The Quest for The Lost Inheritors
Ditemukannya Serpihan-Serpihan yang Menghilang
Menatap adanya makhluk lain, selain elf, lalu kini makhluk ajaib lainnya ada di depan mata dalam waktu yang tidak lama, membuat Keld Fielgreen seolah berada hidup di dalam mimpi. Namun, dia harus terbiasa dengan hal ini, karena kemunculan cerita maupun legenda yang hanya didengarnya dari kisah masa kecil (bahkan dia pun menceritakan pada putra-putranya), pertanda ada hal buruk yang tengah terjadi.
Mereka berkumpul di pondok milik Élsus, untuk mendengar kisah Keld. Menurut pria tua itu, baik centaur dan dryad bukan makhluk yang buruk. Mereka memang sering menatap Keld penuh curiga, tapi tidak serta merta juga hendak menghabisinya di saat itu juga. Pondok milik Élsus sangat sederhana. Di dalamnya hanya ada pembaringan dari kayu, tungku, lantainya terbuat dari kayu yang begitu licin, dan mengkilap. Semua berkumpul, di dekat tungku. Di mana Élsus sibuk membagi-bagikan buah untuk mereka nikmati sebagai makan malam yang terlalu dini.
“Lalu di mana Aldérin kini?” tanya Élsus dan ia duduk di samping Keld. “Apa dia dan Findarel baik-baik saja?”
Keld mengangguk. “Demi langit, tentu saja keberuntungan berada di pihaknya. Meski ada masalah sangat besar terjadi di kota kami. Tuan Aldérin sempat disekap, tapi dia berhasil untuk melarikan diri.”
“Dia mengalami apa yang kita alami,” gumam Can’Ara. “Kuharap bukan karena sosok seperti Gûr’adór.” Terdengar suaranya seperti menahan amarah.
Keld menatap pada ketiga dryad dengan kebingungan. Sedangkan Wédéal dan Néverlër justru menunjukkan mimik wajah yang penuh sesal juga sedih. Namun, Élsus segera mengalihkan lagi perhatian Keld, agar lelaki dari Hail itu meneruskan kisahnya.
“Aku akan menceritakan tentang hal itu nanti, Tuan Fielgreen. Lanjutkan kisahmu,” titah Élsus. “Kau akan mendengar semuanya, tapi tidak sekarang.”
“Oh, baiklah,” angguk Keld. “Aku adalah penjaga di penjara Kota Hail, dan tuan Aldérin, menjadi tahanan karena tuduhan dari hakim agung di kota kami. Kupikir, memang dia bersalah dan mungkin termasuk kawanan penjahat.”
“Kau tidak bisa merasakan dan melihat aura dari para elfelar?” Mata Can’Eru membelalak.
“Aku tidak tahu,” cicit Keld sembari tertunduk.
Dia benar-benar takut pada ketiga Takala yang bertubuh tinggi semampai, meski tampak kurus, tapi otot-otot para dryad memang terlihat kokoh, belum lagi senjata yang selalu mereka bawa. Begitu mengintimidasi.
“Tentu saja Tuan Keld tidak memahami apa-apa, manusia tidak diberikan kelebihan lain seperti bangsaku atau bangsamu,” timpal Néverlër. “Kau tidak bisa menyalahkan kaumnya, karena mereka bangsa ceroboh dan mudah tergesa-gesa.”
Keld benar-benar takut, karena berada di situasi yang ganjil seperti itu. Makhluk lain yang bisa menggunakan bahasa manusia. Sedangkan Keld sama sekali tak tahu apa pun, hanya berbekal dari kepercayaan Aldérin, dia pun pergi mencari Élsus. Dia berusaha fokus akan apa yang hendak ia sampaikan.
“Tuan Keld, kami menunggu kisahmu,” ucap Wédéal dengan suara yang berat dan dingin.
“Ah, ya betul.” Keld mengelap titik-titik keringat di dahinya. “Lalu, tuan Aldérin mengungkap jati dirinya padaku, karena dia tahu ada dua sosok dëia datang ke kota kami. Dia meminta bantuan dariku, agar bisa memperingatkan raja.”
“Bukankah dëia itu makhluk tinggi besar? Bahkan lebih besar dari kaum kami,” gumam Nevêrther. “Mereka bisa masuk ke kotamu? Tanpa peringatan apa pun?”
