Untuk FADHIL
PDKT
"Belum tidur kau?"
Satu pesan masuk di ponsel Keyla, gadis itu sedikit terkejut saat melihat jika itu pesan dari Fadhil Alexander, kini jari Keyla telah menciptakan satu kalimat jawaban. "Belum," jawab Keyla antusias.
"Kenapa?"
Entah itu rasa ingin tau Fadhil atau sekadar basa-basi, Keyla tidak tahu. Cowok tidak bisa di tebak.
"Belum ngantuk."
"Kenapa?" tanyanya
"Gak tau, kau sendiri belum tidur?"
"Kok gak tau? Yaudah tidur sana, hari sudah larut malam, jangan bergadang! Nanti di kelasnya ngantuk."
Saat Keyla ingin membalas cowok itu sudah tidak aktif, Keyla membaca ulang chattannya tadi, entah kenapa senyum di bibir tipisnya tak bisa di sembunyikan, Fadhil cowok yang kini sedang mencoba mencuri hatinya, Keyla meletakkan ponselnya di atas meja dekat tempat tidurnya sebelum dia terlelap dalam mimpi.
***
"Keyla, Keyla, bangun Nak!"
Suara khas Bunda terdengar berat. Menggoyangkan tubuh Keyla yang masih tertutup selimut.
"Keyla udah jam 6 ayo bangun dulu sayang, nanti kamu terlambat." Mendengar sudah pukul jam 6 Keyla segera bangkit dan melempar selimutnya dengan asal.
"Apa Bun? Udah jam 06:30 WIB? Kenapa Bunda gak bangunin aku dari tadi." Bunda Keyla hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak perempuannya, yang merasa tidak di bangunkan padahalkan sudah berapa kali Bundanya membangunkan.
"Bun, Ayah mana?" tanya Keyla, saat melihat Bundanya sedang sibuk di dapur.
"Ayah kamu sudah berangkat lagian sih kamu dari tadi di bangunin enggak bangun-bangun, jadinya Ayah kamu berangkat sendiri." Keyla mendengus kesal mendengar jawaban Bundanya salah dirinya sendiri sih yang bergadang sampai larut malam alhasil bangun kesiangan dan di tinggal Ayahnya.
"Yaudah deh, Keyla berangkat naik ojek aja." Keyla pun meraih tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Keyla, kamu gak sarapan dulu?" teriak Bundanya karena Keyla sudah menjauh.
"Gak usah, Keyla makan di kantin saja," jawab Keyla yang mendengar teriakan Bundanya.
Enam puluh menit kemudian Keyla sampai di sekolahannya melihat gerbang mau di tutup Keyla langsung berlari memasuki gerbang. "Neng, bayarnya mana?" teriak tukang ojek itu sambil melambaikan tanganya.
Keyla menoleh, dan menepuk jidatnya pelan, "Owh iya nih bang, kembalinya ambil saja, saya sedang buru-buru." Keyla pun kembali menghampiri tukang ojek itu dan memberikan uang dua puluh ribu. "Makasih Bang," teriaknya dan berlari menuju gerbang.
Gadis itu bernapas lega setelah berhasil masuk gerbang, baru kali ini dia terlambat karena tidur kemaleman.
"Keyla!"
Baru saja Keyla menaiki tangga terdengar teriakan Ratna yang memanggilnya. Dia menoleh dan mendapati Ratna yang berlari menghampirinya, "Keyla, lo baru datang?"
"Iya, gue kesiangan," jawab Keyla.
Teng ... Teng ... lalu terdengar suara bel masuk berbunyi.
"Eh, pelajaran pertama Pak Bagus lagi, ya sudah yuk cepetan." Keyla dan Ratna pun menaiki tangga dengan berlari Pak Bagus adalah guru yang sangat mengenal kedisiplinan beliau tidak pernah telat kalau masuk kelas.
Saat di lihatnya Pak Bagus sedang berjalan di lorong kelas Ratna dan Keyla mempercepat jalannya. "Huh, tuh guru cepet banget jalannya," celetuk Ratna dengan napas yang tergopoh-gopoh.
"Lagian sih emang pelajaran pertama Pak Bagus make telat segala," tandas Raya melihat kedua temannya baru sampai.
Pelajaran pun di mulai kelas pun menjadi sepi bukan karena fokus mendengarkan penjelasan guru itu namun mereka tertidur dan ada pula yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi ada pula yang setia mendengarkan itu pun bagi anak yang duduk di depan.
