The Quest for The Lost Inheritors

Hujan dan Kabut

“Di saat bangsa kita akan mendapatkan kejayaan abadi, tidak kusangka adik-adik dari adegaz berusaha untuk berkhianat,” ujar seorang penjaga di depan pintu tahanan.

“Mereka takkan mungkin berbuat seperti itu, jika justru menyimpan kelemahan dari penguasa kita. Atau mungkin, rahasia yang kita tidak pernah tahu,” balas suara satunya.

“Pengkhianat tetaplah pengkhianat. Seburuk apa pun penguasa di bangsa kita.”

“Itu tergantung dari para putusan pimpinan klan.”

Suara penjaga pertama berdeham. “Kau tahu di mana mereka ditahan?”

“Kudengar di utara kota berbau busuk ini. Entah apa mereka akan diadili di sini atau dibawa kembali ke istana. Kita hanya perlu melihat saja apa yang akan dilakukan oleh adegaz selanjutnya.”

Ninye mendengar suara penjaga di luar, mengenai pengkhianatan Gôntra dan Yähgé, di mana mereka berdua ditahan di tempat lain dan entah hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Kolé.  Tentu saja itu membuat Ninye terkejut. Bahwa dengan beraninya Gôntra mengakui bahwa dia membelot dari kaumnya. Perasaan Ninye berkecamuk hebat, dia tidak bisa tinggal diam. Dia harus menyelamatkan Gôntra.

Dengan hati-hati Ninye menghampiri pintu tahanan, membutuhkan waktu untuk membuka ikatan tali yang dibuat oleh penjaga, tapi masih termasuk mudah. Yang Ninye butuhkan adalah benda tajam apa pun, selain senjata, untuk menusuk telapak tangan bangsa dëia, karena kelemahan mereka justru di sana. Namun, dia tak menemukan apa pun yang bisa dibuat sebagai senjata. Merebut pedang dari penjaga tahanan, akan menjadi perbuatan sia-sia, karena sudah jelas Ninye akan kalah dalam tenaga. Dia harus bisa menyelinap, bergerak secepat mungkin, di mana tidak ada siapa pun yang menyadari ia pergi.

Malam itu, bulan bersinar dengan terang. Ninye melihat dari celah jendela kecil, lalu duduk bersila. Sembari memejamkan mata, dia mengucap permohonan kepada Avinlár, agar tidak ada siapa pun yang menyadari langkah-langkahnya pergi dari sana. Memohon agar sosok bangsa dëia terlelap dalam urusan mereka. Membuat tubuh Ninye seringan bulu, setipis kabut agar tak terlihat.

Tanpa lelah Ninye melakukan permohonan, tidak henti-hentinya. Hingga melewati tengah malam, tampak awan hitam berarak datang, lalu turun hujan dengan derasnya. Seolah seperti sihir, kabut pekat pun muncul. Bahwa tidak akan ada kabut, ketika hujan datang, akan tetapi ini sebaliknya. Kabut datang bersamaan dengan hujan.

Di saat itulah Ninye membuka mata, merasakan firasat sudah saatnya untuk keluar dari ruang tahanan. Hujan dan kabut, akan membuat dirinya tidak akan terlihat jelas di mata para dëia yang sedang berjaga. Bergegas Ninye menghampiri pintu tahanan, membuka ikatan tergesa-gesa meski dalam kehati-hatian. Setelah pintu terbuka, dia melihat para penjaga yang duduk di ujung, sembari terkantuk-kantuk. Herannya, dalam kabut itu pandangan Ninye sangat jelas. Ini mungkin bantuan dari Avinlár, begitu pikir Ninye.

Tubuh ramping Ninye menyelinap ke arah kiri selasar di luar ruang tahanan, lalu dia melompat dari tempat yang cukup tinggi itu ke permukaan tanah. Bahkan suara hentakan kakinya tidak terdengar sama sekali. Dalam senyap, Ninye berlari di bawah guyuran air hujan, menyamarkan tubuhnya dari satu puing bangunan ke bangunan lain. Hingga dia menemukan jubah berwarna gelap yang sudah kotor, basah, tergeletak di dekat salah satu puing. Ninye memakai jubah itu dengan perasaan sedih, entah itu jubah siapa, tapi elf yang mengenakan jubah itu akan lebih mudah berkamuflase.

