Untuk FADHIL

Fadhil Pernah Amnesia

Dengan langkah penuh keyakinan Fadhil mendekat dan menghampiri Mamahnya yang sedang menyiram bunga melati yang ada di depan rumahnya.

“Assalamualaikum Mah,” ujar Fadhil lalu mencium tangan Mamahnya itu dengan sopan.

Riska mengulurkan tangannya tanpa menoleh, hal itu membuat Fadhil yakin bahwa Mamahnya sedang marah kepadanya.

“Fadhil, gue bawa puding nih buat lo,” ujar Laura dengan senyum manisnya sambil menunjukan sebuat kotak berwarna biru.

Fadhil tersenyum, “Thank ya!” ucapnya sambil mengangkat ke dua alisnya.

“Nyokap gue mau ngajak lo makan malam di restoran Garden nanti malam, lo bisa kan? Soalnya gue gak mau Mamah gue kecewa lagi sama lo,” ungkap Laura dengan sengaja mengatakan itu di depan Mamahnya Fadhil.

Tentu saja Riska langsung melemparkan tatapan kepada Fadhil namun cowok itu nampak mempertimbangkan jawabannya.

“Fadhil bisa kok sayang, kamu bilang aja ke Prisly nanti malam Fadhil akan datang kok,” sahut Riska sambil tersenyum ramah.

Laura tersenyum senang mendengar jawabannya, “Baiklah aku pamit pulang dulu ya Tante,” ujarnya.

“Owh mau langsung pulang? Ya udah hati-hati ya!” seru Fadhil sambil berusaha tersenyum di depan cewek itu.

Laura bersalaman dengan Riska, “Jangan lupa di makan ya pudingnya, kalau gak mau di makan pun jangan di buang kasih ke pembantu aja.”

Laura berbalik badan setelah mengucapkan beberapa kalimat untuk Fadhil dan menghilang di balik pintu mobilnya.

Kini Fadhil semakin canggung dengan Mamahnya sendiri pair jantungan berdebar sangat kencang, telapak tangannya pun terasa dingin.

“Ikut Mamah ke dalam!” pinta Riska lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Fadhil mengikuti langkah kaki Mamahnya yang masuk ke dalam ruangan Papahnya yang kini sedang ada di luar kota untuk mengurus berkas.

Ketika Riska memilih berdiri sambil menatap foto dua orang anak laki-laki yang mungkin sampai sekarang Fadhil melupakan sosok tersebut.

“Mah,” ucap Fadhil pelan.

Dia sangat tidak suka dengan keadaan canggung seperti ini, tujuannya pulang untuk mencoba membujuk Mamahnya agar mau membatalkan pertunangan atau perjodohan antara dirinya dan Luara.

“Kenapa kamu tidak mau dijodohkan dengan Laura?” tanya Riska dengan tatapan biasa kepada putranya itu.

Fadhil memilih untuk duduk di bangku panjang berwarna hitam yang berada di ruangan tersebut.

“Fadhil udah gede Mah dan Fadhil cowok bisa milih wanita sendiri, lagian kenapa sih Mamah makai jodohin aku sama Laura?”

Riska berjalan untuk duduk di depan Fadhil, “Mamah gak mau kamu salah milih cewek dan ingat Laura itu sepandan dengan kita, lagi pula Mamah dan Papah udah berkerja sama dengan orang tuanya Laura jika pernikahan kalian terjadi maka perusahaan kita akan tambah besar,” jelas Riska.

Fadhil menghela napas dengan kesal, lagi dan lagi orang tuanya melibatkan dirinya dalam perkembangan perusahaan yang sudah lama mereka kelolah.

“Kalau begitu kasih aku waktu Mah untuk memutuskan pertunangan ini, Mamah boleh menjodohkanku dengan siapapun tapi jangan mencoba untuk mengatur kapan pertunangan itu dilaksanakan, gara-gara berita ini nama baik Fadhil sebagai seorang laki-laki tercemar jelek dan itu buat aku malu Mah,” tukas Fadhil dengan emosi yang mengebu-ngebu.

Mengingat apa saja yang teman-temannya katakan tentang masalah dirinya dengan Laura yang belum selesai begitu pun dengan Keyla yang sedang dia dekati membuat sahabat-sahabatnya kecewa dan hilang percaya seketika saat mendengar berita pertunangan itu.

Riska diam cukup lama terlihat bahwa dirinya sedang mempertimbangkan sebuah keputusan besar di dalam hidupnya dan untuk rencana yang sudah dia rangkai sedekian rupa sejak Fadhil meninjak dewasa.

