The Quest for The Lost Inheritors
Penyesalan Sang Centaur
Terdengar siulan nyaring ketika rombongan Takala hampir mencapai gerbang Kota Akriár, sebelum mereka bisa mencapai tuas pengangkat untuk naik ke atas kota di atas pepohonan tinggi, beberapa sosok dryad langsung meluncur turun ke permukaan tanah. Anak-anak panah mereka yang sudah menegang pada busur, ditunjukkan pada ketiga Takala dan para aliansinya.
“Berani-beraninya kalian kembali ke tempat ini, setelah menghancurkan Akishá!” hardik salah satu dryad. “Kematian kalian akan menjadi peringatan bagi kaum dryad, bahwa setiap pengkhianatan akan berakhir dengan kepedihan."
Wédéal maju dan memberi hormat pada para dyrad penjaga. “Kedatanganku kemari karena ada urusan yang sangat penting untuk disampaikan pada ratu Reŷanim. Mengenai permasalahan kalian dengan para Takala, akan lebih baik jika dibicarakan dengan yang mulia ratu.”
Para dryad saling saling berpandangan dan mereka mengangguk. Namun, tetap masih dalam posisi waspada, rombongan aliansi Takala diantar menuju kediaman ratu Reŷanim. Mereka menaiki sarana transportasi yang ditarik oleh tuas, dan naik ke ke kota para dryad.
Begitu para Takala memasuki dalam kota, semua penduduk langsung mengeluarkan senjata yang selalu mereka bawa untuk berjaga-jaga. Keld langsung merasakan ketakutan yang amat sangat, karena semua senjata terhunus seketika pada rombongannya. Namun, para Takala tetap berjalan dengan tegak tanpa rasa gentar. Mereka terus melangkah ke kediaman sang ratu.
Setelah melewati titian, akhirnya mereka tiba di aula ratu Reŷanim. Di sana, sang ratu sedang berdiskusi bersama Gûr’adór, dan tampak terkejut melihat kedatangan para Takala. Tentu saja ratu Reŷanim langsung murka, dia berdiri dan menunjuk kepada para Takala.
“Kalian! Pembawa kematian!” teriaknya marah. “Berani-beraninya kalian kembali, dan membawa manusia ke tempat ini? Ini benar-benar penghinaan besar!”
“Kami datang untuk menyampaikan pesan penting,” sahut Élsus. “Setelah kau mendengarnya wahai Ratu, maka itu keputusanmu untuk mendengarkan kami atau tidak.”
Sedangkan Wédéal sudah hampir-hampir maju saat melihat sosok Gûr’adór. Dia menahan marah, akan tetapi tidak mungkin berbuat seenaknya di kediaman bangsa lain.
“Untuk apa aku mendengar lagi omong kosong? Semua sudah terbuka, bahwa para Takala adalah yang membuat semua musibah terjadi. Mereka bukan yang disebut sebagai pembawa pembaharuan.” Ratu Reŷanim langsung melemparkan belati di hadapan para Takala. “Sebaiknya kalian menghabisi nyawa masing-masing, daripada aku harus mengotori tangan untuk membinasakan kalian bertiga.”
“Mengenai para Takala, itu adalah urusan kalian. Kami hanya ingin Gûr’adór diserahkan, untuk kami adili di Nanduél. Karena bagi kami, dia adalah penyebab semua kekacauan,” seloroh Wédéal.
Lalu Nevêrther maju dan memberi hormat pada ratu Reŷanim. “Aku adalah Néverlër, putri dari Avesdâk Ahrébärn. Aku tertidur dalam jebakan sihir hitam, yang telah dibuat oleh adik ayahku sendiri, yaitu ref Gûr’adór,” tunjuk Néverlër. “Sihir yang kemungkinan sama pengaruhnya dengan yang ia simpan di kota ini. Sehingga pohon Akishá tumbang dan musnah.”
“Omong kosong!” bantah Gûr’adór. Namun, terlihat dari wajahnya begitu pucat. Dia ketakutan. Karena menatap mata sang kakak, Wédéal, yang tak lekang padanya. “Kalian tidak punya bukti apa-apa!”
“Lalu bukti apa yang harus kutunjukkan, ketika kau justru berusaha membunuhku?” tanya Wédéal.
Ratu Reŷanim menatap bingung pada Gûr’adór dan Wédéal bergantian. “Ada apa ini? Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Kita semua tahu bahwa penyebab kehancuran adalah para Takala.”
“Tidak, Yang Mulia, justru mereka yang menyelamatkan Akishá, dan tunas baru yang dititipkan oleh ibu bumi,” sanggah Nevêrther. “Aku melihat sendiri, kejahatan yang dilakukan oleh ref Gûr’adór. Termasuk dia yang telah bersekutu dengan kegelapan.”
