The Quest for The Lost Inheritors

Ketika Harapan Datang

Semuanya kacau, pasukan bangsa dëia semakin membabi buta, Cialla dan Can Eru terus berlari ke arah istana. Mereka terpaksa meninggalkan tubuh raja Lord Raignald seorang diri di tengah-tengah pertempuran. Bergegas keduanya menghampiri Can Ara dan Putri Thaira yang sedang berlari juga menuju ke halaman istana. Di mana para prajurit pun mengikuti langkah mereka untuk mundur dan mempertahankan istana.

Tampak sedang memperhatikan dari balkon kediamannya Élsus kelihatan cemas dan khawatir karena masih banyak pasukan bangsa dëia yang masih bertahan, bahkan bangsa itu seolah-olah terlihat tidak berkurang sama sekali. Berbanding terbalik dengan prajurit manusia yang hanya tersisa tiga setengah lusin dan mereka sudah berlari memasuki halaman istana.

Raja Thornell keluar dari dalam istana dia membantu para prajurit untuk menutup pintu gerbang istana dengan benda berat apa pun yang ada, dan sudah disiapkan sebelumnya.

Akan tetapi itu semua hanya untuk pertahanan sementara, karena sudah pasti bangsa dëia akan terus menyerang hingga robohnya pintu gerbang istana tersebut. Yang pasti jika memang tidak ada lagi bangsa manusia yang bisa bertahan setidaknya mereka sudah berjuang mati-matian untuk memberikan perlawanan.

Ketika para Takala dan sang putri memasuki gerbang istana raja Thornell menghampiri mereka, dia kelihatan heran karena tidak ada sosok raja Lord Raignald di antara keempatnya.

“Syukurlah kau selamat,” ucap raja Thornell. “Kau terluka?” tanyanya pada sang putri.

“Ini akan sembuh, jika aku selamat dari pertempuran sekarang,” angguk putri Thaira.

“Di mana raja Lord Raignald?” Mata raja Thornell mencari-cari sosok pemimpin Kota Vôld itu.

Can Eru hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Dia gugur di medan perang karena menyelamatkan aku dan saudaraku. Di mana aku sama sekali tidak bisa menolongnya karena kondisi kami sedang dikepung. Kami terpaksa meninggalkan tubuhnya di tengah kota.”

“Sang raja terkena serangan bola api yang dilontarkan oleh bangsa dëia,” lanjut Cialla dengan mimik wajah yang tampak terpukul dan sedih. “Dia mendorong tubuhku dan Can Eru agar kami tidak terkena bola api yang terlontar. Dan benar, kami tidak bisa membawa tubuh sang raja karena kami harus segera kembali ke istana. Aku hanya berharap tubuhnya tidak dimusnahkan oleh bangsa terkutuk itu.”

“Astaga, demi dunia langit, aku tidak menyangka bahwa itu adalah benar-benar pertemuan terakhirku dengan raja Lord Raignald,” lolong raja Thornell pilu, air mata membasahi pipinya.

“Dia gugur sebagai seorang pemberani,” ucap putri Thaira.

“Perjuangannya tidak akan pernah aku lupakan bahkan aku sia-siakan. Ayo, kita bertahan demi Kota Hail. Apa pun yang terjadi jangan sampai hati kita pun kalah, dan menyerah. Tak masalah jika kita harus hancur, akan tetapi jiwa kita yang memenangkan ini semua. Demi keadilan dan demi kedamaian yang mungkin akan kita miliki kelak!” seru raja Thornell berapi-api.

Mendengar perkataan sang raja para Takala merasakan terharu, sedih, akan tetapi semangat terus berkobar di jiwa mereka. Mereka pun langsung naik ke atas benteng untuk melepaskan anak-anak panah yang hanya sedikit bersisa, setelah itu yang mereka miliki hanya senjata jarak pendek dan keberanian.

Hari hampir menjelang pagi, tampak warna gelap di langit mulai memudar. Dari arah Timur warna keemasan tampak di langit, matahari sudah hampir muncul. Setiap orang yang melihat pada cahaya matahari yang pelan-pelan datang merasa bersemangat lagi, mereka tahu itu mungkin akhir dari mereka semua yang ada di Kota Hail, akan tetapi matahari yang datang semoga menjadi kenangan terindah yang mereka lihat saat itu.

