The Quest for The Lost Inheritors
Munculnya Estion
“Laira … laira …
Estion, laira … harya …”
(Laira: Bangunlah. Harya: Sekarang (kata ini hanya digunakan pada benda-benda sihir))
Senyum Elverel tersungging ketika tangannya bersinar terang setelah ia mengucapkan nyanyian lirih itu. Bandul kecil di telapaknya semakin lama makin bersinar berwarna biru lembut, alur di batu biru itu bergelora bak gelombang, seolah-olah adalah ombak yang berlomba-lomba menuju ke daratan.
Findarel kecil menatap dengan takjub ke telapak tangan ayahnya.
“Nah Findarel, ini akan menjadi milikmu kelak,” ujar Elverel. “Jagalah dengan baik, karena ia begitu berharga untuk keluarga kita.”
“Kenapa bandul itu sangat penting bagi kita, Atar?”
“Ia adalah penjagamu.” Elverel menutup telapak tangannya dan memakai lagi rantai, di mana bandul itu tergantung pada lehernya. “Penjaga bernama Estion.”
…
Findarel membuka matanya dan berkedip cepat, tidur sejenak itu sudah cukup membuatnya kembali segar. Namun, bayang-bayang masa lalu yang indah, entah kenapa menciptakan suasana murung di hatinya. Langit masih gelap, tetapi tampak bintang-bintang di langit mulai memudar, mereka akan segera tertidur di peraduannya.
Dan sang matahari yang bersinar terang akan menggantikan keberadaan mereka tidak lama lagi.
“Kau baik-baik saja, Findarel?” tanya Aldérin, pelan, yang duduk di atas batang pohon tepat di atas Findarel. Aldérin pun baru saja terbangun dari tidur.
Findarel menarik keluar rantai yang melingkar di lehernya dari dalam pakaian, bandul itu berwarna gelap. Ia mengeluh pelan, jika saja ia tidak memaksakan diri kembali ke rumah dan mengambil rantai tersebut, tentu nyawa Tylosae akan selamat.
Hanya saja, kenangan masa kecil membuat Findarel melakukan keputusan bodoh. Bahkan hingga kini, ia sama sekali tak bisa membuat bandul itu bersinar, seperti yang pernah Elverel, ayahnya, lakukan, dulu.
“Apa itu?” tanya Aldérin. Yang ternyata memperhatikan tingkah Findarel.
“Ini Estion, bandul milik keluarga kami.”
Ternyata, ia adalah pewaris dari bandul Pelanthum Irior; Nyala Semangat. Aku tak menduga bisa bertemu dengannya secepat ini, batin Aldérin.
Aldérin terdiam sejenak. Lalu tak lama ia berkata, “Jadi kau ini adalah pewaris dari Andilosh? Hm … aku sama sekali tidak menyangka.”
“Andilosh? Aku? Benarkah itu?” tanya Findarel, heran.
“Bukankah yang kini memegang bandul tersebut adalah kau?” Aldérin turun dan duduk di samping Findarel. “Memang, seharusnya ada upacara penobatan bagi para pewaris klan. Namun, sudah tak mungkin dilakukan sekarang, karena Lamvorels musnah. Kurasa mulai saat ini, pewaris dari Estion setelah Elverel, aku yakin adalah kau Findarel.”
“Sebetulnya aku tak mengerti, hubungan bandul ini dengan keberadaan klan. Pengetahuanku akan sejarah belum diperbolehkan sejauh itu, sebelum memasuki usia esval,” kata Findarel.
“Kau tak salah, Findarel. Memang usiamu belum mencukupi syarat mempelajari sejarah yang terlalu lampau. Tetapi, akan kuceritakan inti sarinya, agar kau tahu dan jauh lebih berhati-hati,” kata Alderin.
Aldérin pun membuat jeda, lalu melanjutkan ceritanya, “Para pemimpin di masa lampau, Andilosh, Shaes, Sholyrn dan Anvada, memiliki kekuatan di hati mereka. Karena begitu hebatnya tekad mereka, saat keempatnya tewas di medan perang, entah bagaimana dari tiap-tiap telapak tangan mereka, muncul bandul yang merupakan perwujudan dari tekad itu.
Findarel mendengarkan dengan seksama.
“Bandul itu dinamakan Estion, Rafael, Silmo dan Mannen. Dan menurut kisah di masa lampau, bandul-bandul itu yang mengantarkan kemenangan ketika Masa Kegelapan terjadi, kita menang melawan bangsa dëia,” lanjut Aldérin.
“Jadi itu yang membuat bandul ini begitu berharga,” ujar Findarel.
“Ya, tentu saja sangat berharga. Kekuatannya akan benar-benar muncul jika bersatu dengan bandul-bandul yang lainnya, oleh karena itulah … kau sebagai pewaris, tidak boleh mengabaikan keberadaan Estion.”
“Lalu di manakah bandul-bandul yang lain? Apakah berada di Lamvorels?”
