The Quest for The Lost Inheritors

Akhir dari Kota Dryad dan Dwarf

Kota para dryad sudah dikosongkan, seluruh penduduk kota Akriár sudah bersiap-siap melakukan penyelamatan ke kota para nymph dan dwarf. Menyusul pasukan centaur yang lebih dulu ke sana tiga hari lalu. Waktunya para Takala bersama Élsus dan Keld bertolak menuju Hail, mereka akan berpisah untuk sementara ini dengan yang lain.

“Pastikan kalian akan baik-baik saja, dan yakinkan manusia untuk bergabung. Karena bangsa dëia adalah bangsa yang sangat kuat,” ujar ratu Reŷanim pada Takala.

“Baik, Yang Mulia,” balas ketiganya patuh.

“Dan kau Élsus, berikan pengertian dan kebijakanmu pada manusia. Di saat-saat seperti ini, mereka membutuhkan seseorang yang bisa membuat hati tetap tabah dan kuat.” Kali ini sang ratu mengalihkan perhatiannya pada Élsus. “Karena bangsa mereka yang hatinya lemah.”

Ada anggukan mengiyakan ditunjukkan oleh Élsus.

Keld menelan ludah, rasanya seperti tertampar oleh ucapan sang ratu, tapi wanita yang ada di hadapan ia itu tidak mungkin berkata gegabah. Ratu Reŷanim sudah sangat tua, meski tidak tampak sama sekali bahwa dia berumur lebih panjang daripada para Takala.

“Namun, jangan risau Keld Fielgreen, manusia mudah melupakan hal-hal pahit, dan lekas sembuh dari luka.” Ada senyum tersungging ditunjukkan oleh ratu Reŷanim. “Karena itu, satukanlah bangsa-bangsa kita untuk melawan kekuatan jahat di luar sana. Tunjukkan bahwa kita takkan lari.”

Dengan penuh hormat Keld membungkuk dalam. “Baik, Yang Mulia.”

“Kita akan berjumpa di waktu yang mungkin lebih kelam dari ini, semoga cahaya selalu bersama kita semua. Ensaiya,” pamit ratu Reŷanim.

Wédéal menghampiri Keld lalu mendekap dengan rasa terima kasih. “Semoga hidupmu panjang dan penuh keberuntungan. Kita akan berjumpa lagi secepatnya, jika masih diberikan kesempatan untuk hidup, Keld Fielgreen.”

“Kau juga, Tuan Wédéal. Doaku menyertaimu.”

Néverlër dan Nevêrther menjabat tangan Keld, memberikan senyum penuh harapan.

“Bertahanlah, Keld. Kami akan datang segera ke kotamu,” ucap Néverlër.

“Aku akan menunggu.” Keld terkekeh.

“Jagalah dirimu baik-baik, Élsus.” Nevêrther menjabat tangan druid itu. “Terima kasih, karena sudah melepaskanku dari sihir jahat.”

Lagi-lagi Élsus hanya mengiyakan dengan anggukan.

Ketiga centaur mengangguk berpamitan pada Keld, Élsus, dan para Takala karena mereka akan ikut bersama ratu Reŷanim menuju Kota Cilticpën dan Pílghym. Lalu pasukan dryad melangkah dalam ketergesaan, mereka langsung melompat ke atas pohon, berlarian tanpa suara. Seperti desiran dedaunan, bahkan tidak tampak sosok mereka yang menyaru dengan alam sekitar.

Itu pemandangan yang membuat Keld terpesona sekaligus bulu kuduknya meremang, melihat ratusan sosok perempuan berwarna kulit kayu, seperti sekawanan lebah yang terbang ke angkasa lalu menghilang sekejap. Sedangkan para centaur berlari di permukaan tanah, berderap-derap langkah memacu waktu.

Lalu sekitar para Takala, Élsus, dan Keld hening, yang terdengar hanya desauan angin dan gemerisik pelan dedaunan. Mereka masih diam di tempat, menunggu hingga sosok-sosok lainnya menghilang dari sudut jarak pandang mata.

