Untuk FADHIL
Makan Bersama Keluarga Laura
Fadhil merapihkan rambutnya dan menyempotnya dengan minyak wangi malam ini Fadhil di suruh memakai jas oleh Mamahnya agar dapat berwibawa sebagai seorang CEO muda.
Tiba-tiba ponsel Fadhil berdering yang ternyata panggilan dari Ilham membuat Fadhil langsung menekan tombol hijau.
“Hallo Ham.”
“Fadh, lo bisa bantuin gue gak? Nyokap gue sakit parah gue mau membawanya ke rumah sakit lo bisa ke rumah gue gak, sekarang!” ujar Ilham dengan tergesah-gesah.
Tanpa berpikir lama Fadhil langsung memutuskan, “Okey gue akan ke sana,” katanya.
Lalu Fadhil menutup ponselnya dan bergegas untuk pergi ke rumah Ilham, karena acaranya masih ada 2 jam waktu dia untuk makan malam bersama Laura.
“Mau ke mana kok buru-buru?” tanya Riska saat melihat anaknya tergesah-gesah.
“Fadhil mau ke rumah Ilham dulu Mah, Nyokapnya sakit parah,” jelas Fadhil sambil mencium tangan Riska.
Laura menatap Fadhil dengan heran, “Terus lo gak jadi makan malam bareng gue?” tanyanya.
“Gue akan tepati janji, lo gak usah panik gue akan kembali ke restoran lo,” tukas Fadhil lalu menghilang di balik pintu.
Laura menghentakkan kakinya dengan kesal, bagaimana mungkin cowok itu menepati janji sedangkan sekarang pun dia akan pergi ke rumah sakit.
“Tante, bagaimana ini?” rengek Laura kepada Riska.
Laura datang ke rumah Fadhil karena dia ingin naik mobil bareng cowok itu hanya itu saja keinginannya namun cowok itu malah mengabaikannya lagi, Riska memeluk Laura karena dia merasa gak enak hati kepada cewek itu atas perlakuan Fadhil saat ini, akhirnya Laura pun memutuskan untuk pulang sendiri sebab Fadhil akan langsung datang ke restorannya.
“Aku berharap cowok itu gak telat,” gumam Laura, makan malam ini adalah bentuk pembuktian dia kepada Mamahnya jika Fadhil memang pantas untuknya.
“Tante akan pastikan bahwa Fadhil akan datang dan kalian bisa makan malam bersama,” tukas Riska saat Laura akan meninggalkan rumah Fadhil.
Di dalam mobil Laura memikirkan sikap dan ketampanan Fadhil yang sudah melabui pikirannya selama ini hanya saja sikap cowok itu membuatnya selalu merasa kesal dan terluka, dengan kesal akan perbuatan Fadhil barusan kepadanya dia pun meninjak pedal gas membuat mobil melaju dengan sangat cepat.
“Gue akan pastikan lo bakal jadi milik gue selamanya!” kata Laura
Fadhil pun sudah sampai di depan rumah Ilham dengan mobil kesayangannya, dengan khawatir dia pun langsung masuk ke rumah Ilham tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ilham!” teriak Fadhil.
Ilham menoleh mendengar namanya dipanggil dan langsung berlari ke arah Fadhil.
“Fadh, gue butuh bantuan lo anterin gue bawa Mamah ke rumah sakit ya,” pinta Ilham dengan memohon.
Fadhil yang tahu latar belakang keluarganya Ilham, sudah paham dan tahu apa yang temannya alami saat ini.
“Ya udah ayo, bawa ke mobil gue!” ujar Fadhil dan langsung membantu Ilham membawa Nyokapnya ke rumah sakit.
Fadhil membukaan pintu mobilnya, Ilham duduk di bangku belakang bersama Nyokapnya sedangkan Fadhil yang akan mengendari mobilnya menuju rumah sakit.
Ilham memang beruntung mempunyai sahabat seperti Fadhil bukan untuk hari ini saja Fadhil juga pernah membantunya saat dia di serang oleh musuh bebuyutannya di sekolah.
“Kok lo gak bilang sih kalau Nyokap lo sakit?” gerutu Fadhil sambil melirik Ilham dan Mamahnya di kaca depan.
“Gue juga baru di kasih tahu sama Bi Iyem kalau Mamah sakit,” jawab Ilham lirih tangannya menggenggam erat tangan Mamahnya yang gemetar.
“Astaga, lo udah coba hubungi Bokap lo?” tanya Fadhil.
Bokapnya Ilham memang sudah lama bercerai dengan Mamahnya semenjak kejadian itu Ilham pun memilih untuk tinggal di Apartemen sendirian namun dia tidak pernah pulang untuk berkunjung dan menemui Mamahnya meski orang tua Ilham sudah bercerai dia masih punya hubungan baik dengan Bokapnya.
“Belum, saking paniknya gue langsung nelpon lo,” ungkap Ilham.
“Ya udah lo coba hubungi Bokap lo dulu bagaimana pun Bokap lo harus tahu kalau Mamah lo lagi sakit,” ujar Fadhil, dia memang sangat tidak suka dengan pertengkaran ke dua orang tuanya apalagi sampai bercerai makanya dia merasakan bagaimana di posisi Ilham.
