The Quest for The Lost Inheritors

Pelarian Dua Bangsa

Suara-suara nyaring dan teriakan terdengar dari kejauhan yang berasal dari arah bekas kota para elf, di mana ketiganya—Ninye, Gôntra, dan Yähgé sudah berhasil menyelinap keluar dari puing-puing kota Lamvorels, dan mereka sudah berada dalam jarak aman dari pengejaran. Terlebih, hujan masih turun, dan kabut masih juga tebal. Ninye menoleh ke arah di mana tempat tinggalnya dulu berdiri di sana, dengan pandangan cemas.

“Apa mereka akan mengejar kita?” gumam Ninye bertanya-tanya.

Gôntra menggeleng. “Tidak, mereka takkan mungkin menyia-nyiakan waktu untuk mencari kita.”

“Kakakku memiliki kepentingan lain. Mengenai urusan membinasakan kami, mungkin nanti setelah ia menguasai seluruh dunia,” timpal Yähgé sinis. “Maka biarkan dia sibuk dengan urusannya.”

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan,” ajak Gôntra.

Mendengar hal tersebut, Ninye hanya mengangguk paham.

Mereka terus berjalan tanpa kenal lelah, menyusuri hutan hingga hujan berhenti dan kabut pun menghilang. Pemandangan di mata Ninye berangsur lebih menenangkan ketika dia bisa melihat dengan jelas pepohonan yang rimbun, perdu, tanaman pakis, juga jenis tanaman liar lainnya. Batinnya merasakan kekhawatiran, jika bangsa dëia benar-benar menguasai dunia, maka hal-hal yang hijau akan hilang dilalap oleh api dan darah mendidih bangsa itu yang pasti akan selalu haus kekuasaan.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Gôntra seperti menyadari ada sesuatu yang berubah dari air muka Ninye yang mendadak keruh. “Kaummu?”

Ninye menggeleng. “Semua. Termasuk mereka yang diam dalam keheningan dan bertahan hidup.”

“Kita akan menemukan jalan keluarnya,” angguk Gôntra.

Tentu saja Yähgé merasa jengah mendengar percakapan antara Ninye dan Gôntra. Sang panglima tahu betul, bahwa mereka memiliki kesepakatan jauh lebih lama sebelum Gôntra mengenal Ninye. Gôntra terikat janji dengan Yähgé, akan tetapi di depan Ninye seolah dia tidak memiliki kewajiban apa-apa terhadap adik perempuan penguasa bangsa dëia itu.

Yähgé tidak mungkin membongkar kebohongan Gôntra, karena sama saja nanti Ninye akan mengetahui rencana mereka. Namun, mendengar dan melihat Gôntra bersama Ninye menjalin persahabatan membuat Yähgé merasa payah. Telinganya terasa teriritasi acap kali mendengar suara Ninye yang jernih dan terdengar damai itu, bahkan bulu kuduknya selalu meremang tiba-tiba.

“Kalian akan terus dalam pelarian?” tanya Ninye.

“Entahlah,” jawab Gôntra tidak pasti. “Ada berbagai kemungkinan, dan aku tidak bisa memprediksi di mana posisi kami berdua saat itu nanti.”

“Kau bukan peramal, Dum (Bodoh. Bahkan peramal pun sering kali meleset,” komentar Yähgé pedas.

“Apa kau punya penglihatan ke depan, apa yang terjadi pada kita berdua nanti?” Gôntra terkekeh pelan dan begitu santai, karena menganggap kata-kata yang dilontarkan oleh Yähgé hanyalah lelucon.

“Yang pasti, aku akan menikmati hidup abadi yang membosankan,” balas Yähgé enteng.

“Bisakah kita mencapai kedamaian itu, bagi semua pihak.” Ninye menggigit bibir bawahnya sebentar lalu mengembuskan napas lelah. “Rasanya begitu sulit untuk berharap, bahkan harapan sekecil apa pun.”

“Bukankah kau sendiri mengatakan, bahwa ada kekuatan dari Estion?” seloroh Gôntra.

Yähgé menajamkan telinganya. Dia tahu betul kisah tentang Estion meski tidak secara rinci, yang konon sebagai ruh-ruh dengan kekuatan dashyat, bahkan membuat bangsa dëia diasingkan karena mengalami kekalahan yang memalukan. Namun, yang ia tahu bahwa Estion secara turun temurun dijaga oleh kaum elf, sedangkan yang lainnya, tidak pernah ada kabar berita.

