The Quest for The Lost Inheritors
Kedai Harulf
Sepanjang jalan becek dan penuh lumpur, bangunan-bangunan yang hampir seragam di mana dindingnya semua terbuat dari kayu, atap penyangga dari kayu dan jerami yang dikeringkan, tidak ada orang yang hilir mudik selayaknya seperti di Hail, kota itu cenderung sepi. Begitulah keadaan di Ferden’Lyf.
Dari penjaga gerbang yang terkantuk-kantuk di dalam pos kecilnya, dan dia yang membukakan gerbang, mereka diberi petunjuk jalan menuju penginapan Klöndike. Sebuah penginapan yang turun temurun milik keluarga Klöndike, berada di tengah-tengah kota, setelah melalui tiga jalur perempatan jalan, mereka harus ambil arah jalan ke kiri, dan penginapan ada di ujung jalan tersebut.
Tidak ada pemandangan yang cukup menyenangkan, seperti penjual makanan, atau barang-barang di sana. Semua pintu tertutup rapat, begitu juga dengan tirai-tirai rumah, padahal hari itu matahari di atas kepala menampakkan sinar yang cukup hangat.
“Ke mana semua orang? Apa mereka hanya duduk di depan perapian sepanjang hari?” bisik Lya.
Findarel menoleh ke kiri dan ke kanan, pada bangunan yang mereka lalui sepanjang jalan. “Jika semua orang senang di luar, mereka akan menghabiskan sisa waktunya di rumah, untuk menyembuhkan diri dari sakit salesma, kurasa.”
“Kau benar juga. Terlalu lama di luar, bisa membuatmu sakit.” Lya mengangguk-angguk.
Mereka mengikuti arah petunjuk dari penjaga gerbang kota, dan berdiri di bangunan yang disebut sebagai penginapan. Kondisinya hampir sama dengan bangunan lain, meski itu memiliki dua tingkat. Sedangkan kebanyakan rumah-rumah dan bangunan di Ferden’Lyf hanya satu tingkat saja. Tidak ada papan nama, atau apa pun di depan penginapan tersebut.
“Apa ini tempatnya, Ial?” tanya Findarel.
“Kita masuk dan pastikan sendiri,” jawab Aldérin.
Ketiganya memasuki teras dan Aldérin mengetuk pintu yang tertutup itu. Dia tidak mau membuka pintu itu langsung, karena tidak seperti penginapan milik Blud, yang ramai terdengar dari luar. Sedangkan penginapan Klöndike, benar-benar sepi juga senyap. Tidak lama menunggu, pintu dibuka dari dalam, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, seperti Blud akan tetapi jauh lebih tinggi, menatap mereka bertiga keheranan.
“Kalian pendatang, bukan?” tanyanya.
Sambutan yang Lya tidak sangka, di mana setiap pemilik penginapan pasti akan mengatakan ‘Selamat datang’ atau kata-kata semacamnya. Bukan sapaan seperti sedang menyelidik.
“Kami dari Hail,” jawab Aldérin.
“Kalian mau menginap? Masuklah.”
Lelaki itu membukakan pintu lebih lebar, dan ketiganya masuk ke dalam. Lalu ditutupnya lagi pintu, dan dia menggosok-gosokkan tangannya. Udara hangat menguar, dan membuat Lya merasa jauh lebih nyaman seketika. Terlebih saat melihat perapian, dengan api yang menyala dari sana.
Di ruangan mereka sekarang, tidak ada bar seperti milik Blud. Hanya ada ruangan cukup luas yang hampir kosong, kecuali kursi-kursi dengan bantal di dekat perapian.
“Namaku Angus Klöndike.” Dia mengulurkan tangannya pada Aldérin. Yang disambut hangat jabatan tangannya oleh elf itu. “Aku yang mengelola penginapan ini, meski sudah lama sekali tidak ada yang datang ke Ferden’Lyf. Ini seperti sebuah kejutan, tapi aku tidak punya apa-apa yang kutawarkan, selain kamar untuk beristirahat.”
