Untuk FADHIL
Fadhil Sakit
Keadaan Fadhil semakin memburuk membuat teman-temannya khawatir dan langsung memapah Fadhil keluar diskotik.
“Gue minta maaf karena udah bawa Fadhil ke sini,” ujar Adit dengan nelangsa.
Ilham menepuk bahu Adit, “Ini bukan sepenuhnya salah lo kok, lagian emang kita semua juga udah lama kan gak main ke sini jadinya kita mau.”
“Tapi kan, gara-gara gue Fadhil jadi mabuk kaya gini,” sergah Adit.
Sebelumnya Fadhil memang sudah jarang minum-minuman jika pergi ke diskotik cowok itu biasanya main gaple atau sekadar untuk mencari hiburan dengan para wanita tapi karena sekarang dia sedang punya banyak masalah membuatnya meminum wine adalah jenis minuman beralkohol.
Dan adapun akibat dari terlalu banyak minum wine akan depresi, gangguan kesehatan mental, aritmia atau gangguan irama jantung dan stroke. Fadhil sudah mengabiskan 5 gelas hari ini jadi efeknya parah.
“Udah gak usah ribut mending kita bawa Fadhil keluar dari sini dan mengantarnya pulang,” sahut Ilham menghentikan pertengkaran kecil temannya.
Akhirnya mereka pun membawa Fadhil ke luar dari bar diskotik dengan melewati kerumunan namun para wanita lajang yang mencoba menggoda Fadhil membuat Adit marah.
“Minggir, minggir! Gak lihat Fadhil lagi mabuk kaya gini, gak punya otak ya?” sergah Adit sambil menyingkirkan tangan wanita lajang yang mencoba menyentuh dada bidang Fadhil yang terlihat.
“Heran gue, gak lihat orang lagi mabuk kali ya! Main embat aja tuh cewek,” gerutu Ilham sambil bergidik jijik melihatnya.
“Yah, masa iya sih Fadhil mau naik motor dengan keadaannya yang begini,” gerutu Adit sambil menyela rambutnya dengan prustasi.
“Ya udah gue yang akan bawa Fadhil pulang karena tadi gue ke sini bawa mobil,” ujar Ilham.
Riko yang merasa khawatir akan keadaan Fadhil yang sudah mabuk parah dan membawa Fadhil pulang ke rumah sama saja akan mencari masalah dengan ke dua orang tuanya.
“Gays, kita gak bisa bawa Fadhil pulang ke rumahnya jadi bawa dia ke rumah gue aja!” seru Riko.
Semuanya setuju, Fadhil pun dimasukan di tempat duduk belakang bersama Ilham, sedangkan Riko yang akan membawa mobil tersebut.
Sebelum pergi Riko menitip pesan kepada Adit, “Eh Dit, gue nitip motor ya!” ujarnya.
Adit tersenyum sambil menunjukan ibu jarinya, “Sip, lo tenang aja motor lo aman kok.”
“Okey hati-hati ya!” seru Jaya sembari melambaikan tangannya.
Riko langsung menginjak pedal gas mobil untuk menjalankan mobil dengan cepat, hari sudah larut malam untung saja Fadhil mabuk bersama teman-temannya jika tidak mungkin keadaannya lebih buruk dari ini.
Adit merasa bersalah karena udah mengajak Fadhil dan yang lain ke diskotik meskipun bagi teman-temannya itu bukan kesalahan dia sepenuhnya tapi tetap saja dia merasa telah membuat Fadhil hancur.
“Rik lo punya nomor Keyla?” tanya Ilham
“Mau ngapain sih lo,” ujar Fadhil.
Ilham menoleh menatap Fadhil yang sudah membuka matanya namun masih terlihat sayu.
“Udah lo mendingan istirahat aja, jangan banyak omong,” tandas Riko sambil melirik mereka dari kaca depan.
“Gue mau ngomong sama Keyla, gue mau masalah ini cepat selesai,” ujar Ilham sambil membuka ponselnya dan mencari sosmed Keyla.
Tangan Fadhil dengan lemah meraih ponsel Ilham berusaha untuk mencegahnya, “Masalah ini akan menjadi urusan gue,” ucapnya.
“Tapi kan Fadh, gue mau Keyla bisa mengerti posisi lo saat ini,” ujar Ilham dengan emosi.
Fadhil menepuk bahu Ilham pelan sambil tersenyum lemah, “Lo kenal gue kan?”
“Sudah Ham biarin saja, dari pada akan mempersulit masalah jadi biarkan Fadhil yang akan menyelesaikannya sendiri,” sergah Riko.
Ilham mengangguk menuruti perkataan Riko, “Okey.”
Fadhil kembali memejamkan matanya, kepalanya terasa sangat pening pandangannya pun jadi terlihat buram.
“Lo mau bawa gue ke mana?” tanya Fadhil lirih.