“Tapi tidak semudah itu, karena para ruh ini adalah sesuatu yang ajaib dan suci, bahkan tidak ada yang berkuasa atas mereka,” jawab Ninye. “Dahulu pun, mereka muncul di saat peperangan pertama dan ketika pasukan sekutu sudah hampir kalah.”

“Oh, jadi kau mau mengatakan bahwa kalian dari pengusung kebaikan, garis putih, maka akhirnya mendapat semacam anugerah dengan kemunculan mereka?” ejek Yähgé.

“Setiap insan di dunia diberikan kesempatan untuk memilih di mana jalur mereka akan berjalan,” kata Ninye. “Kami percaya pada kekuatan yang jauh lebih besar, sedangkan kalian yang di jalur hitam hanya percaya bahwa kalianlah kekuatan itu.”

“Kami?” Yähgé menghentikan langkah dan menatap marah pada Ninye. “Aku tidak di jalur pilihan seperti yang kau sebutkan. Aku berjalan dan mempercayai diriku sendiri.”

“Maka yakinilah, apa yang kau yakini,” desis Ninye.

“Lalu bagaimana dengan ruh yang lain?” Gôntra langsung mengalihkan pembicaraan.

Ninye menarik napas dan mengembuskannya lagi dengan perlahan. “Mannen, Rafael, dan Silmo entah berada di mana sekarang. Keempat ruh ini dulu muncul di kala keempat pemimpin bangsa kami tewas dalam peperangan. Begitu perang selesai, perwujudan mereka kami simpan di Lamvorels, kecuali Silmo, karena tidak ada jejaknya sama sekali, menghilang begitu saja.

“Lalu entah berapa tahun kemudian, Mannen dan Rafael, kami titipkan masing-masing pada bangsa dwarf dan manusia. Hanya saja, seiring berjalannya waktu kami yang memiliki ingatan panjang, rupanya tidak diingat baik oleh manusia dan dwarf yang berumur singkat dan sumbu pikirannya pun mudah lupa.

“Akhirnya, hanya tinggal Estion yang tersisa,” tutur Ninye.

“Lalu mengapa Estion berada di dalam sebuah bandul? Apa dia bersemayam di situ?”

Lagi-lagi Gôntra bertanya, tampak benar-benar tertarik dengan kisah keempat ruh yang disebutkan oleh Ninye. Namun, Yähgé berpikir lain. Dia merasa Gôntra sedang berusaha untuk mencari di mana ruh yang lain berada. Pemikiran Yähgé langsung terfokus, jika mereka menemukan lebih dulu keberadaan para ruh ini, mungkin mereka yang akan memenangkan peperangan. Menjadi penguasa dunia.

Ninye mengangguk. “Setelah ruh mereka menghilang, muncul tiga pusaka, berupa bandul. Di mana kami yakini ketiga ruh memang bersemayam di dalam sana. Menunggu hingga waktunya mereka memberi pertolongan.”

“Kau katakan ada empat ruh?” Dahi Gôntra mengerut.

“SIlmo tidak pernah memiliki perwujudan apa-apa. Dia hanya hilang begitu saja,” jelas Ninye.

“Lalu di mana kita bisa temukan Silmo ini?” Gontra benar-benar serius dengan pertanyaannya.

Ada senyum getir ditunjukkan oleh Ninye. “Kau tak bisa. Karena dia yang akan menemukanmu.”

“Omong kosong yang luar biasa,” celetuk Yähgé.

Tanpa terasa, mereka sudah berjalan sepanjang malam tanpa henti dan tak lelah, langkah mereka sudah jauh dari kota Lamvorels. Begitu sampai di anak kaki pegunungan Habér, saat matahari mulai menggeliat muncul, Yähgé memimpin jalan hanya melewati kawasan pegunungan tersebut, dan dia terus berjalan ke arah timur. Sedangkan menuju kota Vôld—salah satu kota terbesar kedua manusia—adalah melewati celah Haberian yang terletak di antara pegunungan tersebut.

“Kalian hendak ke mana? Bukankah kita menuju Vôld?” tanya Ninye keheranan.

