Untuk FADHIL

Semakin Dekat

Keyla berlari terburu-buru saat pak Rafi memberikan hukuman mengerjakan soal di buku kimia dan kini dia harus mencari buku kimia itu di perpustakaan, itu semua sebagai hukuman Keyla yang kemarin terlambat 10 menit masuk kelas, jarak perpustakaan dengan kelasnya cukup jauh membuat dia harus berlari agar tidak telat mengumpulkan tugas.

Bruukk!!!

“Aduhhh,” rintih Keyla yang terduduk di lantai, hari yang paling sial baginya.

“Lain kali kalau jalan hati-hati.”

Keyla menoleh saat mendengar suara laki-laki yang sangat dia kenal.“Fadhil.”

Fadhil mengulurkan tangannya. “Sini gue bantu,” ucapnya dingin. Keyla dengan gugup masih diam.

“Gak usah bengong atau saya gendong nih,” katanya mengancam, gadis itu melotot mendengar perkataan Fadhil, akhirnya gadis itu pun mengulurkan tangannya.

“Lo gak apa-apa?” tanya Fadhil, tangannya masih menggengam tangan Keyla.

Keyla menggeleng. “Gu-e gak apa-apa kok.”

Fadhil menatap lutut Keyla, Keyla tak sadar jika lututnya berdarah terkena lantai yang sudah rusak.

“Tapi, lutut lo berdarah, gue akan bantu lo obatin, gak ada penolakan, yuk!” katanya mengancam dan langsung membawa Keyla masuk ke UKS yang tak jauh dari sana, Keyla heran saat Fadhil berperilaku seperti itu.

Saat Keyla sudah duduk di kasur UKS Fadhil bergegas mencari obat, Keyla bergidik ngeri melihat luka pada lututnya dan tangannya, gadis itu menoleh kaget saat kakinya di tarik.

“Orang mah bilang dulu gitu, main tarik-tarik aja,” ucapnya dalam hati saat tahu jika itu perbuatan Fadhil. “Pelan-pelan, awas aja lo!” ancamnya pada Fadhil yang masih sibuk dengan bitadin dan kain kasa.

Keyla memandang Fadhil yang terlihat tampan mengenakan kaus hitam, tapi tentu saja cowok itu nyebelin dan sok ganteng. “Coba lihat tangannya?” Keyla mengulurkan tangannya, Fadhil menatap Keyla sekilas lalu kembali mengobati.

“Lain kali hati-hati, emang lo mau kemana sih?” tanya Fadhil saat sudah selesai mengobati, matanya menatap gadis yang entah kenapa Ia merasa nyaman dekat dengannya.

Keyla menepuk jidatnya lupa bahwa dia harus ke perpustakaan. “Makasih ya Fad, tapi gue harus buru-buru.” Keyla beranjak hendak turun.

“Hati-hati jangan lari lagi, nanti jatuh, baru tahu rasa.”

Keyla tersenyum menatap Fadhil lalu pergi dan menghilang di balik pintu.

“Mel, gimana kabar IKON?” tanya Bella saat mereka sudah ada di kantin sekolah.

“Sedih Bel kalo di ceritain, besok tanggal 27 mereka mau konser di Jepang, dan gak tau gimana nanti tanpa Hanbin,” jawab Amel sedih, matanya menatap ponsel yang sedang menampilkan foto-foto IKON.

“Sabar Mel, mungkin itu yang terbaik untuk mereka,” Sahut Anna, sambil menepuk-nepuk bahu Amel.

“Eh Mel, bukannya tahun ini penentuan di perpanjang atau enggaknya kontrak mereka? Iya gak sih?” tanya Bella, sambil meneguk minumannya.

“Ya, semoga aja mereka tetep satu ya, walaupun tanpa Hanbin, sebagai K-pop aku dukung mereka kok,” sahut Keyla sambil sesekali menatap layar ponselnya. Yang bergetar tiba-tiba, matanya melotot melihat panggilan dari Fadhil.

“Kenapa di matiin, Key?” Bella menatap Keyla heran, dia tidak sengaja melirik ponsel Keyla yang bergetar, dan tertera nama Fadhil.

Semua temannya menoleh, Keyla nambah bingung, “Gak apa-apa kok,” jawabnya sambil tersenyum. Bella mengangguk walau sedikit heran.

