The Quest for The Lost Inheritors
Terungkap
Melihat Gôntra datang, Ninye yang tampak muram langsung menunjukkan raut wajah sedikit senang. Hal itu membuat perasaan Gôntra pun menjadi lebih baik, meski apa yang akan dia sampaikan pada Ninye tidak bisa dikatakan sebagai berita yang menyenangkan juga. Dengan hati-hati Gôntra melirik ke arah pintu tahanan, dan melihat tidak ada siapa-siapa. Dia masih berdiri agak berjarak, karena tidak ingin terlihat oleh siapa pun bahwa dia dan Ninye kini berteman.
“Aku membawa kabar tentang Aldérin,” bisik Gôntra.
Mata Ninye membelalak tak percaya, kedua tangannya langsung menangkup di dada. “Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi pada dirinya? Di mana dia sekarang?” tanya Ninye sekaligus.
“Kami bertemu di Hail, di salah satu kota terbesar manusia, dan ya … dia baik-baik saja. Saat waktunya kami untuk berpisah, Aldérin dalam perjalanan menuju ke utara, di mana ….” Gôntra terdiam beberapa saat. Ada hal yang memang Ninye mungkin diperbolehkan untuk tahu, tapi dia pun terikat janji dengan Yähgé. “… di mana dia hendak mencari seseorang entah sesuatu, untuk tugas yang sedang ia emban.”
“Aku benar-benar lega,” sahut Ninye lirih. “Kuharap perjalanannya akan jauh lebih baik, dan dia bisa menemukan jalan untuk memerangi ini semua, menjadi kedamaian bagi semua pihak.”
“Kau yakin hal itu bisa terjadi? Kekuatan dari bangsa kami (bukan aku menyombongkan diri) kali ini bisa memusnahkan kota dengan dinding terkokoh atau tertinggi.”
“Kami memiliki kepercayaan kuat dan agung, di mana Estion dan ketiga ruh lainnya, akan muncul memberi bantuan. Selama Aldérin bisa menemukan para pewaris mereka.” Ninye menatap pada Gôntra. “Kau tentu tahu mengenai hal itu, tak perlu kau tutup-tutupi.”
Gôntra merasa tidak enak hati, dan itu menurutnya sangat aneh, karena berbohong pada Ninye membuat perasaan bersalah di batinnya. Selama ini, jika dia berbuat curang, berdalih, tak ada perasaan apa pun. Justru merasa puas juga senang.
Terdengar suara langkah berderap mendekat, Gôntra mendongakkan kepala lalu melihat ke arah pintu tahanan, di sana sudah ada setengah lusin pasukan dëia yang datang menghampiri. Insting Gôntra merasakan gelagat yang aneh. Salah satu dari pasukan itu mendekat.
“Panglima Gôntra, adegaz Kolé menitahkanmu untuk berada di tengah kota karena ada sesuatu yang harus ia sampaikan padamu,” ucapnya dengan suara parau dan besar.
“Aku akan menemuinya nanti, aku sedang menginterogasi tawananku,” balas Gôntra tak acuh.
“Ini perintah yang tidak boleh diabaikan bahkan dibantah.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu aku perlu bicara dengan tawananku tidak lama, silakan kalian menunggu.” Bergegas Gôntra menghampiri Ninye dan menunduk sedikit. “Maafkan aku,” bisiknya pelan.
Ninye hanya menatap pada Gôntra dengan wajah tegang.
“Kau elf terkutuk! Seharusnya kau binasa!” teriak Gôntra dengan suara keras. Lalu dia berbisik di telinga Ninye. “Kau bisa melepaskan ikatanmu, bukan? Pergilah dari sini, ketika semua sedang lengah. Firasatku sangat buruk, jika terjadi sesuatu denganku, peringatkan teman-temanmu yang lain.”
Mata Ninye hanya berkedip-kedip sembari menatap Gôntra tak percaya, meski dia tak mengatakan barang sepatah kata pun.
“Esok lusa kau akan menjadi bangkai! Aku sendiri yang akan menghabisimu!!” Lagi-lagi Gôntra berteriak keras, seolah dia sedang menyakiti Ninye padahal tidak sama sekali.
Setelah itu Gôntra melangkah ke arah ambang pintu tahanan, dia melirik sekilas pada elf perempuan itu memberikan anggukan singkat dan keluar. Baru kali itu Ninye merasakan khawatir pada sosok bangsa yang dia benci. Jika memang akan terjadi sesuatu yang buruk dan berakibat fatal pada Gôntra mana mungkin Ninye pun tinggal diam. Elf bagaimanapun akan selalu berusaha untuk menolong ketika seseorang mengalami saat-saat sulit dan kesusahan. Namun, Ninye tetap diam dan tidak gegabah. Dia butuh rencana.