“Kalau kau ingin ke sana, maka pergilah,” usir Yähgé. “Sejak awal aku tidak ada niat untuk membawamu ikut serta dalam perjalanan kami. Enyah, dan tinggalkan kami sebelum aku benar-benar akan menghabisimu.”

“Aku tidak ingin meninggalkan Gôntra,” balas Ninye tegas.

Yähgé berhenti dan menatap pada Ninye. “Kau carilah Aldérin—temanmu itu—karena bersama dia tempatmu berada. Aku dan Gôntra, di mana ada hanya kami berdua saling memiliki sekarang.”

“Aku tidak mau jadi bahan rebutan kalian.”

Dengan santai Gôntra melangkah melewati keduanya, dan terus berjalan ke arah timur, kemungkinan besar Yähgé hendak menyusuri barisan bukit West Emun Gasal. Setelah dari sana, entah apa yang akan ia rencanakan selanjutnya.

“Aku tidak memperebutkanmu!” pekik Yähgé jengkel.

Ninye menatap Yähgé lebih sengit. “Aku dan Gôntra memiliki rencana yang lebih baik, yaitu untuk mencapai kedamaian untuk semua bangsa di dunia ini. Sebaiknya kau kesampingkan keinginan yang hanya baik untuk dirimu sendiri, Yähgé.”

“Sejak awal, kau tidak diundang dalam pelarian kami.” Yähgé mendengkus kesal. Lalu dia melangkah tergesa-gesa. “Makhluk pemakan daun yang terlalu peka, membuatku sakit kepala. Bahkan dia bermimpi untuk bisa mendamaikan semua makhluk di muka bumi ini. Lazjág!”

Dengan perasaan terluka, Ninye mengendurkan langkahnya. Masih ada kesempatan baginya untuk pergi dan berpisah dari keduanya, lalu pergi menuju kota Vôld. Memperingatkan para manusia, bahwa ada bahaya mengintai di sana. Jika memang ia tak bisa sejalan dengan Yähgé, maka Ninye harus menempuh jalan yang akan dilaluinya sendiri. Karena jauh di dalam hati, Ninye yakin bahwa Gôntra takkan mungkin pergi meninggalkan Yähgé. Keduanya adalah pelarian, dan di mana pun takkan ada tempat bagi mereka.

Jadi mungkin benar apa yang disampaikan oleh Yähgé, mereka berdua hanya bisa mengandalkan satu sama lain, tanpa bantuan siapa-siapa. Ninye pun suatu saat, bisa berseberangan dengan keduanya.

“Ke mana kau akan pergi?” seru Gôntra saat menyadari Ninye bergerak mundur, dan melangkah menuju pegunungan Habér. Bergegas ia berlari menghampiri Ninye. “Kau putuskan untuk mencari Aldérin?”

Ninye menggeleng. “Aku akan menemui para manusia di kota Vôld, dan menyampaikan berita tentang bangsa kalian. Aku harus mendapatkan kepercayaan mereka, dengan begitu kami bisa bersama-sama membangun kekuatan untuk melawan bangsa dëia.”

“Ninye, tidak semudah itu. Manusia sudah melupakan banyak hal, bahkan sumpah yang mungkin sekutu kalian ikrarkan di masa lampau,” kata Gôntra. “Sudah kukatakan, lebih baik kau mencari di mana Aldérin, dengan begitu kalian bisa mencari keberadaan para ruh berkekuatan besar. Jika kau tak yakin, aku akan membantumu untuk mengejar di mana Aldérin berada.”

“Aku akan tetap menemui para manusia.” Ninye bersikukuh. “Maka kukira ini adalah akhir dari perjalanan kita bersama. Estelia, Elthan.”

“Jangan harap aku akan membalas ucapanmu itu,” kata Gôntra kecewa.

Ninye hanya menyunggingkan senyum simpul, dan membalikkan tubuhnya. Lalu dia berlari dengan cepat melewati tanaman peredu dan pepohonan, meninggalkan Gôntra dan Yähgé. Tanpa Gôntra sadari, rupanya Yähgé sudah datang menghampiri dan berdiri di belakangnya.

“Ah, si telinga runcing itu tidak memahami bahaya apa yang ada di depannya, kelak.” Yähgé berdecak.