“Ihhh, pada ngomongin apaan sih?” tanya Raya dengan wajah yang polos.

“Yailah Ray. Lagi suasana duka masih aja lola, peka dikit apa,” celetuk Anna kesal.

“Emang apaan sih?” tanya Raya kembali.

“Hanbin lift dari IKON zeyenk,” sahut Bella dan Keyla bersamaan.

“Loh, Hanbin bukannya Leader? Kok out?” tanya Raya lagi.

“Panjang ceritanya, kalo di ceritain mah gak kelar setahun, setahun itu cuma cukup buat gua bilang kalau mereka udah buat hidup JOMBLO gua berwarna.” Amel terdiam sesat sebelum melanjutkan kalimatnya.” Gak perlu lagi deh gua sama cowok-cowok yang cuma bikin sakit hati, mending sama Oppa yang udah ketauan bikin bahagia,” lanjut Amel yang memang dirinya masih jomblo, berbeda dengan Anna dan Bella.

“Udah ah jadi mellow, lanjut Key, tanggal berapa Oppa Lee Min Ho pulang WAMIL?” tanya Anna.

“Tanggal 27 April nanti,” jawab Keyla, suaranya terdengar antusias ketika membicarakan Oppa nya. “Gue dengan sabar masih menunggu.”

“Eh, Key lo tadi jatuh?” tanya Amel sambil menatap Keyla. “Tadi Fadhil telat masuk pelajarannya Bu Luna, katanya habis nolongin orang, terus dia bilang ke gue kalau tadi lo yang jatuh. Beneran Key?” lanjutnya.

“Lo gak apa-apa ‘kan, Key?” tanya Bella, dia meraih tangan Keyla yang memakai hansaplas, “Ya Allah, tangan kamu luka, Key?” Keyla mengangguk lemah.

“Seriusan Key, tadi Fadhil nolongin lo? Kayanya emang bener deh Fadhil tuh sayang banget sama lo Key,” celetuk Raya sambil tersenyum.

Keyla mendengus kesal. “Apaan sih, orang cuma kebetulan dia lewat, lagian cuma ngasih gue obat doang,” elaknya.

“Udah jangan bohong, sama kita, mending lo ceritain kejadian yang sebenarnya,” ujar Anna, membuat Keyla terpaksa harus cerita.

Keyla mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan. “Oke gue cerita tapi jangan berisik ya.”

Setelah teman-teman mengangguk, Keyla bercerita bahwa pas kena hukuman dari pak Rafi Keyla disuruh mengerjakan soal kimia, karena di kasih waktunya sedikit dia berlari dan jatuh, kemudian Fadhil datang dan membawanya ke UKS. “Sudah, puas kalian?” tanya Keyla di akhir ceritanya.

“Eh Key, kayanya Fadhil beneran suka deh sama lo,” ujar Raya.

“Jangan sampai lo juga suka sama dia Key, Fadhil tuh cuek, terus nakalnya udah keteraluan, ya walaupun tampan sih, dia juga anak kepala sekolah di sini, lo hati-hati deh kalau sama dia, soalnya banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia, nanti bisa-bisa lo di serang mereka,” ucap Amel sambil memutar bola matanya, tanda tak suka.

“Jangan kaya gitu, Keyla bebas suka dengan siapa pun, lagian menurut gue Fadhil serius dan gak akan nyakitin Keyla,” sahut Bella, dia tahu bahwa Keyla pun menyukai Fadhil, dan melihat keseriusan dari sikap Fadhil selama ini.

“Gue tahu kalian khawatir sama gue tapi, gue bisa jaga diri gue baik-baik kok, gue udah terlanjur sayang sama Fadhil,” ungkap Keyla, sambil menyuruput minumannya.

***

“Keyla mana sih, kok lama banget, katanya mau pulang jam 04:05 WIB, sampai sekarang belum juga datang,” gerutu Kevin, sambil menatap kanan, kiri jalanan, dan sesekali dia menatap jam tangannya.

Tangannya mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, dia ingin menghubungkan seseorang namun, tidak diangkat juga, sekali lagi dia menelpon seseorang tapi, hasilnya tetap nihil. Membuatnya semakin kesal.

