The Quest for The Lost Inheritors

Kisah Para Takala dan Élsus

Di malam ke-3, malam di mana para Takala ditahan oleh kaumnya sendiri, sesuatu terjadi pada pohon Akishá. Induk dari para dryad itu, menunjukkan keajaibannya setelah ratusan tahun membisu dan tak pernah memperdengarkan suaranya di batin para dryad.

Ya! Suara dari Akishá menyentuh batin para Takala, putri-putrinya, dan mencurahkan segala penderitaan yang ia alami selama ini.

“Putri-putriku, sesuatu yang dingin, gelap dan jahat, tertanam di dasar sumber hidup kita. Mencemari air yang kureguk, meracuni akar-akarku, membunuh helai-helai dedaunan yang menjadi selimutku. Kematian membayangi jiwaku yang tak berdaya.

“Bahkan, ketika kalian kulahirkan, tubuhku telah merasakan kekelaman merayap dan masuk menyelusup melalui udara yang kuhirup. Oleh karena itulah, pada saat itu juga kuserahkan segenap kekuatanku kepada kalian, agar kalian menjadi penyelamat bagi seluruh keturunanku dan putri-putriku yang lain. Hingga aku melemah dan tertidur lelap. Begitu pulasnya, hingga tak kusadari ada sosok yang amat kejam menanamkan bibit maut pada sumber kehidupanku, sumber air kita.

“Aku tak memiliki daya untuk melawannya, bahkan batinku terkunci hanya sekedar tuk menyampaikan rasa sakit ini kepada kalian. Terlebih saat salah satu dari kalian dipisahkan, tubuhku seolah terbelah-belah, rasa sakit menyayat tiada tara.

“Namun, kini kalian telah bersatu kembali dan membawa tekad yang memberikan satu kekuatan terakhir bagiku agar dapat bangkit untuk terakhir kalinya. Maka kukatakan kini dengan segenap hatiku yang dipenuhi kebahagiaan dan kelegaan. Lakukanlah, apa yang harus laksanakan Cialla, Can’Eru dan Can’Ara. Ikuti kata hati kalian …

“Karena Cialla; yang penuh berkah, Can’Ara; yang penuh tekad kuat, juga Can’Eru; yang penuh pengorbanan, akan menjadi ibu dari para dryadan, kelak. Jangan ragu akan bayangan gelap, jangan goyah karena bisikan jahat, tetap melangkahlah, jangan takut.

“Hancurkan benda terkutuk itu hingga menjadi debu dan hilang dari muka bumi ini. Selamatkanlah, apa-apa yang tumbuh dan berkembang di dunia, para Takala. Aku dan juga keempat putriku yang lain, mendoakan selalu atas keselamatan kalian ….”

Itulah yang pertama kali dipaparkan oleh Cialla (yang sesekali disisipi oleh Can’Ara dan Can’Eru) mengenai kedatangan mereka ke kediaman Elsus. Setelah sebelumnya Can’Eru menceritakan pengalaman mereka ditangkap dan ditahan akibat ulah Gûr’adór. Dan kini adalah giliran Can’Ara meneruskan kisah mereka yang ajaib setelah mendapat bisikan dari induk pohon Akishá.

Can’Ara memulai kisahnya dari pintu penjara yang mendadak terbuka dan penjaganya diserang kantuk hebat, sehingga mereka semua tertidur pulas. Dengan mudah para Takala bisa keluar dan menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka pun bergegas menuju ke sumber air atas petunjuk dari induk mereka, Akishá.

Di sana, mereka memang menemukan sesuatu. Yaitu sebuah batu berkilauan berwarna hitam. Memang tidak tampak jika hanya dilihat sekilas, karena batu tersebut terletak di dasar sumber air, akan tetapi jika diteliti lebih lama, batu itu bisa terlihat. Dan sangatlah sulit sekali hanya untuk mengambil batu tersebut, karena entah mengapa, tenaga dalam tubuh mereka, terasa terkuras cepat saat menyentuhnya. Ketiga Takala baru bisa mengambil batu tersebut, setelah mereka menyelam bersama-sama dan menyentuh batu tersebut secara berbarengan. Setelah terambil, si batu mereka masukkan ke dalam kantung kulit dipenuhi mantra pelindung. Lalu mereka keluar dari sumber air, dan segera pergi menuju ke tempat induk pohon Akishá.

