The Quest for The Lost Inheritors
Kisah Kelompok Pelarian Akhir
Keenam dwarf itu tengah beristirahat di halaman benteng, di bawah naungan tenda dan kain tipis yang tergelar di tanah. Penampilan mereka berantakan, lelah, dan memang mengeluarkan aroma kurang sedap karena tidak membersihkan diri sudah cukup lama. Mereka Amdû dan Síflag, para putra klan Rockbanner; Brufug serta Ôrdam, dari klan Halfcloud; Datan dan Fortan, dari klank Mountmark. Seharusnya ada Lâmbi di antara mereka, sayang, sosok Lâmbi sama sekali tidak berada di sana.
Para pemimpin klan bersama Kyfa bergegas datang dan menghampiri mereka berenam yang sedang menikmati minuman, dan sedikit sup dingin. Karena itu belum waktunya makan malam, jadi mereka diberikan apa saja untuk sementara pengganjal perut.
“Di mana Lâmbi?” tanya Jërik, karena Lâmbi merupakan putra sulung yang paling ia banggakan. Dan mencari-cari sosok sang putra yang tak ada di antara rekan-rekannya, membuat rasa cemasnya mendadak muncul. Jërik takut kehilangan putra tertuanya.
Keenam dwarf itu saling berpandangan sekilas, lalu mereka serempak menggeleng lemah sembari tertunduk sedih.
"Kami kehilangan dia,” kata Síflag dengan suara parau. “Dia tidak bisa selamat, karena tertangkap oleh makhluk-makhluk terkutuk itu. Bangsa yang sangat besar, seperti raksasa, kulit mereka yang kemerahan seperti darah, dan sangat keras. Aku tahu itu, karena mereka terus-menerus berusaha menghancurkan pintu gerbang kota. Hingga gerbang pun hancur.”
“Kalian mendapat perintah yang cukup jelas, bahwa setelah makhluk itu memasuki kota, kalian pun meledakkan kota dalam jarak aman. Bagaimana mungkin kalian bisa bertemu mereka? Itu terdengar cukup mustahil,” ucap Gartegor.
“Kami menemukan sesuatu,” seloroh Datan yang paling muda dari mereka.
Yang lain langsung menyikut lengan Datan, dan memberi peringatan untuk tidak bicara banyak. Karena terlalu banyak orang mendengarkan, dan itu bisa membuat suasana sekejap ricuh, jika mereka tahu apa yang terjadi.
“Kita bicara di puncak benteng,” putus Jërik.
“Lagi?” Mata Glanar membelalak. “Kita baru saja naik, turun, lalu naik lagi. Astaga, apa tidak ada tempat lain, yang tidak akan membuatku lelah sepanjang hari?”
Namun, Jërik tidak mengindahkan protes Glanar, dia bergegas melangkah diikuti oleh keenam dwarf lain menuju ke ruang pertemuan di puncak benteng. Kyfa juga mengekor dari belakang.
“Aku memang belum terlalu tua, tapi menaiki tangga ke puncak benteng itu, cukup melelahkan. Kau pun tentu merasakan hal itu, bukan?” tanya Glanar setengah berbisik pada Gartegor.
“Kita ambil sisi baiknya, kau tidak perlu repot-repot naik lagi ke puncak benteng untuk makan malam. Duduk, dan tunggu saja di sana,” bisik Gartegor sembari merangkul bahu Glanar.
“Itu terdengar bagus,” angguk Glanar. “Kau selalu bisa membuat perasaanku jauh lebih baik.”
“Dengan kedatangan para anak muda, sudah semestinya kita bersyukur. Tapi dia,” dagu Gartegor menunjuk pada Jërik yang sudah melangkah lebih jauh di depan, “dia mungkin akan mendapat berita buruk yang tak pernah ia sangka. Kita harus tetap membuat pikirannya jauh lebih waras. Kau paham maksudku, bukan?”
Glanar mengiyakan. Mendengar kata Lâmbi menghilang, dan kemungkinan takkan pernah kembali, sudah membuat Glanar merasakan sedih yang amat sangat. Apalagi Jërik sebagai sang ayah? Meski langkah Jërik tampak masih tegak, raut wajahnya dwarf tua itu tidak berbohong. Karena tampak keruh dan muram.
Setelah mereka mencapai ruang pertemuan di puncak benteng, keenam dwarf itu duduk dan membenahi napas yang terengah-engah. Kyfa duduk di samping Jërik, raut wajahnya begitu tenang, meski ada pikiran-pikiran yang menggantung di benaknya.
