The Quest for The Lost Inheritors
Datangnya Kelompok Kecil ke Hail
“Kita sebentar lagi tiba,” ucap Keld.
Para Takala dan Élsus saling mengangguk, mereka harus bersiap-siap dengan keadaan apa pun yang nanti akan menyambut di depan sana. Di Kota Hail.
Karena apa yang akan mereka sampaikan adalah berita bak badai yang akan segera datang. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari amukannya. Jika sang raja bukan seseorang yang bijaksana, maka akan musnahlah semua apa yang mereka rencanakan.
Bangsa dëia pun akan mudah menggerus semua makhluk yang ada di dunia Khâli, karena tidak adanya persatuan. Semua tercerai-berai, dengan perang masing-masing melawan bangsa yang konon sulit dikalahkan tersebut.
Dari atas benteng tampak kepala-kepala melongok ke arah bawah, di mana Keld dan kelompok kecilnya sudah hampir mendekat ke gerbang memasuki kota. Terdengar suara lonceng dibunyikan sangat keras, sebagai tanda peringatan. Keld tampak menegang, akan tetapi Élsus menepuk lembut bahu lelaki itu.
“Tenanglah, Keld Fielgreen. Semua akan baik-baik saja,” ucap Élsus.
Terdengar teriakan yang menyebut-nyebut nama Keld dari atas benteng. Para Takala menahan langkah Keld dan Élsus. Mereka menunjuk dengan dagu.
“Kita tunggu saja, para manusia itu akan keluar dan menyambut kita,” kata Cialla.
“Dengan senjata,” tambah Can’Eru. “Aku bisa mendengar suara dentingan pedang entah tombak.”
Can’Ara mengambil anak panah dari punggung dan menyiapkan busur. “Bagian mana yang harus aku serang?” tanyanya enteng.
“Hentikan, kita datang untuk berdiplomasi. Bukan untuk membuka peperangan baru,” cegah Élsus. “Turunkan busur dan anak panahmu, Can’Ara. Dan astaga, Can’Eru … jangan kau tunjukkan kedua pedangmu yang bermata sangat tajam itu.”
“Baiklah.” Kedua dryad mengangguk patuh dan meletakkan senjata mereka kembali ke tempatnya.
“Kurasa kau sedikit lebih bijak daripada saudari-saudarimu,” gumam Élsus pada Cialla.
“Oh, aku belum membuat senjata yang pas untukku, Élsus. Karena senjataku hilang di kota kami. Aku lebih suka memakai trisula.” Cialla mengendikkan bahu.
Dryad memang makhluk ajaib yang penuh spontanitas dan mereka berpikir sangat praktis.
Tidak lama pintu gerbang kota terbuka, terdengar sangat berat dengan suara keriut yang keras. Lalu prajurit keluar, beberapa lusin dari mereka, diikuti oleh Crusel di belakang mereka. Begitu melihat para Takala dan sosok Élsus, para prajurit tersentak kaget. Mereka tidak berani untuk maju.
“Kawanan penyihir! Berani-beraninya kalian datang ke kota kami!” teriak Crusel marah. “Tangkap mereka, dan kita akan adili mereka. Tidak ada hukuman ringan, aku akan mengajukan hukuman terberat. Karena mereka ini, hingga terjadinya ada korban di kota kita!”
“Kami baru saja datang, bagaimana mungkin ada korban di kotamu, Manusia,” balas Can’Eru enteng. “Kecuali, kita bertempur sekarang. Ayo, majulah.”
Élsus langsung mengangkat sebelah telapak tangannya setinggi dagu. “Kami datang dalam damai, dan tak ingin bertikai. Karena ada yang ingin kami sampaikan kepada raja Kota Hail. Jadi kumohon, kita gunakan pikiran dan hati yang dingin.”
“Aku takkan mengambil risiko, kalian bisa menjadi ancaman bagi raja kami!” Crusel bersikeras. “Dia pun adalah buronan. Keld Fielgreen, yang tidak bertanggungjawab. Kupastikan kau akan menyesalinya.”
