The Quest for The Lost Inheritors
Ninye yang Terjebak
Vôld.
Kota manusia yang paling terbesar, lalu urutan selanjutnya adalah Hail kemudian Ferden’lyf.
Kota ini dipimpin oleh seorang raja, Lord Raignald, konon merupakan keturunan dari manusia-manusia pertama yang berjuang melawan kejahatan di masa lampau. Memiliki benteng istana yang tinggi dan kokoh, dengan persenjataan yang hebat; ketapel-ketapel di atas benteng, busur panah raksasa. Prajurit yang siaga selama siang-malam tiada henti, gerbang kota yang kokoh dan kuat, juga jembatan yang menyulitkan siapa pun untuk bisa menyerang kota begitu saja.
Kotanya sendiri, berada di tengah-tengah air yang sengaja dibuat mengelilingi kota. Penduduk yang tinggal di Kota Vôld senantiasa akan merasa aman dan tentram.
Di luar kota, merupakan ladang-ladang perkebunan, dan pertanian penduduk. Juga di mana para penduduk menggembalakan ternak mereka. Banyak petani, juga peternak yang tinggal di luar benteng Kota Vôld. Mereka tidak pernah khawatir akan apa pun, tidak pernah ada masalah, tidak ada yang aneh, hingga hari di siang itu.
Seorang penggembala melihat kedatangan Ninye dari kaki gunung Habér. Perempuan bertubuh jangkung, rambut bergelombang hitam panjang, berkulit sepucat bulan, membawa belati tersampir, memakai jubah kumal, bukan sesuatu yang lazim dilihat. Dan sangat cantik, terlalu indah sebagai sosok seorang manusia.
Hingga sang penggembala yang masih anak muda itu, menggosok-gosokkan mata, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Apakah itu Kota Vôld?” tanya Ninye, menunjuk pada benteng kota yang berjarak beberapa ratus meter di hadapan mereka berdua.
Sang penggembala mengangguk. “Kau hendak ke Vôld?”
Ninye terdiam beberapa saat. “Aku harus bicara pada rajamu. Kau penduduk kota?”
“Di luar kota, tapi rajaku memang Raja Lord Raignald.”
“Bisakah kau mengantarku menemuinya?”
Mata sang penggembala membelalak. “Tidak bisa. Tak semua orang bisa menemui sang raja begitu saja. Apalagi dari kalangan orang-orang biasa seperti kami.”
“Itu aneh.” Alis Ninye bertaut. “Bukankah aspirasi rakyat itu harus didengarkan oleh sang raja? Bagaimana dia bisa mendengar, jika rakyat tak menemui rajanya?”
“Kami memiliki dewan, penegak hukum, kau bisa bicara pada mereka terlebih dahulu.”
“Kebutuhanku mendesak. Takkan ada waktu,” gumam Ninye gelisah.
“Kau datang dari mana?”
“Lamvorels.”
“Di mana itu?”
“Di balik Gunung Habér, di situ rumahku sebelumnya.” Ninye pun mengembuskan napas panjang. “Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi. Karena aku harus menemui rajamu.”
Ninye melangkah menuruni bukit berumput, meneruskan perjalanannya untuk mencapai ke dalam kota. Dia sudah bertekad, harus bisa bicara pada sang raja, apa pun risiko yang ditempuh. Karena apa yang ia ingin sampaikan, menyangkut keselamatan semua bangsa yang sedang terancam.
“T-tetapi, tunggu dulu.” Bergegas si penggembala menyusul Ninye. “Kau tidak bisa masuk begitu saja. Apalagi kau orang asing. Kau harus bicara dulu, tujuanmu apa datang ke kota.”
“Astaga, sesulit itukah? Aku sudah katakan, tujuanku menemui raja.”
“Kau bisa dilempar keluar bahkan tak bisa memasuki kota, maaf … aku tak tahu siapa namamu, Nona—”
“Ninye, itu namaku,” potong Ninye.
“Bagaimana jika kuantar kau ke kota, lalu kuantar menemui para dewan. Tapi aku harus mengembalikan dulu ternakku ke kandang.”
“Jika kau tak keberatan, terima kasih.”
“Baiklah. Tunggu sebentar. Kau bisa ikuti aku.”
Sang penggembala tampak kesusahan mengumpulkan biri-birinya yang berlari lincah ke sana-ke mari. Ninye lagi-lagi mendesah pelan. Dia pun menghampiri satu biri-biri dan berbisik lirih, secara ajaib ketika si biri-biri mengembik semua berkumpul. Lalu si biri-biri berjalan lebih dulu, memimpin biri-biri lainnya.
“Itu aneh,” ucap si penggembala keheranan. “Mereka tidak biasanya patuh seperti itu. Apa yang kau lakukan?”
