The Quest for The Lost Inheritors

Kota Nymph yang Hancur

Luluhlantak.

Itu yang terlihat di depan mata saat para centaur tiba di gerbang menuju kota Cilticpën. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, begitu senyap. Bahkan air danau menuju gerbang pun mengering.

Semua centaur waspada, jika masih ada pasukan dëia di sekitar sana, akan tetapi tidak ada tanda-tanda satu pun keberadaan mereka. Kota nymph air sudah dihancurkan, dan para pasukan dëia sudah mundur, setelah misi mereka selesai.

Salah satu centaur melihat jejak-jejak yang ditinggalkan, mengambil sedikit tanah dan mengendus-endus pelan. Dia menoleh pada Akoéta. “Belum lama mereka pergi, mungkin setengah hari.”

“Apa kita terlambat?” tanya salah satu centaur cemas.

Akoéta tidak menjawab, dia pergi melangkah menuju kota para nymph, memasuki terowongan besar yang sebelumnya berisi air, kini kering dan tampak gosong. Seluruh pasukan centaur mengikuti dari belakang. Beberapa dari mereka berjaga-jaga di gerbang masuk ke dalam kota tersebut.

Begitu berjalan dan melalui terowongan yang cukup panjang, saat tiba di kota tersebut semua terhenyak. Sama seperti keadaan di luar, hancur, yang tersisa hanya abu, dan bau sangit. Para nymph tidak ada satu pun. Mereka benar-benar musnah. Bahkan binatang-binatang air pun ikut menjadi abu.

“Kejam sekali,” desis Akoéta. “Para nymph bukan ancaman, kenapa mereka harus dihancurkan.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kembali ke kota dryad?”

Akoéta menggeleng. “Kita harus menuju Pílghym, karena yang kutakutkan di sana pun akan lebih banyak korban. Selamatkan yang ada, hanya itu tujuan kita.”

“Hari ini juga?”

Ada anggukan tegas ditunjukkan oleh Akoéta. “Aku tak mau menyia-nyiakan waktu.”

“Lalu bagaimana dengan pasukan dryad? Yang dijanjikan oleh para Takala.”

“Kita tak tahu apakah mereka berhasil membujuk sang ratu untuk membuka kedok Gûr’adór. Tak mungkin menunggu.”

Yang lain mengiyakan perintah Akoéta.

Salah satu dari centaur mendatangi kumpulan pasukan yang berkerumun melihat kondisi kota yang hancur. “Kita istirahat sejenak, setelah itu kita berpacu menuju Pílghym. Waktu begitu singkat, manfaatkan waktu istirahat kalian semua,” ucapnya pada yang lain.

Para centaur memang tidak pernah bertemu dengan para nymph air, tapi mereka tahu keajaiban nymph yang berjasa pada kelangsungan alam dan kehidupannya. Namun, jika semua musnah maka stabilnya alam akan goyah. Entah itu maksud para dëia, ingin merusak bumi dan membuat dunia menjadi tempat yang mengerikan juga tidak layak huni bagi semua makhluk. Kecuali diri mereka sendiri.

“Akoéta! Ada sesuatu di dalam puing-puing! Cepatlah!” teriak satu centaur.

Bergegas semua centaur menyingkirkan puing-puing istana, di sana ada seorang nymph yang masih bertahan, meski kondisinya sudah terlalu lemah. Dalam pelukannya, ada sebuah batu putih bersih dan seperti gelembung air. Sang nymph menoleh, tersadar, lalu menatap pada semua centaur yang mengelilinginya.

“Syukurlah, ternyata dunia langit masih mendengarku,” ucapnya pelan.

“Kami akan membawamu ke perairan terdekat, agar kau bisa memulihkan tubuhmu,” kata Akoéta pelan. Meski Akoéta tak yakin mereka bisa menuju sungai Neverending dengan cepat. Karena letaknya cukup jauh dari sana, meski ada jalur anak mata air dari Cilticpën yang mengalir ke sana. Sayangnya, sudah dihancurkan oleh para dëia.

Sang nymph menggeleng lemah. “Tidak ada waktu lagi. Kutitipkan batu Satera dan penerus terakhir kami, tolong jaga dia baik-baik.”

