The Quest for The Lost Inheritors

Saling Jujur

Tangan Raven tampak siaga memegangi belatinya, ketika Lya dan Findarel diberikan air minum hangat dan tubuh keduanya ditutupi oleh selimut tebal. Sedangkan Aldérin hanya duduk di anak tangga, sama-sama saling mengawasi seperti apa yang dilakukan oleh Raven. Keluarga Diguf merasa bersyukur, bahwa mereka semua bisa kembali dengan selamat, tanpa mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.

Di malam itu juga, Lya berkenalan dengan keluarga Diguf, yang dia mulai (sedikit) yakin keluarga itu tidak lebih berbahaya dari manusia-manusia di luar sana.

“Apa mereka tidak akan mendatangi rumah ini?” tanya Lya was-was.

Diguf menggeleng. “Ada sihir yang kuat, di mana mereka takkan bisa menyentuh keluarga kami, dan sihir itu berasal dari penyihir yang justru membuat orang-orang Ferden’Lyf menjadi seperti itu.”

“Kejam sekali, apa maksudnya sang penyihir melakukan hal seperti demikian?” Lya merasakan bulu kuduknya meremang. “Mereka seperti bukan manusia.”

“Setengah manusia,” ralat Raven. “Karena itu, aku sangat menyayangkan Tuan Aldérin sampai menebas kepala mereka. Karena aku yakin, orang-orang di Ferden’Lyf suatu saat bisa lepas dari wabah, entah kutukan ini. Dan hidup bebas.”

“Aku minta maaf, karena itu sebuah keterpaksaan,” ucap Aldérin lirih.

“Aku akan menguburkan mereka yang benar-benar tewas di sana, dan semoga tidak menjadi pertanyaan di pagi hari,” kata Raven.

“Mereka akan baik-baik saja di pagi hari,” celetuk Diguf saat melihat Lya kelihatan kebingungan.

“Ini membuatku sakit kepala seketika,” keluh Lya. “Tetapi aku takkan mungkin bisa merebahkan tubuhku, karena banyak pertanyaan yang sekarang memenuhi isi kepala.”

Namun, Raven pun tidak terburu-buru menginterogasi Aldérin juga Findarel, dia sudah berpikir bahwa Lya pun tidak tahu siapa sosok sebenarnya yang pergi seperjalanan dari Hail.

“Kenapa kau menutupi semua ini padaku, Aldérin?” Lya menoleh pada elf itu matanya meminta penjelasan. “Selama ini kita melakukan perjalanan bersama, aku tidak pernah tahu bahwa Findarel bisa melakukan sihir yang, mengerikan, meski itu luar biasa.”

Sudah aku duga, batin Raven.

“Aku ingin melindungimu, Lya,” jawab Aldérin tenang.

“Itu bukan sihir, itu adalah Estion. Ruh suci yang tidak bisa disamakan dengan sihir yang kotor,” seloroh Findarel berapi-api. “Selama ribuan tahun, Estion adalah sosok pelindung bagi semua bangsa yang mencintai perdamaian. Dia dan keempat perwujudan ruh lainnya.”

“Di mana kau membaca itu? Éba? Atau cerita turun-temurun di selatan?” Suara Lya terdengar hampir menggerutu. “Aku sudah mendapatkan banyak kejutan hari ini, jadi keluarkan saja semua. Agar aku tidak perlu merasa heran di kemudian hari.”

“Giliranmu untuk memberikan penjelasan padaku, Tuan Aldérin,” desak Raven.

“Aku juga,” celetuk Lya.

Aldérin hanya mengangguk lalu membuka kain pembebat yang menutupi telinganya, begitu pula Findarel melakukan hal yang sama. Saat telinga runcing mereka terlihat, semua terkesiap, menahan napas selama beberapa detik, karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Aku dan Findarel adalah elf yang datang Lamvorels, di selatan. Kota kami dihancurkan oleh bangsa shyrh atau dikenal dengan nama lain, yaitu dëia. Mereka mungkin sudah merambah menghancurkan kota-kota bangsa lain, di mana aku bertugas untuk mencari para pewaris Pelanthum Irior,” ungkap Aldérin.

Helan dan putri-putrinya hanya menutup bibir, mereka menatap takjub pada Findarel juga Aldérin.

“Lalu apa hubungannya dengan batu Ratera?” tanya Raven, dia sudah bisa mengendalikan rasa kaget dan kembali bersikap dingin juga tenang.