Ilham pun mencoba menghubungi Papahnya, Fadhil berusaha untuk mempercepat mobilnya agar bisa sampai dan Nyokapnya Ilham bisa langsung di tangani Dokter.
“Ti-dak usah Nak, Ma-mah baik-baik saja,” sergah Mamahnya Ilham saat sambungan belum terhubung.
Ilham menatap Mamahnya dengan nelangsa, “Tapi Mah, Papah harus tahu keadaan Mamah,” jelas Ilham.
“Gak apa-apa Nak, Mamah akan baik-baik saja jika sudah di tangani Dokter,” kata Mamahnya sambil berusaha terlihat kuat.
Ilham tidak bisa membantah perintah Mamahnya sendiri akhirnya dia pun menaruh ponselnya kembali ke saku celananya.
Mobil Fadhil kini sudah memasuki Gg. Rumah Sakit Savana dan memakirkan mobilnya hingga para suster langsung membawa dengan hospital bed diikuti oleh Ilham di belakangnya.
Fadhil melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 16:25 WIB, masih ada satu jam lagi dirinya akan pulang untuk ikut makan malam bersama Laura.
“Fadh, thank ya udah mau bantu gue,” ujar Ilham sambil menepuk bahu Fadhil yang sedang duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan rumah sakit.
Kini Mamahnya Ilham sedang berada di dalam ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan oleh Dokter.
“Santai aja Ham, owh iya gue gak bisa lama ada acara makan malam bersama Laura dan tadi gue ninggalin dia di rumah karena harus ke sini sekarang gue gak enak kalau gak datang,” ungkap Fadhil.
Ilham mengangguk namun sedikit kaget mendengar penuturan Fadhil barusan, “Okey gak apa-apa, lo bisa langsung pulang kok lagian kalau lo kelamaan nanti bisa-bisa tuh anak kabur dari rumah lagi,” kata Ilham, dia sudah banyak tentang Laura.
“Okey, nanti kalau ada apa-apa hubungi gue aja ya!” ujar Fadhil sambil tersenyum hangat.
Ilham ikut tersenyum, “Siap ya udah lo hati-hati di jalan!”
Fadhil pun hanya menunjukan ibu jarinya dan berlalu pergi meninggalkan Ilham di rumah sakit.
“Duh, semoga aja gue gak telat bisa bahaya kalau gue bisa ingkar janji,” kata Fadhil sambil berlari menuju tempat parkir mobilnya.
Dengan kecepatan yang tinggi Fadhil membawa mobilnya, jalanan terlihat ramai dengan lampu-lampu yang sudah menyala karena sudah hari sudah gelap, Fadhil membuka ponselnya saat melihat pesan masuk.
“Sayang, kamu sudah sampai mana? Tante Prisly sudah nunggu kamu loh.”
Fadhil membuka voice notes karena dalam keadaan mengendari tidak baik bermain ponsel.
“Iya Mah, aku sudah ada di jalan ke arah restoran yang sudah di pilih Laura.”
Fadhil kembali meninjak pedal gas mobilnya dan menaruh kembali ponselnya, ada rasa aneh dalam dirinya saat ini karena tidak mendengar kekecewaan Laura kepadanya.
Dengan cepat mobil Fadhil sudah melesat di parkiran restoran dia pun langsung merapihkan pakaiannya dan rambutnya, pair jantungnya berdebar dengan sangat cepat saat ini namun, Fadhil berusaha melangkah dengan penuh percaya.
“Malam Tante, maaf ya kalau sudah nunggu lama,” ujar Fadhil saat menemukan tempat duduk mereka.
“Enggak apa-apa kok Nak, silahkan duduk!” sambut Prisly dengan senyum terbaiknya.
Laura merasa senang dengan kehadiran Fadhil malam ini, sudah lama sekali rasanya tidak pernah duduk berdekatan dengan Fadhil seperti sekarang ini.
“Kamu mau mesan apa? Aku sama Mamah udah mesan tadi,” tanya Laura.
Fadhil merasa canggung dengan Mamahnya Laura, “Apa aja deh,” ujarnya.
Makan malam pun akhirnya terlaksana, nuansa romance restoran memang tepat untuk mereka makan malam di sana diiringi musik yang dinyayikan langsung oleh penyayi restorannya.
Prisly membahas pertunangan yang dibatalkan oleh Riska dengan alasan Fadhil belum siap untuk menikah karena dia pun harus melakukan tugasnya sebagai CEO namun, Prisly juga tidak mempermasalahkan pembatalan itu karena dia juga ingin Laura membantu di perusahaannya.
“Tapi kan Mah,” sergah Laura yang baru mendengar berita tersebut.
“Sayang, kamu gak usah khawatir akan kehilangan Fadhil!” ujar Prisly.
Fadhil tersenyum senang akhirnya Mamahnya Laura bisa menerima keputusannya dan dia pun semakin menyadari bahwa semua ini atas paksaan dari Laura sendiri yang takut akan kehilangan dirinya.
***
Lantas bagaimana dengan hubungan Fadhil dan Keyla selanjutnya? Yuk baca bab selanjutnya.