Lalu sang nymph memejamkan mata untuk terakhir kalinya, tubuhnya pun meleleh menjadi air setelah itu menghilang terserap oleh permukaan tanah. Semua centaur terkesiap, mereka benar-benar tidak menyangka akan melihat kejadian sesedih itu.

Akoéta membawa batu Ratera dan menjaga gelembung air yang ternyata adalah cikal bakal dari nymph air yang belum terlahir. “Bagaimana ini, kita takkan mungkin bisa membawanya dalam perjalanan jauh? Lagipula aku takut terjadi apa-apa. Akan tetapi, meninggalkannya di sini, apa tidak akan berisiko?”

“Kurasa bangsa dëia takkan lagi mengacuhkan tempat ini. Pastikan saja batu itu dan satu-satunya pewaris bangsa nymph mendapatkan sumber mata air yang suci,” kata centaur lain.

“Di mana kita bisa temukan mata air? Di sini sudah hancur.”

Yang lain berteriak dan menunjuk ke puing-puing lebih dalam. Ada mata air yang hampir mengering. Tanpa banyak pikir, Akoéta meletakkan batu Satera ke dalam ceruk mata air, dan ajaibnya air mengalir keluar dari sana. Semua centaur lagi-lagi takjub melihat kejadian tersebut.

“Sudah kuduga, batu Satera masih mempunyai kekuatan ajaib untuk membuat mata air, meski tidak begitu melimpah. Tapi setidaknya cukup, untuk menjadi tempat aman untuk teman kecil kita,” ucap Akoéta.

“Semoga dia bisa tumbuh dan tetap hidup,” balas salah satu centaur.

“Kita akan biarkan nymph ini berkembang hingga waktunya ia lahir. Tapi kita harus lindungi dia,” kata Akoéta setelah meletakkan gelembung bola dalam ceruk mata air. “Dia mungkin bisa mengembalikan kondisi kota, meski entah dibutuhkan berapa tahun lamanya.”

“Dan sendirian,” balas yang lain.

“Tidak sendiri, kita akan menjaganya. Selama kita hidup dan bisa memenangkan peperangan,” ralat Akoéta. “Sementara itu, kita tutup gerbang menuju kota ini, agar tidak ada yang mengusik. “Selain dëia aku tak tahu ada makhluk jahat apalagi yang mungkin mengintai.”

Para centaur memberi berkat, dan doa bagi nymph terakhir yang belum lahir itu. Lalu mereka menutup jalan menuju Cilticpën, dengan reruntuhan kota, agar tak ada yang mengganggu. Setelah semua selesai, bergegas mereka berderap menuju kota para dwarf, Pílghym, ketika hari sudah menjelang sore. Di saat matahari yang merah warnanya seperti darah, mulai turun kembali ke peraduannya.

*

Selang dua hari setelah para centaur pergi dari Cilticpën, pasukan dryad tiba di sana. Sama persis seperti apa yang ditemukan oleh centaur sebelumnya, mereka hanya menemukan wilayah yang sepi, muram, berbau kematian.

Tidak ada tanda-tanda dari para pasukan centaur di sana. Yang ditakutkan oleh sang ratu, bahwa pasukan centaur pun ikut binasa karena serangan bangsa dëia.

“Apa yang terjadi di sini? Ini sangat mengerikan,” gumam sang ratu dan tubuhnya gemetaran. Tidak pernah ia sangka bahwa sekitar kota nymph air sudah porak-poranda.

“Serangan bangsa dëia sangat dahsyat dan keji,” balas satu dari pasukannya.

“Sisir seluruh wilayah, pastikan apa ada pasukan centaur di sekitar sini,” titah ratu Reŷanim. “Hidup atau tidak. Tapi setidaknya kita memiliki petunjuk.”

Para dryad berpencar dan mencari keberadaan pasukan centaur. Mereka juga memeriksa gerbang masuk menuju Kota Cilticpën yang ditutupi reruntuhan. Lalu bergegas kembali menghadap ratu Reŷanim.

“Yang Mulia, tidak ada satu pasukan centaur pun di sini. Begitu pula para nymph, gerbang masuk kota seperti disengaja ditutup,” ucap salah satu pasukan dryad.

“Apa mungkin mereka berada di dalam kota? Berusaha untuk bertahan?” gumam sang ratu.

