The Quest for The Lost Inheritors

Munculnya Para Nymph

Lalu terdengar nyanyian dari harmoni tiga suara, yang membuat hati siapa pun tergetar. Antara bulu kuduk meremang sekaligus rasa kagum luar biasa. Manusia biasa bisa terbius dalam khayalan tanpa berujung, bahkan mereka bisa binasa saat mendengar nyanyian misterius tersebut.

 

Nisla ur erei-ach, nisla ur erei-dal

Nisla erei nihka lamnoika, nisla abs aruf-in tial’hal.

(Tidak ada pendatang, tidak ada yang datang

Tidak datang tanpa pemberitahuan, tidak boleh memasuki wilayah)

 

Air menciptakan tiga bentuk sosok wanita yang hampir serupa. Salah satunya membawa busur dan anak panah, satunya lagi membawa tongkat panjang, yang di antara keduanya membawa harpa.

Mereka adalah para nymph.

Kaum yang tidak mengenal bentuk raga dan bisa berbaur dengan alam, wujud mereka berupa bayangan, akan tetapi jika memasuki ke dalam wilayah mereka, para nymph akan menunjukkan jati diri sesungguhnya. Itu pun apabila beruntung, karena tidak semua sosok bisa diterima oleh kaum ini dengan tangan terbuka.

Dan jenis yang mendatangi Aldérin adalah nymph air. Jenis dari nymph yang tidak ramah, sensitif dan penuh curiga. Itu karena nymph air tidak bisa mendapat informasi atau kekuatan jenis apa pun di luar air. Maka kaum nymph air berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan wilayah air, karena mereka adalah yang terlemah di antara kaum nymph atau bangsa lainnya.

Findarel langsung melompat ke belakang punggung Aldérin, karena dia sangat ketakutan. Itu kali pertama dia melihat makhluk lain, selain bangsanya sendiri. Makhluk ajaib yang hanya pernah ia baca dalam buku-buku, bahkan membayangkannya pun berbeda dari kenyataannya. Aldérin membungkuk sedikit memberi hormat pada kaum nymph yang ada di hadapannya.

“Achela (Salam),” sapa yang di tengah, yang membawa harpa.

“Achela,” jawab Aldérin.

“Sebagaimana dalam perjanjian dengan pertalian kaum-kaum cahaya, bahwa tak satu pun dari tiap bangsa dapat memasuki wilayah kami dengan bebas, apa perjanjian tersebut telah sengaja dilanggar ataukah bangsa kalian telah berani melupakannya? Jawab aku, Elianon (Elf),” tanya si pembawa busur agak kasar, nada suaranya dalam dan tegas.

“Kaum kami sama sekali tidak bermaksud untuk melanggar jenis perjanjian apa pun yang telah disepakati oleh para kaum cahaya puluhan ribu tahun yang lalu,” jawab Aldérin, tenang. “Namun, kami sedang dalam pelarian, untuk menghindari kaum dëia yang telah menghancurkan kota kami. Dan menuju tempat ini hanya sekedar beristirahat sebelum kami melanjutkan perjalanan ke wilayah barat dan memperingatkan setiap bangsa yang memerangi kaum dëia.”

“Jadi, merupakan tindak ketidaksengajaan kau memasuki wilayah kekuasaan kami, tanpa terlebih dahulu memberitahukan kedatanganmu, Elianon?” tanya si pembawa harpa, yang disusul anggukan Aldérin. “Aku tidak meragukan kejujuran dari bangsa elianon, karena bangsa kami pun mempercayai mereka,” lanjutnya.

“Jika kami berniat untuk menghubungi bangsa kalian, sudah seharusnya untuk menyampaikan pesan dengan mengirimkan kurir, sebelumnya,” tambah Aldérin.

“Ya, aku mengerti. Kau berada dalam ketergesaan,” balas si pembawa harpa.

“Tetapi, mereka berada di dalam pengejaran bangsa dëia! Dan seperti yang kita ketahui bangsa itu adalah bangsa yang sangat kejam dan bengis, Yardah,” sahut si pembawa pedang kepada si pembawa harpa yang ternyata bernama Yardah.

“Kita tidak bisa membiarkan para elianon tinggal di tempat ini lebih lama lagi, aku takut bangsa dëia akan datang dan merusak semua, termasuk kota kita,” kata si pembawa busur dan panah. “Tidak bermaksud untuk merusak hubungan baik kita bersama para elianon, tetapi menurut pendapatku ini untuk kebaikan semua.”

