagi pula, untuk apa saya lari? Di sini makanan enak dan tempat tidurnya empuk. Jauh lebih baik dari kontrakan becek saya dulu, kan?”
Wijaya terdiam sebentar, lalu tawa sinis keluar dari mulutnya. “Bagus. Aku suka keberanianmu berbohong di depan mukaku. Tapi ingat, Alina... aku punya mata di setiap jengkal kota ini. Jangan pernah mencoba bermain-main denganku.”
“Saya tidak bermain, Pak. Saya sedang belajar. Bukankah itu yang Bapak inginkan?”
Wijaya berlalu pergi, meninggalkan Alina yang masih berdiri di tengah perpustakaan. Begitu sosok ayahnya menghilang, Alina merogoh saku jasnya. Di sana terdapat sebuah kalung perak tua pemberian ibunya tadi—kalung yang berisi foto kecil keluarga mereka sebelum hancur.
Tiba-tiba, sebuah suara bisikan terdengar dari balik tirai jendela.
“Pengecohan yang hebat, saudariku.”
Alya muncul dengan wajah pucat dan mata sembab. Ia memegang sebuah perekam suara kecil di tangannya.
“Aku tahu kamu menemui Ibu. Dan aku punya rekamannya saat kamu keluar dari gudang belakang tadi,” Alya tersenyum licik, namun tangannya bergetar. “Bagaimana kalau Papa tahu bahwa naga kesayangannya punya titik lemah yang begitu mematikan?”
Alina tidak panik. Ia justru melangkah mendekati Alya, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Berikan rekaman itu padaku, Alya,” bisik Alina dingin.
“Atau apa? Kamu mau memukulku dengan silatmu itu?”
Alina tersenyum, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Alya berdiri. “Tidak. Aku akan membiarkanmu memberikan rekaman itu pada Papa. Dan saat Papa tahu kamu memata-matai aku daripada mengerjakan tugas kantor yang dia berikan, dia akan sadar siapa di antara kita yang lebih mengancam posisinya.”
Alya tertegun. Ia lupa bahwa Wijaya paling benci pada pengkhianatan kecil di dalam rumahnya sendiri.
“Pilihannya ada di tanganmu, Al,” Alina merampas perekam suara itu dari tangan Alya yang lemas. “Mau hancur bersamaku karena rahasia ini, atau diam dan biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan pria yang sudah menghancurkan hidup kita berdua?”
Alya jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di tengah kesunyian perpustakaan itu, ia menyadari satu hal: ia tidak akan pernah bisa menang melawan Alina. Bukan karena Alina lebih kuat, tapi karena Alina tidak lagi memiliki rasa takut untuk kehilangan segalanya.
Alina menatap saudaranya dengan iba, lalu berjalan keluar. Di tangannya, perekam suara itu ia hancurkan hingga berkeping-keping. Pertemuan dengan ibunya tadi telah memberinya satu kepastian: ia siap membakar seluruh istana ini jika itu adalah satu-satunya cara untuk membawa ibunya pulang dengan selamat.
Namun, di ujung lorong, Arya berdiri menanti dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Alina, ada yang harus kamu lihat di berita malam ini,” ucap Arya dengan suara berat. “Pak Wijaya baru saja menandatangani surat pengalihan aset yang menyebut namamu sebagai pemilik tunggal... tapi ada syarat berdarah di balik dokumen itu.”
Alina membeku. Langkahnya terhenti di tengah bayang-bayang pilar megah yang kini terasa seperti jeruji penjara yang semakin menyempit.