The Quest for The Lost Inheritors

Pertemuan Dengan Raven Blackfeather

Dua pohon beech berdaun kekuningan menjadi pilar utama memasuki wilayah luar dari istana Ferden’lyf, dan pohon tersebut menandakan bahwa keberadaan istana beserta kotanya takkan jauh lagi, mungkin perjalanan sehari semalam merupakan perhitungan jarak terjauh dari pilar beech menuju istana Ferden’lyf. Berarti, perjalanan selama kurang lebih hampir satu purnama, hampir terbayarkan.

Namun, itu tidak membuat Aldérin merasa lega begitu saja. Kunjungan ke tempat manusia sedikitnya menimbulkan kekhawatiran lagi, meskipun selama ini penyamarannya berdua Findarel berjalan dengan mulus ketika mereka datang ke istana Hail di barat, sebelumnya.

Dan kali ini kekhawatirannya berlipat ganda. Lewat dari beberapa purnama yang lalu Aldérin bertemu dengan Ratu Titelénta, ratu dari nymph air. Seperti yang dikatakan oleh sang ratu, bangsa nymph air tengah sekarat karena Ratera, batu suci yang berada di dalam mata air di utara telah tercemar. Meskipun Satera, batu suci kedua yang ada di Kota Cilticpën masih bisa mempertahankan keberadaan para nymph, tapi apabila batu di utara tidak disucikan dan menjadi mati, maka para nymph air pun akan punah kehidupannya.

Keberadaan Batu Ratera sendiri ternyata ada di istana Ferden’lyf. Tepatnya, di dalam satu ruang terdalam juga tergelap dari istana. Harus melalui lorong-lorong gelap belum lagi batu tersebut dijaga dengan ketat oleh prajurit istana untuk mendatangi mata air itu. Mengapa batu tersebut dijaga, itu dikarenakan menurut kepercayaan manusia, mata air—di mana batu Ratera berada—tersebut bisa memanjangkan usia seseorang dan menyembuhkan berbagai penyakit. Sehingga ratu di Ferden’Lyf merasakan harus menjaga mata air yang sangat berharga tersebut.

Hanya orang-orang terkemuka seperti raja dan ratu yang boleh datang dan meminum sedikit dari air di mata air tersebut. Aldérin kurang begitu yakin apa ia bisa membujuk penguasa dari istana Ferden’lyf, akan tetapi ia harus mencobanya. Terlebih, ia pun harus memperingatkan sang penguasa akan keberadaan bangsa dëia yang mengancam. Karena Aldérin khawatir, wilayah utara telah dikuasai sepenuhnya oleh kaum dëia, dan letak Ferden’lyf berada di utara juga.

Namun, melihat keadaan sekitar wilayah istana Ferden’lyf dan keberadaan alam yang damai, Aldérin yakin bahwa bangsa dëia sedang memfokuskan dirinya menyerang ke wilayah selatan, yaitu ke kota para elf dan dwarf. Hanya saja kedamaian itu pun takkan lama lagi, apabila seluruh wilayah di selatan telah dikuasai sepenuhnya oleh bangsa dëia.

“Berapa lama lagi kita harus berjalan dan menyusuri alam liar, Aldérin?” tanya Lya, ia mengeluh dan sedikit menggerutu kemudian.

“Bukankah sudah kukatakan padamu, Lya. Perjalanan ini akan menjadi sangat lama dan membosankan, dan sejak awal sudah kuperingatkan padamu bahwa jika kau ingin ikut bersama kami, kau harus bisa bertahan menghadapi situasi apa pun. Aku masih ingat dengan janjimu akan hal itu,” jawab Aldérin, panjang lebar.

Lya menyipitkan kedua matanya ke arah Aldérin, dia merasa kesal dan marah karena mendapat jawaban serupa demikian. Perjalanan ke utara sama sekali tak menyenangkan bagi Lya. Mulai terasa pergantian cuaca yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Angin berhembus lebih kencang, langit selalu kelihatan abu-abu nan gelap, dan selama Lya menginjakkan kakinya ke tanah di wilayah utara, setiap hari, pasti selalu ada waktu hujan. Baik siang, sore, malam, bahkan pagi. Baik itu hujan rintik maupun hujan badai.