Can’Ara langsung mengambil anak panah dan busur, lalu dia bidik pada prajurit terdekat. “Aku lelah dengan omong kosong ini. Kami sudah menempuh perjalanan sangat jauh, bukan untuk disambut oleh seseorang yang dungu dan tak tahu apa-apa.”
“Habisi mereka!!” titah Crusel keras.
Terdengar suara teriakan dari dalam kota, dan derap langkah kuda dalam ketergesaan mendekat. Seorang wanita bertubuh tinggi besar berambut kepang satu sepanjang punggung, datang mengendarai seekor kuda. Dia mengibaskan kepangan rambut berwarna pirangnya, lalu turun dari atas kuda.
Dia memakai pakaian kerajaan untuk laki-laki, tunik yang dilapisi mantel bermanset sepanjang lutut. Celana hitam dan sepatu bot.
Begitu melihat perempuan itu datang, semua pasukan terdiam. Mereka menunduk dan memberi hormat yang dalam. Hal yang sama dilakukan oleh Crusel.
“Raja Thornell menyambut kalian di balairungnya, akan kupastikan tidak ada ancaman atau tipu daya. Sebaliknya, itu pun yang harus kalian lakukan, karena kalian adalah tamu di kota kami,” ucap perempuan itu.
Para Takala tidak menjawab, mereka menyarungkan senjata untuk yang kedua kalinya. Sedangkan Élsus memberi anggukan sopan, begitu juga dengan Keld.
“Terima kasih, kami akan menaatinya,” balas Élsus.
“Kawal mereka hingga ke istana,” titah perempuan itu tegas pada prajurit. Lalu dia mengalihkan lagi perhatian pada Keld dan kelompoknya. “Aku akan menunggu di istana. Selamat datang di Hail.”
Tampak raut wajah Crusel, si hakim agung, sangat pucat. Tubuhnya bergetar, meski dia berusaha untuk menutupinya. Perempuan itu berjalan melewati Crusel dan mengabaikannya, segera setelah itu dia menaiki lagi kudanya dan berderap lebih dulu ke istana.
Cialla menepuk sekali bahu Keld. “Siapa perempuan manusia itu? Apa dia ratu kalian?”
“Oh, bukan. Dia adalah kakak sang raja, Putri Thaira Harnburgar,” jawab Keld.
“Bukankah seharusnya dia menjadi ratu? Mengapa tetap menjadi putri?” tanya Can’Eru.
“Karena garis keturunan di Hail, diambil dari pihak laki-laki. Karena sang putri adalah perempuan, maka tahta jatuh pada sang adik. Raja Thornell.” Keld menjelaskan.
Can’Ara menggaruk-garuk belakang lehernya. “Bukankah dia kelihatan lebih muda darimu, Keld? Terlalu muda menurutku. Berapa usia sang raja?”
“Sang raja baru diangkat menjadi pemilik tahta satu tahun lalu, ketika dia berusia delapan belas,” jawab Keld. “Tahun ini dia berusia sembilan belas tahun.”
“Seusia kecambah? Apa kau bergurau?” Cialla membelalakkan matanya. “Kita akan menemui seorang raja yang belum tentu memiliki pengalaman bertempur, terlebih melawan bangsa dëia. Ini benar-benar mengerikan. Hancurlah kita semua.”
“Kadang mereka yang muda, justru memiliki harapan dan semangat yang lebih dari mereka yang melihat lebih banyak musim,” kata Élsus. “Bukan aku mengatakan yang lebih tua itu tidak berguna. Namun, tidak ada salahnya menaruh kepercayaan pada tunas-tunas yang tumbuh, dan mereka akan berakar kuat.”
“Yah, semoga setelah tua, anak-anak muda ini menjadi berguna. Tidak tumpul pikirannya, seperti lelaki dungu itu,” tunjuk Can’Eru pada Crusel.
