The Quest for The Lost Inheritors
Pelarian Dari Vôld
Putri Thaira memberikan surat resmi pada kurir yang siap berangkat menuju Kota Vôld. Tiga orang kurir dengan stamina terkuat dan sanggup mengendarai kuda siang malam tanpa beristirahat, menerima surat tersebut di halaman istana.
“Kami membutuhkan keputusan dari raja Lord Raigland secepat mungkin. Begitu dia sudah memberikan jawaban, segera kembali hari itu juga. Kalian paham?” titah sang putri.
“Baik, Tuan Putri.” Ketiganya mengangguk mengiyakan.
Para kurir naik ke atas kuda, hendak bersiap pergi. Hingga terdengar suara dentang lonceng peringatan estafet dari gerbang masuk kota hingga ke istana. Semuanya terkesiap. Lalu datang beberapa prajurit kota berlarian menuju ke halaman istana. Mereka langsung memberi hormat dengan tergesa-gesa.
“Ada apa?” tanya sang putri dan raut wajahnya tampak cemas.
“Penduduk Kota Vôld, mereka semua datang ke Hail,” jawab sang prajurit heran sekaligus ketakutan. “Mereka semua mencari perlindungan di sini, Tuan Putri.”
“Apa? Mereka mengungsi ke Hail? Tapi bagaimana—” Sang putri terkesiap, seolah bingung harus berbuat apa. Untuk sejenak putri Thaira termenung, lalu dia langsung menoleh pada prajurit di belakangnya. “Tempatkan mereka di lapang terbuka, atur dan bagi-bagi dalam beberapa kelompok. Aku tak mau ada kerumunan orang-orang yang tidak terarah.”
“Kami mengerti, Tuan Putri.” Para prajurit mengiyakan.
“Lalu surat ini?” Salah satu kurir kebingungan harus berbuat apa.
Sang putri langsung mengambil surat tersebut dari tangan mereka. “Kita tak membutuhkan surat ini lagi. Cepat cari siapa yang memimpin penduduk Vôld datang ke mari, segera bawa ke istana.”
Sang putri pun bergegas masuk ke dalam istana, berlari secepat mungkin untuk menemui raja Thornell yang berada di kamarnya. Suara langkah perempuan muda itu bergema di koridor yang lengang, dia sampai melewati tiap dua anak tangga agar segera sampai ke kamar sang adik.
“Thornell,” panggil sang putri sembari membuka pintu kamar.
Raja Thornell sedang membuka-buka buku lama, yang dibawanya dari perpustakaan istana. Dia yang sedang duduk, lalu mendongakkan kepalanya. “Para kurir sudah kau titahkan menuju Kota Vôld, Thaira?”
“Tidak perlu lagi.” Thaira menghampiri raja Thornell.
Sebelah alis raja Thornell naik. “Maksudmu?”
“Di luar sana, penduduk dari Kota Vôld datang ke Hail. Semua penduduk mereka, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sesuai yang diprediksikan oleh para dryad. Kemungkinan bangsa apa itu, menyerang Kota Vôld,” sahut putri Thaira.
“Kau bergurau.”
“Apa aku terlihat sedang bermain-main denganmu?”
“Astaga, demi Stëvnŷa!” Thornell setengah melemparkan bukunya ke atas meja. “Aku harus segera melihat apa yang terjadi.”
“Aku sudah meminta para kurir untuk mengantar siapa yang memimpin penduduk di sana untuk membawanya ke istana,” kata putri Thaira.
“Panggil para dryad dan lelaki aneh itu. Kau tahu siapa namanya?”
“Élsus?” Sang putri pun tampak ragu. “Kurasa itu namanya.”
“Tolong, panggilkan mereka untuk segera ke balairung, Thaira.”
“Tentu saja.” Putri Thaira mengangguk.
Lalu perempuan itu bergegas keluar lagi dari kamar raja Thornell, dan berlari secepatnya untuk menyusul ke kamar para Takala juga Élsus.
*
Wajah Lord Raignald tampak murung dan lelah, kondisinya terlihat begitu buruk. Ia duduk di atas kursi yang sudah disiapkan, dan tubuhnya bersandar pada punggung kursi. Sedangkan di singgasananya Raja Thornell hanya menatap sedih juga prihatin.
“Api, hanya itu yang kulihat sepanjang mataku. Kali pertama dalam hidup, aku merasakan teror dan horor yang begitu mengerikan. Seperti mimpi, akan tetapi semua nyata,” ucap raja Lord Raignald.
Tidak ada yang menyela semua mendengarkan penjelasan raja dari Kota Vôld, yang sekarang sudah menjadi puing-puing dan abu.
“Ajudanku dan prajurit-prajurit pemberani, mereka mengorbankan diri agar semua penduduk bisa melarikan diri. Ini benar-benar mimpi buruk menjadi nyata. Tidak ada yang bisa aku lakukan, bahkan senjata di kotaku, bak angin berhembus bagi bangsa ini,” lanjutnya.