“Lalu di mana kami bisa mencari makan?” Lya kelihatan hampir putus asa.
“Kedai Harulf, letaknya di perempatan jalan sebelum ke penginapanku. Bangunan paling ujung, seberang arah bangunan penginapan,” kata Angus.
“Berapa biaya menginap untuk dua kamar?” tanya Aldérin.
Angus menunjukkan tiga jarinya. “Tiga sil.”
Lya melirik pada Aldérin seolah menanyakan ‘Berapa tepatnya jumlah tiga sil itu?’. Aldérin mengeluarkan kantung kulit dari dalam tas yang dibawanya. Lalu mengeluarkan beberapa keping koin emas.
“Aku hanya punya ini, aku tidak tahu jumlah yang tepat.”
Angus mengambil sekeping koin emas seraya berkata, “Ini cukup untuk kau tinggal selama sepekan penuh untuk dua kamar, Tuan—.”
“Aldérin Varwendil,” potong Aldérin
“Kamar ada di lantai atas, aku memiliki empat kamar, Tuan Varwendil. Mari ikuti aku.”
Mereka mengikuti Angus menaiki tangga dengan anak tangga rendah, dengan kayu yang cukup reyot, dan mengeluarkan suara berkeriat-keriut. Siapa pun yang berusaha mengendap-ngendap, akan sia-sia karena suara langkahnya pasti terdengar cukup jelas. Angus mengambil serangkaian kunci yang tergantung pada gantungan di dinding samping pintu pertama, lalu dia membuka satu persatu kamar, yang saling berhadapan berjajar masing-masing dua.
“Dua kamar dengan pemandangan ke jalan,” ucap Angus. “Lalu dua kamar lagi, pada atap rumah penduduk lain. Pilihannya ada di tangan kalian.”
“Kamar yang memperlihatkan atap,” putus Aldérin.
“Seleramu buruk memutuskan menginap di kamar yang mana.” Lya berdecak.
Namun, yang Lya tidak sadari, bahwa Aldérin melihat atap-atap rumah seperti pintu darurat, jika terjadi sesuatu pada mereka. melewati atap-atap rumah, kesempatannya lebih besar untuk melarikan diri. Aldérin belajar dari kejadian saat di Hail, tidak semua manusia itu berhati baik, dan dia berusaha untuk membuat tindakan preventif.
“Selamat beristirahat,” kata Angus sembari mengunci dua pintu lainnya, dan dia gantungkan lagi di tempatnya.
Lalu sang pemilik penginapan melangkah menuruni tangga lagi, meninggalkan Aldérin, Findarel, dan Lya yang berdiri di koridor lantai atas, masih saling menatap satu sama lain.
“Simpanlah barang-barang kalian, kita pergi ke kedai untuk mencari makanan,” titah Aldérin.
Lya mendengkus pelan lalu memasuki kamar untuknya, raut wajah gadis itu menunjukkan ketidaksukaan saat melihat sarang laba-laba tampak di sudut-sudut atas dinding penginapan tersebut. Bahkan tempat tidurnya terasa lembab, dan seprainya bau apak. Namun, itu jauh lebih baik daripada tinggal di gua Raven, tidur beralaskan kain dan merasakan permukaan batu berhari-hari, sangat menyakitkan.
“Ayo, lekas!” Wajah Findarel tersembul dari ambang pintu. “Kita pergi sekarang menuju kedai.”
“Baiklah,” balas Lya.
Dia keluar dari kamar, dan menguncinya. Lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam saku mantel. Tiba-tiba Lya terdiam beberapa saat sebelum menyusul Aldérin dan Findarel yang sudah menuruni tangga. Diambilnya lagi kunci itu, dan melihat gantungan yang ada pada kunci. Siapa pun tidak akan menyadari secara sekilas, akan tetapi Lya tahu betul tali dari jerami yang dijalit itu, adalah jalinan yang khas. Hanya Thane yang bisa membuat jalinan seperti itu di Hail.