“Aku hanya meminta mereka segera kembali ke kandang.” Mata Ninye menatap lekat-lekat pada si penggembala. “Kau tadi katakan hendak mengantarku, bukan? Dan aku sangat terburu-buru.”
“Tentu saja, Nona Ninye.”
Keduanya menuruni bukit, lalu menuju rumah si penggembala. Orangtua si pemuda tampak keheranan melihat orang asing yang selama puluhan hidup di sana, baru melihat sosok sesempurna Ninye. Lalu keduanya pergi menuju ke kota. Di situ si penggembala memperkenalkan dirinya yang bernama Ron.
Ron pemuda yang baik menurut Ninye. Karena dia banyak menjelaskan tentang Kota Vôld, sepanjang pengetahuan yang ia ketahui. Ninye berpikir, bahwa semua orang di kota tersebut, mungkin tidak akan berbeda seperti layaknya Ron. Hanya karena ada aturan-aturan rumit yang harus dipatuhi, selebihnya mungkin akan mudah bagi Ninye menemui sang raja.
Mereka melewati jembatan, di sana agak hiruk pikuk karena banyak orang berlalu lalang. Begitu hendak melewati gerbang, penjaga kota segera menyetop keduanya. Karena mereka baru kali ini melihat sosok seperti Ninye, terlalu mencolok. Dan mungkin saja berbahaya.
Padahal tidak biasanya mereka begitu, karena banyak pedagang-pedagang dari Hail, yang juga bebas masuk ke dalam kota Vôld, selama bukan jam malam. Bergegas Ron menghampiri penjaga.
“Ada kepentingan apa kau datang ke dalam kota, anak muda?” tanya penjaga.
“Kami hendak menemui dewan. Ada hal penting yang harus disampaikan,” jawab Ron.
“Lalu kepentingan apa, Nona?” Lagi-lagi si penjaga bertanya, kali ini pada Ninye.
Tentu saja Ninye merasa jengah, karena orang lain bisa bebas masuk tanpa kesulitan. Sedangkan dia yang mengemban tugas penting, harus dipersulit? Ninye berusaha untuk tetap bersikap bersahabat.
“Ada pesan yang harus kusampaikan menyangkut keselamatan semua bangsa. Karena ada bangsa darah yang akan datang ke kota, tidak akan lama. Karena aku secepatnya datang,” jawab Ninye.
Tentu saja para penjaga hanya terdiam beberapa saat dan mereka tertawa mendengarnya.
“Bangsa darah? Apa kau terlalu mabuk, hingga membual sejauh ini?” Mata si penjaga melihat pada belati yang tersampir di pinggang Ninye. “Dan membawa benda tajam, bisa menjadi masalah yang serius.”
“Aku harus menyerahkan senjataku? Tidak masalah.” Ninye menarik belati dan langsung ia sodorkan pada si penjaga. “Aku harus masuk ke kota, dan jangan halangi jalanku.”
“Tunggu, Nona Ninye.” Ron merasakan gelagat yang berbeda dari para penjaga. Dan sikap Ninye tampak menjadi sebuah ancaman. “Kami hanya ingin menemui dewan, tidak akan mencari masalah. Kumohon, Tuan-Tuan,” lanjutnya.
“Kenapa kau harus memohon pada mereka, sedangkan apa yang kukatakan itu benar,” desis Ninye.
“Sebentar, Nona Ninye, tapi tidak seperti itu,” bisik Ron.
Ketika si penjaga hendak mengambil belati dari tangan Ninye, tiba-tiba perempuan itu langsung melemparnya ke udara dan ditangkap dengan secepat kilat. Lalu ujung belati tersebut, sudah menempel di leher si penjaga dengan tangan Ninye yang menghunuskannya.
“Aku harus menemui raja, jika kau menghalangi aku takkan segan lagi,” ucap Ninye lugas.
Ron gemetar di tempatnya berdiri. Semua orang langsung mundur ketakutan. Ninye yang sudah tidak peduli dengan pandangan semua orang, akhirnya membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya. Orang-orang di sana terkesiap, melihat telinga Ninye yang runcing.
“Aku, Ninye Firélian, putri dari Tylosae Thairtârya datang jauh dari Kota Lamvorels yang kini hancur oleh bangsa shyrh. Pertemukan aku dengan raja kalian, karena ini menyangkut keselamatan semua bangsa juga manusia!” seru Ninye.
Semua membuka jalan, karena mereka begitu ketakutan. Ninye melepaskan si penjaga dan berlari secepat mungkin ke arah istana. Lalu dia mendengar teriakan orang-orang. Seruan yang tertuju pada dirinya, para penjaga yang ada di luar istana berhamburan mengejar Ninye.