Alderin menggeleng. “Ada rasa bersyukur di hatiku, bandul yang lain tak ada di Lamvorels selama ini,” sahutnya. “Sejak peperangan berakhir, para keturunan mereka menghadiahkan satu bandul pada bangsa manusia dan satu pada bangsa kurcaci. Rafael dan Mannen yang diberikan.”
“Lalu, di mana bandul Silmo berada?”
“Tidak ada yang tahu. Silmo adalah simbol kebebasan, ia bebas pergi ke mana ia mau, sejak perang berakhir, bandul itu pun lenyap.”
“Sayang sekali …,” keluh Findarel. “Tetapi, mungkin kita bisa menemukannya di suatu tempat, bukankah begitu, Ial?”
“Mungkin. Berharap untuk kebaikan, tidak ada salahnya.”
Aldérin menatap ke arah Timur, belum terlihat tanda-tanda dari musuh tetapi ia tetap harus waspada, terlebih ia membawa elterhel, di mana resiko dari pelariannya jauh lebih besar. Keberadaan Findarel, harus dijaga dengan baik. Bocah kecil itu, ternyata pewaris dari Andilosh, dan mungkin ia satu-satunya yang hidup dari pewaris klan yang lainnya.
“Rasanya aku belum pernah melihatmu, Findarel,” kata Aldérin, tiba-tiba. “Tetapi, aku tahu namamu, dan Findarel lain yang satu klan denganmu. Findarel yang pernah kusangka sebagai pewaris Andilosh.”
“Hal itu takkan kusangkal, Ial.” Bocah itu tersenyum. “Waktu untuk bermain dan bersenang-senang sulit kudapatkan, sesekali pernah, sayang tidak sering. Dan itu tak kudapatkan lagi sejak empat tahun lalu. Kedua tanganku hanya mengenal perkamen dan buku-buku kuno, juga senjata, saat memasuki elterhel sura.
“Tentu Ial merasa asing karena kita jarang bertemu. Jarang. Bukan tak pernah bertemu. Satu dua kali, ketika Ial mengunjungi Ial Tylosae, di sanalah aku melihat Ial. Hanya itu,” kata Findarel.
“Tunggu, aku yakin Findarel yang kulihat bukan kau.”
Findarel tertawa lagi. “Memang bukan. Selama Ial Tylosae berbincang denganmu aku memiliki kesempatan bermain, dan Lindarel yang mengganti posisiku,” katanya, jujur.
“Bagaimana kau melakukannya?”
“Ial Tylosae tidak pernah menyuruh keponakannya yang sedang belajar tekun mengganggu pembicaraannya, dan aku pun tak pernah berniat mencuri dengar apa yang ia bicarakan. Namun, ia bisa mengawasi gerakan-gerakan tubuhku dari bayangan tirai di perpustakaannya, sehingga ia tahu aku tetap di sana.
“Sesekali ia akan memanggilku, hanya sekedar ingin tahu apa aku masih tetap belajar atau mengistirahatkan pikiranku. Itulah tugas Lindarel, kakakku yang baik. Ia suka sekali membaca, tetapi Ial Tylosae kadang tak mengijinkannya datang ke perpustakaan pribadinya. Jadi, saat Ial pulang, waktu itu sangat tepat ketika aku menyelinap masuk dan Lindarel pulang. Dan ia mengatakan padaku, bahwa saat dia keluar dari halaman rumah, ia selalu bertemu denganmu.”
“Dan ia mengaku bernama Findarel.” Aku mengerti sekarang. Usia mereka tak terpangkut jauh, oleh karena itu aku terkecoh. Dan Findarel yang kutahu sebagai pewaris dari Estion sekaligus klan Andilosh, ternyata kakaknya yang menggantikan posisi si bocah yang selalu menyelinap untuk bermain.
“Ya, begitulah ….”
“Permainan yang pintar,” puji Alderin. Namun, ia membelokkannya menjadi satu petuah yang tak menyakitkan. “Tetapi, menurutku itu merupakan kebohongan. Apakah kau menyadari itu, Findarel? Kau membodohi semua orang, termasuk aku yang terus berpikir ada dua orang Findarel di Lamvorels. Dan membuat dahiku berkerut dua kali lebih lama karena memikirkan hal ini.”
“Maaf, Ial,” sesal Findarel. “Aku hanya bosan, dan tawaran Lindarel sepertinya sangat menarik. Dia bisa bebas ke mana pun ia pergi, sedangkan aku?”
“Aku mengerti. Tidak ada yang perlu dipikirkan mengenai hal itu sekarang.”
“Yah, aku tahu.” Findarel menerawang ke langit, pandangan matanya berkaca-kaca. “Kini aku mengerti, mengapa hidupku berbeda dari yang lain. Ini mengenai Estion, dan aku menyesal, karena seharusnya Lindarel yang menjadi pewarisnya.”