"Keyla, gue ngantuk nih, nanti kalau Pak Bagus melihat gue, bangunin ya," ucap Anna lirih. Sambil menutup wajahnya dengan buku, supaya guru mengira bahwa dia sedang membaca. Anak zaman sekarang, Keyla menoleh dan menatap sahabatnya ini yang sering di ledek dengan sebutan mata Yuyu, baru pelajaran pertama di mulai sudah mengantuk.
Kemudian ponsel Keyla pun bergetar membuatnya terkejut dan ternyata 2 pesan masuk Keyla pun langsung membukanya saat melihat pesan masuk, ternyata dari Bundanya dan Fadhil.
Bunda sayang ^.^
"Sayang, kamu udah sampai di sekolah?"
"Sudah Bun, Keyla baru saja mau belajar nih."
Setelah membalas pesan dari Bundanya kini tangan Keyla mengusap layar ponselnya dan menampilkan pesan dari Fadhil.
Makhluk Alien *.*
"Belajarnya jangan tidur!"
"Huh siapa juga yang tidur."
Keyla mendengus kesal, sudah dia kira bahwa Fadhil akan meledeknya jika dia ketahuan tidur di kelas. Keyla terkejut saat Fadhil mulai mengetik.
"Owh, kirain tidur, yaudah deh semangat bejalarnya, Putri Snow White."
Keyla tersenyum, dan kini jemarinya mulai bergoyang menciptakan 3 kalimat.
"Dasar MAKHLUK ALIEN!" gerutu Keyla lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Dari siapa sih? Seneng amat kayanya lo." Keyla terkejut melihat Anna yang sudah bangun, dan menatap dirinya dengan penuh curiga.
"Kenapa bangun?" Keyla malah melontarkan pertanyaan kembali, sambil menatap Anna.
"Emang lo kira tidur di kelas bisa lama? Apalagi pelajaran Pak Bagus gue takut kalau tidur nanti gue dicatat bolos lagi," ceteluk Anna sengit. "Pasti pesan dari Fadhil, iya kan ngaku aja lo?" Kini Anna menatap Keyla dengan penuh selidik.
"Hem ..." Keyla tersenyum tipis gadis itu menghiraukan pertanyaan Anna dan di sibukkan kembali dengan buku tulisannya. Anna pun menatap sahabatnya heran. Saat pelajaran kedua Amel dan Raya udah kembali ke kelasnya lagi karena hanya pelajaran tertentu saja mereka akan bergabung.
"Arka tolong bagikan soalnya." Semua murid mendesah mendengar bahwa hari ini ada ujian harian tanpa guru itu memberi waktu untuk belajar terlebih dahulu. Arka pun dengan patuh mengambil kertas soal ujian yang isinya 25 soal Biologi dan mulai membagikan pada teman-temanya.
"Yaelah, gue belum belajar kan," gerutu Joko lirih saat Arka mulai memberikan kertas soal.
"Emang lo doang gue juga belum belajar udah sih terima aja," celetuk Arka memberitahu bahwa dirinya sebagai ketua kelas pun tidak tau bahwa ada ujian hari ini.
"Nih Bel, oper ke belakang." Bella pun melihat soal dengan pasrah, dan mengoper kertas soal itu ke Adit.
Suasana kelas pun mendadak menjadi sepi, dua bola mata Bu Laila menatap semua muridnya dengan teliti, mencari siapa yang mencontek dan berisik.
"Apa lo, mau nyontek?" tanya Bella sinis saat Jaya mendekatinya.
"Apaan sih lo? Gue mau minjem tips-ex," jawab Jaya sengit, mendengar teriakan Bella yang membuat teman kelasnya menoleh kearahnya. Termasuk Bu Laila. "Sorry Bu," ucapnya, sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dada. "Lo sih," tudingnya pada Bella.
"Udah dong, jangan berantem lagi ujian nih." Rahma mengamuk merasa terganggu dengan keributan Bella dan Jaya.
"Yeah." Jaya pun kembali ke tempat duduknya.
***
"Keyla!"
Keyla menoleh saat namanya di panggil. "Iya."
Wajah Keyla kemudian di putar oleh Bella dengan kasar, Keyla terkejut saat melihat laki-laki yang sedang berjalan di depannya, pakaiannya menggambarkan seorang guru bukan murid. "Siapa dia?" tanyanya heran.
"Guru baru Keyla, tampan bukan?" Bella menyeringai menunjukan gigi ratanya, "Gue ngetem ya, jangan ada yang ngambil."
Raya dan Anna tertawa geli mendengar perkataan yang Bella ucapkan. "Serius lo mau sama guru baru itu? Gak salah emang naksir sama guru." Keyla hanya geleng-geleng kepala.