Lya lelah dan ingin beristirahat walau sebentar, akan tetapi beradu argumentasi dengan Aldérin mengenai waktu yang terbuang percuma hanya akan menguras tenaganya, hingga tingkah menyipitkan kedua mata pertanda dia marah, menjadi kebiasaan barunya selama kurang lebih memasuki satu bulan perjalanan.

“Bagaimana kau bisa tahan dengan pamanmu itu, Findarel?” bisik Lya.

Findarel terkekeh. “Aku tidak tahu, aku hanya menyayanginya. Sama sekali tak ada beban padaku untuk hidup bersama dengan pamanku,” jawabnya.

“Kau memang keponakan yang sangat berbakti,” cibir Lya, mengejek.

Findarel yang berhati polos, hanya mengatakan, “Terima kasih.”

Mereka pun memasuki hutan pinus yang lebat. Seperti hari-hari sebelumnya saat mereka menginjakkan kaki di wilayah utara, udara jauh lebih dingin beserta angin yang bertiup begitu kencang. Ini merupakan perjalanan paling menantang dan paling terkeras bagi Lya, akan tetapi ia merasa begitu heran, karena baik Aldérin maupun Findarel, mereka berdua seperti tidak terganggu oleh cuaca amat dingin.

Kadang ia berpikir. Mungkin Aldérin dan Findarel tinggal di suatu tempat yang jauh lebih sengsara dan cuacanya jauh lebih kejam, sehingga mereka mampu tuk bertahan dalam situasi apa pun. Dan di sisi lain, Lya kadang berpikir, mungkin dua orang yang ditemuinya di Kota Hail itu, bukan manusia biasa. Mungkin makhluk lain. Namun Lya selalu menepiskan pemikiran tersebut.

Omong kosong, pikirnya.

Dan semakin mereka memasuki wilayah hutan, makin besar gangguan cuaca. Langit yang sendu, makin mengeruh. Angin yang kencang, makin mengguncang.

Betapa kerasnya hidup di wilayah utara, hanya saja entah mengapa hal sebaliknya dikatakan oleh Tildan dalam suratnya. Surat yang entah kapan, Lya agak-agak lupa. Ingatannya akhir-akhir ini selalu mengabur. Lya sendiri merasa sangat menyesal harus mengikuti kata hatinya dan menyusul Tildan ke istana Ferden’lyf, itu mungkin dikarenakan perasaan seorang adik yang khawatir terhadap kakaknya, yah begitu memang yang dirasakan olehnya selama ini. Namun, ia tak menduga, bahwa tindakan menyusul sang kakak, membawa banyak penderitaan baginya.

“Sebaiknya kita mencari tempat untuk berlindung sementara, Findarel,” seru Aldérin. “Dalam cuaca seperti ini, aku tak yakin Lya bisa terus berjalan.”

“Oh, aku tak menyangka bahwa kau bisa bertindak amat bijak,” cemooh Lya. “Kau seharusnya mengatakan itu sejak lama! Aku benar-benar kedinginan.”

Namun, Findarel seolah tak mendengarkan perkataan Aldérin maupun Lya, dia memalingkan wajahnya ke sana ke mari, perhatiannya tersita kepada dahan-dahan pinus yang rimbun juga gelap. Sesuatu mengganggu perasaannya.

“Findarel!” panggil Lya. “Hei, apa yang kau pikirkan? Kita tidak punya banyak waktu untuk melihat pemandangan, anak bodoh.”

Merasa terancam, Findarel mulai berbicara dalam bahasa elf pada Aldérin.

“Ial, mystaél áil ish-shalôr-in ûnar[1],” kata Findarel, bahkan ia sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Lya. “Iar nad shi-shela.[2]

[1] “Paman, seseorang sedang memperhatikan kita.”

[2] “Di atas pepohonan.”