“Hemm, okey Mamah akan mengundurkan acara pertunangan kamu dengan Laura tapi Mamah harap kamu dapat belajar dengan baik di sekolah hingga dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri,” ujar Riska dengan keputusan yang sudah dia ambil.

Mendengar pernyataan tersebut sontak Fadhil langsung bangkit dari duduknya dan menatap Mamahnya dengan mata yang berbinar.

“Mamah sungguhan akan membatalkan pertunangan ini?” tanya Fadhil masih tidak percaya.

Riska melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putranya ini dengan tersenyum lebar dia menjawabnya.

“Berarti Fasilitas Fadhil gak jadi Mamah sita kan?” tanyanya lagi untuk memastikan bahwa apa yang telah diberikan Mamahnya kepadanya tidak akan di ambil kembali.

“Gak, asalkan Mamah mau kamu belajar yang benar,” pinta Riska sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.

Bagaimana pun keadaan Fadhil saat ini dia tidak bisa menampakan kebahagiannya selain dari raut wajahnya yang kini terlihat ceria.

“Siap Bos Qu!” ujar Fadhil sambil melakukan penghormatan kepada Riska.

“Meskipun Mamah membatalkan pertunangan ini kamu harus berjanji kepada Mamah untuk tidak menyakiti perasaan Laura ataupun membuatnya menangis,” pinta Riska kepada putranya agar dapat menepati janjinya tersebut.

“Baik Mah.” Tidak butuh waktu lama untuk Fadhil menyanggupi permintaan Mamahnya karena hal itu baginya sangat kecil untuk dilakukan.

“Ya sudah kamu siap-siap sana! Kan kamu dapat undangan makan malam bersama Prisly Mamahnya Laura bersikaplah dengan ramah kepadanya, Mamah akan kembali ke Singapura besok karena niatnya Mamah pulang mau mengadakan pertunangan kamu saja,” jelas Riska dengan wajah yang sedikit kecewa.

Fadhil akui bahwa Mamahnya memang kecewa kepadanya tapi itu tidak masalah karena dia yakin suatu saat nanti bisa membuat Mamahnya bangga terhadapnya, untuk hari ini dan beberapa bulan ke depan dia aman dari aturan orang tuanya.

“Okey Mah, Fadhil pamit pergi dulu,” tukas Fadhil sambil mencium tangan Mamahnya.

Mata Fadhil kini kembali terhenti kepada foto dirinya dengan seorang laki-laki yang sangat dia yakini bahwa itu teman kecilnya dulu tapi apa mungkin itu dia?

Riska menoleh mengikuti arah mata Fadhil memandang yang ternyata sedang menatap foto yang ada di dalam bingkai.

“Kamu ingat siapa yang ada di sebelahmu?” tanya Riska sembari bangkit dan meraih bingkai tersebut.

Fadhil menatap dengan jelas bahwa itu memang teman kecilnya yang bernama Hendra mempunyai wajah yang tidak kalah tampan darinya.

“Hendra?” ujarnya dengan gugup, entahlah dia sudah melupakan dia tapi ada sedikit rindu di dalam hatinya karena dia tidak tahu kemana keberadaan temannya itu sekarang.

Riska mengelus rambut Fadhil dengan lembut, “Dulu kamu sempat amnesia karena ditabrak dengan mobil, waktu kamu kecil dialah teman kamu satu-satunya, yaitu Hendra,” jelasnya.

Amnesia? Fadhil kaget ternyata dia pernah amnesia saat kecil, pantas saja yang dia ingat sampai sekarang itu dia selalu merasa kehilangan sebagian memorinya masa kecilnya.

“Aku baru tahu kalau aku sempat amnesia waktu kecil dan aku ingat bahwa Hendra pindah rumah setelah aku pulang dari rumah sakit,” ungkap Fadhil yang mengingat sebagiannya saja.

“Papah kamu tahu kemana Hendra tinggal sekarang, jika kamu penasaran dan ingin bertemu dengannya maka tanyakanlah pada Papahmu!” tukas Riska yang kembali meletakan bingkai foto itu di atas meja.

Fadhil terdiam sebentar sepertinya Papahnya memang telah menyembunyikan ini semua darinya karena waktu pertama dia bertanya pun Papahnya mencoba menutupinya dan tidak memberitahu jika itu foto teman kecilnya dan sekarang Mamahnya bilang bahwa Papahnya tahu di mana teman kecilnya itu tinggal sekarang.

“Ya sudah aku pergi dulu ya Mah,” ujar Fadhil lalu menghilang di balik pintu.

Pikirannya masih berkelabuh entah dimana satu masalahnya telah selesai tapi masalah yang lainnya terus berdatangan hingga membuatnya harus menyelidiki kebenarannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!