Pasukan bangsa dëia terus maju, mereka berusaha untuk menjebol pintu gerbang istana, dan mereka pun berusaha menaiki benteng yang mengelilingi satu-satunya tempat pertahanan umat manusia. Terdengar suara teriakan-teriakan kemarahan bangsa dëia, di situ juga para dryad bersama putri thaira terus berusaha melawan, entah sampai kapan. Mereka kelelahan, akan tetapi jika menyerah saat itu juga, entah berapa nyawa lagi yang harus berguguran, terlebih anak-anak, perempuan, dan orang tua. Di mana mereka semua sekarang sedang berlindung di bangunan istana.

Suara berdebam-debam terus terdengar, menabrak-nabrak pintu gerbang istana, para pemanah sudah kehabisan anak panah mereka. Yang ada di tangan hanya senjata pedang pendek atau belati, akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang berusaha melarikan diri masuk ke dalam istana. Justru semua prajurit berbondong-bondong maju ke arah gerbang, di mana gerbang itu adalah satu-satunya penghalang di antara para manusia dengan bangsa dëia. Mereka sudah siap untuk melawan apa pun yang ada di hadapan mata.

“Ini saatnya,” ujar raja Thornell. “Kejayaan dan kejatuhan, tapi aku dengan lantang kita adalah pemenang meski nyawa harus meregang dari raga! Jangan pernah takut, karena kita akan disambut oleh dunia langit, dengan nyanyian kemenangan!”

Semua prajurit bersorak-sorai, merasakan kobaran semangat. Putri Thaira memberikan anggukan penghormatan kepada sang adik.

Para Takala saling menatap, mereka mengangguk.

“Senang bisa berakhir di sampingmu, saudariku,” bisik Cialla.

Namun, tunggu.

Élsus merasakan ada sesuatu yang berbeda dari hembusan angin seolah wangi harapan baru telah datang. Druid itu menajamkan pandangan matanya, dan terus menatap ke arah depan. Dia melihat ada pepohonan atau apa sejenisnya, karena itu bergerak cepat mendekat ke arah Kota Hail. Lambat laut Élsus menyadari, oh … itu bukanlah pohon, melainkan pasukan dryad yang dibawa oleh ratunya bersamaan dengan pasukan centaur, yang bergerak di belakang mereka. Mata Élsus membelalak seolah tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.

Maka Élsus berteriak dengan sangat lantang, tangannya menunjuk ke arah pasukan dryad dan pasukan centaur, seraya ia berkata, “Bahwa harapan itu memang selalu ada. Lihatlah, langit telah memberikan bantuannya! Ayo, maju semua dan kobarkan semangat kalian di pagi ini, karena ini bukan pagi terakhir kalian! Pasukan dryad dan centaur telah datang!”

Para Takala mendengar suara Élsus, mendadak tubuh mereka seolah gemetar. Dari kejauhan para dryad itu bisa mendengar suara-suara perempuan yang bersuara melengking tinggi, jernih, juga terdengar seperti nyanyian di medan peperangan.

“Kaum kita.” Suara Can’ Eru hampir terpekik. “Mereka datang!”

“Kurasa hidup kita belum berakhir sampai di sini, Cialla.” Can’ Ara menepuk bahu saudarinya sembari tertawa renyah. “Mari kita tumpas bangsa keparat itu, hingga rata dengan tanah.”

Bergegas ketiganya melompat ke arah pintu gerbang istana mereka mengambil ancang-ancang untuk maju

“Pertahankan barisan kita! Sekarang kita akan menyerang ke arah bangsa dëia di depan sana. Teguhkan lah hati kalian semua, maka ikut berlari bersama kami. Ingat tusuklah telapak tangan mereka atau tebas pergelangan tangannya hingga putus. Itu satu-satunya cara bagi kita melawan bangsa dëia. Ayo, cepat buatlah formasi!” Begitu kata Cialla.

Putri Thaira dan sang raja pun berada di antara para prajurit yang sudah berbaris, dan hendak keluar dari gerbang istana untuk melawan bangsa dëia. Kedatangan pasukan dryad dan centaur kali ini akan membuat posisi terdesak menjadi terbalik. Waktunya pembalasan! Waktunya untuk menyerang balik!

*

Akhirnya, Ratu Reŷanim dan para dryad melihat Kota Hail yang sudah mengeluarkan asap membumbung tinggi dari kejauhan. Sang ratu menunjukkan mimik wajah terkejut sekaligus marah, karena lagi-lagi dia melihat kekejaman bangsa dëia seolah tiada akhirnya.

