The Quest for The Lost Inheritors

Pertemuan Druid dan Elf

Malam itu begitu dingin, suara derikan binatang terdengar dari kejauhan. Ada perasaan lega di batin kelompok Aldérin, bahwa mereka sudah berada di wilayah aman. Hutan Skyringstall merupakan hutan teror, bahkan tidak terdengar suara apa pun di sana.

Sedangkan binatang yang mengeluarkan bunyi, setidaknya ada tiga kemungkinan: wilayah itu aman, ada tanda bahaya, dan yang pasti kehidupan berlangsung di sana.

Raven sedang pergi, dan sudah dipastikan dia sedang berburu. Untung mereka tepat waktu, sehingga Raven yang sudah hampir kehilangan akal sehat, bisa mencari buruan. Hal ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Aldérin, mungkin sebaiknya Raven tidak ikut dalam perjalanannya. Antara Raven bisa berbahaya untuk anggota kelompok mereka nanti, di situ juga kondisi Raven dalam bahaya.

Ada baiknya dia tetap berada di sekitar Ferden’Lyf, untuk mencegah orang-orang keluar masuk dari sana. Sebelum batu Ratera bisa dipulihkan. Aldérin harus tetap dengan tujuan utamanya, mencari para pewaris Pelanthum Irior.

“Aldérin? Ada apa?” tanya Lya. Gadis itu mengawasi dari balik api unggun yang mereka nyalakan. “Kau tampak merenung sejak tadi, apa ada masalah?”

Bergegas Aldérin menggeleng. “Hanya hal kecil, tidak perlu kau risau. Kenapa kau belum juga istirahat, Lya? Perjalanan kita masih cukup jauh menuju Hail.”

“Kamu pernah merasakan, kita akan kembali pulang, rasanya ada sesuatu yang berbeda. Mungkin lebih baik tidak mengetahui petualangan apa di depan, dibandingkan kembali ke hari-hari seperti biasanya.”

“Apa yang kita alami bukanlah suatu petualangan. Kau hampir tewas beberapa kali, menurutku ini adalah perjalanan yang berbahaya.”

Lya terkekeh pelan, tak ingin membangunkan Findarel yang sedang mengistirahatkan pikirannya. “Ya setelah melalui bahaya itu, rasanya begitu lega dan menyenangkan. Mungkin jika aku tak selamat, setidaknya ada kenangan aku pernah lolos dari mara bahaya.”

“Lalu ke mana arah tujuan pembicaraanmu?”

“Aku tak ingin kembali ke Hail.” Mata Lya menatap lekat-lekat pada Aldérin. “Kumohon, aku tidak mau melihat wajah berduka ibuku, karena kehilangan Thane. Kami pun sudah kehilangan paman Blud.”

“Lalu kau mau membiarkan ibumu sedih seorang diri? Sedangkan ia membutuhkanmu di sisinya?”

Lya tercenung sejenak, lalu ada embusan panjang terdengar dari bibirnya.

“Aku merasa bahwa takdirku tidak menunggu di Hail, dan menenangkan orang-orang yang sedang berduka. Mungkin terdengar aneh menurutmu, Aldérin, atu mungkin tidak masuk di akal. Tetapi, aku merasakan hal ini, sudah sejak lama.”

“Bahwa kau tidak semestinya ada di Hail?”

“Jika ada sesuatu yang buruk terjadi, aku tak mau diam. Aku tak ingin menjadi seseorang yang harus berlindung di balik tameng orang lain. Aku ingin maju, meski itu berarti harus mempertaruhkan nyawaku,” kata Lya sungguh-sungguh. “Meski pada kenyataannya, aku berulang kali menyusahkanmu, Findarel, maupun Raven. Jika saja aku lebih kuat lagi, aku ingin kalian bisa andalkan. Aku tahu, aku adalah gadis yang lemah.”

“Itu adalah ucapan paling berani dari seorang wanita kuat, dan aku sangat terharu mendengarnya.” Aldérin beranjak berdiri, lalu duduk di samping Lya. Dirangkulnya bahu gadis itu. “Kau tidak seperti yang kau duga selama ini. Tidak ada seorang gadis yang berani melewati atap, atau menghadapi anjing-anjing besar. Kau sangat hebat, kau tidak lemah. Akan tetapi, aku tidak mau jika terjadi sesuatu padamu lagi, Lya.”

“Apa kau pernah berpikir, bahwa selama ini kau memang memiliki takdir untuk mengemban sesuatu yang besar, Aldérin? Meski itu hanya dalam angan-anganmu?”

“Tidak. Karena menurutku, semua makhluk yang ada di bumi ini, semua mengemban tugas yang sama besarnya.”