“Jika memang mereka bangsa yang sangat kuat, kenapa sekarang?” gumam Putri Thaira. “Mereka bisa menyerang bangsa mana saja, kapan pun mereka mau.”
“Mungkin agar kita tetap terkecoh,” balas Élsus. “Menganggap mereka tidak ada dan hanya sebatas legenda. Bahkan kalian semua tidak pernah tahu ada bangsa itu, bukan? Bangsa kuno, yang setua bangsa elf. Hanya saja mereka dibuat menghilang.”
“Apa tujuan mereka sebetulnya?” kata Raja Thornell. “Membinasakan semua bangsa? Sebarbar itu?”
“Tujuan apa pun, bukan itu yang menjadi kekhawatiran kita semua. Namun, menyelamatkan semua orang, agar tidak hancur dan binasa di tangan mereka,” seloroh Can’Eru.
“Kota kami, tidak memiliki persenjataan sehebat Kota Vôld. Apa yang harus dilakukan?” Kelihatan Raja Thornell begitu cemas. “Prajurit kami tidak banyak.”
“Digabung dengan sisa prajurit yang ikut bersamaku dari Kota Vôld, tetap tidak akan bisa memukul telak bangsa dëia ini. Mereka terlalu kuat,” sahut raja Lord Raignald.
Cialla berdeham dan membuat semua mengalihkan perhatian padanya. Lalu dryad itu bicara dengan lantang. “Ada pasukan bangsa kami dan bangsa centaur, mungkin tidak sekuat bangsa elf, tapi ahli dalam bertempur. Hanya saja, ratuku sedang dalam misi penyelamatan ke kota para kurcaci dan nymph, di mana aku dan saudari-saudariku tidak tahu … kapan kedatangan mereka ke sini.”
“Kita pun tidak tahu, apa mereka selamat atau tidak. Jika tiba-tiba bersinggungan dengan pasukan bangsa dëia,” lanjut Can’Eru dengan wajah muram.
“Berapa lama kita harus menunggu? Dalam waktu dua atau tiga hari, bangsa api itu bisa jadi sudah tiba ke Hail. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, mereka akan membinasakan siapa pun di jalan mereka.” Can’Ara menoleh pada Élsus. “Bukankah begitu, Élsus? Aldérin pun sudah pernah memberitahukan tentang ini.”
“Apa kita harus melarikan semua penduduk ke utara? Ke Ferden’lyf?” usul Lord Raignald. “Mungkin di sana kita bisa mengumpulkan kekuatan bersama-sama.”
“Terlalu jauh, dan medan ke sana begitu berat. Iring-iringan orang yang banyak akan melambatkan perjalanan. Jika kita disergap di tengah-tengah, itu lebih berbahaya,” sergah sang raja Kota Hail.
“Jadi tetap bertahan di sini?” Cialla menatap tak percaya. “Jika Kota Vôld memiliki persenjataan lebih baik, tapi kota itu tetap hancur. Lalu bagaimana dengan kota ini? Secepat apa bangsa dëia akan membuatnya rata dengan tanah.”
“Kita jangan pesimis. Bertahan hingga pasukan dryad dan centaur datang, aku yakin kita semua bisa melakukannya. Dengan bekerjasama,” kata Élsus.
“Ini konyol,” desah Can’Eru.
“Jangan remehkan para manusia, kami bisa menjadi makhluk tabah dan kuat, juga tetap berjuang.” Sang putri menatap tajam pada Can’Eru. “Yang kita butuhkan adalah strategi peperangan jitu, untuk bertahan selama mungkin.”
“Bangsa itu terlalu kuat.” Raja Lord Raignald menggelengkan kepalanya dengan frustasi.
“Mereka pasti punya kelemahan!” tegas Putri Thaira.
“Aku tidak tahu.” Begitu kata Lord Raignald. “Aku pergi bersama penduduk, dan prajurit yang sengaja mengawalku hingga ke Hail.”
“Kita akan pikirkan tentang itu,” sahut Raja Thornell. “Sebaiknya Yang Mulia beristirahat dan memulihkan tenaga. Dalam situasi seperti sekarang, tentu akan sulit untuk berpikir jernih. Kau sedang terguncang, tenangkanlah dulu pikiranmu, Yang Mulia.”
Lord Raignald mengangguk lemah. “Terima kasih, Yang Mulia.”
Lalu sang raja dari Kota Vôld diantar oleh prajurit untuk beristirahat, sedangkan yang lain masih bertahan di balairung untuk membicarakan langkah selanjutnya.
*
Hail menjadi kota yang ricuh, di mana semua orang menjadi panik, akan tetapi tidak tahu mereka harus pergi ke mana lagi. Tidak ada yang berani melarikan diri diam-diam ke utara, karena ada desas-desus terjadi ledakan misterius oleh penyihir di Pine Tower. Pergi ke Ferden’lyf pun bisa-bisa dijadikan tawanan penyihir.