"Apa salahnya mencoba iya kan?" Bella terlihat antusias terhadap perkataannya. Kedua bola matanya tidak lepas dari guru baru itu. Ada arti di balik tatapannya.
Bel pun berbunyi bertanda waktu istirahat telah habis, anak-anak pun mempercepat makannya agar tidak terlambat masuk kelas.
"Woy, Gue duluan ya," ucap Raya bangkit dari tempat duduknya dan berlari meninggalkan Anna dan Keyla di kantin. Di kelasnya sekarang jam pelajaran Bu Rahma.
"Ayo Na, nanti kita kena omel Bu Fatimah nih." Keyla menarik tangan Anna secara kasar untuk segera meninggalkan baksonya yang tinggal setengah.
"Sabar dong Keyla, Nanti gue keselek gimana? Gue minum dulu bentar." Anna pun meraih botol minumannya, dan berlalu pergi mengejar Keyla yang sudah berjalan terlebih dahulu. "Key, tungguin gue," ucapnya sambil berlari.
Suasana kelas terlihat begitu ramai, ada yang masih makan dan ada pula yang sedang bergosip, tatapan Keyla kini menatap 4 anak Sultan di kelas 12 yang sedang bernyayi dan bergendang membuat suasana makin berisik.
Saat Keyla berjalan menuju bangkunya tiba-tiba Ratna memanggilnya. "Keyla tadi lo di cariin sama Kevin,"
"Mau ngapain dia nyariin gue?"
"Gak tau tuh, gue cuma menyampaikan amanah dari dia." Keyla kini berjalan menuju bangkunya sambil memikirkan kak Kevin yang sedang mencarinya.
"Ada urusan apa Kevin nyariin lo?" tanya Anna yang sudah duduk manis di bangkunya, menatap raut wajah Keyla yang sedang bingung.
"Gak tau gue juga," Jawab Keyla sambil mengangkat bahunya.
"Woy, Bu Fatimah datang!" teriak Joko dari balik pintu sambil berlari menuju tempat duduknya.
"Gue kira tuh guru gak bakal masuk, udah lewat 5 menit soalnya," gerutu Pajar sambil melirik jam di tangannya.
Kemudian Bu Fatimah masuk di iringi suara ketukan sepatunya yang sudah anak-anak kenal, sepatu model pantofel dan bola matanya manatap Riko dan Jaya yang masih asik bergendang.
"Riko, Jaya!" teriak Bu Fatimah dengan nada tinggi, membuat Jaya dan Riko menoleh, matanya menatap tajam kedua cowok itu.
"Hadir Bu," sahut Riko di iringi tawaan dari seisi kelas.
"Kamu nih ya, mau belajar apa mau keluar?" Bukan pertanyaan tapi ancaman, Bu Fatimah itu guru yang paling cerewet dan galak.
"Belajarlah Bu, kalau tidak mau belajar mana mungkin saya ada di kelas," celetuknya membuat mata Bu Fatimah melotot. Kemudian mereka pun duduk dengan benar, sambil menangkupkan kedua tangannya tanda minta maaf.
Bu Fatimah hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Riko yang memang sudah menjadi anak nakal, yang suka ngelawan guru, "Baiklah, buka buku kalian halaman 15, kerjakan sekarang lalu kumpulkan di meja saya."
"Ibu gimana sih, masa buku ada halamannya?" Semua pun tertawa mendengar perkataan Jaya, "Seharusnya Ibu bilangnya LKS bukan buku," teriaknya dengan berani.
"Kamu ngajarin saya heem?" tanya Bu Fatimah, menatap Jaya tajam.
"Jaya! Sudah kerjakan saja." Bella ikut mengomel mendengar perkataan Jaya yang jelas tidak akan bisa menang melawan guru.
"Keyla, lo udah nomor 10? Liat dong Key," tanya Rahma yang duduk di depan Keyla.
"Sudah, ada cari aja di LKS nya." Keyla terlihat sibuk mencari jawaban dari 25 soal di LKS itu, "Buka aja halaman 3 di sana ada penjelasannya,” lanjutnya.
10 menit kemudian bel pulang pun berbunyi. Anak-anak sontak berteriak senang mendengar bel pulang berbunyi, dan sebagian anak-anak terlihat panik mencari jawaban, bagi mereka yang takut terkena hukuman Bu Fatimah. Namun berbeda bagi 4 anak serangkai yang berasal dari anak sultan itu malah keluar kelas tanpa mengumpulkan tugasnya dengan santai.
"Karena sudah bel pulang, tugasnya di kumpulkan besok saja ya." Bu Fatimah pun berjalan keluar setelah menutup jam pelajarannya.
