The Quest for The Lost Inheritors
Suara Terbanyak
Dan akhirnya Kyfa bersama tiga petinggi klan dwarf berbincang sangat serius. Ini menyangkut keselamatan semua, mereka tak bisa gegabah mengambil langkah. Terlebih tidak ada lagi tempat yang benar-benar terlindungi, bahkan kota terkuat bak Pílghym pun bisa porak-poranda oleh kekuatan bangsa dëia.
Lari pun bukan suatu pilihan. Karena ke mana pun mereka bersembunyi, bangsa dëia akan terus mengejar bahkan hingga ke ujung dunia. Bangsa darah dan api itu, tidak pernah berkeinginan untuk menjajah, mereka memang ingin membinasakan semua bangsa.
“Chiméya?” tanya Glanar seolah memastikan apa yang dia dengar itu benar.
“Betul, aku menyarankan kita pergi ke sana,” jawab Kyfa.
“Di sana tidak ada apa-apa, perlindungan pun tidak ada. Hanya ada tanah dan air. Ke mana kita akan pergi, jika semua kekuatan belum terkumpul?” tanya Gartegor.
“Kita bisa membuat kapal, dan berlayar.” Kyfa terlihat begitu yakin.
Ketiga dwarf tertawa, mereka merasa itu sangat menggelikan, meski di saat yang benar-benar genting. Karena tidak ada yang tahu, setelah kapal berlayar, lalu akan menemui daratan di mana. Tidak satu pun dari mereka yang pernah menemukan pulau lain, bahkan pergi berlayar pun tidak ada yang pernah melakukan.
“Apa ada tempat aman di luar sana? Berapa lama kita berada di atas kapal? Sepuluh hari? Satu bulan? Atau mungkin ratusan tahun?” Mata Jërik menatap pada Kyfa, membutuhkan jawaban yang pasti. “Kar kyfa, kau dan bangsamu adalah bangsa yang bisa dikatakan abadi. Akan tetapi kami, meski berumur panjang, kami tidak mungkin memiliki usia mencapai hitungan ratus tahun.”
“Aku—” Kyfa seperti tercekat. “Aku tidak memikirkan sejauh itu, aku minta maaf. Karena aku hanya berpikir, untuk mencari tempat bagi kita semua, agar bisa terhindar dari serangan bangsa dëia.”
“Mereka bisa membuat kapal-kapal, dan mengejar kita semua,” kata Glanar.
“Yang harus kita lakukan adalah memperkuat pasukan, membuat senjata-senjata yang kuat tapi tetap ringan, melatih mereka yang tak mampu bertempur menjadi petarung. Dan melawan bangsa terkutuk itu!” ucap Gartegor tegas. “Jangan pernah lari, karena aku tak mau hidup dalam bayang-bayang dan ketakutan.”
“Kita masih membutuhkan bantuan dan aliansi dari bangsa lain,” ujar Kyfa. “Mengumpulkan kekuatan, dan bersembunyi untuk beberapa waktu, tidak akan menjatuhkan harga diri bangsa mana pun.”
“Jika memang kita harus ke Chiméya, harus ada satu kelompok yang bertahan di sini. Kita tidak akan tahu, apabila dari bangsa lain datang ke Amenyeil,” kata Jërik.
“Apabila Amenyeil menurutmu hanya diketahui oleh bangsa dwarf, bagaimana mungkin bangsa lain akan mengira ada pengungsi di sini? Itu terdengar tidak masuk akal. Menurutku, kita serang saja bangsa dëia itu. Aku tak mau menyia-nyiakan waktu,” komentar Glanar.
“Aku tak ingin kehilangan lagi orang-orang yang kukenal dan kukasihi,” sergah Jërik. “Sebaiknya kita lebih bijak mengambil keputusan. Aku tak ingin kita melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, lalu berakhir atas kehancuran semua.”
“Kita ambil suara, sembilan orang yang mewakili bangsa dwarf dan elf. Bagaimana?” usul Gartegor. “Suara terbanyak, adalah langkah yang kita ambil selanjutnya.”
“Ini, bukan semacam pertaruhan, dengan mengambil suatu keputusan dari suara paling banyak,” kata Kyfa dan menatap masing-masing pemimpin klan sedikit cemas. “Karena setiap langkah yang kita ambil, akan ada akibatnya. Dan kita berusaha menekan akibat tersebut, agar tidak terlalu fatal.”
“Lalu apa salahnya dengan pengambilan suara? Orang-orang yang tinggal di sini, memiliki hak untuk menyampaikan saran mereka? Bukankah begitu, Jërik?” kata Gartegor.
“Buatlah suatu petisi, dan biarkan orang-orang mengambil keputusan bagi kebaikan bersama, Kar Kyfa,” pinta Jërik yang mengiyakan saran dari Gartegor. “Jika memang ini akan menekan akibat dan mengulur waktu bangsa dëia untuk menyerang kita, kurasa semua orang akan mengambil keputusan yang sama.”