Sang induk memerintahkan ketiganya untuk menyelamatkan tunas terakhir yang baru saja ia lahirkan, karena hidupnya sudah akan berakhir. Dan begitulah, setelah tunas akhir dibawa oleh Cialla, suara pohon induk tak lagi terdengar. Yang terjadi adalah, ranting dan dahannya mulai patah, lalu sang induk memperdengarkan suara terakhirnya,

Debaman roboh, diikuti keempat tunasnya yang lain.

Akishá awal dan tunas-tunasnya yang telah hidup puluhan ribu tahun, kini mati.

Di tengah kengerian dan kepanikan itu, para Takala dengan mudah melarikan diri dan lolos dari pengawasan para dryad lainnya. Mereka pun memutuskan untuk pergi menuju ke kediaman Élsus, karena tidak ada lagi yang dapat mereka percayai selain kawan lama dari Aldérin itu.

*

Apa yang dipaparkan oleh Élsus pun tak kalah menarik. Setelah kepergian Aldérin dari rumahnya, ia memutuskan untuk berangkat ke Akriár keesokan harinya. Setelah mencapai setengah perjalanan, tiba-tiba saja roh Tar muncul di hadapan Élsus dan memintanya agar segera mengalihkan perjalanan menuju reruntuhan Éba. Entah apa maksud Tar, akan tetapi roh itu bersikeras supaya Élsus berangkat kesana tanpa perlu menanyakan penyebabnya.

Setelah tiga hari melakukan perjalanan ke Éba, Élsus menemukan sosok Wédéal yang terbaring di dekat pintu masuk reruntuhan dengan keadaan mengenaskan, untunglah centaur itu masih sadar dan memperingatkan Élsus akan Gûr’adór, centaur itu meminta agar Élsus memberi peringatan kepada para dryad dan saudara-saudaranya di kota Halrunën juga kota Nanduél, bahwa bahaya tengah disebarkan oleh saudara kandungnya tersebut.

Élsus tak mengindahkan permintaan Wédéal, yang Élsus lakukan adalah membawa si centaur itu keluar dari Eba. Dan sepanjang perjalanan, Wédéal menceritakan perbuatan dari Gûr’adór yang takkan mungkin termaafkan. Namun, lambat laun kesehatan Wédéal semakin menurun, rupanya Wédéal mengalami luka dalam, akibat racun dari belati, yang dengan tega ditusukkan oleh Gûr’adór ke perutnya. Hampir seluruh tenaga Élsus terkuras habis untuk mengeluarkan racun dari tubuh Wédéal, beruntung roh Tar dengan baik hati mau membantu Élsus dengan menyumbangkan kekuatan dari hutannya untuk Élsus.

Dan menurut penuturan Wédéal, ia belum pernah menginjakkan kakinya ke Nanduél. Hanya Gûr’adór dan centaur-centaur yang mengungsi ke sana, anehnya … hanya Gûr’adór yang selalu datang ke Akriár, tidak pernah ada centaur lain yang muncul. Selain itu pun, Wédéal mengalami kesulitan jika ia hendak berbicara dengan Cialla, satu-satunya dryad yang menjadi pemandu para centaur ke kota baru mereka, Nanduél. Seolah-olah Gûr’adór sengaja menghalangi langkahnya untuk menemui salah satu dari Takala tersebut.

Lalu para utusan yang dikirim dari Halrunën (menurut dugaan Wédéal), semuanya dibunuh oleh Gûr’adór, dan rohnya diikat oleh Gûr’adór agar mereka menjadi pengawal pribadi adik dari Avesdâk itu. Karena Wédéal telah melihat buktinya saat di Éba, ia tengah dikepung oleh pasukan makhluk halus berwujud kaumnya, sampai pada akhirnya Wédéal tak mampu mengelak dan ditusuk oleh Gûr’adór.

Gûr’adór memang memiliki ilmu sihir, akan tetapi sihir hitam dan sekuat itu, bukanlah hal yang pernah diajarkan oleh para tetua para centaur, ia pasti mendapatkannya dari sosok lain. Sosok yang jahat, sayang tidak diketahui siapa sebenarnya.