Namun, tinggal di kota pun bukan solusi yang baik.
Pada akhirnya, penduduk menjadi mendesak para prajurit meminta perlindungan. Keributan-keributan kecil pun terjadi, karena setiap orang emosinya tak stabil dan dalam tekanan. Dewan kota tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sang hakim agung mengurung diri di rumahnya. Penduduk dari Kota Vôld ditempatkan di lapang terbuka, untuk sementara diberikan tenda-tenda sebagai tempat berteduh.
Sang putri sekembalinya melihat keadaan di luar menuju istana, tampak begitu lelah dan bingung. Dia kembali di malam begitu larut, dan bertemu dengan para Takala yang sedang bersiaga di benteng gerbang istana. Para Takala langsung meluncur turun begitu luwesnya ke permukaan halaman istana. Membuat putri Thaira takjub untuk sesaat.
“Kalian dilatih sebagai prajurit?” tanya sang putri setelah turun dari kuda.
Cialla menggeleng. “Ini adalah keseharian kami, tapi kami tak pernah berperang sebelumnya.”
“Betul kah? Lalu mengapa kalian memiliki keahlian seperti itu, seperti sudah dipersiapkan untuk menghadapi serangan dan semacamnya.”
“Kau sendiri?” tanya Can’Ara dia melemparkan pedang pendek pada Putri Thaira, yang langsung ditangkap begitu tangkas oleh sang putri. “Kau seorang putri, tapi tindak-tandukmu seperti seorang prajurit.”
“Entahlah, aku hanya ingin melindungi orang-orang yang aku sayang, dan kotaku. Melatih diriku setiap hari, mungkin akan berguna,” jawab Putri Thaira. “Meski kini aku sebetulnya merasa gentar untuk berhadapan dengan bangsa api."
"Begitu juga kami,” seloroh Can’Eru.
Mereka berempat memasuki istana sembari bercakap-cakap. Sang putri sudah letih, akan tetapi kalut di dalam pikirannya membuat ia tak bisa beristirahat. Dia membutuhkan rencana matang meski dalam waktu singkat, ada hal-hal yang mungkin bisa dilakukan untuk menahan serangan bangsa dëia.
“Istirahatlah, Tuan Putri. Kau butuh tenaga untuk esok dan hari-hari berikutnya,” kata Can’Ara.
“Aku tidak bisa. Ada beberapa rencana yang ingin kulakukan, agar kota ini sedikitnya memiliki tambahan pertahanan, kota kami tidak sekuat Vôld, itu yang kukhawatirkan,” tolak sang putri.
Thaira Harnburgar memang lebih pantas menduduki tahta kerajaan dibandingkan dengan Thornell. Usianya masih terbilang sangat muda, dua puluh empat tahun. Di umurnya itu dia memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, praktis juga logis. Namun, kekurangannya dia sangat kaku. Karena itu, sang putri belum juga memiliki pasangan kekasih, meski banyak kalangan bangsawan yang ingin meminangnya.
Sedangkan sang adik, Thornell memang masih begitu muda juga naif, akan tetapi dia memiliki hati yang lembut dan perhatian, kelak dalam beberapa tahun yang akan datang sang raja akan menjadi raja yang begitu dicintai rakyatnya.
“Kalau begitu, bicarakan dengan kami tentang rencanamu,” kata Cialla. “Mungkin kami bisa membantu. Setidaknya, empat kepala lebih baik daripada satu.”
“Lima,” ucap seseorang dari balik koridor dan tampak Élsus ada di sana, sosoknya muncul setelah ia keluar dari kamar. “Aku tidak bisa mengistirahatkan pikiranku. Ada hal yang memang harus kita rencanakan, dan laksanakan secepatnya.”
“Baiklah, kita ke perpustakaan.” Putri Thaira mengangguk. “Aku takkan membangunkan Thornell, karena dia akan berperan banyak bagi bangsa kami.”
“Tapi kau pun butuh waktu tidur, Tuan Putri.” Can’Eru menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan paksakan dirimu. Jika kau sudah sangat lelah, maka beristirahatlah.”
“Tentu, akan kulakukan. Tapi setelah aku selesai dengan rencana-rencanaku,” balas sang putri.
Baru saja mereka hendak ke perpustakaan, dua orang prajurit datang tergopoh-gopoh menghampiri Putri Thaira. Keduanya langsung membungkuk memberi hormat.
“Tuan Putri, ada seorang prajurit datang dari Vôld. Sepertinya dia orang terakhir yang selamat dari sana,” ucap salah satu dari mereka.
“Di mana dia sekarang?” Putri Thaira membelalak kaget.
“Sedang dibawa ke istana, karena dia ingin menyampaikan berita sangat penting.”
“Antar dia ke perpustakaan, biar aku bicara dengannya segera.”
“Baik, Tuan Putri.”