Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Di Bawah Sayap Naga

“Tahan posisi punggungmu, Alina. Jangan pernah membungkuk di depan layar monitor, atau dunia akan menganggapmu sedang memohon.”

Suara berat Wijaya menggema di ruang belajar pribadi yang kedap suara itu. Ia berdiri di belakang Alina, memperhatikan jemari putrinya yang bergerak lincah di atas papan ketik, menari di antara grafik saham yang berfluktuasi tajam.

Alina mengoreksi posturnya seketika. Punggungnya tegak, kaku bagaikan bilah pedang yang baru ditempa. “Saya tidak sedang memohon, Pak. Saya sedang menghitung berapa detik yang dibutuhkan untuk meruntuhkan harga pembukaan vendor ini jika kita memutus kontrak secara sepihak.”

Wijaya tersenyum lebar—sebuah pemandangan langka yang sanggup membuat seluruh pelayan di rumah itu merinding. Ia meletakkan tangannya di bahu Alina, merasakan otot-otot yang keras dan waspada di balik kain sutra mahal itu.

“Luar biasa. Hanya dalam satu minggu, kamu sudah memahami mekanisme *short selling* lebih baik daripada Alya yang belajar empat tahun di London,” puji Wijaya. “Dia selalu melihat angka sebagai beban, tapi kamu… kamu melihat angka sebagai peluru. Itu yang aku suka darimu.”

Alina hanya diam, matanya tetap terpaku pada layar. Pujian Wijaya baginya tak lebih dari desis ular. Ia tahu, semakin Wijaya menyukainya, semakin besar target yang terpasang di punggungnya.

Kehidupan di kediaman Wijaya adalah sebuah orkestra kemewahan yang palsu. Setiap pagi, Alina harus menghadapi "pelatihan" yang menguras energi. Jika pagi hari diisi dengan analisis pasar bersama Pak Danu, siang harinya ia dipaksa mempelajari hukum internasional, dan sore hari ia harus mengikuti kelas diplomasi dan etika bersama Bu Sarah.

Namun, di balik kepatuhannya yang tampak sempurna, Alina adalah seorang penyusup di rumahnya sendiri.

Malam itu, setelah jam belajar usai dan lampu-lampu di koridor utama diredupkan, Alina tidak tidur. Ia mengganti gaun tidurnya dengan pakaian serba hitam yang ia selundupkan dari rumah lama. Dengan langkah seringan kucing, ia keluar melalui balkon kamar, meloncati pagar pembatas, dan merayap di sepanjang pipa air menuju ruang kerja pribadi Wijaya di lantai dua.

Ia tahu jadwal patroli penjaga. Setiap jam 02.15, penjaga di sayap barat akan berhenti sejenak untuk melinting rokok di dekat pancuran air. Itu adalah jendela waktunya: tiga menit.

Alina menyelinap masuk melalui jendela yang sengaja ia beri sedikit pelumas pada engselnya tadi siang. Di dalam ruang kerja yang gelap itu, aroma cerutu mahal dan kertas lama menyeruak. Ia tidak menyalakan lampu. Alih-alih, ia menggunakan senter kecil yang diletakkan di antara giginya.

Jari-jarinya yang terlatih mencari celah di balik lemari buku jati. Ia teringat pelajaran silatnya: setiap bangunan besar selalu memiliki ruang kosong untuk menyembunyikan kelemahan.

Klik.

Sebuah panel kecil di dinding terbuka. Di dalamnya terdapat brankas digital. Alina tersenyum tipis. Kemarin, saat berpura-pura mengantarkan kopi untuk Wijaya, ia memperhatikan pantulan jemari ayahnya di permukaan meja kaca saat menekan kode.

0-7-1-2-9-9. Tanggal lahirnya dan Alya. Ironis sekali.

Brankas terbuka tanpa suara. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau batangan emas. Hanya ada sebuah map kulit berwarna hitam dengan cap "Sangat Rahasia". Alina membukanya dengan tangan bergetar.

Di dalamnya terdapat dokumen pengalihan aset tahun 1999. Nama kakeknya—ayah dari ibunya—terpampang di sana sebagai pihak yang menyerahkan seluruh lahan perkebunan di Jawa Barat. Namun, ada yang ganjil. Tanda tangan kakeknya tampak dipaksakan, goresannya tidak stabil, seolah tangan yang memegang pena itu sedang gemetar hebat atau berada di bawah tekanan fisik.

“Jadi ini alasan Ibu lari,” bisik Alina pada kegelapan. “Bukan karena Bapak kejam, tapi karena Bapak adalah seorang pencuri yang menghancurkan keluarganya sendiri.”

Tiba-tiba, telinga Alina yang sensitif menangkap suara langkah kaki di koridor. Bukan langkah sepatu bot penjaga yang berat, melainkan langkah sepatu kulit yang mantap dan berirama.

Wijaya.

Alina segera mengembalikan map itu, menutup brankas, dan melompat keluar jendela tepat saat gagang pintu berputar. Ia bergantungan di ambang jendela, menahan napas saat cahaya lampu ruangan menyala. Dari posisinya, ia bisa melihat bayangan Wijaya berdiri di tengah ruangan, seolah sedang merasakan kehadiran seseorang yang baru saja pergi.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa lebih tegang dari biasanya. Alya duduk di sana, menatap piringnya dengan kebencian yang terang-terangan. Wajahnya tampak kusam, kontras dengan Alina yang terlihat segar meski kurang tidur.

“Papa dengar kamu berhasil menyelesaikan simulasi akuisisi PT. Surya Kencana dalam waktu dua jam semalam, Alina,” ucap Wijaya sambil memotong steak dagingnya. “Bahkan direktur operasional kita pun butuh waktu seharian.”