Aldérin menghentikan langkahnya. Ia mengambil anak panah dari kantung di belakang punggungnya lalu busurnya disiapkan. Aldérin memejamkan kedua mata dan mulai mendengarkan. Tingkah yang sangat ganjil, menurut Lya. Karena tiap manusia mana pun akan membuka matanya lebar-lebar jika ia merasakan adanya bahaya, lain halnya dengan Aldérin yang melakukan tindakan sebaliknya. Namun, saat Aldérin bersikap demikian, Lya pun segera berlindung di belakang punggung Findarel. Dia tahu, sesuatu tengah terjadi, sesuatu yang mungkin sangat buruk.

Aldérin membalikkan tubuhnya lalu anak panah itu melesat amat cepat hingga sama sekali tak terdengar desingannya. Dan anak panah tersebut tepat menancap pada batang pohon pinus dan merobek jubah seseorang, yang ternyata sedang mengawasi mereka bertiga dari atas dahan pinus yang lebat.

Orang itu diam. Dan mereka bertiga pun sama-sama diam. Di dalam kecamuk cuaca yang amat buruk, keheningan berada di antara mereka semua. Dan orang itu mencabut anak panah milik Aldérin lalu ia meluncur dengan ringan ke tanah.

Orang itu bertubuh kurus langsing, dan tinggi. Setengah wajahnya ditutupi kain dan yang terlihat hanya kedua matanya yang berwarna hitam nan pekat, di mana kini menatap amat tajam pada Aldérin, Findarel dan Lya. Jubah bulu tebal berwarna hijau gelap menutupi hampir seluruh tubuhnya, meski jubah tersebut sebagian kecil telah robek, akibat serangan anak panah dari Aldérin, sebelumnya. Sepatu bot hitamnya basah di permukaan, sepertinya ia sudah berjam-jam berada di luar.

Dari sela-sela tutup kepalanya, terlihat helaian rambut berwarna kecoklatan, gelap dan bergelombang. Dan ia berkulit pucat, karena punggung tangannya tidak tertutup sarung tangan. Dari keseluruhan penampilannya, orang tersebut seperti seorang pemburu binatang liar.

“Belum pernah kutemui seseorang yang begitu ahli menggunakan busur, atau, bisa kukatakan sangat hebat dalam seni memanah.”

Begitulah si misterius itu membuka pembicaraan di kebekuan sesaat tadi.

Suaranya tidak berat, agak jernih dan melengking meski serak, seperti suara pemuda-pemuda tanggung yang beranjak dewasa.

“Dan hebatnya, dia bisa memperhitungkan untuk tidak menyakitiku,” tuturnya. Lalu ia melempar anak panah pada Findarel, dan dagunya yang tertutupi kain hitam menunjuk pada Aldérin. “Berikan itu padanya, kalian akan membutuhkan banyak anak panah jika memasuki wilayah Ferden’lyf.”

“Siapa kau?” tanya Aldérin.

Orang itu membungkuk, dengan tangan kanan memegang bahu kirinya. Cara tersebut adalah tatakrama saling memberi hormat untuk orang-orang utara, tapi rata-rata hanya membungkuk saja. Orang-orang yang melakukan hal tersebut, biasanya merupakan kalangan orang terhormat atau bangsawan atau orang-orang yang berhubungan langsung dengan keluarga kerajaan.

Hal ini, memberikan satu peringatan di benak Aldérin. Orang yang kini berdiri tak jauh darinya, bukan sembarang manusia. Dia sebenarnya, orang terhormat.

“Begitu banyak julukan untukku, Tuan. Namun, aku lebih memilih mengenalkan diriku sendiri dengan nama Raven Blackfeather.” Dan si misterius kembali pada posisi berdirinya seperti semula. “Kau bisa memanggilku Raven.”

“Kulihat bahwa kau adalah orang yang sopan, Blackfeather. Maksudku, apakah Tuan ataukah Nona—.”

“Raven, hanya Raven,” potongnya. “Dan kau?”