Kyfa tidak bisa memberi argumen apa-apa lagi, dia hanya mengangguk singkat. “Baiklah.”
*
Kyfa keluar dari ruang pertemuan, dan pikirannya terasa berkabut. Dia pun putuskan untuk berjalan-jalan dan melihat kondisi para elf lain dalam pelarian. Berada di Amenyeil, jauh lebih baik dibandingkan mereka terlunta-lunta di hutan. Pergi ke Chiméya, kondisinya tidak akan terlalu jauh seperti bersembunyi di hutan Emun Jantrum. Namun, Chiméya letaknya lebih jauh dari Amenyeil ke Pílghym. Mungkin ada harapan bagi mereka, bisa keluar dari sana dengan selamat. Dan melakukan serangan balasan pada bangsa dëia.
Mata Kyfa melihat para pelarian, yang harus hidup berdesak-desakan di benteng Amenyeil. Mereka tidak bisa seperti itu terus. Lambat laun, kesehatan para pengungsi akan menurun, selain rasa takut di pikiran dan di hati, fisik mereka akan melemah. Tinggal di sana, memang bukanlah suatu pilihan. Banyak elf dari Lamvorels, memutuskan untuk tinggal di hutan Emun Jantrum, akan tetapi itu adalah para elf dewasa, elf anak-anak tidak mungkin dibiarkan berkeliaran di hutan, karena mereka masih kaum yang lemah.
Kyfa mengangguk sopan pada para elf dewasa sedang mengasuh para elf muda yang sudah kehilangan orangtua mereka. Para dwarf muda ikut bermain, dan bergabung. Mereka tidak tahu bahaya apa yang kini sedang mengintai, Kyfa tak ingin kehilangan satu nyawa pun, karena serangan bangsa dëia untuk ketiga kalinya. Pikiran dan hatinya benar-benar kalut.
Tanpa terasa, Kyfa sudah berjalan hingga tepi hutan Emun Jantrum, dia melihat para elf berdatangan dari balik pepohonan, mereka menghampiri Kyfa dan mengangguk memberi hormat.
“Ada kabar apa yang kau bawa dari Amenyeil?” tanya salah satu elf.
“Akan diadakan pengambilan suara, untuk langkah kita selanjutnya,” kata Kyfa.
“Pengambilan suara? Apa kaum kita dan dwarf terpecah menjadi dua kubu?”
Kyfa menggeleng. “Tidak seperti itu, akan tetapi, satu pimpinan klan ingin kita melawan bangsa dëia sesegera mungkin. Karena sembunyi dan berlari, hanya akan menjadi hal sia-sia menurutnya.”
“Bangsa mereka belum mengerti arti kehilangan yang sesungguhnya,” ucap elf lain. “Kita sudah kehilangan banyak, bahkan rasa duka kami belum juga mengering.”
“Namun, Lidórin sudah mengatakan, bahwa pelindung dari para elvin tidak bisa berlangsung lama. Energi mereka sudah terkuras banyak, lambat laun, pelindung akan memudar,” kata Kyfa.
“Lalu apa saranmu, Kyfa?” tanya elf yang pertama.
“Berlayar,” jawab Kyfa singkat.
“Oh, itu ide yang kurang bijak bagi para dwarf.” Elf lain menggeleng kepalanya. “Para dwarf takkan mungkin menyetujui. Mereka tidak pernah menyentuh air, mereka adalah makhluk bumi, yang lebih suka menggali dalam pada tanah.”
“Karena itu mereka ingin membuat petisi suara terbanyak, agar menjadi lebih adil,” balas Kyfa.
“Jika itu yang mereka inginkan, mungkin ini bisa menjadi ide terbaik.”
Para elf mengangguk mengiyakan.
“Selama kita pergi menjauh dari Amenyeil. Karena di sini tidak aman, firasat kami begitu tajam. Ada bahaya datang mengintai, tidak lama lagi.”
*
Setelah menemui para elf, Kyfa kembali ke peraduannya, memikirkan isi petisi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak: elf maupun dwarf. Kyfa memikirkan dengan masak-masak, sebetulnya dia sendiri tak tahu apa pilihan tersebut cukup bijak ia lakukan. Biasanya hal-hal seperti ini, pihak-pihak di Kal Luin yang bisa merumuskan putusan atau Aldérin.
Hanya saja, kini Kyfa yang ditunjuk sebagai perwakilan para elf. Dia tidak bisa bertanya pada elf-elf yang sudah gugur di Lamvorels maupun Aldérin yang pergi dan entah selamat atau tidak. Dia menulis pada perkamen, tak hanya dua, akan tetapi tiga pilihan petisi yang bisa dipilih oleh para pelarian dua bangsa.
