The Quest for The Lost Inheritors

Petisi di Amenyeil

Sebagian para dwarf berkumpul, begitu juga para elf di puncak benteng Amenyeil untuk makan malam. Kyfa duduk bersama keenam dwarf yang baru saja kembali dari Pílghym, karena Amdû yang memintanya untuk duduk bersama. Mat Kyfa sesekali mengawasi Jerik, Glanar, dan juga Gartegor yang sibuk bicara bertiga dalam bisik-bisik. Sudah dipastikan, ketiganya sedang berembuk untuk membuka pembicaraan mengenai petisi yang telak mereka rembukkan sore tadi.

Begitu acara makan malam selesai, Jërik mengangguk singkat, memberi isyarat pada Kyfa, lalu dwarf itu berdiri.

"Ada yang ingin kusampaikan pada kalian semua. Bahwa Amenyeil, mungkin, bukan tempat yang aman untuk kita terus berada di tempat ini. Benteng tidak bisa melindungi semua pelarian, dan aku akui, terlalu hiruk pikuk, sehingga membuat siapa pun tidak merasa nyaman. Memang kenyamanan untuk sementara ini, tidak akan kita dapatkan, karena kondisi kita semua dalam keadaan genting.

"Selain itu, para elf berkemampuan sihir menyatakan bahwa pelindung mereka sudah mulai memudar. Tidak ada pelindung yang bisa selamanya tercipta. Aku memahami hal itu, para elf membutuhkan tempat tinggal untuk menciptakan hal-hal seperti ini. Kita pun tak mungkin terus bergantung pada kemampuan mereka.

"Maka kami membuat satu kesepakatan, di mana Kar Kyfa telah merumuskan petisi untuk kita semua. Keputusan mana yang terbaik, yang akan kita ambil. Demi keselamatan semua yang ada di Amenyeil," Jërikmenyelesaikan kata-katanya dan mengangguk lagi pada Kyfa.

Lalu giliran Kyfa berdiri, dia menatap pada semua dwarf dan elf yang ada di sana. Di tangannya sudah terbuka sebuah perkamen. Setelah itu, dia berikan pada Amdû, agar mereka bisa membaca isi petisi tersebut dan disebarkan pada yang dwarf dan elf lain yang ada di dalam ruangan.

"Keputusan petisi, aku harap bisa mewakili semua bangsa dalam pelarian. Karena itu, aku membuat tiga pilihan, yang bisa kalian pikir baik-baik, tanpa ada paksaan atau desakan dari yang lain. Aku berharap, petisi ini tidak akan membuat masalah baru, tapi kita di sini bersama-sama untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi," ujar Kyfa.

Selain para tetua klan dan keenam dwarf (yang mungkin sudah mengetahui hal ini dari Amdu) yang lain menunjukkan raut wajah heran juga terkejut. Namun, tidak ada yang menyangkal bahwa keberadaan mereka di Amenyeil jika terlalu lama, takkan membawa dampak yang baik.

Setelah petisi disebar dan dibaca, setiap gumaman semakin keras terdengar di sana-sini. Seperti dengungan lebah di sarangnya.

"Bagaimana bisa kita menyerang bangsa dëia? Sedangkan mereka saja bisa menghancurkan kota kita?" celetuk salah satu dwarf dari bangku kedua di tengah-tengah.

"Lalu berlayar? Kami bukan pelaut, dwarf adalah bangsa penambang," seloroh yang lain.

"Kenapa harus ada dua pilihan ke pantai. Itu sama saja dengan membuka tangan lebar-lebar bagi bangsa dëia untuk memangsa kita hidup-hidup!" seru suara dari bangku paling pojok kanan ruangan.

"Kenapa harus elf, yang menuliskan pilihan petisi? Bahkan ini sudah terdengar tak adil bagi para dwarf!" Terdengar teriakan lain.

Kyfa tidak mengatakan apa-apa, begitu juga para elf lain yang ada di dalam ruangan. Dwarf termasuk bangsa rewel, cukup sulit untuk menerima sesuatu hal yang belum pernah mereka coba atau alami. Dan bersikap sama-sama keras, tentu takkan menemukan titik temu. Sehingga para elf memilih diam, dan membiarkan emosi para dwarf mereda dengan sendirinya.

Jërik melirik pada Gartegor, dan mendesah pelan. Lalu Gartegor berdiri dan memukul-mukul gelas kayu pada meja.