Yardah terdiam sejenak. Dan sebelum ia mengatakan sesuatu, ada hal yang begitu menarik perhatiannya hingga ia begitu dalam memperhatikan Aldérin. Lalu ia pun mendentingkan senar harpanya dan air kembali beriak, bergelombang kuat lalu membelah. Sebuah lorong besar menuju ke dalam air terbuka lebar.

Hal ini mengejutkan bagi kedua nymph yang lain. Yardah tidak mengusir dua elf dalam pelarian itu, melainkan membukakan pintu menuju kota nymph air bagi keduanya. Dan sikap terkejut pun bukan hanya dirasakan oleh dua nymph lain, baik Aldérin maupun Findarel, merasakan hal yang sama. Nymph air bukan sosok-sosok makhluk jahat, tetapi mereka tak mentolelir pendatang yang mengundang bahaya besar ke kota mereka.

“Apa yang kau lakukan, Yardah?” seru si pembawa pedang.

“Tenanglah, Drufel, Anjuan.” Yardah melirik kepada dua temannya. Drufel adalah nama si pembawa busur dan pemilik dari nama Anjuan si pembawa pedang. “Ada alasan khusus mengapa harus kulakukan hal ini. Sebagaimana ramalan telah dibisikkan melalui arus air, aku harus membawa mereka menemui Yang Mulia Ratu Titelénta.”

“Tetapi, keberadaan mereka bisa tercium oleh para dëia, dan kau pun tahu pasti, Yardah, bangsa kita tidak bisa menahan kekuatan mengerikan mereka!!” peringat Drufel. “Atas kekuasaan Fiamäl kita masih bisa bertahan hidup, dan sekarang kau ingin menghancurkan lagi kedamaian yang kita miliki?”

“Tindakanmu dapat mencelakakan kaum kita,” timpal Anjuan. “Bukan sesuatu yang bijak menahan mereka lebih lama disini.”

“Kami akan pergi, jika itu yang kalian kehendaki. Aku sama sekali tidak ingin terlibat dalam perdebatan kalian, terlebih jika diharuskan menemui ratu dari para nymph air,” kata Aldérin, sopan. “Waktu kami tidak banyak, bangsa dëia bisa saja menyerang para bangsa lain saat ini. Aku harus memperingatkan mereka.”

“Dan kau tidak berminat memperingatkan bangsa kami, setelah begitu lama bangsa kita saling bersahabat, Elianon?” tanya Yardah. “Kami pun berhak untuk mendapat peringatan, meski kami adalah bangsa yang netral.”

“Tentu saja, akan tetapi kurasa … bangsa dëia sama sekali tak ada perhatian pada bangsa kalian,” kata Aldérin. “Menurut para pemimpin di altar Kal’ Luin, kaum dëia ingin menghancurkan bangsa kami, kaum kurcaci dan para manusia.”

“Mereka adalah teror, apa pun akan mereka hancurkan. Yang Mulia Ratu kami mendapat penglihatan dan merasakan bahwa dëia adalah ancaman,” kata Yardah. “Kami hanya ingin melihat melalui Thila milik Tylosae, dan memutuskan apakah kami harus tetap berdiam diri atau memerangi kaum dëia.

“Kenapa kau begitu tertarik pada benda milik Tylosae?” tanya Aldérin.

“Tertarik?” Yardah tertawa renyah. “Tylosae sendiri pernah mengatakan pada Yang Mulia Ratu bahwa Thila akan diserahkan padanya apabila terjadi sesuatu hal buruk pada dirinya. Dan seseorang akan mengantarkannya, baik secara disengaja maupun tak disengaja. Ketahuilah, Elianon, kau adalah kurir bagi Tylosae dan bagi bangsa kami.”

“Kurir?” Aldérin terhenyak. “Tetapi ….”

“Yang Mulia Ratu akan menjelaskannya padamu, nanti,” kata Yardah. “Jika kau memang di dalam ketergesaan, maka menemui Yang Mulia Ratu lebih cepat, itu akan lebih baik bagimu.” Tanpa banyak perlawanan, Aldérin pun mengikuti saran Yardah. “Ayo masuk, Elianon.”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!