Lya menjadi curiga seketika.
*
Kedai Harulf cukup ramai, meski kedai yang sangat sederhana. Hanya ada tujuh hingga delapan meja dengan bangku-bangku memanjang. Orang-orang yang datang, berbagi tempat duduk, dan mereka sudah terbiasa seperti itu. Kedai tersebut cukup pengap dengan orang-orang yang mengisap dari pipa, bercampur dengan aroma makanan, dan asap dari perapian.
Begitu melihat kedatangan Aldérin semua mata memandang keheranan, entah seperti yang dikatakan oleh Angus, sudah jarang ada pendatang ke sana. Atau karena melihat sosok Aldérin juga Findarel, yang terlalu elok menjadi seorang manusia biasa. Ketiganya duduk di satu bangku yang kosong, di mana di hadapan mereka ada tiga orang lelaki sedang makan dan berbincang-bincang. Ketiga lelaki ini, langsung berhenti bicara dan menatap lekat-lekat pada Aldérin.
“Kalian pendatang dari mana?” tanya salah satu dari mereka, ketika kelompok Aldérin sudah duduk.
“Dari Hail,” ucap Aldérin.
“Gadis ini dari Hail,” tunjuk temannya. “Tapi kau bukan. Orang-orang dari Hail dan Vôld, tidak ada yang sepertimu.”
“Aku dari selatan,” jawab Aldérin. “Jauh di selatan Vôld.”
“Kami tak pernah tahu ada kota lain di sana.” Lelaki ketiga yang paling kiri menyodorkan tangannya. “Aku Heben, ini temanku, Likas, dan Dasgan.”
Aldérin menerima uluran tangan Heben. “Aldérin. Dan ini keponakanku Findarel, juga Lya temanku.”
“Itu Harulf, dan makanan paling enak di sini adalah fey, sup daging ayam kental dengan campuran kentang dan krim lezat,” tunjuk Heben pada seorang pria yang sibuk melayani pelanggannya. “Dia akan mendatangimu sebentar lagi. Saranku, pesanlah fey.”
“Oh, terima kasih, dunia langit mendengar permohonanku,” bisik Lya.
Makan siang mereka, ditemani kisah oleh Heben, Likas, dan Dasgan secara bergantian. Mereka bercerita seperti apa kehidupan di Ferden’Lyf, keseharian orang-orangnya, dan hal-hal yang cukup biasa juga tidak terdengar ganjil. Aldérin dan Findarel yang hanya menikmati buah-buahan, mendengarkan dengan saksama. Sedangkan Lya terlalu larut dengan fey yang begitu lezat di lidahnya.
“Apa aku bisa menemui ratu penguasa Ferden’Lyf?” seloroh Aldérin tiba-tiba, karena tidak satu pun dari ketiga lelaki itu yang membicarakan tentang ratu dan istananya.
“Untuk apa kau menemui ratu Ilörin?” tanya Dasgan, dan dia tampak terkejut.
“Aku membawa kabar berita dari Hail dan dari selatan, karena itu aku harus menemuinya,” jawab Aldérin.
Ketiga lelaki itu terkekeh. “Bahkan sang ratu tidak pernah mau membuka pintu istananya bagi raja ratu lain, kau bukan siapa-siapa, Tuan. Bukan aku mengecilkan hatimu, tapi kau takkan pernah bisa bertemu dengannya,” sahut Likas.
“Jika aku meminta bantuan pada seseorang bernama Digux Axverdigh, dapatkah hal itu terjadi?” Aldérin menatap masing-masing ketiganya bergantian.
“Diguf? Dari mana kau dapat nama itu?” desis Heben pelan. “Dia adalah seorang penjahat, manusia kotor yang dikutuk oleh semua orang di kota. Jangan sebut dia lagi, atau kau akan terkena masalah.”