"Hentikan! Dwarf keras kepala! Dengarkan! Para elf sudah membantu kita, dengan membuat pelindung selama dalam pelarian. Jika bukan karena mereka, tentu kita takkan selamat hingga detik ini di Amenyeil," seru Gartegor.

"Tapi mereka yang datang ke Pílghym, dan membawa bangsa dëia datang ke depan rumah kita," celetuk yang lain.

Para elf serempak menatap ke arah suara berasal, wajah-wajah mereka sudah mengeras. Tentu saja tidak akan ada yang mau disalahkan atas kedatangan bangsa dëia yang tiba-tiba datang ke tempat tinggal, dan memporakporandakan rumah mereka. Mana mungkin para elf dengan sengaja mengundang bangsa dëia untuk sekaligus menghancurkan kota para dwarf. Itu benar-benar suatu penghinaan.

Namun, Kyfa menggelengkan kepala, memberi isyarat pada elf yang lain agar tidak terpancing. Lalu terdengar lagi Gartegor memukul-mukul meja dengan gelas di tangannya.

"Kutanyakan pada masing-masing dari kalian, apabila bangsa kita yang diserang lebih dulu, apa kau masih bisa mengatakan hal itu pada bangsa mereka?" balas Gartegor dengan suara tegas. "Bagaimana jika kau yang ada di posisi sebaliknya? Hentikan omong kosong yang akan memecah belah aliansi kita!"

Tidak ada jawaban apa pun, hanya gumaman pelan sedikit menggerutu dari beberapa barisan. Sedangkan dwarf yang lain hanya menunduk malu, atau pura-pura melihat ke arah lain.

“Aku hanya ingin kalian memberi keputusan atas petisi yang sudah disetujui olehku, dan petinggi lainnya,” kata Gartegor, meski sebetulnya dia pun baru saja membaca petisi yang dibuat oleh Kyfa. Namun, menurutnya itu pilihan yang cukup bagus. Bahkan Jërik dan Glanar tidak terlihat tersinggung dengan isi petisi tersebut.

Glanar yang belum mengatakan apa-apa, dia berdiri dan menatap sekilas pada Gartegor. “Jika pilihan pertama tidak memuaskan kalian, ada pilihan kedua dan ketiga. Begitu pun sebaliknya, apa yang membuat kalian menjadi merasa susah seperti ini? Sedangkan hidup kita sudah cukup sulit, hidup dalam ancaman, dan tidak punya rumah. Lekaslah, atau aku akan mencari para pemilih yang tidak rewel seperti kalian.”

Gartegor mengangguk dan tersenyum simpul, menandakan dia berterima kasih atas ucapan Glanar.

“Mari kita putuskan sekarang,” lanjut Glanar.

“Ada tiga puluh lima dwarf bergabung dengan elf di sini, silakan kalian angkat tangan jika sudah memberikan keputusan atas petisi dari pilihan satu, dua, maupun tiga. Untuk pilihan pertama, angkat tangan kalian,” ucap Gartegor.

Ada lima tangan terangkat ke arah langit, lalu tak lama turun kembali. Glanar duduk, dan mengambil pena, lalu menuliskan angka lima pada perkamen petisi di tangannya.

“Pilihan kedua,” kata Gartegor.

Sepuluh telapak tangan memilih pilihan kedua. Dengan begitu, sudah menjadi keputusan mutlak, bahwa pilihan ketiga merupakan pilihan terbanyak, dan itulah yang akan mereka jalani setelah para petinggi memutuskan petisi. Mereka akan segera mengepak barang, dan pergi menuju pantai Chiméya.

“Kami akan memberitahukan, kapan kita berangkat menuju pantai Chiméya, akan tetapi sebarkan berita ini mulai dari sekarang, kita akan segera pergi dari Amenyeil secepat mungkin,” kata Gartegor.

Semua hanya mengangguk mengiyakan, lalu kumpulan para elf dan dwarf itu membubarkan diri, karena acara makan malam sudah selesai. Keenam dwarf masih bertahan di sana, untuk bicara pada para tetua klan. Kyfa beranjak dari duduk, menghampiri ketiga tetua klan bersama enam dwarf yang mengekor di belakangnya.

Jërik menatap pada Kyfa dan keenam dwarf secara bergantian.