Begitu langkah Ninye sampai di utara kota, dia melihat beberapa sosok prajurit dëia sedang berjaga di bekas reruntuhan perpustakaan. Jumlah mereka ada enam, dan sudah dipastikan di sana tempat Gôntra bersama Yähgé ditahan. Ninye berpikir keras, dia takkan mungkin bisa mengalahkan mereka sekaligus, satu pun mungkin akan membuatnya sangat kewalahan.

Jika terjadi keributan, malah akan memancing dëia lain untuk datang ke sana.

Ninye mendapati sebuah ranting yang cukup besar dan tebal, dia mematahkan ranting itu agar mendapat sudut yang runcing. Setelah itu dia mengambil batu dari puing-puing bangunan, yang dilemparkan ke arah para penjaga di ruang tahanan.

“Apa itu?” Satu dari mereka tersadar. “Ada yang melempar sesuatu.”

“Itu isi kepalamu,” timpal yang lain.

Terdengar tawa-tawa mencemooh dengan keras.

“Aku tidak bermain-main,” kata si penjaga pertama. “Suara itu terdengar begitu jelas.”

“Itu hanya khayalanmu. Jika kau mencurigai ada sesuatu yang ganjil, periksalah sendiri.”

Dengan kesal si penjaga pertama melangkah ke arah batu yang dilempar oleh Ninye. Lalu Ninye melempar batu lain lebih dekat ke arah dirinya, di mana di sana sangat gelap dan kabut begitu pekat. Tanpa banyak curiga, si penjaga pertama melangkah mencari sumber suara. Karena cukup gelap, sang penjaga membuka telapak tangan hendak mengeluarkan api dari tangannya.

Kesempatan itu tidak Ninye sia-siakan, dia langsung bergerak maju dan menancapkan ujung ranting yang tajam pada telapak tangan penjaga. Itu kali pertama Ninye melihat tubuh sang penjaga berpendar lebih terang, lalu dalam sekejap hangus dan menjadi abu.

Saat itu, para penjaga lain tersadar, melihat tubuh berpendar dari rekan mereka. Bergegas Ninye berlari ke arah lain, dan terus mendekat ke arah ruang tahanan. Empat penjaga lain melangkah tergesa-gesa ke tempat mereka melihat rekannya sudah menjadi abu. Namun, mereka malah tampak kebingungan, karena di bawah guyuran hujan, abu itu jelas larut bersama air, kabut pun menutupi pandangan mereka.

“Kau lihat itu, bukan?” tanya penjaga kedua bimbang.

“Apa yang membuat tubuhnya berpendar, lalu dia menghilang tiba-tiba?” tambah penjaga ketiga.

“Mungkin dia berusaha bermain-main dengan kita. Ayo, lekas kita cari dia,” tukas penjaga keempat.

Hanya tinggal satu penjaga yang masih waspada di depan ruang tahanan. Ninye melangkah memutar, dia naik ke selasar, dan posisinya berada di belakang sang penjaga. Lalu Ninye menutup tubuhnya dengan jubah, berjongkok di bawah. Dia mengeluarkan suara bisikan pelan, seperti mendesis.

Si penjaga menoleh ke belakang, dan tampak terheran-heran melihat ada batu berukuran besar yang tiba-tiba muncul di selasar.

“Apa-apaan ini?” ucap si penjaga gusar. Tanpa sadar, dia membuka telapak tangan dan mulai muncul api dari sana. Ketika Ninye hendak menghunus, si penjaga menutup telapak tangannya lagi. Di situ Ninye menegang, dia siaga tapi tidak berani bergerak sedikit pun. “Aku tidak bisa menyingkirkan batu sebesar ini hanya dengan api. Entah lelucon macam apa yang mereka lakukan, terpaksa aku harus melempar batu ini keluar,” gumam si penjaga pada dirinya sendiri.

Si penjaga berjongkok tepat di hadapan Ninye, dia hendak mengangkat tubuh Ninye, yang dalam penglihatannya merupakan sebongkah batu. Di saat itu, Ninye langsung menginjak telapak tangan si penjaga dan menghunuskan ranting yang ada di tangan. Sama seperti rekan sebelumnya, tubuh si penjaga berpendar lalu berubah menjadi abu.

Bergegas Ninye masuk ke dalam ambang pintu, memasuki koridor, lalu melihat ada ruang tahanan sementara, di mana Gôntra dan Yähgé sedang duduk dengan santai di permukaan lantai.