“Perang, adalah satu-satunya hal yang tak pernah kusangka akan kualami,” gumam Can’Ara.

“Kami akan bersamamu.” Can’Eru menepuk sekali punggung saudarinya sembari melontarkan senyum. “Kita akan baik-baik saja, dan jika nasib buruk menimpa, kau masih punya aku dan Cialla di sampingmu.”

“Ayo, kita berangkat,” ajak Cialla. “Ada apa, Keld? Kau diam saja?” tanyanya.

Keld terperangah sebentar. “Aku melihat keajaiban. Sesuatu yang takkan pernah kulupakan Nona Cialla. Melihat pasukan bangsa dryad yang hebat dan kuat, rasanya aku seperti setitik pasir yang tak memiliki kekuatan apa pun.”

“Jika bukan karena kau, maka kami takkan mungkin akan melanjutkan perjalanan ke Hail.” Can’Ara melirik pada Élsus. “Bukankah begitu, Orang Tua Bijak?”

“Jangan berkata aku orang tua bijak, astaga.” Élsus tertawa kecil.

Mereka berlima melangkah menuju ke Kota Hail, untuk memperingatkan para manusia.

Entah apa yang akan dihadapi di sana nanti.

*****

Sementara itu, di bagian wilayah yang lain jauh di kedalaman gunung Pílghym, suasana begitu ricuh. Semua orang dilarikan melalui lorong-lorong gelap dan panjang, elf dan para dwarf. Suara-suara teriakan terdengar di sana-sini, agar orang-orang melangkah dengan cepat dan teratur. Dari langit-langit seperti turun hujan kerikil dan pasir. Sedangkan di luar gerbang utama yang tertutup kokoh dan rapat, terdengar suara ‘bum, bum, bum’ seperti ledakan bertubi-tubi. Di mana pasukan dëia berusaha merangsek untuk masuk.

Begitu kota sudah dikosongkan, tersisa beberapa sosok dwarf yang sibuk menyambung-nyambungkan tali, dan gentong-gentong mesiu.

“Kau sudah selesai?” tanya yang satu dengan teriakan kencang.

“Di sini sudah! Lekas kita segera masuk ke jalan pelarian!”

Yang lain memberi tanda, dengan mengibas-ngibaskan obor di tangan mereka, bahwa pekerjaan mereka sudah selesai. Lalu para dwarf itu berkumpul di salah satu pintu pelarian menumpuk gentong-gentong lainnya hampir menutupi seluruh pintu tersebut. Dan hanya menyisakan lubang kecil untuk mengintip.

“Mereka takkan menguasai tanah air kita, maka kita biarkan mereka terkubur bersama ibu bumi,” ucap seorang dwarf sembari membuang ludah ke permukaan tanah.

Yang lain mengangguk mengiyakan.

Para dwarf itu duduk di dekat gentong-gentong, beristirahat sembari menunggu. Mereka adalah para dwarf terakhir yang mengemban tugas paling berat, yaitu menghancurkan kota. Karena itu, para dwarf ini harus mengulur waktu, agar semua penduduk dan elf yang meminta pertolongan bisa melarikan diri dari sana.

Tidak pernah disangka, bangsa dëia mampu melumpuhkan pertahanan dari bangsa dwarf yang juga dikenal sangat kuat dan memiliki kemampuan mumpuni dalam melawan musuh. Hanya saja, selama ribuan tahun tidak pernah terjadi peperangan. Hingga saatnya kini tiba, bangsa dwarf menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan berbahaya.

Selama beberapa hari para dwarf itu tinggal di lorong menuju pintu pelarian terakhir. Menunggu hingga pasukan dëia merasa bosan dan akhirnya meninggalkan kota Pílghym. Gerbang utama kota yang terbuat dari batu kokoh, bahkan menurut legenda tidak bisa dihancurkan, mungkin benar adanya. Jika membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menghancurkan gerbang itu, mungkin para dwarf yang berjaga akan bergantian datang dan melihat apa pasukan dëia masih gigih untuk menghancurkan kota Pílghym.

“Punggungku sakit,” gerutu salah satu dari mereka.

“Kita semua mengalami itu.”