*
Yähgé sudah berada di tengah kota, dikelilingi oleh para dëia yang sedang menunggu kedatangan Gôntra. Sedangkan Kolé dan Nihlá sudah berdiri tidak jauh dari Yähgé, menatap dengan tajam dan dingin. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Kolé, tapi dipertontonkan di depan semua dëia rasa-rasanya ada yang memang tidak beres, begitu pikir Gôntra. Tetap saja, Yähgé tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia malah terlihat malas-malasan sembari berkacak pinggang. Setelah itu, Gôntra berdiri di samping Yähgé, dia memberi hormat pada Kolé dan sang kakak, Nihlá.
“Kau dari perjalanan jauh, Diz (Adik)?” tanya Kolé, matanya tak lekang dari Yähgé.
Mana mungkin Yähgé mengelak, karena dia mengenakan baju untuk perjalanan jarak jauh, yang tidak berat dan berlapis-lapis seperti gaun. Perempuan itu mengenakan pakaian berlengan panjang yang membentuk tubuh, terbuat dari kulit binatang di sekitar pegunungan api. Tipis, tapi sangat kuat juga elastis, bahkan pakaian bangsa dëia saat melaju ke medan perang, akan sulit untuk ditebas oleh pedang atau anak panah. Pakaian yang sama, di mana Yähgé juga Gôntra kenakan.
“Apa itu menjadi masalah, Jal?” balas Yähgé enteng.
Kolé menggeleng. “Tidak, tapi sebagai rajamu aku mungkin perlu tahu, apa yang sedang kau lakukan di luar sana. Sedangkan bangsa kita sedang memerangi bangsa-bangsa lain.”
“Aku takkan mengganggu rencanamu.”
“Lalu apa rencanamu?” pancing Kolé.
“Tidak ada,” jawab Yähgé lugas.
“Karena sangat ganjil kau bepergian dengan seorang panglima, jika tidak ada sesuatu yang kalian rencanakan tanpa sepengetahuanku,” seloroh Kolé.
Yähgé tertawa sinis. Pandangan matanya menyapu cepat ke semua dëia yang ada di sana. “Apa yang kau ingin dengar dariku? Sehingga harus disaksikan oleh semua di sini? Menurutku, apa yang ingin kau tahu malah terdengar konyol. Bukankah begitu?”
Gigi-gigi Nihlá bergemelutuk marah. Dia benar-benar benci pada Yähgé yang masih saja berpura-pura acuh tak acuh. Bahkan menutupi niat busuknya untuk menggulingkan tahta sang kakak. Hampir saja dia maju untuk mengajak duel Yähgé, jika Kolé tidak menahan laju langkahnya.
“Aku ingin mendengar kekonyolan itu,” kata Kolé enteng. “Juga semua di sini, apa mereka pun akan memutuskan itu terdengar konyol atau tidak.”
“Apa maksudmu? Jangan bertele-tele,” balas Yähgé.
Sedangkan Gôntra hanya diam, menatap waspada semua sosok yang kini seperti sedang menyidang dirinya juga Yähgé. Pikirannya justru berputar, apa maksud dari Kolé, ada sesuatu yang diketahui oleh sang raja dari rencana Yähgé, dan kini Nihlá juga Kolé justru hendak mengkonfrontir keduanya. Jika memang benar, sebaiknya Yähgé menutup mulut, tidak bicara seenaknya, karena akan membuat masalah menjadi pelik.
“Tidak ada yang kami lakukan di kota manusia, hanya melihat seperti apa di sana. Dan mencari juga memastikan kelemahan bangsa itu, demi keuntungan bangsa kita, Adegaz.” Tiba-tiba Gôntra berbicara. “Jika itu yang ingin kau ketahui, ke mana kami pergi bersama-sama.”
“Yang kudengar lebih dari itu, dari kabar Oroizé,” balas Kolé dingin.
Lalu tangannya memberi isyarat dan sesosok Oroizé keluar dari kerumunan para dëia yang sedang menyaksikan persidangan mendadak sang raja.
Tentu saja Gôntra tersentak kaget, karena sesosok Oroizé tidak memiliki pakaian pasukan khusus. Justru seperti bangsa dëia pada umumnya. Sosok itu pun, mungkin Oroizé yang baru terlihat wajahnya oleh semua orang di sana. Bahkan kemungkinan, wajah yang ditampakkan saat itu oleh sang Oroizé bukan wajah aslinya. Karena para Oroizé, diberi sihir untuk menyamarkan wajah asli mereka.