Alya membanting garpunya ke atas piring porselen. “Itu pasti karena tutornya membantunya! Papa, dia itu cuma kasir! Dia mungkin curang atau mencuri kunci jawaban!”

Wijaya mengangkat wajahnya, menatap Alya dengan pandangan yang begitu dingin hingga Alya menciut. “Dalam bisnis, tidak ada kata curang, Alya. Yang ada hanya cerdik atau bodoh. Dan saat ini, kamu terlihat sangat bodoh. Alina belajar dengan insting bertahan hidup, sementara kamu belajar seolah dunia berhutang padamu.”

“Tapi Pa—”

“Diam! Mulai besok, jatah kartu kreditmu dikurangi setengahnya. Dan posisi asisten kepala di proyek ekspansi akan kuberikan pada Alina. Kamu akan menjadi bawahannya.”

Alya membelalak, matanya berkaca-kaca karena terhina. Ia menoleh pada Alina, mengharapkan raut kemenangan, namun ia hanya menemukan wajah Alina yang datar, sedatar permukaan air di sumur tua.

“Saya belum siap, Pak,” ucap Alina tenang.

“Kamu sudah lebih dari siap, Alina,” sahut Wijaya tegas. “Kamu punya apa yang tidak dimiliki Alya: kamu tidak takut kotor, dan kamu tidak punya belas kasihan saat terpojok.”

Alina menunduk, menyembunyikan kilatan amarah di matanya. *Saya punya belas kasihan, Pak. Tapi tidak untuk orang seperti Anda.*

Sore harinya, saat Alina sedang berlatih gerakan dasar silat di taman belakang yang tersembunyi, Arya muncul dari balik semak-semak. Ia tampak terengah-engah, seolah baru saja menghindari sesuatu.

“Alina, kita harus bicara,” bisik Arya.

Alina tidak berhenti melakukan gerakan pukulan lurusnya. “Bapak nekat sekali masuk ke sini. Penjaga Pak Wijaya bisa menembak Bapak di tempat.”

“Aku menemukan sesuatu yang lebih besar dari skandal tanah itu,” Arya mendekat, memberikan sebuah cip memori kecil. “Rekaman pembicaraan antara ayahmu dan pengacara keluarga di malam ibumu pergi. Ayahmu tidak hanya memeras kakekmu, dia merancang sebuah kecelakaan untuk melenyapkan ibumu agar dia bisa menguasai seluruh warisan tanpa hambatan. Ibumu lari bukan hanya untuk menyelamatkanmu, tapi karena dia tahu dia sedang diburu untuk dibunuh.”

Gerakan Alina terhenti. Tangannya mengepal begitu kuat hingga sendi-sendinya berbunyi krek.

“Di mana rekaman ini sekarang?”

“Hanya ada di cip itu. Aku menyalinnya dari arsip lama yang tersimpan di ruang bawah tanah kantor pusat.”

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah teras lantai dua. Mereka berdua mendongak dan melihat Wijaya berdiri di sana, mengamati mereka dengan senyum tipis yang mematikan.

“Drama yang menarik,” ucap Wijaya. “Seorang tunangan yang berkhianat dan seorang putri yang sedang menggali kuburannya sendiri.”

Dalam sekejap, belasan penjaga bersenjata muncul dari balik pohon dan tembok taman, mengepung Alina dan Arya.

“Alina,” Wijaya memanggil dengan suara yang sangat lembut, namun penuh ancaman. “Berikan cip itu padaku, dan aku akan menganggap Arya hanya seorang tamu yang tersesat. Tolak aku, dan aku akan mengirimkan tim ke desa tempat ibumu bersembunyi sekarang juga.”

Alina menatap cip di tangannya, lalu menatap Arya yang tampak pasrah. Ia menyadari satu hal: Wijaya sudah tahu segalanya sejak awal. Pelatihan, kemewahan, dan posisi di dewan direksi hanyalah cara Wijaya untuk mengurungnya agar ia tidak bisa bergerak bebas.

Alina tersenyum tipis—sebuah senyum yang sama persis dengan senyum Wijaya. Ia menelan cip memori kecil itu bulat-bulat di depan mata mereka semua.

“Cipnya sudah aman, Pak,” ucap Alina sambil memasang kuda-kuda silatnya yang paling mematikan. “Sekarang, kalau Bapak mau informasi di dalamnya, Bapak harus membelah perut saya. Tapi saya peringatkan… saya tidak akan membiarkan Bapak melakukannya dengan mudah.”

Wijaya terdiam sejenak, lalu tawa menggelegar keluar dari mulutnya. “Benar-benar putriku! Serang dia! Tapi jangan sampai mati. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi tawanan di istananya sendiri!”

Penjaga pertama merangsek maju, dan Alina menyambutnya dengan sebuah tendangan berputar yang mematahkan rahang sang penjaga. Perang di dalam istana emas itu pun pecah, namun di tengah kekacauan, Alina melihat Alya berdiri di balkon lain, memegang sebuah jeriken bensin dengan tatapan mata yang sudah tidak lagi waras.

“Kalau aku tidak bisa punya rumah ini, maka tidak ada yang boleh punya!” teriak Alya sambil mulai menyiramkan cairan itu ke gorden mewah di dekatnya.

Bau bensin mulai menyengat, dan percikan api pertama menyambar kain sutra tersebut. Alina menyadari ia terjepit di antara tentara ayahnya dan kegilaan saudaranya, sementara rahasia yang ia telan mulai terasa membakar tenggorokannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!