Aldérin tiba-tiba terhenyak. Bahkan bangsa dëia yang mungkin bersilang jalan dengan bangsa lain, mereka pun diciptakan atas tujuan tertentu. Tidak ada kebaikan, jika tidak ada kejahatan. Tidak ada senang, apabila belum pernah merasakan sedih.

Jika memang Aldérin harus mencari pewaris Pelanthum Irior, dia harus memahami betul tentang ini. Bahwa para pewaris, mungkin bisa siapa saja, tetapi mereka memiliki apa yang sudah ada tertanam di hati masing-masing.

“Tidurlah,” pinta Aldérin sembari menepuk lembut bahu Lya. “Kita akan bicarakan hal ini, setelah kembali ke Hail. Setidaknya, biarkan aku merasa kau ada di tempat aman.”

“Baik, Aldérin.” Lya mengangguk singkat.

Terdengar suara derakan ranting dari pepohonan, sangat halus, tetapi terdengar jelas oleh Aldérin. Dia mendongakkan kepala, dan melihat bayang-bayang datang, sudah dipastikan itu adalah Raven. Perempuan itu meluncur turun dari dahan pohon tanpa suara, hanya terdengar gemerisik dedaunan kering di tempatnya berpijak.

Wajah Raven tidak sepucat sebelumnya, meski dia terlihat agak khawatir.

“Aku melihat api dinyalakan di dekat aliran sungai Palkia, tidak jauh dari sini,” ucap Raven setengah berbisik. “Seseorang atau entah sekelompok orang, sedang menyalakan api unggun di sana.”

“Kau melihat siapa di sana? Manusia atau bukan?” tanya Aldérin.

“Berbau seperti manusia, meski samar. Aku tidak bisa menciumnya dengan jelas, karena aroma dedaunan begitu terasa di hidungku. Hampir-hampir mencekik pernapasanku.”

Lya kelihatan setengah gugup. “Apa sebaiknya kita melihat ke sana? Aku tak mau berpapasan dengan makhluk mengerikan lagi. Lebih baik kita pastikan sebelumnya.”

“Kurasa begitu, bangunkan Findarel, kalian berdua harus tetap bersama satu sama lain. Aku dan Aldérin akan lebih dulu memeriksa ke sana,” titah Raven.

Lya mengguncang tubuh Findarel. “Findarel, kau tertidur? Bangunlah,” ucapnya. Lalu dia menoleh pada Aldérin. “Bukankah kaum kalian hanya mengistirahatkan pikiran? Kenapa dia tampak tidur seperti manusia biasa? Ini sangat aneh.”

“Aku pun tidak tahu. Jujur saja, Findarel agak berbeda, akhir-akhir ini,” ucap Aldérin lirih.

“Findarel! Astaga! Bangunlah!” Lya semakin keras mengguncang tubuhnya.

Kedua mata Findarel terbuka, dan menyipit. Lalu dia mengerang pelan sembari menggeliatkan tubuh. “Apa yang terjadi? Ini masih malam. Aku mengantuk sekali.”

Sebelah alis Aldérin naik. “Kau tertidur?”

“Oh, entahlah, Ial. Kurasa begitu. Aku sangat lelah, entah apa yang terjadi setelahnya.”

“Cepat kita pergi,” desak Raven.

“Ada apa sebetulnya, Ial?” Findarel kelihatan heran.

“Raven menemukan seseorang entah mungkin siapa, sedang menyalakan api unggun di dekat sungai Palkia. Kita akan melihatnya ke sana, memastikan itu bukan bahaya,” jawab Aldérin.

Bergegas Findarel bangkit dari tempatnya berbaring, dan mengepak barang-barang bersama Lya. Setelah itu mereka mematikan api unggun, setelah sebelumnya menyalakan obor untuk Lya agar bisa melihat lebih jelas dalam kegelapan.

Dengan cepat, Aldérin dan Raven mengambil langkah lebih dulu dibandingkan keduanya. Sedangkan Findarel berjalan berdampingan dengan Lya di belakang, membawa barang-barang, karena Aldérin dan Raven dalam kondisi siaga, di mana keduanya bisa-bisa harus bertempur.

“Findarel, apa kau bisa mengajarkan menggunakan pedang dan panah?” seloroh Lya tiba-tiba.

“Tentu saja. Kapan saja kau mau, aku bisa membantu.”

“Aku ingin bisa menjadi ahli pedang atau pemanah, setidaknya untuk melindungi diriku sendiri.”

“Untuk apa kau lakukan itu? Bukankah kita akan kembali ke Hail?”

“Apa aku tidak boleh mempelajarinya?”

Findarel hanya mengangguk. “Aku tidak mengatakan begitu. Tetapi kau benar, siapa pun harus belajar untuk membela diri, terlebih kita sedang mengalami masa-masa gelap melawan bangsa dëia.”