Tiba-tiba saja Gûr’adór membuka telapak tangannya, dan mengeluarkan energi hitam besar, sehingga semua yang ada di sana terpelanting. Di saat itu juga, Gûr’adór berderap keluar untuk melarikan diri. Para Takala yang langsung bangkit setelah tersungkur, lantas mengejar Gûr’adór. Bola-bola energi hitam diluncurkan oleh Gûr’adór untuk mengacaukan situasi, agar dia bisa keluar dari dalam Kota Akriár. Para dryad berteriak dan menjerit, karena serangan mendadak dari Gûr’adór itu. Dan itu adalah sihir yang kuat, sehingga banyak dryad yang terluka karena perbuatan centaur yang satu itu.
Gûr’adór naik ke atas alat transportasi dan menekan tuas, setelah itu dia memutus tali agar tidak ada dryad yang bisa mengejarnya. Namun, para dryad sudah terbiasa berlompatan di atas pepohonan, dan mereka bisa mengejar Gûr’adór yang terus berlari entah ke mana arah tujuannya.
Pikiran Gûr’adór, dia hanya ingin bisa melarikan diri dan menemui seseorang yang menjadi sang pimpinan, yaitu Yähgé. Karena hanya Yähgé yang mungkin bisa menyelamatkannya kali ini. Lalu Gûr’adór memusatkan batinnya, berharap Yähgé bisa merasakan kesulitan yang kini sedang centaur itu hadapi.
“Apa kali ini?” Terdengar suara gusar di dalam batin Gûr’adór.
“Semua terungkap, dan aku harus melarikan diri. Tolonglah aku, Ratu. Karena aku tak mau jika harus diadili oleh para dryad, terlebih kaumku sendiri. Bantu aku kabur dari sini.”
“Ceroboh! Bukankah sudah kukatakan, kau harus melakukan semua dalam kehati-hatian. Aku tak mau tahu tentang itu, karena itu kesalahanmu. Lalu untuk apa kau meminta bantuanku?”
“Kumohon, Ratu ….”
“Aku sudah menyelamatkan hidupmu, dan kesempatanmu hanya satu kali. Setelah apa yang terjadi, dan itu akibat ulahmu. Kau tanggung sendiri. Aku tak ingin berurusan dengan makhluk pandir!”
Seperti tali yang terputus, tubuh Gûr’adór tersentak dan melemah. Ada sesuatu yang direnggut dari tubuhnya dengan paksa. Dan dia yang begitu berstamina, mulai melemah. Centaur itu melambatkan langkah, bahkan kini berjalan memaksakan diri tertatih-tatih. Yähgé telah mencabut apa yang dia tanamkan pada Gûr’adór sebelum ini, sehingga kekuatan centaur itu kembali ke semula. Bahkan lebih parah, energinya seolah tersedot habis.
Semakin lama centaur itu tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang melemah, pandangannya mulai mengabur. Rasa sakit seperti mencakar-cakar dari dalam tubuh Gûr’adór. Dia tak tahu apa yang terjadi, dan hanya berusaha untuk tetap tersadar meski bisa bertahan untuk berapa lama.
Sehingga para Takala, dengan mudah menyusul Gûr’adór dan mengkonfrontirnya. Namun, kondisi Gûr’adór sudah memprihatinkan. Dia terduduk lemah bersandar pada sebuah batang pohon, kulitnya pun mulai menghitam, napasnya mulai pendek-pendek. Ketiga Takala menghampiri, memandang tak percaya.
“Apa yang terjadi padanya?” desis Cialla.
“Jangan terlalu dekat,” peringat Can’Ara.
Tangan Gûr’adór menggapai ke arah para Takala. “Maafkan aku.”
“Kau tahu, bahwa apa yang kau perbuat sebetulnya tidak termaafkan,” kata Can’Eru.
Centaur tua itu mengangguk-angguk mengiyakan. “Aku terpaksa melakukannya. Karena aku hanya menjalankan perintah. Dari tuanku, seorang bangsa dëia.”
“Tapi bagaimana bisa?” Mata Cialla membelalak. “Jadi kau selama ini tahu bahwa bangsa mereka sudah berada di bawah bayangan, dan tengah mengincar kami semua?”
“Aku tidak bisa menolak permintaannya, karena dia yang telah menyelamatkan nyawaku.” Mata Gûr’adór menerawang. “Meski aku penuh penyesalan, dan perbuatanku sudah begitu hina. Tapi, satu hal yang pasti, aku hanya ingin mempertahankan apa yang pernah kau punya.”