“Bangsa itu masih saja berusaha menghancurkan gerbang utama. Makhluk-makhluk idiot.”

Ketujuh kurcaci itu tertawa-tawa, merasa konyol dengan pasukan dëia yang mungkin takkan pernah bisa menghancurkan gerbang utama kota. Lalu setelah kondisi aman, semua bangsa dwarf akan kembali ke kota dan membetulkan kota yang mungkin sebagian kecil mengalami kerusakan.

Salah satu dari mereka mengintip pada lubang, melihat gerbang utama yang agak jauh di depan sana masih bergetar-getar, karena diserang oleh bangsa dëia dari luar. Hingga tiba-tiba saja matanya melihat sesuatu, tepat di atas gerbang ada sebuah celah dan tampak ada warna kemerahan bersinar di atas sana.

“Astaga! Apa itu di atas sana?”

Kurcaci memiliki ketertarikan tersendiri pada benda-benda gemerlap, bahkan mata mereka jauh lebih tajam dibandingkan makhluk lain apabila menyangkut tentang hal itu. Heran, selama para dwarf tinggal di sana, tak ada yang menyadari ada sesuatu di balik dinding atas gerbang utama. Benda itu terlihat mungkin karena getaran-getaran dan membuat sebagian dinding batu luruh.

“Kita harus mengambilnya!” seru si kurcaci setengah panik.

“Apa yang kau lihat?” Rekannya langsung beranjak berdiri, penasaran dengan benda ‘apa itu di atas’. Begitu melihat apa yang dimaksud, ia pun berkata persis. “Kurasa kita harus mengambil benda itu!”

Akhirnya para kurcaci silih berganti melihat pada lubang kecil. Mereka segera menurunkan gentong-gentong berisi mesiu yang sudah disusun, membuka celah agar bisa keluar dan kembali ke dalam kota.

Langkah-langkah pendek mereka bergegas menuruni tumpukan gentong, berlari-lari di selasar, melewati jembatan, untuk kembali ke gerbang utama. Dari luar, suara debuman terdengar semakin memekakkan telinga. Namun, tak satu pun dari mereka gentar dengan adanya bangsa dëia yang berada di seberang. Hanya dibatasi gerbang. Dua dari mereka membawa tangga karena begitu tingginya gerbang utama kota. Mereka mengikat tiap tangga menjadi titian yang menjulang tinggi.

“Cepat, cepat.” Mereka saling mengingatkan dalam bisik.

Salah satu dari mereka naik, lalu mengambil sebuah kalung dengan bandul berpendar-pendar yang mengeluarkan warna kemerahan. Matanya hampir tidak berkedip melihat betapa bagusnya perhiasan itu. Sangat aneh, kenapa benda yang sepertinya sangat berharga, seolah dilupakan begitu saja. Entah disembunyikan untuk tujuan tertentu.

Lalu suara ‘bam, bum, bam, bum’ seperti genderang semakin keras dan kencang. Bergaung di dalam kota yang sudah senyap. Terdengar suara derakan sangat keras, hingga pasir-pasir berjatuhan dari langit-langit. Tampak retakan pada gerbang utama, para dwarf terkesiap. Terdengar suara berdesing dibarengi suara ledakan sangat keras.

Gerbang utama kota yang agung, hancur dan luluhlantak.

Sehingga para dwarf terpental jauh akibat ledakan superdashyat itu.

“LARIII ...!!” peringat para dwarf.

Mereka berlari secepat mungkin menuju ke pintu pelarian, di tengah-tengah tebalnya asap ledakan. Salah satu dari mereka tertinggal, sembari berlari membawa bandul, mengejar rekan-rekannya.

Pasukan dëia memasuki kota, tubuh-tubuh yang tinggi besar dengan kulit merah bak darah. Terdengar suara geraman, dan teriakan kemenangan. Membuat siapa pun yang melihat, akan gentar dan lebih memilih kematian yang cepat, daripada harus menghadapi bangsa darah dan api tersebut.