“Astaga, dia ke mana sih? Kenapa di telpon juga gak di angkat-angkat? Apa gue tinggalin aja tuh anak ya,” gerutu Kevin penuh rasa kesal.

“Hay!”

Seru Keyla sambil menepuk bahu Kevin, membuat cowok itu menoleh dan menatap Keyla penuh dengan rasa kesal.

“Kok gitu sih natapnya?” tanya Keyla sambil memasang muka cemberut.

“Baru mau gue tinggalin lo, kalau bukan karena Nyokap lo, gue malas banget nunggu lo kaya gini,” ujar Kevin, sambil berjalan menuju motornya.

Keyla meraih tangan Kevin, “Jangan gitu dong, emangnya lo mau kehilangan sahabat lo yang imut ini?” Keyla tersenyum manis di depan Kevin.

Kata ‘sahabat’ kembali menyadarkan Kevin akan perasaannya yang tidak akan terbalas, cewek itu hanya menganggapnya sahabat tidak lebih dari itu, haruskah dia berkata jujur bahwa selama ini dia menginginkan lebih dari sahabat namun, baginya itu tidak masalah, yang terpenting dia bisa selalu ada di dekat Keyla dan menjaganya.

Kevin mencubit hidung mancung Keyla dengan gemas, “Ya sudah, ayo cepetan naik, mau pulang apa gak?” tanya Kevin, menghiraukan wajah Keyla yang kesakitan sebab ulahnya.

Keyla pun langsung menaiki motor Kevin, rasanya nyaman sekali jika berada di dekat Kevin, cowok itu bukan hanya sebagai sahabat melainkan sudah seperti Abangnya. Karena umur Kevin yang lebih tua darinya.

“Kemarin siapa yang ngantar pulang?” tanya Kevin.

“Fadhil.” Keyla tersenyum saat menjawabnya, dia teringat akan gombalan Fadhil saat di motor.

“Gimana rasanya bisa naik motor sama orang yang lo suka?”

“Seneng banget, seperti mimpi, awalnya gue gak mau tapi, semua ini kan gara-gara lo yang ninggalin gue duluan, jadinya gue terpaksa bareng dia.”

“Tapi, lo senang kan bisa bareng dia?”

Pertanyaan Kevin membuat Keyla terdiam tanpa kata, dia memang senang banget bisa naik motor berdua dengan Fadhil. Sedangkan Kevin sangat mengenal Keyla dengan baik, dia tahu bahwa Keyla menyukai Fadhil saat dia melihat buku diarynya yang bercerita tentang kenakalan Fadhil dan yang lebih mengejutkannya lagi Fadhil adalah anak kepala sekolahnya.

“Vin, menurut lo, Fadhil bagaimana sih?”

“Lo mau tahu pandangan gue ke dia bagaimana?” Kevin melontarkan pertanyaan kembali kepada Keyla sebelum dia menjawab seperti apa sosok Fadhil di matanya.

Keyla mengangguk sambil memperhatikan kanan kirinya. “Bagaimana menurut lo?”

“Pandangan gue ke dia penuh kebencian Keyla, meskipun dia anak kepala sekolah gue gak takut untuk menghajarnya, jika dia berani menyakiti orang yang gue sayang,” jawab Kevin, baginya rasa benci itu masih ada sampai saat ini, ditambah lagi sekarang sahabatnya menyukainya.

Keyla menoleh menatap Kevin, “Benci? Sebab apa lo membencinya?”

Motor Kevin melaju dengan sangat kencang, saat keluar dari kemacetan, sudah seperti biasa jika pulangnya kesorean pasti akan terjebak kemacetan.

“Sulit buat ngejelasinnya, nanti pada saatnya lo akan tahu,” jawab Kevin.

Keyla mengangguk, jika Kevin sudah berkata seperti itu, dia tidak bisa memaksanya untuk terus bercerita.

“Lo, gak marah kan gue suka sama Fadhil?” tanya Keyla sedikit gugup.

Kevin terdiam cukup lama, dia pokus mengendarai motornya, membuat Keyla ikut terdiam dan memperhatikan jalanan, suara bising kendaraan beroda dua kadang membuatnya kesal, rasanya ingin sekali dia mengomel dan berteriak.