“Mereka menyamar, memakai bentuk manusia. Entahlah, aku tak memahaminya. Karena salah satunya pun, justru menjebakku. Dia membawa tuan Aldérin keluar dari penjara, sedangkan aku diberi semacam obat lelap.
“Namun, akhirnya kutemukan lagi tuan Aldérin saat aku hendak ke luar kota di utara, menuju ke tempat penginapan. Di sana, terjadi hal yang mengerikan. Temanku tewas, juga pemuda yang sering membantuku, dia tewas terbakar saat di kota. Ah, aku benar-benar sedih juga mengingatnya. Hanya saja, aku dalam ketergesaan karena peringatan dari tuan Aldérin,” tutur Keld.
“Bahwa bangsa dëia sudah datang ke kotamu, dan mereka bisa jadi kembali ke sana,” gumam Élsus.
Keld mengangguk. “Aku ingin meminta bantuan, untuk meyakinkan raja kami. Dan mencari bantuan pasukan, untuk mempertahankan kota. Karena bangsa dëia ini, pasti sangat sulit untuk dikalahkan.”
“Bahkan kota para elf pun dibumihanguskan, Tuan.” Cialla menatap skeptis pada Keld. “Kau berharap bangsa-bangsa kami pun, yang sudah tercerai-berai, bisa membantu manusia?”
“Cialla, dia datang ke sini karena Aldérin telah memberikan kepercayaan, dan yakin bahwa kita mampu untuk saling membantu satu sama lain,” sergah Élsus. “Karena itu dia mengirimkan Tuan Keld jauh-jauh untuk menempuh risiko datang ke kediamanku.”
“Bangsa kami pun berada di bawah pengaruh sihir hitam. Bahkan kami tak tahu bagaimana untuk patahkan kutukan mengerikan itu.” Wédéal tampak gusar. “Jika saja masih ada kekuatan para elf yang bisa menghancurkan daya magis jahat batu tersebut, aku akan pastikan untuk membantu bangsa mana pun yang memerangi dëia.”
“Kau sedang terluka, sebaiknya pulihkan dulu kondisi tubuhmu, Ref Wédéal,” ucap Néverlër. “Kita pasti bisa mendapatkan kekuatan baik, agar sihir hitam itu musnah.”
“Lalu ke utara, jadi Aldérin tetap pergi menuju kota para nymph?” tanya Can’Eru. “Untuk menyucikan lagi kedua batu Satera dan Ratera? Aku tahu dia dalam misi sangat penting, tapi berkeliaran ke sana-ke mari sedangkan kita semua dalam keadaan genting, itu terdengar mulai konyol bagiku.”
“Aldérin memiliki tugas yang lebih berat, banyak yang menggantungkan nasib bangsa di pundaknya.” Cialla menyanggah. “Yang harus kita lakukan sekarang, adalah membuat ringan apa yang justru sedang Aldérin cari. Semoga dia berhasil dan tepat pada waktunya.”
Élsus mengangguk-angguk. “Aku pun takkan mungkin untuk mencari Aldérin dan menyusulnya ke utara. Kita memiliki masalah yang juga cukup pelik di sini. Karena, kita harus meyakinkan ratu Reŷanim agar ia sadar, bahwa bahaya sudah di depan mata. Dan melepaskan sihir dari para centaur di Nanduél.”
“Jadi kalian tidak bisa membantu kami di Hail?” Keld mulai kelihatan cemas.
“Jika saja kami memiliki sesuatu, yang memiliki kekuatan dari bangsa elf,” gumam Élsus pelan.
Keld Fielgreen tiba-tiba menyodorkan gelang milik Aldérin, yang dititipkan elf dari Lamvorels itu sebagai tanda pengenal kepada Élsus.
“Aku tidak tahu, apa ini pertanda sesuatu Tuan Élsus,” ucap Keld. “Namun, tuan Aldérin memberikannya untuk kubawa. Entah apakah bisa membantu. Dia tidak menjelaskan secara rinci, akan tetapi ini adalah miliknya.”
“Ah, gelang milik Aldérin.” Mata Élsus terbelalak karena merasa senang. “Kenapa aku sampai melupakan tentang ini. Kita mungkin bisa mencobanya esok, ke Nanduél.”
Ketiga Takala mendengkus sembari menggeleng-gelengkan kepala mereka. “Benda sekecil itu? Jangan bergurau Élsus,” kata Cialla. “Yang kita hadapi di Nanduél, itu sesuatu yang bisa membuat kaum centaur bahkan tidak bisa melawannya.”