“Gôntra!” panggil Ninye dengan suara rendah.

Di saat itu Gôntra langsung terperangah, berdiri dan menatap Ninye tidak percaya. Sedangkan Yähgé masih saja duduk tampak tak acuh. Ninye bergegas berusaha membuka ikatan tali ruang tahanan. Namun, tiba-tiba saja ada api meletup ke arah pintu tahanan, hingga Ninye terjengkang ke belakang.

“Aku lelah, ayo kita pergi,” kata Yähgé sembari menutup telapak tangannya.

“Kenapa kau harus lakukan itu, dia berusaha menyelamatkan kita,” sahut Gôntra gusar.

“Dia berusaha menolongmu, bukan aku.” Yähgé menyeringai.

Lalu perempuan itu berjalan dengan angkuh melewati Ninye yang terbatuk-batuk, setengah terbaring di lantai. Gôntra bergegas membantu Ninye untuk berdiri.

“Kau baik-baik saja? Kenapa kau harus mengambil risiko untuk menolongku?” ucap Gôntra. “Bukankah sudah kukatakan, pergi dan larilah sejauh mungkin.”

“Aku tak bisa meninggalkan teman yang dalam kesusahan,” balas Ninye pelan.

Yähgé menoleh ke arah belakang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Astaga, apa kalian akan terus seperti itu? Lekas kita pergi dari sini.”

Perempuan itu memastikan di ambang pintu depan, menatap dengan hati-hati ke arah luar, tapi tidak terlihat jelas, karena gelap, kabut, dan tentunya hujan begitu deras. Sedangkan Gôntra langsung memegang kedua bahu Ninye, menatap mata teman barunya dengan sungguh-sungguh.

“Pergi dan carilah Aldérin ke utara. Jangan kau datang ke kota para dwarf atau para nymph, karena kota mereka sudah hancur. Aku memperingatkanmu, sebagai seorang teman. Tolong, kau dengarkan aku,” pinta Gôntra. “Jika kau masih menginginkan perdamaian di antara bangsa kita.”

“Lalu bagaimana denganmu? Ke mana kalian akan pergi?” tanya Ninye.

Karena tidak mungkin bagi Gôntra dan Yähgé kembali ke tempat tinggal mereka. Tidak ada tempat bagi dua bangsa dëia pengkhianat di antara kaumnya. Ironis, tidak akan ada bangsa lain yang akan menerima pelarian kaum shyrh, karena mereka dari bangsa penghancur.

“Kami akan pergi ke mana pun langkah membawa, hingga benar-benar terhenti nanti,” jawab Gôntra lemah, senyumnya tersungging. Tampak seperti sebuah seringai yang mengerikan, tapi Ninye tahu dan merasakan ketulusan dari panglima dëia itu.

Ada gelengan tegas ditunjukkan oleh Ninye. “Aku akan ikut bersamamu.”

“Tidak,” tolak Gôntra tegas.

Yähgé menghampiri keduanya, menatap jijik pada Ninye sekilas. “Bisa kalian berhenti berdebat? Kita akan putuskan siapa pergi dengan siapa, setelah keluar dari sini,” selorohnya dengan kesal.

“Kami tidak berdebat,” desis Ninye.

“Oh, jadi kalian sekarang bermesraan?” Yähgé melipat tangannya.

Dengan cepat Gôntra melepaskan tangannya dari kedua bahu Ninye. “Baiklah, lebih baik kita pergi. Menyelesaikan masalah lain, akan kita urus selepas meninggalkan Lamvorels.”

“Di luar kabut begitu tebal, aku tidak bisa melihat dengan jelas,” kata Yähgé.

“Oh, pandangan matamu mengabur?” sindir Ninye. Lalu dia melangkah lebih dulu ke ambang pintu.

“Maka tunjukkan jalannya, Elf.” Gigi-gigi Yähgé bergemelutuk menahan amarah.

Yähgé tahu mereka takkan mungkin bisa keluar dari sana dengan mulus, akibat kabut. Namun, tanpa pertolongan Ninye, mereka pasti masih terkurung di sana. Dia benci pada Ninye, tapi mau tak mau untuk saat itu Yähgé membutuhkan bantuan Ninye.

“Perhatikan langkahmu, Dëia.” Ninye menoleh sembari tersenyum penuh kemenangan. “Jangan sampai terantuk.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!