Lalu elf dan dwarf yang bertugas menyiapkan makanan tidak lama datang membawa sekeranjang roti hangat yang baru dipanggang, sup bawang yang masih panas, dan dua piring jamur tumis. Tidak ada menu daging untuk hari itu, para dwarf dan elf sepakat untuk menyajikan menu yang bisa dinikmati kedua belah pihak.
Maka para dwarf pun setuju, jika daging yang sudah diasap, bisa mereka simpan untuk sementara waktu, hingga berada di tempat tinggal lain yang lebih aman.
"Kabar apa yang kalian bawa dari Pílghym? ceritakan semua," titah Jërik, sedikit tak sabar. Bahkan kini wajahnya pun terlihat memucat. "Apa yang terjadi pada Lâmbi?"
Amdû mendesah pelan, lalu dia pun mulai bertutur dari sudut pandangnya, "Gentong-gentong sudah kami susun, semua seperti yang sudah disepakati. Kami menunggu berhari-hari untuk berjaga. Bahkan kami sempat meyakini bahwa gerbang kota, tak akan mungkin bisa dibobol oleh bangsa dëia. Karena gerbang masih kokoh berdiri, tak akan mungkin bisa hancur.
"Aku lupa di hari ke berapa, akan tetapi suara-suara bangsa dëia mencoba mendobrak pintu gerbang tak kunjung usai. Tiba-tiba Lâmbi sedang mengintip dari lubang yang kami buat untuk mengawasi."
Tiba-tiba Fortan memotong, "Bukan, itu bukan Lâmbi, tapi Brufug yang melihat ke sana."
"Oh, tidak tidak tidak, itu benar Lâmbi, aku hanya duduk dengan punggung pegal, dan bokong yang panas juga gatal." Brufug menggeleng cepat.
“Ya, itu benar dia. Karena aku pun dalam keadaan setengah mengantuk dan kedinginan,” tambah Ôrdam. “Aku ingat itu suara bisikan Lâmbi.”
"Bisa kalian teruskan ceritanya?" tanya Kyfa dengan suara tenang dan sopan.
"Baiklah, Kar Kyfa. Lalu setelah itu, Lâmbi (kurasa) mengatakan ada sesuatu yang menyala di atas pintu gerbang." Amdu menunjukkan dengan gestur tubuhnya. "Tepat di atas gerbang. Seperti ada celah tersembunyi di sana, dan tiba-tiba saja muncul."
Yang lain mengangguk-angguk serempak. “Bersinar kemerahan,” sahut mereka bersama-sama.
“Lalu kami berusaha menghampiri lagi ke sana, ke arah gerbang. Karena, benda itu sepertinya sangat berharga,” kali ini suara Siflag yang melanjutkan. “Siapa yang menyimpan sesuatu yang bersinar, tepat di atas gerbang, tertutup selama ribuan tahun, pasti bukan benda sembarangan.”
“Kalian mengambil risiko melakukannya? Astaga!” Gartegor menggelengkan kepala tak percaya.
“Kalian sudah mendapat perintah tegas, bahwa tidak boleh memasuki kota setelah kita memasang peledak, dan menunggu hingga bangsa dëia menghancurkan gerbang kota atau tidak,” tambah Glanar.
“Tapi kami terpaksa,” balas Ôrdam. “Dan saat bandul itu sudah berada di tangan Lâmbi, tiba-tiba gerbang kota hancur berantakan, kami semua terhempas dan berusaha melarikan diri. Akan tetapi, Lâmbi berhasil mereka tangkap. Dia sudah memberi isyarat pada kami untuk meninggalkan kota, dan menghancurkan semua."
Raut wajah Jërik tidak membohongi rasa sedihnya. Tampak mata dwarf tua itu berkaca-kaca.
“Kami pun berlari keluar dari jalan terakhir, dan menyalakan sumbu begitu sudah keluar dari kota. Getaran dan ledakan hebat, kami rasakan, bahkan kepulan asap pun keluar dari dalam gunung. Setelah itu, kami menunggu sehari semalam, menunggu Lâmbi, akan tetapi dia tak muncul,” ungkap Datan.
“Maka kami putuskan, untuk segera datang ke Amenyeil. Tapi, kita tidak bisa berlama-lama di sini, yang kutakutkan bangsa dëia, akan segera datang,” kata Brufug.
Tampak Jërik ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi dia urung. Sebetulnya dalam hati dwarf tua itu, dia ingin mencari di mana Lâmbi berada. Dalam keadaan hidup atau mati. Namun, dia tidak bisa memaksakan kehendak, meski ia adalah dwarf yang cukup dituakan dan pemimpin klan. Karena, jika para dwarf terakhir sudah menunggu selama sehari semalam penuh, dan Lâmbi tidak juga datang, maka sudah dipastikan sang pewaris klan Rockbanner tersebut telah tiada.