Can’Ara terkekeh pelan. “Jadi kau meremehkan kekuatan para elf, Cialla?”
“Tidak,” sanggah Cialla. “Tapi sihir hitam di Nanduél lebih besar daripada kekuatan gelang itu.”
“Kita coba saja, tidak ada salahnya, bukan?” Can’Eru menatap tiap-tiap sosok yang ada sekitarnya.
“Kenapa tidak sekarang saja?” saran Néverlër.
Élsus menggeleng tegas. Lalu dia bertutur,
“Para elf memang memiliki ikatan tersendiri dengan kekuatan bulan. Bahkan, yang kutahu dari Aldérin beberapa elf memiliki energi magis yang mereka dapatkan dari sinar rembulan. Akan tetapi, itu berlaku bagi para elf, bukan aku, kau, dan kita semua yang ada di sini.
“Dan kita semua ketahui, bahwa sihir hitam, selalu mengambil kekuatan dari hal-hal yang gelap dan tersembunyi. Yang kutakutkan, ketika kita datang di malam hari dan memaksakan untuk menyingkirkan sihir, justru kita yang terperangkap oleh kekuatan kegelapan.”
Keld merapatkan mantel yang dikenakannya, entah karena udara malam sudah datang atau kisah sihir hitam ini membuat hati lelaki itu terguncang. Karena selama ini, belum pernah Keld berurusan bahkan beririsan dengan sesuatu yang bernama sihir.
“Baiklah, jika memang esok. Maka pagi-pagi begitu sinar matahari muncul, kita sudah tiba di Nanduél,” ucap Néverlër yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan kaumnya.
“Wédéal dan Tuan Keld sebaiknya menunggu di sini, karena Wédéal pun masih dalam masa pemulihan. Aku tak mau dia terlalu lelah, dan membuat luka di tubuhnya susah untuk sembuh.” Élsus menatap khawatir pada Wédéal. “Kau tidak perlu khawatir, kami bisa mengatasi hal ini,” tambahnya.
Namun, Wédéal menggeleng tegas. “Aku ingin ikut. Aku tak ingin ditinggalkan dan tak tahu apa-apa.”
“Ref, kau jangan bersikeras.” Néverlër menggelengkan kepala.
“A-aku juga. Sebaiknya aku ikut,” kata Keld pelan. “Ini karena janjiku pada tuan Aldérin.”
“Jujur saja aku setuju manusia ini ikut. Mungkin dia ada gunanya saat kita tiba di Nanduél nanti.” Cialla melirik penuh antusias pada Keld. “Kita tak pernah tahu, tubuhnya bisa kita jadikan wadah penampun sihir hitam agar hilang dari Nanduél.”
“Cialla!” peringat Can’Ara. Dan dia bisa melihat raut wajah Keld seputih salju, karena gugup dan ketakutan. “Tidak, dia hanya bergurau. Mana mungkin kami membiarkan hal itu. Jangan hiraukan Cialla.”
Keld hanya menelan ludah sembari mengangguk.
“Jadi kau tetap bersikeras akan ikut?” tanya Cialla meyakinkan Keld.
Lagi-lagi Keld mengangguk mengiyakan. “Kuharap aku bisa membantu sesuatu. Hanya itu saja.”
“Kalian harus mengikatku jika tak ingin aku pergi dari sini,” timpal Wédéal setengah mengancam.
Tiba-tiba seutas tali sudah mengikat keempat kaki milik Wédéal, ada senyum jail ditunjukkan oleh Can’Eru. “Aku sudah mengikatmu. Apa kau bisa lepas dari ikatanku?”
“Ada apa dengan kalian, hentikan semua ini,” peringat Can’Eru.
Can’Ara terkekeh pelan sembari melepaskan ikatan talinya pada Wédéal. Untung saja Wédéal lebih bijak, dan menghadapi para Takala seperti berhadapan dengan anak-anak. Jadi dia tidak tersinggung sama sekali. Keld seperti melihat pemandangan yang biasa dilihatnya di Warren’s Hut, hanya sosok-sosoknya saja yang tampak asing dan ganjil.
“Oh, astaga … makhluk-makhluk keras kepala,” keluh Élsus. “Namun, baiklah. Jika memang kita semua harus pergi bersama-sama, ingat kita harus saling menjaga satu dengan yang lain.”
“Jika tidak berhasil. Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Néverlër.
“Kurasa, kita harus menyusul Aldérin, dan melakukan perjalanan yang jauh ke utara,” balas Élsus.