“Ada apa lagi yang ingin kalian bicarakan tentang petisi?” tanya Jërik. Lalu dia beralih pada Kyfa. “Maafkan atas apa yang baru saja terjadi, Kar Kyfa, kuharap para elf tidak akan tersinggung dengan kata-kata dwarf yang memang terlalu jujur,” tekannya dalam dua kata terakhir.

“Itu bukan sesuatu yang harus kami masukkan ke dalam hati, Jërik,” balas Kyfa sopan. “Yang ingin kubicarakan bukan mengenai petisi. Sesuatu yang lain.”

“Oh, lalu apa? Katakanlah,” kata Jërik.

“Keenam dwarf ini,” tunjuk Kyfa pada Amdû dan kelompoknya. “Ingin kembali ke Pílghym, untuk memastikan lagi apa mereka bisa menemukan Lâmbi di sana.”

*

Di ruang pertemuan, sudah duduk keenam dwarf bersama Kyfa, terpisah oleh meja Jërik, Glanar, dan Gartegor. Wajah-wajah para tetua sedikit muram juga bingung, setelah mendengar alasan dari para enam dwarf muda yang ada di hadapan mereka. Terdengar seperti misi yang mustahil, dan mengada-ngada, mencari Lâmbi yang belum tentu jasadnya pun masih ada di Pílghym. Namun, keenam dwarf tetap bersikeras ingin kembali, karena bagi mereka Lâmbi adalah sosok yang paling mereka sayang.

“Aku tetap pada keputusanku. Tidak,” tegas Glanar. “Kalian lebih dibutuhkan di sini, karena kita semua akan pergi menuju pantai Chiméya, kurang dari satu pekan. Entah tiga atau empat hari yang akan datang.”

“Kami pasti akan kembali ke Chiméya dan bergabung bersama yang lain,” kata Síflag.

“Kau bisa yakin, jika bangsa dëia tidak akan menangkap kalian?” seloroh Gartegor.

Keenam dwarf tidak berani menjawab, mereka melirik pada Kyfa. Seolah meminta bantuan.

Lalu Kyfa berdeham pelan. “Mereka sudah berpengalaman, dan menurutku akan jauh lebih hati-hati untuk tidak melawan bangsa dëia sendiri. Kurasa mereka akan bijak untuk menghindari masalah. Aku setuju, apabila mereka pergi ke Pílghym hanya untuk memastikan, dan segera kembali ke pantai Chiméya. Setidaknya hati mereka jauh lebih tenang, setelah tahu apa yang terjadi pada Lâmbi.”

Ada tatapan sekilas merasa terharu yang ditunjukkan oleh Jërik, pimpinan klan Rockbanner itu mengangguk lemah. “Jika kalian ingin kejujuran dariku, aku pun ingin pergi ke Pílghym, untuk membawa jasad putraku dan dimakamkan dengan layak. Akan tetapi, orang-orang di sini jauh lebih membutuhkanku, jika ada yang mau pergi ke sana dan membawa Lâmbi padaku, aku sangat berterima kasih.”

“Aku percaya mereka akan baik-baik saja, kalian bisa memegang janjiku. Jika memang terjadi sesuatu pada mereka, kalian boleh mengambil nyawaku sebagai gantinya,” tegas Kyfa.

“Aku menyetujuinya,” kata Jërik.

“Oh, apa kita harus membuat petisi lagi?” Glanar tampak sedikit kesal. “Aku tidak mau ada masalah tambahan. Akan tetapi, jika sampai terjadi dua keputusan seperti ini, kalian anak-anak muda, pasti takkan mau menuruti nasihat yang lebih tua,” gerutunya sembari menatap pada keenam dwarf secara bergantian.

“Lalu apa keputusanmu? Kau akan meralatnya?” tanya Gartegor sembari terkekeh pelan. “Baiklah, jika Jërik dan Kyfa bisa memastikan mereka tidak akan membuat masalah, aku setuju. Aku hanya ingin lebih memfokuskan diri pada perjalanan kita ke Chiméya selanjutnya.”

“Kami diizinkan kembali ke Pílghym?” tanya Fortan memastikan.

Para tetua mengangguk, meski Glanar terlihat begitu terpaksa. Keenam dwarf muda kelihatan begitu bahagia, mereka bersorak dan memeluk satu sama lain.

“Jangan kecewakan kami,” ucap Glanar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!