Dengan luwes, Ninye mencelat setelah melompati tenda-tenda. Berlari di atas bangunan rumah-rumah, langkahnya begitu cepat dan akurat, bahkan tidak terlihat dia oleng hampir terjatuh. Tujuannya adalah menuju istana, hanya itu.
Begitu melewati jalan berbatu menuju istana yang menanjak, semua pasukan yang berjaga tampak heran melihat sosok perempuan berlari secepat kilat mendatangi istana. Mereka bersiaga, sudah hendak menahan Ninye yang hampir memasuki gerbang istana, tetapi langsung Ninye melompat. Menginjak topi zirah mereka, lalu dia seolah terbang melayang hingga bisa mencapai dinding benteng.
“Penyihir!!” teriak para pasukan antara takjub dan ngeri.
Ninye tak peduli, dia terus berlari menyusuri benteng. Melompati dinding benteng yang semakin tinggi. Hingga dia melihat bangunan istana. Ninye melompat menuju sebuah jendela dan masuk ke dalam istana.
Seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk dan sibuk menulis di perkamen, tersentak kaget saat melihat Ninye masuk ke ruangannya. Ninye berdiri dan menghampiri.
“Apa kau Lord Raigland?” tanya Ninye lugas.
“Ya, dan siapa dirimu? Berani-beraninya kau datang ke tempatku, dengan ketidaksopanan! Di mana tatakramamu?” Sang raja berdiri menatap dengan mata tajam. “PENJAGA!”
“Aku Ninye Firélian, datang dari Kota Lamvorels. Jika kau mendengar apa kataku sekarang, maka pendudukmu akan selamat, dan bisa terhindar dari peperangan besar!”
Bergegas para penjaga raja masuk ke dalam ruangan. Mereka menghunuskan senjata pada Ninye, tapi di saat itu Ninye sadar jika dia menghabisi semua penjaga maka sang raja takkan mendengarkan dirinya. Lalu Ninye melemparkan belati ke permukaan lantai.
“Dengarkan aku, wahai raja para manusia. Karena kedatanganku kemari bukan tanpa sebab,” kata Ninye. “Kau harus tahu, bahwa bangsa dëia sedang mengacungkan senjata mereka ke Kota Vôld. Karena tempat tinggal bangsa lain, sudah hancur.”
Di saat itu sang raja tersadar, bahwa Ninye bukanlah manusia. Namun, kaum yang sudah hilang seolah menjadi legenda, yaitu para elf. Tidak pernah ia sangka, bahwa Ninye adalah makhluk yang hanya ia dengar pada cerita-cerita di masa kecil.
“Makhluk apa kau?” tanya sang raja. “Apa kau elf?”
Ninye mengangguk. “Aku elf dari Lamvorels, datang membawa kabar buruk bagi kita semua.
“Astaga, bisa-bisanya kau datang seperti hendak mengancamku.”
“Aku minta maaf. Karena kelancanganku raja.”
“Antar dia keluar, aku akan menemuinya di balairung,” ucap raja Lord Raignald.
Ninye mengikuti perintah sang raja, lalu mengikuti para penjaga yang begitu waspada pada dirinya. Istana itu begitu megah, sebuah bangunan kokoh dan indah. Namun, sayang akan menjadi abu jika sang raja tidak mau mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Ninye.
Sang raja menyusul ke balairung, sedangkan Ninye sudah berdiri tegak tidak jauh dari singgasananya. Di sekitar Ninye, semua penjaga sudah bersiaga, masih menghunuskan senjata mereka. Di samping depan sang raja, berdiri seorang ajudan bertubuh tinggi tegap, dan dia sudah siap dengan pedang panjangnya untuk melindungi sang raja.
“Ninye Firélian, seorang elf. Datang ke rumahku tanpa tatakrama, begitukah yang selama ini diajarkan oleh bangsamu?” tanya raja Lord Raignald.
“Aku datang karena tergesa-gesa, dan penjaga kotamu mempersulit tujuanku,” balas Ninye.
“Kami memiliki dewan, kau bisa temui dewan untuk masalah yang ingin kau sampaikan.”
“Ini masalah hidup dan mati. Lalu kau memintaku bertemu dengan orang-orang yang belum tentu bisa menyelesaikan masalah semua makhluk? Manusia macam apa kau.”
“Selama ini, tidak pernah ada konflik bahkan masalah apa pun. Lalu kau datang, tiba-tiba mengatakan hal ini. Katakan wahai elf, apa mungkin bangsa kalian yang mengundang masalah di antara makhluk lain?”