Para dwarf berusaha menutup celah dengan gentong-gentong, begitu mereka tiba di pintu pelarian. Namun, satu dari mereka masih tertinggal, dan tertangkap sosoknya oleh salah satu bangsa dëia.

“Kejar dia! Tangkap!” teriak pimpinan pasukan dëia.

Dengan tubuh pendek, perut tambun, sang kurcaci berlari secepat mungkin hingga ke pintu pelarian. Teman-temannya tidak mungkin menunggu, karena mereka harus meledakkan kota Pílghym atau dëia akan menemukan lorong terakhir di mana mereka bertahan sekarang.

Si pembawa bandul sudah pasrah, dia hanya mengangguk pada teman-temannya, agar mereka segera meledakkan kota dan meninggalkan dirinya sendiri. Teman-temannya menunduk sedih, akan tetapi tidak ada jalan lain. Mereka menutup celah dengan gentong, dan berlari keluar dari lorong jalan pelarian.

Dengan sekali raup, tubuh si kurcaci tertangkap oleh salah satu pasukan dëia, tampak seringai dengan taring runcing ditunjukkan oleh bangsa darah itu.

“Tertangkap kau!” Ia menggeram kemudian.

Lalu dari belakang, berdatangan berlusin-lusin pasukan dëia lain, membuat si kurcaci sudah pasrah untuk menghadapi kematiannya.

“Ke mana semua bangsa kalian? Ke mana para elf yang lari?”

Si dwarf mengendikan bahu. “Oh, aku tidak tahu. Aku sendiri di sini.”

“Habisi dia,” titah sang pemimpin tidak sabar.

Tubuh si kurcaci dilempar dekat gentong-gentong yang tertumpuk di pintu pelarian. Tubuh kecil gempal itu terbatuk-batuk, dan gemetar. Namun, dia tetap seorang dwarf pemberani. Diambil kapak yang tersampir di punggung, dia berdiri dengan menantang. Hanya agar mengulur waktu, hingga teman-temannya bisa meledakkan kota dari jarak aman.

Pasukan dëia lainnya berdatangan masuk melewati gerbang utama kota yang sudah menjadi puing.

“Aku Lâmbi, putra klan Rockbanner takkan pernah mengalah dari bangsa kalian. Maju dan akan kuhadapi kalian satu-persatu,” teriak si dwarf lantang.

Para dëia tertawa-tawa. Salah satu dari mereka mengeluarkan bola api dari tangan, lalu dalam hitungan detik bola api yang membesar itu meluncur tepat ke arah Lâmbi.

Lâmbi menutup mata.

Terdengar suara ledakan tertahan. Begitu Lâmbi membuka mata, dia melihat ada sosok seperti asap berwarna kemerahan yang terang, yang jelas-jelas menahan bola api serangan bangsa dëia. Sosok yang setinggi bangsa dëia, rambutnya bergelombang berwarna merah sepanjang lutut, di sebelah tangannya memegang tombak dengan pegangan batu permata.

Lalu gentong-gentong yang sudah tersusun menuju ke jalan pelarian, melayang-layang di angkasa. Si sosok merah menoleh pada Lâmbi seraya berkata, “Aku yang akan mengurus semua dari sini Fir Rockbanner. Pergi dan aku akan menemuimu nanti.”

Dengan tergesa-gesa dan ketakutan yang amat sangat, Lambi bergerak mundur menuju ke pintu pelarian yang terbuka. Dia melihat sosok itu mengayunkan tombak, mengeluarkan gelombang api besar yang membuat bulu kuduk merinding. Api itu berwarna merah menyala berpadu dengan warna emas. Tidak lagi Lâmbi menoleh ke belakang, ketika mendengar suara sosok misterius itu berteriak lantang, “Musnah ….”

Terdengar ledakan demi ledakan beruntun, bumi bergetar hebat, hingga si dwarf terseok-seok berlari dan berkali kali terjatuh, dihujani oleh bebatuan yang runtuh dari segala penjuru. Dia melihat seberkas cahaya di depan sana, terus dia berlari. Hingga sapuan batu bercampur tanah menghantam tubuhnya, dan Lâmbi pun tidak sadarkan diri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!