Riko menatap Fadhil dari kaca depan cowok itu sudah terlihat lemah mungkin efeknya sudah bekerja dia memang pernah minum-minuman dan efeknya itu berpengaruh terhadapan pikirannya dan kepalanya terasa pening mungkin Fadhil pun merasakan hal yang sama.
“Lo istirahat aja Fadh gak usah banyak omong!” ujar Riko dengan geram karena Fadhil masih berusaha kuat dan terlalu memaksakan dirinya.
Fadhil menggelengkan kepalanya, “Gue sayang sama Keyla Rik, sekarang dia lagi ngapain ya?” gumamnya.
Ilham merasa sangat prihatin kepada temannya ini, “Besok kita ketemu okey!” ujarnya.
Tiba-tiba ponsel Fadhil berdering sangat nyaring dengan tak berdaya Fadhil merogoh kantong celananya dan mencoba mengangkat telepon dari Papahnya.
“Hallo Fadhil,” ujar Haris dari sebrang.
Sontak Ilham langsung merebut ponsel Fadhil, “Hallo Om, ini saya Ilham,” jawabnya.
“Owh Ilham, Fadhilnya kemana Ham?”
Ilham merasa bingung harus menjawab apa Riko pun membantunya untuk mencari jalan keluarnya agar orang tua Fadhil tidak curiga dan marah.
“Gini Om, Fadhilnya udah tidur di rumah Riko katanya dia mau bermalam di sini,” jawab Ilham dengan gugup.
“Owh ya sudah deh kalau gitu, kabarin ya kalau dia sudah bangun."
"Baik om."
Sambungan pun terputus secara sepihak Ilham mengembalikan ponsel itu kepada si pemilik.
“Gimana kata Om Haris?” tanya Riko penasaran.
Ilham tersenyum, “Katanya ya sudah gitu,” ucapnya sambil mengangkat alisnya.
“Syukur deh, kalau sampai Om Haris tahu Fadhil kaya gini bisa habis dia dan kita pun akan kena omel atau bahkan Om Haris akan langsung membawa Fadhil ke luar negeri,” ungkap Riko yang sudah sangat mengenal orang tua Fadhil.
“Iya pastinya,” sahut Ilham.
Keadaan pun hening seketika, Ilham sibuk mendengarkan musik dari earphonenya sedangkan Riko pokus mengendari.
Jalanan terlihat ramai saat di malam hari tapi untungnya tidak macet sehingga mobil bisa dengan mudah mempercepat jalannya Riko menginjak gas pedal mobil hingga mobil langsung sampai di depan rumahnya Riko membunyikan klaksonnya untuk memanggil saptam rumahnya.
“Pak cepetan buka gerbangnya!” ujar Riko saat sang saptam rumahnya menunjukan diri di lubang.
“Owh siap Den,” ujarnya sembari mendorong pintu gerbang rumah.
Mobil pun langsung meluncur masuk ke dalam rumah, Fadhil sudah tertidur pulas membuat Ilham dan Riko harus membantu memapah cowok itu masuk ke dalam rumah.
Ilham memasuki rumah Riko untuk yang ke tiga kalinya saat ini, semenjak dikenal kan Fadhil dengan Riko dia jadi tahu sedikit latar belakang temannya ini.
“Duh berat banget sih si Fadhil,” gerutu Ilham penuh dengan peluh.
Saat Fadhil di baringkan di tempat tidur ruangan depan, Ilham membuka jaketnya dan menghempaskan dirinya di sopa.
Riko langsung memberikan Ilham minuman dingin dari dalam kulkas dan duduk bersama dengannya.
“Gue mau langsung pulang aja ya Rik,” ungkap Ilham sembari meraih jaketnya.
Riko mengangguk, “Kok buru-buru, gue saranin lo tidur di sini aja, besok kan libur tuh.”
Ilham menepuk bahu Riko, “Thanks bro tawarannya tapi gue gak biasa tidur di rumah orang,” serunya.
Riko pun bangkit dan menghantarkan Ilham sampai depan rumahnya, “Hati-hati ya bro!”
Ilham tersenyum, “Okey, besok gue ke sini lagi deh buat nengokin Fadhil.”
Riko masuk dan mengunci pintu rumahnya namun sebelum tidur Riko menghampiri Fadhil tak sengaja tangannya menyentuh tangan Fadhil saat ingin menutup tubuh cowok itu dengan selimut tangan Fadhil terasa sangat hangat.
“Sepertinya dia sakit deh,” ujar Riko saat memegang jidat Fadhil yang memang terasa sangat panas.
Riko pun mengompres Fadhil sampai suhu tubuhnya kembali pulih, Fadhil terlihat begitu terpuruk tapi tidak mengurangi wajah tampannya, Riko meninggalkan Fadhil untuk tidur di kamarnya yang berada di lantai atas, hari ini dia sangat lelah sekali bahkan dia merasa merindukan Bella karena tidak dapat kabar dari cewek itu.