“Bangsa dëia, datang untuk menghancurkan semua. Lalu apa maksudmu dengan makhluk lain? Kita semua berpijak di bumi yang sama. Bukan berarti pengecualian bagi manusia.”
“Kau datang ke tempatku. Kau yang membawa bangsa apa ini, dan membuat ancaman. Bukankah sudah jelas, bahwa kau justru yang merusak kedamaian di tempat kami?”
“Apa?” Ninye terbelalak kaget.
Tiba-tiba sang ajudan maju, dan memukulkan kepalan tangannya tepat ke perut Ninye. Dia sangat cepat untuk seorang manusia, hingga Ninye tidak menyadarinya. Dari belakang, para pasukan langsung menangkap Ninye dengan rantai besi. Perempuan elf itu tidak bisa bergerak, dia berteriak marah tapi tak berdaya.
“Tangkap dia dan masukkan ke dalam penjara,” ucap raja Lord Raignald. “Umumkan kepada rakyat, bahwa aku sudah menangkap makhluk yang meresahkan semua. Kita akan menyidangnya, dalam dua hari yang akan datang. Di hadapan semua orang.”
Ninye diseret oleh pasukan ada yang ada di balairung.
“Aku sudah memperingatkanmu! Bangsamu akan hancur! Kau harus dengarkan aku!” jerit Ninye.
*
Ramai dibicarakan tentang wanita elf yang hampir membunuh raja, berbagai desas-desus merebak, bahkan dengan bumbu-bumbu yang lebih menegangkan. Duduk di meja, Gôntra dan Yähgé yang sudah menyamar menjadi manusia. Keduanya datang ketika malam hendak menjelang, dan mendengar kabar tentang Ninye yang menjadi buah bibir semua orang.
Yähgé hanya memerhatikan orang-orang yang berbicara dengan bebas di bar. Beberapa yang menyaksikan aksi Ninye, terus berbicara gaduh.
“Si kuping runcing rupanya senang menjadi pusat perhatian,” gumam Yähgé sembari menyesap minumannya. “Dan kini ia ditangkap oleh raja, karena kebodohannya sendiri. Luar biasa.”
“Aku akan pergi menyelamatkan Ninye,” balas Gôntra. “Aku khawatir dia diperlakukan buruk.”
“Mana mungkin.”
“Manusia bisa berbuat macam-macam jika mereka terdesak.”
“Aku yakin tak satu pun dari mereka berani menghampiri si kucing runcing, dan mengadilinya di depan semua orang, itu salah satu cara ampuh agar dia tidak berkutik,” balas Yähgé enteng. “Kau pikir dia mau menghabisi semua manusia? Kurasa tidak bisa. Malam ini mungkin dia hanya meratapi nasibnya yang malang.”
“Dia harus keluar dari sini, dan kita pun begitu. Karena tidak lama lagi, Kolé akan membawa pasukannya untuk menghancurkan manusia,” kata Gôntra.
“Aku tak mau membuang-buang energiku untuk seorang elf.”
“Kau sudah berjanji padaku.”
“Aku tak menjanjikan apa-apa.”
Gôntra tidak mau berdebat lagi. Dia beranjak berdiri, lalu naik ke lantai atas di mana dia dan Yähgé memutuskan untuk menginap. Sedangkan Yähgé masih duduk di sana, mendengarkan celoteh orang-orang.
“Lalu bagaimana, jika yang elf katakan itu benar?” kata Yähgé dengan suara lantang. “Bahwa ada bangsa lain, yang mungkin akan menyerang kota kalian?”
Semua mata memandang pada Yähgé heran.
“Kota ini memiliki senjata yang hebat dan benteng yang kuat. Kau tidak usah khawatir, Nona,” ucap salah seorang pengunjung bar. “Ribuan tahun kota ini berdiri, dan akan tetap kokoh di tempatnya.”
Yähgé tersenyum. “Aku harap begitu.”
Lalu perempuan itu beranjak dari duduk, dan menyusul Gôntra ke kamar mereka. Tampak di kamar, Gôntra sedang duduk di tepi jendela, menatap pada langit di luar sana yang menunjukkan langit bertabur bintang. Yähgé merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Kita akan selamatkan dia, tetapi aku ingin melihat pertunjukkan kakakku saat menghancurkan kota ini,” seloroh Yähgé enteng. “Menurutku akan sangat menyenangkan, melihat manusia-manusia sombong itu menelan kata-kata mereka sendiri.”
“Kita bisa tak selamat dan ikut menjadi korban keganasan kakakmu.”
“Kita adalah bangsa dëia, Ninye adalah bangsa elf. Akan mudah bagi kita menyelinap datang dan pergi ke mana pun. Ayolah, jangan bersedih. Kita akan melepaskan temanmu.”