Findarel dan Lya tersentak kaget mendengarnya, akan tetapi Aldérin tetap kelihatan begitu tenang.
“Aku mencari kakakku, Thane Brander? Kau tahu nama itu?” tanya Lya tiba-tiba.
“Aku akan menceritakan sesuatu, tapi kalian tidak boleh menanyakan atau menyebarkannya lagi. Karena ini sudah menjadi rahasia umum, dan aku khawatir pada kalian para pendatang,” kata Dasgan. Lalu dia berdeham pelan, memulai kisahnya, “Diguf Axverdigh merupakan tangan kanan ratu Ilörin selama belasan tahun. Akan tetapi, delapan atau tujuh tahun lalu, dia diasingkan karena perbuatan jahatnya.
“Putri ratu Ilörin tewas, yang bernama Ilirá. Tubuhnya tidak pernah ditemukan, menghilang di hutan. Konon sang putri dimangsa oleh makhluk jahat, kami menyebutnya Akil Stagish, Si Terkutuk. Atau Akil Kurgan Duhagal, Si Penebar Kematian. Kau pasti bertanya, untuk apa sang putri pergi hutan, bukan?
Findarel dan Lya berbarengan mengangguk. Sedangkan Aldérin hanya bergeming.
“Karena Diguf yang menemani sang putri ke sana. Sang putri memiliki pandangan-pandangan aneh, seperti bisa melihat masa depan. Dan Diguf yang mendukung putri Ilirá, untuk mencari tahu tentang penglihatannya ini. Yang seharusnya dia cegah, demi keselamatan sang putri. Maka itu yang terjadi, sang putri tewas. Dan makhluk mengerikan ini, semakin meneror kota. Untungnya, ada Luth Hirdif, yang disebut-sebut perwujudan roh sang putri untuk melawan Akil Stagish,” tutup Dasgan.
“Lalu apa hubungannya kakakku dan cerita makhluk ini? Termasuk roh sang putri?” tanya Lya.
“Para pendatang sebetulnya selamat dan hidup, begitu mencapai Ferden’Lyf. Karena mendapat perlindungan Luth Hirdif sepanjang perjalanan mereka. Akan tetapi, begitu mereka bertemu dengan Diguf, para pendatang menghilang keesokan harinya. Lenyap, tak ada jejak apa pun,” jawab Likas.
“Kami percaya, bahwa Diguf sebetulnya kaki tangan dari Akil Stagish.” Heben mengangguk-angguk.
Aldérin menunjukkan mimik serius penuh pertanyaan. “Lalu mengapa tidak satu pun dari kalian yang menanyakan langsung pada Diguf?”
“Tidak ada dari kami yang berani, karena Akil Stagish. Bagaimana jika kami yang dijadikan korban selanjutnya? Jadi kami biarkan saja.” Likas mengendikan bahu.
“Apa ratu tidak melakukan sesuatu tentang ini?” Lagi tanya Aldérin.
“Tidak, semenjak kematian putrinya, sang ratu tidak pernah menunjukkan dirinya di depan khalayak semua orang. Bisa kau bayangkan, kota ini tidak mengalami kemajuan apa pun selama kurun waktu cukup lama,” seloroh Heben.
“Lalu mengenai wabah?” tanya Lya.
Ketiga lelaki itu kelihatan heran. “Wabah? Tidak pernah ada wabah apa pun. Oh, kecuali ladang, perkebunan, pertanian kami sempat mengalami kehancuran. Akan tetapi, tidak ada wabah apa-apa lagi setelah itu,” jawab Dasgan.
“Kurasa kami harus menemui Diguf,” putus Aldérin.
“Berhati-hatilah, Tuan. Karena bisa jadi kau sasaran selanjutnya Akil Stagish,” bisik Likas.