“Kuharap kita belum terlambat, Akoéta,” ucap sang ratu.

Sang centaur yang berderap di belakang ratu Reŷanim menatap lurus pada Kota Hail. “Mereka pasti bisa bertahan, para Takala bersama bangsa manusia begitu pun juga Élsus.”

“Melawan bangsa darah-api bukan perkara yang mudah. Dan ini kali pertama kita berbenturan dengan bangsa mereka.” Sang ratu mengacungkan kepalan tangannya ke angkasa. “Dryadan, forta (Dryad, maju)!”

Centaluná! Anura (Centaur! Maju)!” seru Akoéta.

Kepulan debu membentuk seperti ombak pasir ketika para centaur berlari maju menuju ke Kota Hail, bersama dengan para dryad di samping mereka. Para dryad bernyanyi dengan lantang, menyerukan lagu peperangan. Mereka tidak mengendurkan kecepatan, meski sebelumnya melakukan perjalanan tiada henti dari Kota Vôld.

Kedatangan mereka disadari oleh bangsa dëia, dari dalam kota kaum api-darah itu keluar seperti serangga, untuk melawan datangnya bala bantuan menuju ke Kota Hail.

Anak-anak panah berdesing dari tangan cekatan dan luwes para dryad. Tombak dan pedang terhunus dan terayun dari tangan para centaur. Senjata mereka ringan dan kuat, karena dibuat di kota para kurcaci. Sayangnya, pasukan dryad dan centaur tidak mengetahui kelemahan bangsa dëia, sehingga serangan mereka tidak efektif. Serangan-serangan mereka dipatahkan oleh bangsa dëia.

“Bangsa apa mereka?! Kenapa begitu kuat?” desis Akoéta.

“Mereka pasti memiliki kelemahan! Serang terus!” balas ratu Reŷanim.

Para dryad terpental ke angkasa ketika bangsa dëia melancarkan serangan balasan, mereka memiliki kekuatan api di tangannya. Nasib yang sama dialami para centaur, banyak dari mereka yang tewas karena tubuhnya terbakar oleh api. Bola-bola api seperti hujan yang turun dari langit, membuat formasi pasukan dryad dan centaur menjadi kacau.

Ratu Reŷanim mulai bingung. Dia tidak tahu bagaimana agar mereka bisa mengalahkan bangsa dëia. Wédéal, Nevêrther, dan Néverlër tidak bersama mereka, karena ketiganya bertolak menuju kota centaur untuk mencari petunjuk mengenai bangsa dëia yang mungkin ditinggalkan oleh Gûr’adór sebelumnya. Namun, jika ketiganya belum juga muncul, dan tidak mendapatkan petunjuk apa-apa, sebanyak apa pun bangsa centaur dan dryad pasti akan musnah dilalap oleh bangsa dëia.

Dari dalam kota, keluar semua prajurit bangsa dëia. Sang ratu membelalakkan matanya.

“Oh, tidak,” gumamnya pilu. “Kita akan hancur.”

Di antara teriakan bangsa dëia terdengar teriakan lain dari dalam kota, rupanya bangsa dëia keluar dari kota bukan untuk menyerang pasukan dryad dan centaur, akan tetapi mereka terpukul mundur oleh prajurit manusia dan para Takala yang maju menerjang.

Sesosok dëia tinggi besar menghunuskan kapaknya pada ratu Reŷanim. Sang ratu berguling, dan bertahan. Dia menangkis dengan pedang melengkung di tangannya. Hingga tiba-tiba sebuah anak panah berdesing dan mematahkan pegangan kapak dëia itu. Sebuah anak panah lain, langsung menghujam pada telapak tangannya. Hingga dëia itu langsung berubah menjadi abu.

Ratu Reŷanim menoleh ke belakang, dan melihat kedatangan Wédéal, Nevêrther, juga Néverlër.

“Kelemahan mereka di telapak tangan!” teriak Wédéal.

Titah itu terdengar jelas oleh para centaur dan dryad. Mereka pun memusatkan serangan pada telapak tangan para bangsa dëia. Sehingga prajurit bangsa dëia mulai terjebak di tengah-tengah, karena dari arah kota ada pasukan bangsa manusia yang pantang menyerah dan berani mati. Dari belakang, mereka diserang oleh bangsa dryad dan centaur, yang kini mengetahui kelemahan mereka.

“Binasakan mereka semua!! Ayo, maju!!” teriak Raja Thornell.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!