Yang lain menggeleng. “Kami melihat ada jejak para centaur menuju ke arah timur laut, kami rasa mereka pergi ke Kota Pílghym. Tidak ada tanda-tanda peperangan. Sepertinya para centaur pun datang terlambat ke Cilticpën.”

Ratu Reŷanim mendesah sedih. “Astaga, aku merasa sangat bersalah sekarang. Kita telah menyia-nyiakan waktu, hingga seluruh nymph binasa. Aku akan membalaskan dendam ratu Titelénta, bangsa dëia tidak bisa kita biarkan.”

Matanya berkaca-kaca, dan air mata jatuh membasahi pipi sang ratu.

“Mungkin para centaur yang telah menutup gerbang utama menuju kota para nymph, sebagai batu nisan atas kematian seluruh ras bangsa cantik itu,” ucapnya sedih. “Aku mungkin tak pernah bertemu dengan ratu Titelénta, tapi dia sering mengunjungiku dari bayangan di air. Kami berteman baik.”

“Kita akan membalas perbuatan bangsa dëia, Yang Mulia. Ke mana pun engkau memberi titah, kami akan mematuhinya,” kata sang penasihat ratu. Wajahnya menunjukkan mimik geram.

“Sekarang kita pergi ke Pílghym, Yang Mulia?” tanya yang lain.

Tampak sang ratu berpikir keras. Pergi ke Pílghym, kemungkinan besar bangsa dëia pun sudah merusak atau menghancurkan kota itu. Ia juga memikirkan nasib pasukan centaur yang pergi ke sana, karena bisa-bisa mereka pun terjebak bahkan dihancurkan oleh bangsa dëia.

Namun, sang ratu teringat pada pesan Wédéal, bahwa pasukan centaur hanya akan menjadi pencari dan menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Tidak akan membuka peperangan dengan bangsa dëia. Jika memungkinkan, para centaur akan mencari tempat aman, hingga menemui pasukan dryad.

Tetap saja, membuat ratu Reŷanim khawatir.

“Berapa lama kita bisa sampai ke Pílghym?” tanya sang ratu.

Para dryad tidak pernah keluar dari Akriár sebelumnya, bahkan mereka tak tahu di mana letak kota itu berada. Menuju kota para nymph air pun, mereka dibantu oleh bisikan pepohonan yang menunjukkan jalan. Satu dari dryad mendekat pada pohon yang masih berdiri, tidak terkena serangan membabi buta bangsa dëia.

Dia memejamkan mata sembari menyentuhkan telapak tangannya pada batang pohon. Untuk beberapa lama dia terdiam, lalu mengangguk pelan. Setelah itu, dia menghampiri sang ratu.

“Dua hari dua malam penuh, dengan berlari secepat angin,” ujarnya.

“Aku tak mau nasib buruk terjadi pada pasukan centaur, kita harus menyusul mereka. Setahuku jumlah mereka tidak banyak, karena kota mereka pun dihancurkan oleh bangsa dëia,” kata ratu Reŷanim. “Apabila mereka berpapasan dengan pasukan dëia, semua centaur takkan selamat.”

“Lalu bagaimana dengan para manusia? Kita sudah berjanji akan datang ke sana?”

“Semoga saja bangsa dëia belum mengendus dan mengarahkan serangannya,” balas sang ratu.

“Yang mulia, kota elf, centaur, nymph, dan mungkin sekarang para dwarf sudah hancur … tidak ada lagi makhluk lain yang masih bertahan kecuali manusia,” sahut penasihat ratu Reŷanim. “Mereka pasti akan mengarahkan serangan penuh ke kota manusia.”

“Maka manusia harus bertahan, sampai aku menemukan semua yang selamat di Pílghym,” kata ratu Reŷanim. “Siapa pun yang masih hidup, akan menjadi satu sekutu tambahan bagi seluruh pasukan aliansi.”

“Baik, Yang Mulia,” balas semua pasukan dryad.

Sang ratu segera berlari bersama pasukannya, mengejar pasukan centaur yang mungkin sudah dua hari di depan menuju ke Kota Pílghym. Pemimpin dari bangsa dryad itu berharap, bahwa mereka masih memiliki harapan meski tipis, untuk menemukan bangsa lain yang selamat dari pembantaian bangsa dëia.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!