“Kau justru menghancurkan itu semua, Gûr’adór!” pekik Cialla kesal.
Air mata meleleh jatuh membasahi pipi sang centaur, yang wajahnya pun mulai menghitam. “Kumohon, selamatkan semua. Hanya itu permintaanku.”
Lalu tubuh Gûr’adór berubah menjadi arang yang pekat, membuat para Takala memekik saking terkejut melihat apa yang tengah terjadi. Penyesalan akhir dari sang centaur, yang mungkin akan terus terbawa oleh rohnya yang telah pergi meninggalkan jasad. Namun, di akhir Gûr’adór pun mengakui kesalahannya. Atas itu, para Takala masih menghormatinya.
“Semoga dia tenang di alam Fiamäl,” bisik para Takala.
*****
“Kita tidak mungkin tinggal di sini lagi, karena batu hitam itu sudah membuat tanah dan alam di sini korup," desah ratu Reŷanim yang duduk di singgasananya. “Dalam waktu dekat, kita harus segera pergi, atau semua dryadan akan mengalami teror yang lebih mengerikan.”
“Selama tunas dari Akishá ada, kita bisa tinggal di mana pun, Yang Mulia,” balas Can’Ara.
“Kau benar,” angguk ratu Reŷanim setuju.
Setelah kematian tragis Gûr’adór, akhirnya ratu Reŷanim menyadari kekeliruannya. Dia meminta maaf kepada para Takala, dan tidak lagi bersikap memusuhi. Namun, para dryad pun di hadapkan pada masa sulit, karena tinggal di Akriár seperti menunggu maut yang akan datang. Alam di sana mulai merubah, dan daun-daun mulai berguguran, membuat pepohonan dalam ajang kematian. Sehingga para dryad harus pergi dari sana dan mencari tempat untuk menumbuhkan tunas Akishá. Sayangnya, untuk saat itu mereka pun harus menghadapi bangsa dëia. Akan menjadi hal yang sia-sia, jika para dryad berlari dan mencari tempat sembunyi untuk membangun kota secara diam-diam. Sedangkan bangsa api itu, tentu lambat laun akan tetap mencari dan membinasakan mereka.
“Namun, kita harus mengesampingkan untuk membangun kota baru,” putus ratu Reŷanim. “Yang harus kita pikirkan adalah, bersatu dengan bangsa lain, untuk memerangi dëia. Bangsa kami belum pernah melihat atau berurusan dengan bangsa yang sudah kami pikir tiada, tapi nyatanya, kami harus melawan mereka.”
“Semua centaurlan sudah pergi ke Cilticpën untuk menyelamatkan para nymph, dan bergegas menuju ke kota para dwarf. Kami berharap mereka masih bisa bertahan dan melarikan diri,” tutur Wédéal.
“Maka kami pun akan menyusul ke sana,” kata ratu Reŷanim tegas.
Keld menyentuh lengan Élsus. “Lalu bagaimana dengan kotaku, Tuan Élsus?”
“Ada apa manusia?” Tiba-tiba ratu Reŷanim melihat perubahan wajah muram Keld. “Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?”
Dengan takut-takut Keld memberi hormat dan membungkuk sebentar. “Ada pun perasaan cemas yang bergelayut di hatiku, Yang Mulia. Bahwa bangsa kami pun, memiliki kemelut yang sama. Kami sudah didatangi bangsa dëia, dan entah kapan mereka akan menyerang.”
“Oh, astaga! Ini lebih mengerikan dari yang kukira.” Sang ratu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Meski kalian bangsa yang sebetulnya kami tak suka, kami takkan mungkin mengabaikan bangsa kalian.”
Keld tertunduk sedih.
“Jangan risau, wahai manusia. Tapi, kami dalam ketergesaan menuju kota para nymph dan dwarf. Setelah kami melakukan penyelamatan, aku dan kaumku akan datang menuju kota manusia,” sahut Reŷanim.
“Bagaimana jika kami datang bersama Keld dan Élsus menuju kota manusia. Jika itu bisa membuat perasaan Keld lebih baik?” usul Cialla. “Karena bagaimana pun, berkat dia, para centaur bisa terbebas dari kutukan yang telah dibuat oleh Gûr’adór.”
Ratu Reŷanim mengangguk-angguk paham. “Kurasa itu ide yang cemerlang. Sehingga manusia bisa bersiap untuk melawan apa pun yang mungkin akan dilakukan oleh bangsa dëia, dan kami akan segera datang untuk membawa bala bantuan.”
“Terima kasih,” sahut Keld penuh rasa syukur.
“Maka diputuskan, esok kita berangkat.” Seulas senyum ditunjukkan oleh ratu Reŷanim.