“Berikan pernyataanmu, maka akan kuputuskan apakah itu adalah hal konyol,” seringai Kolé.
Di saat itu Yähgé dan Gôntra hanya saling menatap sekilas, dan mereka mulai bertanya-tanya dalam benak masing-masing. Bahkan Yähgé berpikir, jika selama ini justru Kolé tengah mengawasinya bahkan menitahkan sesosok Oroizé untuk memata-matai dirinya. Yähgé benar-benar geram.
“Mereka merencanakan untuk menjatuhkan tahta Adegaz yang kini berkuasa, dan menjadikan Panglima Gôntra sebagai pengganti. Di mana Adegazi Yähgé akan menjadi pendamping penguasa,” ucap Oroizé dengan suara datar, bahkan wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa-apa.
Tentu saja hal itu mengejutkan Yähgé dan Gôntra. Bahkan adik mahkota itu hendak mengatakan sesuatu yang keras untuk membela dirinya. Namun, kali ini Gôntra menahan lengan Yähgé. Mereka tidak dalam kondisi ada celah. Seringai Gôntra pun terlihat.
“Benar,” ucapnya tegas. “Karena Yähgé dan aku akan menjadi penguasa yang lebih baik.”
Tentu saja hal itu membuat semua berteriak marah. Namun, jika Yähgé dan Gôntra berkelit dan mencari-cari alasan, mereka bisa-bisa dihabisi saat itu juga. Justru karena memberi tantangan pada Kolé, akan ada banyak klan yang mungkin mempertimbangkan alasan Gôntra juga Yähgé. Di saat itu, Gôntra dan Yähgé akan ditahan terlebih dahulu. Tidak mungkin Kolé langsung menjatuhkan hukuman kematian untuk keduanya.
“Bawa mereka ke tahanan,” titah Kolé.
Persis seperti yang Gôntra duga.
Tanpa banyak perlawanan baik Yähgé maupun Gôntra langsung mengikuti pasukan yang mengawal keduanya untuk dibawa ke ruang tahanan. Suara-suara bergumam tak percaya terdengar, bisikan-bisikan apalagi. Setelah sosok Gôntra dan Yähgé tidak terlihat lagi, bergegas Kolé dan Nihlá kembali ke tempat mereka. Nihlá tampak menahan amarah, sedangkan Kolé merasa sangat terluka. Karena, Kolé sebetulnya tak pernah menyangka bahwa pengkhianatan itu langsung diakui oleh kedua adiknya. Dari kedua pihak keluarga.
*
Di kediaman mereka sementara, tampak Kolé merenung dalam duduknya. Sedangkan Nihlá yang berbaring di atas tempat tidur, menatap pasangan hidupnya dengan perasaan iba. Perempuan itu beranjak dari tidur, lalu melangkah menghampiri Kolé dengan hati-hati. Memeluk dari belakang, menyandarkan kepala pada punggung sang penguasa.
“Yol arto baf foig’haj, no Kóle?”
Itu kata-kata yang diucapkan sama persis, saat kedatangan Len’ Arna menemui Kolé, 450 tahun lalu.
“Jika memang kedua adik kita merencanakan hal itu, aku benar-benar tidak tahu harus memberi keputusan apa pada keduanya,” keluh Kolé.
“Kematian.”
“Kita memang bangsa darah, yang diberikan kekuatan api … akan tetapi perasaan sakit itu tetap terasa. Aku merasa tak sanggup untuk membinasakan keduanya, Nihlá.”
“Jangan tunjukkan kelemahanmu di depan semua,” balas Nihlá. “Jika kau bersikap lunak, maka tidak mungkin akan ada pendukung mereka. Menganggap kau sebagai bangsa dëia yang tidak tegas.”
Namun, tidak ada jawaban apa pun dari Kolé. Hanya embusan napas panjang yang terasa begitu berat. Nihlá melepaskan pelukannya, lalu berdiri di samping suaminya. Menatap pada pemandangan kelam di hadapan mereka, pepohonan yang hangus hancur berantakan. Bukan sesuatu yang sedap dipandang mata, tapi membuktikan betapa bangsa mereka begitu kuat hingga apa pun takkan bisa merintangi.
“Aku jadi ingin tahu, untuk apa keduanya datang ke kota manusia?” gumam Nihlá. “Apa mungkin mereka hendak membuat aliansi? Sulit dipercaya, jika memang benar.”
“Apa pun itu, harus kucegah,” balas Kolé.
“Lalu apa yang akan kau lakukan, no Kolé?”
“Menghancurkan kota manusia, hingga tidak bersisa.”