"Ayo cabut." Riko beranjak dari tempat duduknya.
"Lo udah selesai?" Adit yang nakalnya hanya terbawa teman-temannya masih punya rasa takut akan hukuman guru.
"Santai aja kali, kan masih punya waktu besok," celetuk Jaya santai. Adit pun bangkit mengikuti Riko dan Jaya yang sudah meninggalkannya di kelas.
"Key, gue duluan ya." Keyla menoleh kemudian tersenyum melihat Bella dan Riko diatas motor.
"Hati-hati Ko, jangan dibawa kabur teman gue." Bella tertawa sedangkan Riko memberikan jempol pada Keyla.
Keyla berjalan menuju parkiran, Anna dan Raya pun sudah pulang duluan karena tadi Keyla mengikuti rapat redaksi, begitu pun Kevin yang memang ada urusan sehingga harus pulang terlebih dahulu, kini tinggalah Keyla sendiri, berdiri di depan Halte untuk menunggu angkot lewat.
Tiinn ... tinn ....
Keyla menoleh dan betapa terkejutnya melihat lelaki yang beberapa hari ini telah menggangu pikirannya. Keyla menatap Fadhil heran.
“Buruan naik,” Fadhil menyerahkan helm pada Keyla.
"Tapi, arah jalan pulang kitakan beda,” tanya Keyla, dia ragu tapi tetap diambilnya helm yang cowok itu berikan.
Fadhil tersenyum. "Yaudah emang masalah buat gue." Keyla tertawa mendengar nada bicara Fadhil yang terkesan menggemaskan. “Cepetan naik, gak usah banyak mikir,” katanya.
Keyla mengangguk dan menaiki motor ninja Fadhil, tak percaya bahwa apa yang dulu sempat diimpikan olehnya kini terwujud, ya Keyla memang udah suka dengan Fadhil sejak pandangan pertama, namun saat Keyla mengetahui bahwa Fadhil adalah cowok paling nakal dan anak dari kepala sekolah, gadis itu jadi takut untuk mempertahankan rasa itu.
Fadhil melirik Keyla yang sedang tersenyum dari kaca spion. “Lo gila ya.” Keyla menoleh mendengar perkataan Fadhil.
Kening gadis itu menyerngit bingung, Fadhil tertawa melihat ekspresi Keyla. “Kenapa senyum-senyum gitu hah? Lo pasti lagi mikirin gue ya,” tudingnya membuat Keyla memukul bahu cowok itu. “Sakit Key,” lirihnya.
"Lagian suruh siapa jadi orang kepedean banget, jangan sok ganteng deh.”
"Biarin, emang fakta kok, buktinya lo seringkan nyuri pandangan saat gue main futtsal? Ngaku aja lo?" Keyla kaget saat apa yang Fadhil katakan semuanya benar, tau dari mana dia? Apa jangan-jangan dia sering mergokin ya? Batin Keyla bertanya-tanya. “Tuhkan diam, berarti benerkan?”
“Apaan sih, orang gue lagi mikirin jalan, kok ini bukan arah rumah gue ya,” ucap Keyla berbohong tapi memang benar ini bukan arah rumahnya, seharusnya tadi belok kiri bukan kanan. “Jangan coba-coba bawa gue kabur ya?” ancam Keyla merasa cemas.
"Kalau gue bawa kabur lo ke hati gue gimana?”
Deg ... Keyla kaget sudah pasti sekarang mukanya sudah merah dibuat cowok itu, Fadhil tersenyum hatinya tertawa berhasil membuat Keyla tersipu oleh rayuan recehnya.
"Ciee ... yang baper,” goda Fadhil yang langsung diberikan cubitan oleh Keyla, bukan sakit yang dia rasakan melainkan geli.
Kini motornya sudah memasuki jalan menuju rumahnya Keyla, pair jantung Keyla tidak dapat di kendalikan, karena ini baru pertama kalinya dia menaiki motor bersama orang yang dia sayang, dia berharap Fadhil tidak dapat mendengar debaran tersebut.
"Thanks ya Fadh,” ucap Keyla sambil tersenyum.
"Lo tahu gak Key?” tanya Fadhil, wajahnya menatap Keyla dengan serius.
"Gak.” Keyla menggeleng.
"Gue berharap lo bisa naik motor ini bareng gue lagi," ujar Fadhil. "Ya sudah sana masuk!” pintanya kemudian.
Keyla tersenyum setelah menyadarinya, "Hati-hati!"
Fadhil mengangguk sebelum berlaju dengan sangat kencang meninggalkan Gg. Hj. Ahmad dan seseorang yang masih menatapnya dari jauh.