Tampak Crusel semakin menundukkan kepalanya, dan melangkah cepat-cepat. Karena dia pasti merasa sangat ketakutan. Dia sudah membuat banyak masalah, membuat cerita-cerita demi keuntungannya sendiri, merasa bahwa raja takkan mengusik.
Namun, jika kini raja menemui para Takala, terlebih Keld, maka akan terungkap semua. Crusel sudah tidak bisa berkutik lagi.
Orang-orang yang penasaran, berdiri di tepi jalan dan menatap takut-takut ke arah para dryad, yang bertubuh jangkung dengan penampilan mencolok dan sangat berbeda. Mereka seperti melihat pohon-pohon cantik berbentuk manusia, yang melangkah dengan santai juga anggun. Orang-orang di Hail takjub sekaligus ngeri, akan tetapi jika para Takala diundang masuk oleh raja, kemungkinan besar akan tetap aman.
Cialla memerhatikan kondisi kota, sembari terus melangkah ke arah istana.
“Tidak ada tempat bagi para manusia mempunyai tempat sembunyi yang aman?” tanyanya tiba-tiba.
“Hanya kota ini yang paling aman bagi semua. Tentu kedua setelah Kota Vôld, di sana jauh lebih besar dan persenjataannya sangat bagus,” kata Keld.
Ada mimik muram ditunjukkan oleh Cialla. “Kita harus pastikan untuk menyelamatkan semua orang, Keld. Bangsa dëia datang bukan untuk menaklukkan kotamu, tapi untuk memusnahkan setiap makhluk hidup yang ada di kota ini.”
*
Balairung istana di Hail cukup besar, tetapi tak semegah Kota Vôld. Singgasana sang raja terbuat dari kayu berukir yang tampak sedikit usang, akan tetapi tetap mengkilat. Di atas kepala singgasana, ada ukiran kepala elang di sana.
Para Takala, Élsus, dan Keld memasuki balairung dengan ubin abu-abu mengkilat, senada dengan warna dindingnya. Tampak sang raja sudah menunggu, dan di sampingnya sudah berdiri putri Thaira. Sekilas, wajah sang putri lebih cocok menjadi seorang pemimpin, dibandingkan raja Thornell yang tampak begitu lugu juga manis.
Begitu menghadap raja, para rombongan kecil memberi penghormatan mereka.
“Aku mendengar desas-desus mengenai kedatangan makhluk ajaib, dan ini tidak pernah terjadi selama ratusan entah ribuan tahun sebelumnya. Luar biasa,” ucap sang raja begitu antusias penuh semangat.
Para Takala saling melirik satu sama lain, mereka tidak mengucapkan apa-apa.
“Apa betul ada makhluk lain? Terjadi keributan di Hail beberapa waktu lalu, dan mengakibatkan kematian. Itu akibat penyihir, tetapi aku membutuhkan kebenarannya. Dan sepertinya, orang yang aku nanti sudah kembali ke Hail,” lanjut sang raja dengan mata terus tertuju pada Keld. “Betulkah pelarian sosok asing itu penyihir dan komplotannya? Keld Fielgreen?”
“Yang Mulia, kedatangan kami bukan untuk meluruskan masalah penyihir, karena kami tidak mengerti ada hal apa sebelumnya. Namun, ada hal lebih besar dan mengerikan akan datang ke Hail,” sahut Élsus. “Namaku Élsus, ini adalah para dryad; Cialla, Can’Ara, dan juga Can’Eru.”
“Dan kota ini terbuka untuk kalian, akan segala yang ingin kalian sampaikan,” balas sang raja.
“Kedatangan bangsa dëia jauh lebih penting,” kata Cialla. “Bangsa itu akan segera datang. Dan kita harus berusaha bertahan, atau mencari tempat persembunyian, sebelum kita bergabung dengan yang lain.”
“Yang lain?” Mata raja Thornell membelalak. “Aku masih belum memahami, ada apa sebetulnya?”
Sang putri mendekat pada adiknya, dan berbisik pelan di telinga sang raja muda tersebut.