“Sejak awal, mungkin telah ditentukan kau adalah pemiliki selanjutnya.”
“Mungkin, Ial.”
…
“Laira … laira….”
Terdengar bisikan lembut ketika angin berembus lembut. Aldérin membeku di dalam duduknya, suara itu bukanlah suara Findarel, karena bocah itu pun menatap ke arah Aldérin dengan wajah diliputi keheranan.
“Laira … laira … Estion … laira ….”
“Ada yang memperingatkan kita, Findarel,” bisik Aldérin.
“Suara itu memanggil nama Estion!” tambah bocah itu.
Angin meniup lebih kencang kali ini dan Aldérin mendapatkan firasat buruk. Ia segera mencengkram lengan Findarel lalu keduanya melesat, meluncur turun dari atas pohon dan berlari ke arah barat. Findarel memegangi dadanya lalu menatap bandul yang tiba-tiba saja menjadi bersinar meski redup.
Di belakang, tak jauh dari mereka, tiba-tiba berjatuhan bola api dengan suara yang memekakkan telinga. Musuh ternyata mengetahui keberadaan keduanya dan mengejar sampai begitu jauh. Api merambat dengan cepat di sisi kiri dan kanan, bahkan melaju melewati Aldérin juga Findarel. Suara-suara yang diliputi amarah, dendam yang bergaung dengan keras, seolah mengejar keduanya dengan gusar.
“Laira … laira … Estion … laira ….”
Bisikan itu kembali terdengar, meski tidak sekeras suara musuh.
Aldérin berhenti ketika nyala api menutupi jalan mereka. Ia dan Findarel terjebak. Takkan mungkin bisa lari lagi, mereka harus melawan kawanan musuh, meski itu mengorbankan nyawa. Darah Aldérin mendidih, mereka tak berbelas kasih. Tak ada niatan dari bangsa api untuk membiarkan satu pun selamat dari cengkraman mereka.
Ini tindakan pembantaian!
Sosok-sosok tinggi besar, gelap dan hitam, terlihat. Langkah mereka seolah amat berat ketika menghampiri Aldérin dan Findarel. Jumlah mereka banyak, hampir dua lusin, dan mereka mengusung pedang, kampak, juga senjata-senjata lainnya yang terlihat mengancam. Aldérin menyiapkan busurnya, dengan cepat ia pun melepas sebuah anak panah ke arah musuh.
Namun, panahnya seolah terbuat dari sehelai bulu angsa. Sama sekali tidak menyentuh kulit dari musuh, karena begitu melesat, panah itu dilalap oleh api panas yang menyelubungi mereka. Kekehan mengejek terdengar dari mereka. Pandangan nan angkuh, itu yang mereka pancarkan. Aldérin mencari cara, Findarel harus selamat.
“Laira … laira … Estion laira ….”
Suara tersebut semakin jelas terdengar seiring langkah musuh yang mendekat pada Aldérin juga Findarel. Suaranya menjelas menjadi suara bisikan laki-laki yang seolah sedang bersenandung untuk menidurkan putranya di tempat tidur.
Aldérin menatap Findarel. “Saat mereka mendekat, aku akan bertahan dan melawan, kau harus mencari jalan untuk lari sejauh-jauhnya. Mengerti?” kata Aldérin.
Meskipun Findarel kelihatan enggan meninggalkan Aldérin tapi ia pun mengangguk, mengiyakan perintah Aldérin.
Musuh berlari mendekati keduanya, mata mereka berkilat-kilat kemerahan dan begitu diselimuti kemarahan. Sembari berlari, mereka berteriak keras, senjata di tangan mereka siap menghunus. Aldérin menarik pedang pendeknya dan memberi isyarat agar Findarel segera lari.
Aldérin memejamkan kedua matanya …
“Laira … laira … Estion … laira … Estion … laira, harya!!!”
Findarel membeku seketika, saat cahaya biru membias amat terang, muncul dari balik pakaiannya. Ia tidak sanggup bergerak, bahkan dadanya terasa sesak dan dingin, sesuatu yang tak pernah dirasakan olehnya selama ini. Lalu sinar biru itu membentuk berupa sosok. Sosok laki-laki yang begitu tinggi dengan rambut panjang selutut, ia membawa sebilah pedang panjang di tangan kanannya.
Sosok itu bak asap, sama sekali tak menapakkan kakinya di tanah, layaknya kisah-kisah semacam roh. Ia menghunus pedangnya ke tanah dan tiba-tiba saja angin bertiup begitu kencang, bahkan Aldérin jatuh terguling ke belakang, karena angin yang amat dashyat.
Findarel sudah duduk bersimpuh di tanah, menahan dingin juga embusan angin. Lalu dari belakang punggung Findarel, ombak besar menghantam permukaan. Bukan berupa air, melainkan salju.
Salju menelan … semua larut ke dalam selimut putihnya.
Aldérin dan Findarel … tidak sadarkan diri.