“Batu tersebut adalah milik para nymph air, sebelum Ferden’Lyf berdiri, di sini merupakan kota para nymph air. Dan memiliki kota saudari lainnya di selatan, dengan batu Satera di sana. Namun, ratu di selatan mengatakan tidak lagi mendapat kabar dari para saudarinya di utara, dan merasakan terjadi sesuatu dengan batu Ratera di sini. Karena itu, aku menyanggupi permintaan sang ratu di sana, untuk kembali menyucikan batu Ratera,” jelas Aldérin.

“Kota ini berdiri sudah ratusan tahun, Tuan Aldérin. Jika memang nenek moyang kami melawan atau berusaha menghancurkan kota para nymph, itu akan tertulis dalam sejarah atau setidaknya legenda,” kata Raven. “Tetapi tidak, ini merupakan wilayah yang tidak berpenghuni, akan tetapi cukup subur dibandingkan dengan wilayah lainnya di utara.

“Kaum kami tinggal di gua-gua, seperti yang kau lihat di tempat aku bernaung sebelumnya. Lalu bangsa manusia utara, mencari peruntungan, dan akhirnya mencapai tanah ini. Kami bangun menjadi sebuah kota yang besar, diberi nama Ferden’Lyf. Mustahil jika memang ada nymph air sebelumnya. Maka aku yakinkan kau, Tuan Aldérin, bahwa orang-orang di utara bukan penjajah atau merebut kehidupan bangsa lain,” kata Raven panjang lebar.

“Berapa usiamu?” tanya Lya di tengah-tengah pembicaraan serius.

Sebetulnya Aldérin sudah pernah membicarakan hal ini pada Lya sebelumnya, akan tetapi rupanya ingatan gadis itu belum juga pulih. Findarel hanya menyunggingkan senyum.

“Umurku 3300 tahun,” jawab Aldérin.

Lagi-lagi semua yang ada di ruangan itu tercengang, kecuali Raven. Dia tahu bahwa legenda bangsa elf selalu dikaitkan dengan usia abadi, mereka takkan mati, apabila tidak ada penyakit atau luka yang bisa menghilangkan nyawa mereka.

“Lalu kau, Findarel? Umurmu sebelas tahun bukan?” tanya Lya memastikan.

Findarel tersenyum. “Aku 54 tahun.”

“Astaga, kau lebih tua dari dariku dan Enggrid.” Maliya menatap Findarel tidak percaya.

“Kurasa kita harus biarkan mereka beristirahat.” Raven menunjuk pada Findarel dan Lya dengan dagunya. “Karena banyak sekali yang harus aku bicarakan denganmu, Tuan Aldérin, menyangkut batu Ratera yang kau cari. Kita belum menyelesaikannya.”

“Aku tidak bisa tidur, jadi bicara saja,” cetus Lya. “Dan kau, mengapa kau ada di sini Raven? Kukira kau juga seorang laki-laki, ternyata kau perempuan.”

“Aku tidak pernah mengatakan apa aku lelaki atau sebaliknya, bukan?” Raven menyunggingkan senyum geli. “Maafkan aku, Lya. Tetapi kulakukan ini, karena aku hanya berusaha melindungi kalian.”

“Lalu mengenai makhluk ini, Akil Stagish, dan Luth Hirdif, apa kau mengetahuinya?” Mata Lya menatap Raven, lalu dia beralih pada Diguf. “Atau kau, Tuan Diguf?”

Raven hanya mengangguk pada Diguf, lalu si lelaki tua itu pun mulai bertutur pada Lya. Tentang siapa Raven, mengenai putri Ilirá yang adalah dirinya. Segala hal yang sudah diketahui lebih dulu oleh Aldérin. Lya tiba-tiba menoleh pada Raven, saat Diguf menceritakan tentang para pendatang yang hilang.

“Kau pernah bertemu kakakku, bukan? Apa dia tewas?” tanya Lya.

Raven masih terdiam. Seolah enggan untuk menjawabnya.

“Kumohon, jawablah, Raven,” pinta Lya.

“Dia sudah tiada. Diguf sudah memperingatkannya, akan tetapi Thane tidak pernah mengerti, bahwa ada bahaya yang mengintai di kota ini,” jawab Raven berat.

Lya tertunduk, dan mulai terisak pelan. Findarel mengerutkan dahinya, lalu bergegas memeluk gadis itu. Begitu pula dengan Helan, yang tampak merasa bersalah karena menutupi kejadian sesungguhnya.

“Lalu di mana saja pecahan batu itu berada?” tanya Lya dalam isaknya.

“Satu di istana, satu berada di tangan Diguf, satu di tanganku dan satu lagi ada di tangan sang penyihir yang terkutuk,” jawab Raven.