*

Yähgé terdiam setelah mereka berjalan beberapa lama menuju ke barisan bukit West Emun Gasal, Gôntra benar-benar diam, tidak mengatakan sepatah kata pun meski Yähgé mengajaknya bicara. Hal itu tentu saja membuat Yähgé benar-benar jengah, karena seolah-olah Gôntra menyalahkan Yähgé yang setengah mengusir Ninye dari pelarian mereka.

“Ada apa denganmu? Kau merindukan si telinga runcing itu?” tanya Yähgé sinis.

“Aku hanya khawatir. Dia membutuhkan lebih banyak dukungan untuk membuat para manusia mau menjadi sekutu. Tidak seorang diri.”

“Kau ingin mengejarnya? Kejarlah, aku tak peduli jika harus sendiri.”

“Ada ikatan janji yang aku buat denganmu, dan aku harus menepatinya.”

“Omong kosong! Untuk apa aku bersama dëia yang sepertimu? Lebih baik batalkan saja perjanjian ini. Lagipula aku tidak butuh bantuanmu lagi. Aku sendiri yang akan menghabisi Kolé dan Nihlá, dengan pasukan yang kumiliki kelak,” seru Yähgé.

“Kau lupa?”

Gôntra tersentak kaget. Rupanya Yähgé sengaja memutar jalan, hanya untuk mengecoh Kolé, bahwa dia akan melarikan diri. Ternyata Yähgé ingin kembali ke kota di utara, untuk membangkitkan pasukan manusia yang tidak bisa mati, karena mereka sudah terkena pengaruh batu Ratera yang terkorupsi oleh batu Ir’atôn. Begitu mereka sudah terlepas dari ikatan batu Ratera, batu Ir’atôn akan menguasai, sehingga Yähgé mungkin akan mengambil lagi batu-batu Ir’atôn untuk memperkuat kuasanya.

“Batu itu memiliki sihir terlalu kelam, aku takut itu akan mempengaruhimu,” kata Gôntra cemas.

“Sudah kukatakan, jika semua berada di bawah kuasaku, akan kukembalikan batu-batu itu di tempatnya berada. Agar tak ada lagi yang mengambil atau menguasainya.”

“Tak bisakah kita pergi, entah ke mana saja, dan biarkan semua berjalan sesuai dengan takdirnya masing-masing, Yähgé? Karena tak mungkin kita melawan bangsa kita sendiri, di akhir nanti.”

“Kau mulai terdengar seperti teman elf-mu itu.”

“Karena sejatinya, aku tak pernah beririsan dengan makhluk mana pun di dunia ini. Dan mereka tidak berbuat apa-apa yang menggangguku.”

“Harga diri, Gôntra.” Yähgé menatap Gôntra dengan mata berapi-api. “Bangsa kita diasingkan, dan sudah waktunya untuk unjuk gigi.”

“Aku tahu, tapi aku lelah.”

“Maka kita biarkan saja Kolé yang menghabisi semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Setelah itu, aku akan datang memusnahkannya dengan pasukan makhluk matiku milikku.”

“Lakukan saja, aku hanya akan mengikuti ke mana saja kau melangkahkan kakimu.”

Ada perasaan sedih dan kecewa di batin Yähgé karena Gôntra tidak lagi semangat seperti dulu. Namun, Yähgé pun sebetulnya membutuhkan sosok Gôntra di sampingnya.

“Baiklah,” kata Yähgé menyerah. “Kita cari si telinga runcing, sebelum dia bertindak bodoh.”

“Maksudmu?” Gôntra terkesiap. “Mengejar Ninye?”

“Ya, jika dia memperingatkan manusia, lalu manusia bersiap-siap untuk melawan … akan lama bagi Kolé memusnahkan semua makhluk hidup, dan lama juga bagiku untuk menguasai dunia,” kilah Yähgé cepat.

“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita mungkin masih bisa menyusulnya.”

“Tidak perlu tergesa-gesa, aku ingin melihat pertunjukan teman telinga runcingmu itu, apa yang hendak dia lakukan, jika tidak ada satu pun manusia mempercayainya.”

“Aku takut dia akan ditangkap dan dihabisi.”

Yähgé melangkahkan tungkainya berbalik arah sembari terkekeh pelan. “Dia elf, bukan? Kurasa dia bisa bertahan.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!