Yang pertama, mereka tetap tinggal di Amenyeil, mengumpulkan kekuatan lalu menyerang bangsa dëia. Seperti yang diusulkan oleh Glanar sebelumnya. Lalu isi pilihan kedua, pergi ke pantai Chiméya membuat kapal layar, dan pergi hingga mereka menemukan pulau baru.
Dan pilihan terakhir, mereka pergi ke Chiméya, mencari bangsa lain untuk mengumpulkan kekuatan. Membuat kapal, sebagai tempat perlindungan sementara bagi anak-anak dan perempuan. Lalu pergi menyerang bangsa dëia setelah semua bangsa berkumpul.
Untuk pilihan ketiga, harus ada yang pergi menuju kota para nymph, dryad, juga manusia. Yang pasti, harus para elf yang memiliki stamina kuat berlari berhari-hari. Kyfa sudah memiliki kandidat-kandidat elf, yang memiliki kemampuan untuk pergi dalam keadaan tergesa.
Kyfa hanya berharap saat makan malam nanti, tidak akan terjadi berbagai pertentangan apabila hasil telah ada dan keputusan telah dibuat. Dia juga berharap, bahwa semua pilihan yang dituliskan olehnya, akan membawa titik terang yang baik.
Pintu kamar Kyfa diketuk, dan bergegas dia membuka pintunya. Sesosok dwarf yang sudah bersih juga rapi, datang memberi salam pada Kyfa. Itu adalah Amdû, saudara sepersepupuan Lâmbi.
"Oh, Amdû, silakan masuk," sapa Kyfa. "Apa yang bisa kubantu?"
Amdû memasuki kamar sementara Kyfa, mengamati isi kamar beberapa saat lalu dia berdeham.
"Aku ingin kembali ke Pílghym, begitu juga dengan kelima saudaraku yang lain," ucap dwarf itu dengan suara pelan. "Kami sangat khawatir dengan Lâmbi, mungkin kami belum menunggu terlalu lama di sana. Mungkin saja dia masih hidup."
"Tapi kalian sudah menunggunya lebih dari sehari semalam. Apa kalian yakin akan menemukannya?"
"Setidaknya kami bisa menemukan jasadnya, atau sebagian tubuhnya, apa saja, asal kami tidak kembali dengan tangan kosong." Amdû mendesah pelan. "Kami sangat menyayangi Lâmbi. Dan Ara (Paman) Jërik, pasti lebih menyayanginya lagi."
"Aku tidak memiliki keputusan untuk membiarkan kalian pergi ke sana. Kalian harus meminta ijin pada tetua klan."
"Kami ingin kau memberi dukungan, setidaknya jika kau berkata setuju, ara Jërik pasti setuju."
"Glanar dan Gartegor belum tentu meluluskan permintaan kalian. Bukankah kalian prajurit terbaik yang Pilghym miliki? Mereka pasti tak mau kehilangan lagi salah satu dari kalian."
Amdû tidak segera menjawab, dia hanya tertunduk lesu, seolah tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Mengadakan petisi untuk masalah kepergian mereka kembali, hanya akan membuang-buang waktu.
Namun, Kyfa tahu bahwa para dwarf adalah bangsa yang sangat setia dan menyayangi satu sama lain. Mereka lebih baik mati bersama-sama, daripada harus menyelamatkan diri, jika dalam keadaan terdesak. Jika Kyfa tidak setuju, keenam dwarf saudara sepersepupuan, sahabat Lâmbi akan mengingat Kyfa sebagai sosok yang tidak memiliki solidaritas. Buruknya sesosok dwarf, mereka selalu mengingat rasa sakit hati hingga ajal mereka datang. Dendam mereka bahkan bisa diturunkan secara turun-temurun.
Kyfa mengembuskan napas panjang. "Baiklah, aku akan menyetujui jika kalian pergi menuju Pílghym, meski entah pendapatku masih hitungan atau tidak."
"Terima kasih, Kar Kyfa. Aku sangat senang mendengarnya," ucap Amdû.
"Setelah makan malam, dan petisi selesai diputuskan, kita akan membicarakan tentang ini pada tetua klan."
Amdû mengangguk cepat. "Tentu saja. Sekali lagi, aku sangat menghargai bantuanmu. Sampai jumpa makan malam nanti. Maaf aku sudah mengganggu waktumu."
"Tidak masalah, sampai jumpa."
Kyfa lagi-lagi mengembuskan napasnya. Entah apa akibatnya dia ikut campur dengan memberi dukungan pada Amdû dan keenam dwarf lain yang ingin mencari keberadaan Lâmbi. Semoga tidak terjadi terpercik rasa tidak suka di kalangan tetua para dwarf pada dirinya.