“Kalau begitu, kita bawa semua pecahan batu, lalu mencari sang penyihir,” ucap Lya. “Aku tidak ingin ada korban lagi. Aku merelakan Thane pergi, tapi orang-orang di Ferden’Lyf tidak bisa dibiarkan seperti ini.”

“Apabila pecahan batu Ratera diambil dari istana, maka orang-orang di luar sana akan benar-benar menjadi makhluk mengerikan dan takkan bisa dikendalikan lagi,” kata Raven. “Jika kita membawa dari kediaman Diguf, maka mereka akan menjadi salah satu manusia setengah hidup. Cara satu-satunya adalah mencari sang penyihir terlebih dahulu, dan merebut batu itu dari tangannya.”

“Kurasa kita harus bergegas, Aldérin,” kata Lya lirih.

“Kita akan pergi dari sini esok pagi, bersama Raven,” balas Aldérin.

“Karena itu, sebaiknya kau istirahat, Lya,” sahut Raven.

Lya hanya mengangguk lemah. “Kurasa kau benar.”

Maliya dan Enggrid menggandeng lengan Lya dan mengajak gadis dari Hail itu menuju ke peraduan mereka. Sedangkan Findarel tetap bersikukuh tinggal di ruang tengah, ditemani oleh Helan. Begitu pintu kamar sudah tertutup, Raven menghampiri Aldérin, bicara setengah berbisik.

“Lya tidak berubah, sedangkan dia melewati tengah malam setelah meminum air dari kedai.” Mata Raven menatap tajam pada Aldérin. “Katakan padaku, siapa gadis itu sebenarnya? Kau yakin dia hanya gadis biasa dari kota Hail? Atau ada kejutan lain yang kau ingin sembunyikan dariku.”

“Dia benar-benar gadis biasa dari Hail,” kata Aldérin. “Entah karena dia pernah meminum dari mata air yang berasal dari ratu nymph air. Sang ratu memberikan kami tiga belas batu Erfeja, dan kami terpaksa menggunakan salah satunya belum lama ini.”

Raven tertegun sejenak. “Apa mungkin mata air dari batu yang kau sebutkan ini, memperlambat kutukan, dan akhirnya Lya bisa terselamatkan setelah meminum air yang telah disucikan?”

“Kurasa begitu, meski aku belum bisa meyakininya. Itu suatu kemungkinan.”

“Aku akan memakamkan tubuh yang ada di tengah kota,” putus Raven. “Aku akan menunggu kalian di luar gerbang kota, ketika matahari terbit. Beristirahatlah, Tuan Aldérin, Findarel.”

Tanpa menunggu jawaban keduanya, perempuan itu bergegas keluar dari dalam rumah Diguf, meninggalkan keempat sosok yang masih berada di ruang tengah dalam keadaan bisu. Tiba-tiba Findarel pun berdeham pelan.

“Tidak bisakah kau dan keluargamu, ikut dengan kami, Tuan Diguf? Akan lebih aman jika kalian pun keluar dari Ferden’Lyf,” seloroh Findarel. “Kalian hidup dalam penderitaan selama bertahun-tahun.”

Diguf saling menatap dengan Helan. “Tidak bisa, Findarel.”

“Tetapi kenapa?” Findarel bertanya-tanya.

“Karena Helan dan kedua putriku, mereka sama seperti orang-orang di luar sana. Mereka tewas, dan dihidupkan kembali. Akan tetapi, kami masih memiliki akal sehat, dan terus meminum air yang langsung dari pecahan batu Ratera. Jika mereka keluar dari kota ini, maka mereka akan seperti orang-orang di luar sana.”

“Karena itu, aku dan putri-putriku tidak pernah bertambah usia, Findarel. Begitu juga dengan orang-orang di luar sana. Tidak ada anak kecil, karena mereka semua tewas dan tidak ada yang bangkit hidup.” Helan menatap sedih pada Findarel. “Aku merindukan tawa gelak anak-anak, karena bertahun-tahun tak pernah ada anak kecil di Ferden’ Lyf.”

Mata Findarel berkaca-kaca, lalu dia menangis tersedu-sedu. Dia memeluk Helan dengan erat.

Aldérin hanya tertunduk sedih. Bahkan dia tidak bisa menolong keluarga Diguf.

Dia harus membantu Raven agar semua penduduk Ferden’Lyf pulih, meski tugas yang diembannya bertambah. Satu hal yang membuat Aldérin merasa penasaran, untuk apa penyihir itu membiarkan penduduk di Ferden’Lyf menderita sedemikian rupa?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!