“Baiklah, kurasa kita harus menyelesaikan satu persatu masalah yang terjadi. Namun, untuk pertama-tama aku ingin penjelasan dari Keld Fielgreen, karena telah membuat kericuhan beberapa saat lalu. Hingga terjadi kematian Blud Pramber, dan siapa pemuda itu?” Dia melirik pada sang kakak.
“Cahreb Rawley,” jawab putri Thaira.
“Cahreb,” ulangnya. “Kau telah dituding sebagai komplotan penyihir yang kini melarikan diri ke utara, dan membawa gadis bernama Lya keponakan dari Blud. Entah gadis itu masih hidup atau tidak.”
“Siapa yang memberi tudingan sekejam itu padaku?” Keld terkesiap.
“Hakim agung Crusel Fardrown,” jawab sang putri dingin.
“Jika memang aku adalah komplotan penyihir, untuk apa aku kembali ke kota ini,” desah Keld. Lalu dia berdeham pelan. “Aku membantu Tuan Varwendil dan keponakannya Tuan Muda Findarel melarikan diri ke utara, karena mereka harus menyelamatkan banyak bangsa. Dia adalah seorang elf, dan kepergiannya pun berkaitan dengan bangsa dëia.
“Crusel Fardrown berusaha untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dia berusaha menangkap seseorang, tanpa tahu permasalahannya apa. Karena itu, aku dan kawan baikku Blud (semoga dia tenang di sana), kami membantu Tuan Varwendil meloloskan dari Crusel,” jelas Keld panjang lebar.
“Keld diutus oleh Aldérin, untuk menemuiku. Dia tidak melarikan diri,” tambah Élsus. “Kedatangan Keld telah membantu para dryad keluar dari permasalahan pelik, begitu juga kaum centaur. Di mana mereka kini, mungkin sedang bertempur dengan bangsa dëia.”
“Mengenai penyihir, apakah ini menurutmu karangan dari Crusel semata, Keld?” tanya sang raja.
Keld mengangguk tegas. “Benar, Yang Mulia. Yang aku takutkan, justru karena Crusel berusaha menutupi hal-hal yang penting, ini akan menjadi kehancuran bagi Kota Hail.”
“Aku akan mengirimkan kurir pada raja di Kota Vôld, akan kita bicarakan mengenai hal ini. Silakan kalian beristirahat, aku sudah menyiapkan tempat bagi kalian semua. Kecuali untukmu, Keld.” Raja Thornell menatap Keld dengan pandangan mata teduh. “Kembalilah pada keluargamu. Permasalahan dengan Crusel akan kita selesaikan sesegera mungkin.”
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Keld penuh syukur.
“Tuan Raja, kau harus mengeluarkan rakyatmu dari sini, karena bangsa dëia akan datang kapan saja. Kalian takkan bisa melawan mereka,” seloroh Cialla tiba-tiba. “Siapkan prajurit terbaikmu untuk bertahan dan melarikan semua orang. Jangan tunda lagi.”
“Kami tidak punya tempat lain, hanya kota ini. Tidak kurang dan tidak lebih,” balas sang putri.
“Maka kalian semua akan hancur,” kata Can’Eru.
“Aku pastikan semua akan baik-baik saja,” cetus raja Thornell. “Setelah aku mendapat balasan dari raja di Vôld, kita akan mendiskusikan masalah ini bersama-sama.”
“Kalian dipersilakan untuk meninggalkan balairung,” tambah sang putri.
Meski kelihatan tidak puas dengan keputusan raja, para Takala hanya mengangguk dan keluar dari balairung istana. Keld berpamitan dan dia hendak kembali ke rumah. Sedangkan para Takala juga Élsus mengikuti dua orang prajurit yang membawa mereka ke ruang istirahat bagi tamu raja.
“Apa yang harus kita lakukan, Élsus?” bisik Can’Ara bimbang.
“Kita sebaiknya menunggu. Mungkin ada kabar baik yang menanti,” jawab Élsus lirih.