Di depan mereka berdua yang tengah berbincang, Aldérin dan Raven berlari secepat dan setenang mungkin agar tidak mengeluarkan suara mencurigakan. Apa yang dikatakan oleh Raven benar, tidak dalam waktu lama mereka sudah melihat nyala api unggun di depan sana. Lalu keduanya diam di belakang semak-semak, memastikan dan mengawasi siapa yang ada di depan sana.

“Seperti orang yang ceroboh, menyalakan api unggun di alam liar tanpa waspada,” bisik Aldérin.

“Atau memang dia tidak gentar pada apa pun,” balas Raven. Tampak Raven berusaha menahan sesuatu yang menggelitik hidungnya. "Aroma ini, menyesakkan. Kau menciumnya, Aldérin? Bau dedaunan, seperti kau tertimbun di dalam rengkuhan tumpukan daun kering.”

Aldérin terdiam beberapa saat, menajamkan instingnya, dan merasakan aura itu. Sesuatu yang sangat familiar, sudah sangat lama. Dia langsung berdiri dan wajahnya terlihat sangat lega.

“Élsus!” seru Aldérin senang.

*

Hari sudah sangat larut, tetapi pertemuan Aldérin dengan Élsus membuat semuanya tidak bisa memejamkan mata. Semua saling berkisah satu sama lain, apa-apa yang tidak diketahui Aldérin selama perjalanannya menuju ke utara. Dan apa yang tidak diketahui Élsus, selama dia berada di hail.

Tidak ada yang menyangka bahwa Hail sudah diserang habis-habisan oleh bangsa dëia, dan berkat dunia langit, mereka masih bisa bertahan, bahkan memukul mundur pasukan bangsa dëia.

Namun, meski begitu, niat Raja Thornell untuk menyerang kembali, membuat Aldérin benar-benar khawatir.

Mungkin kemenangan di Hail, ada faktor keberuntungan belaka. Tidak mungkin mereka menyerang bangsa dëia ke tanah airnya dengan tergesa-gesa dan tanpa rencana yang matang.

“Mungkin sebaiknya kau segera temui Raja Thornell, dan cegah dia untuk melakukan sesuatu yang bisa saja menyia-nyiakan banyak nyawa, Aldérin. Karena mereka pun pergi bersama bangsa centaur dan dryad. Aku tak ingin di sana menjadi tempat pertumpahan darah,” kata Élsus panjang lebar.

“Aku belum pernah bertemu dengan mereka, tetapi menyerang kembali adalah tindakan yang sangat ceroboh,” seloroh Raven. “Setidaknya, semua aliansi sedang berkumpul. Bukankah sudah kukatakan, bahwa orang-orang di utara akan membantu, tetapi aku harus memulihkan kembali batu Ratera untuk menyembuhkan semua di sana.”

“Apa kita harus mencari potongan batu Ratera? Mana yang harus didahulukan?” tanya Élsus bimbang. “Sedangkan raja mungkin dalam beberapa hari ini akan bertolak menuju Karakh.”

“Aku hanya harus temukan penyihir itu. Sialnya, dia seolah tenggelam dan menghilang,” desis Raven geram. “Yang kutakutkan, bisa saja dia bersekutu dengan bangsa dëia.”

“Apa itu mungkin?” tanya Élsus.

“Tidak ada yang mustahil di zaman-zaman seperti ini,” jawab Raven.

Lya, Keld, dan Findarel hanya menutup bibir mereka, menjadi pendengar yang baik. Dan Lya sangat kenyang, karena menikmati bekal makanan buatan Paltis yang masih layak dimakan. Rasanya sudah terlalu lama, dia tidak menikmati makanan khas Hail.

“Kurasa kita bisa mencoba mencari batu Ratera, setelah meyakinkan Raja Thornell untuk menahan dulu serangannya. Kita kumpulkan dulu kekuatan. Aku pun harus mencari tahu, bagaimana nasib kaumku juga para dwarf, yang sedang dalam pelarian sekarang,” saran Aldérin.

“Kalau begitu, apa kita segera kembali ke Hail?” celetuk Keld tiba-tiba.

Aldérin mengiyakan. “Untuk memperingatkan raja Thornell, bahwa dia tidak bisa terburu-buru dengan apa yang akan ia lakukan. Atau dia akan mencelakakan semua bangsa.”

Raven melemparkan ranting kering pada api unggun. “Kau yakin dia mau mendengarmu? Sedangkan ratu dari bangsa dryad, dan pemimpin dari kaum centaur tidak dia indahkan nasihat mereka?”

“Aku harus melakukannya sekuat mungkin. Karena ini menyangkut kehidupan semua bangsa.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!