“Aku Aldérin Varwendil, anak lelaki itu adalah keponakanku, Findarel Elderhel. Kami pendatang dari selatan,” sapa Aldérin. Lalu ia pun menunjuk Lya. “Dia Lya Brander dari kota Hail di barat, dan datang kemari untuk menemui kakaknya.”

“Lalu kepentingan apa yang membuat kau datang begitu jauh dari selatan?” tanya Raven. “Mengunjungi Ferden’lyf di saat seperti ini, bukanlah ide yang bagus. Apa kau mencari sesuatu yang berharga? Atau memang murni, hanya untuk mengantar nona itu menemui kakaknya?”

“Karena kau sepertinya bisa membaca pikiranku, aku tidak bisa mengelak dari pertanyaanmu,” kata Aldérin. “Ya, aku mencari benda berharga yang kini berada di dalam mata air suci, yang terletak tepat di dalam istana Ferden’lyf. Nyawa dari teman-temanku tergantung pada benda tersebut, aku harus bisa menyucikannya kembali, agar teman-temanku dapat terselamatkan. Aku tahu ini sesuatu yang kelihatannya tidak masuk akal bagimu, tapi ini suatu kenyataan.”

“Semua bagiku merupakan hal yang masuk akal, termasuk mengetahui bahwa kau adalah pria yang sangat baik, itu masuk akal bagiku,” komentar Raven. “Tapi sayang sekali, harapanmu itu akan sia-sia, Tuan Aldérin. Ferden’lyf kini bukanlah tempat yang aman bagi siapa pun, wabah sedang menjangkit di sana.” Raven menurunkan intonasi suaranya. “Wabah yang sangat berbahaya.”

“Wabah?” gumam Lya, wajahnya pun mendadak pucat. “Wabah apa?”

“Lya, tenanglah,” bisik Aldérin, memperingatkan.

Raven tidak menjawab pertanyaan Lya, ia pun tak melanjutkan lagi kisahnya, seolah-olah dia ingin membiarkan cerita di Ferden’lyf tetap menjadi satu misteri tersendiri. Sebaliknya, yang ia lakukan hanya melihat langit yang gelap dan kini mulai memuntahkan tetesan-tetesan air.

“Sebaiknya kalian ikut denganku. Kurasa badai akan segera datang tidak lama lagi,” kata Raven, tenang dan sangat dingin. “Dan percayalah, kalian lebih baik mencari tempat berlindung daripada harus terus berjalan. Badai ini akan berlangsung cukup lama dan cukup mematikan jika kalian berada di alam bebas.”

“Lalu, ke mana kau akan membawa kami?” tanya Lya, cemas.

“Ke tempatku, tidak begitu jauh, hanya satu mil,” jawab Raven. “Atau kalian lebih memilih mencari tempat lain, aku tidak masalah. Jika mau ikut denganku, ya ikutlah. Jika tidak, itu urusan kalian.”

Lya menatap iba pada Aldérin, tubuhnya mulai menggigil karena dingin yang amat sangat. Melihat keadaan Lya yang memburuk, Aldérin tidak memiliki pilihan lain. Ia pun mengangguk pada Lya, menyatakan bahwa mereka akan mengikuti ke mana Raven pergi. Lya tersenyum, senang.

“Tallan unar ennas din, Ial? (Bisakah kita percaya padanya, Paman) kata Findarel.

“Din akh han (Laki-laki atau perempuan), kurasa begitu untuk saat ini, Findarel,” jawab Aldérin, sedikit mengeluh. “Tak ada pilihan lain, kita harus melakukannya.”

“Mari kita pergi,” ajak Raven.

Lalu mereka pun lebih dalam memasuki hutan, mengikuti langkah Raven nan ringan dan sangat cepat, seperti mereka tengah diburu oleh sesuatu. Hujan makin membesar dan angin makin membekukan sendi-sendi. Untuk saat itu Aldérin pun bersyukur bahwa ia bisa bertemu dan diketemukan oleh Raven, jika mereka sama sekali tak berjumpa, ia tak tahu bagaimana nasib Lya yang melakukan perjalanan bersama dengannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!