Motor Kevin pun sudah memasuki gang rumah Keyla, sampai di depan rumah Keyla Kevin masih belum menjawab pertanyaannya.

“Thanks ya Vin, gak masuk dulu?” ujar Keyla, ketika sudah turun dari motor Kevin.

“Salam aja buat Nyokap lo, owh iya jaga diri lo baik-baik ya! Assalamualaikum,” ujar Kevin, lalu melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi.

“Waalaikumsalam,” jawab Keyla, rasanya ada yang aneh pada diri Kevin hari ini, bahkan pertanyaannya pun belum dijawab, apakah Kevin, tidak marah jika Keyla menyukai Fadhil? Sebagai sahabat Keyla, Kevin berhak untuk menjaga Keyla.

“Sayang, kamu baru pulang?” tegur Bunda, saat melihat anaknya yang baru datang.Keyla pun menghampiri Bundanya dan memeluknya, rasanya lelah sekali harus ikut rapat setiap hari.

“Bun, Ayah mana?” tanya Keyla, dia ingin bertanya tentang Kevin kepada Ayahnya, seperti ada yang di rahasiakan Kevin kepadanya.

“Baru saja pergi bersama Pak Andi,” jawab Bunda, tangannya sambil mengelus-elus kepala anak gadisnya. “Apa ini menyangkut Kevin?” tanya Bunda.

Dia sangat mengenal anak yang satu ini jika ada sesuatu masalah tentang Kevin dia akan bertanya kepada Ayahnya.

“Iya Bun, tadi aku nanya dengan Kevin, ‘bagaimana Fadhil menurutnya?’ namun, dia menjawab sangat membenci Fadhil, seperti ada dendam pribadi gitu Bun,” jawab Keyla, yang ternyata masih memikirkan hal tersebut.

Bunda terlihat menerka-nerka akan nama yang barusan Keyla sebutkan, “Fadhil?”

Keyla menatap sang Bunda, “Bunda kenal dengan Fadhil kan?” tanyanya.

“Anak kepala sekolah yang pintar namun nakal itu?” jawab Bunda, seperti mengingatnya.

“Iya, Bunda, kan aku pernah cerita sama Bunda,” ujar Keyla lirih, selama ini dia selalu bercerita tentang apapun itu bahkan cowok yang sudah mengambil hatinya.

Bundanya mengangguk dan mengatakan bahwa mungkin pernah terjadi pertengkaran antara Fadhil dan Kevin di masa lalu, hingga kejadian itu membuat mereka masih memiliki dendam masing-masing, Keyla akan bertanya kepada Ayahnya tentang latar belakang keluarga Kevin.

“Bun, Keyla ke kamar dulu ya.”

Keyla pun berlalu menaiki tangga menuju kamar, badannya yang sudah lengket dan aroma tubuhnya yang kurang sedap membuatnya ingin mengguyurnya dengan air yang dingin, saat sampai di kamar Keyla langsung melepaskan pakaiannya dan merendamkan tubuhnya di bawah shower, seketika tubuhnya merasa kembali segar.

5 menit kemudian Keyla keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di atas kepalanya, percayalah dengan mandi rasa penat pun akan hilang, seperti itulah yang Keyla rasakan. Tiba-tiba ponsel Keyla bergetar, pesan masuk dari Bella yang masih menyangkut tentang Event yang akan di adakan di sekolah nanti, menjadi sekretaris acara membuat Keyla menanggung banyak tugas.

“Lo kirim data yang menjadi penanggungjawab setiap perlombaan ke gue, biar nanti gue kasih ke Bu Fatimah,”

Entah kenapa Keyla kembali memikirkan Fadhil, rasanya cowok itu sangat menyebalkan sekali, dengan rayuannya semua cewek luluh, segampang itukan cowok mendapatkan hati semua cewek di dunia ini?

 

Keyla membuka docx yang Bella kirim kepadanya, betapa terkejutnya saat tahu siapa ketua Event nanti, Fadhil.

“Bella, kok bisa dia sih yang jadi ketuanya? Duh, mana gue sekretarisnya lagi,”

Keyla marah-marah sendiri di dalam kamarnya, entahlah bagaimana nantinya, yang pasti dia akan selalu berurusan dengan cowok itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!