Itu sangat menyakiti hati Jërik, akan tetapi dia harus bisa menahan rasa sedih itu. Akan ada waktunya mereka kelak akan kembali ke Pílghym, mungkin tubuh Lâmbi masih bisa ditemukan. Atau justru, semua bangsa akan menjadi kenangan, karena dihancurkan oleh bangsa dëia. Tidak akan ada yang berduka karena ditinggalkan orang-orang yang dikasihinya.
Bukan itu yang Jërik inginkan.
Akan selalu ada sosok-sosok yang meninggalkan bumi ada yang datang lahir. Akan ada yang gugur, dan akan ada yang menyanyikan lagu eligi untuk mereka.
Karena itu, Jërik harus bertahan demi Lâmbi yang sudah mengorbankan nyawanya. Suatu saat Lâmbi akan menyambut Jërik, dan membawanya pergi menuju kediaman para leluhur. Kali ini Jërik harus berusaha untuk tetap hidup, agar semua bangsanya termasuk bangsa elf, bisa hidup dalam damai. Tanpa ketakutan lagi pada bangsa dëia.
Seperti yang dipaparkan oleh mereka, sebetulnya hal ini yang ingin kubicarakan dengan kalian semua pada sore hari ini,” kata Kyfa. “Siang tadi, salah satu elvin berkemampuan sihir, datang padaku. Lidórin menyampaikan kekhawatirannya, bahwa pelindung sihir yang diciptakan oleh para elvin tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Selama ini kami memiliki elvin yang berkemampuan sihir, akan tetapi bangsa deia masih bisa mendobrak pelindung dan menghancurkan kota kami. Jumlah mereka jauh lebih sedikit sekarang, untuk bertahan di benteng dengan begitu banyak pengungsi ini sama saja dengan mengambil risiko terburuk.”
“Jadi maksudmu, kita harus pergi dari Amenyeil?” tanya Glanar.
Kyfa mengangguk. “Benteng ini bukan peruntukkan untuk benteng pertahanan, bahkan banyak para pelarian yang terpaksa harus tinggal di luar benteng. Jika bangsa dëia, mengetahui ada kekuatan sihir yang melindungi tempat ini, kurasa Amenyeil akan menjadi sebuah benteng pembantaian.”
“Jika kita pergi dari sini, lalu ke mana kita harus pergi?” tanya Síflag. “Amenyeil selama ini merupakan tempat yang cukup aman. Dan tidak diketahui kecuali oleh bangsa kami.”
“Lalu bangsa dëia, apa mereka tahu di mana letak persis Lamvorels? Pílghym? Bahkan kota-kota lain yang mungkin sudah mereka binasakan?” tanya Kyfa.
“Kurasa mereka memang tidak punya peta.” Amdû mengendikan bahu. “Bukan hal mustahil mereka akan mengetahui Amenyeil, cepat atau lambat. Karena bangsa itu tahu, kota Pílghym sudah dikosongkan.”
“Mereka akan terus mencari para pelarian dari kedua bangsa, itu sudah pasti.” Wajah Ôrdam kelihatan ketakutan, tubuhnya terasa menggigil.
“Kami akan membicarakan hal ini, kalian baru saja sampai dari perjalanan jauh juga melelahkan. Bersihkan tubuh kalian, dan karena sebentar lagi akan waktunya makan malam. Setelah itu, kalian bisa beristirahat," putus Jërik.
Keenam dwarf usia muda itu hanya mengangguk lesu, lalu mereka pergi meninggalkan ruang pertemuan. Begitu mereka pergi, fokus ketiga pemimpin klan kembali tertuju pada Kyfa.
“Lalu bagaimana Kar Kyfa? Bagaimana bisa sihir para elf ini melemah begitu cepat?” tanya Glanar.
“Bangsa kami memang mampu untuk mempelajari sihir, tapi sihir bukan sesuatu yang menjadi nadi di bangsa elf. Pada intinya, sihir kami hanya diperuntukkan untuk melindungi, dengan kekuatan terbatas. Kenapa sihir pelindung bisa bertahan ribuan tahun di Lamvorels, karena kami memiliki satu satu sama lain. Kami dan alam, begitu juga dengan anugerah dan berkah.”
“Terdengar seperti omong kosong untukku, jangan tersinggung,” celetuk Glanar.
“Memang begitu adanya,” balas Kyfa tanpa terlihat terusik sedikit pun.
Gartegor berdeham pelan. “Lalu apa yang kau sarankan, Kar Kyfa?”
“Pergi dari Amenyeil, dan mencari perlindungan baru di sekitar pantai Chiméya.”