Maka oleh sebab itulah, Gûr’adór bisa dengan mudah membunuh utusan dari Halrunën tanpa ia perlu bersusah payah pergi ke reruntuhan Éba atau ke perbatasan hutan Elethäs, hanya sekedar untuk menghabisi mereka. Pasukan mautnya, bisa mengerjakannya dengan mudah dan singkat, karena sifat dari roh yang tak mengenal ruang juga waktu.

Élsus pun menceritakan pertemuannya dengan Aldérin dan bangsa dëia yang mungkin mengancam keberadaan para manusia. Oleh karena itu, jika Wédéal sudah lebih baik dan segala hal yang berhubungan dengan pengkhianatan Gûr’adór, maupun keberadaan Nanduél sudah lebih jelas, Élsus hendak berkunjung ke Hail dan mencari tahu apa yang tengah terjadi di sana. Karena bagaimanapun juga, kota itu adalah tempat ia dilahirkan sebagai manusia. Ada kekhawatiran tersendiri di batin Élsus saat mengingatnya.

Hal ini disetujui para Takala tanpa banyak pertimbangan.

Bagaimanapun, yang dibutuhkan saat ini adalah persatuan dan kepercayaan.

*

Wédéal hanya menatap batu hitam yang tergeletak di lantai kayu itu dengan marah, ia meminta agar Cialla memasukkannya kembali ke dalam kantung dan menghancurkannya hingga menjadi debu. Ada rasa sesak di dadanya ketika mengingat-ingat kembali wujud dari batu jenis yang sama, yang pernah ada di sumber air di Halrunën, dan sayangnya, tak sempat ia hancurkan karena berpikir itu bukanlah batu yang menyebabkan kematian alam.

“Kami menduga, bahwa batu ini disebarkan oleh Gûr’adór, Wédéal,” ujar Can’Ara. Dia pun menatap centaur itu. “Maaf, kami tak bermaksud menuduhnya, akan tetapi … sebelum dia datang ke Akriár, kami tak pernah melihat satu dari jenis batu ini di sumber air kami.”

“Tuduhanmu itu mengarah ke arah yang benar, aku takkan menyangkalnya,” sahut Wédéal. “Namun aku tak habis pikir, apabila memang Gûr’adór melakukan itu. Apa yang ia kejar? Kekuasaan? Sampai begitukah ambisi yang ingin ia capai?”

“Sebaiknya kita telusuri ini dengan hati-hati, kita tak mungkin menyalahkan Gûr’adór,” ujar Élsus. “Pencapaian ambisi sebesar apa pun, takkan menggelapkan mata seorang yang konon dikenal welas asih dan bijak di klannya. Percayalah, Wédéal. Kurasa Gûr’adór ada yang mengendalikan, dan kita harus mencari tahu, siapa yang menjadi tuannya.”

Wédéal memukulkan kepalan tangannya ke dinding. “Aku harus segera pergi dari sini, dan meminta penjelasan dari Gûr’adór sebelum kupenggal kepalanya!!”

“Kau baru saja sembuh dari sakit, ini baru delapan hari semenjak kau dirawat,” sahut Cialla. “Racun yang ditimbulkan oleh belati Gûr’adór baru akan hilang setelah sepuluh hari. Bersabarlah sedikit. Jika kau memaksakan diri, racun itu akan kembali berkembang dan percayalah, dibutuhkan lebih dari sepuluh hari untuk menghilangkannya!”

“Ancaman yang sangat menakutkan,” komentar Élsus, sembari terkekeh.

Tiba-tiba saja Can’Eru berdiri dari duduknya, wajahnya mendongak keluar diliputi rasa cemas. Kedua Takala yang lain merasakan hal sama, begitu pun juga dengan Élsus, kecuali Wédéal, yang sama sekali tak mengerti, dengan tingkah mereka semua.

“Riakan air terdengar sangat ganjil,” gumam Can’Ara. “Banyak nyawa dalam bahaya.”

“Sesuatu terjadi di Akriár?” tanya Wédéal, ia terbawa cemas.

Cialla menundukkan wajahnya seolah berduka dalam. “Bukan, bukan di sana,” bibirnya yang mungil bergetar hebat. “Tapi di Cilticpën, kota nymph air.”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya, padahal kau tak pernah menginjakkan kaki di kota bangsa yang terkenal sangat melindungi wilayahnya?” ujar Wédéal.

“Tapi itu memang benar!! Mereka dalam bahaya!!” seru Cialla.

Élsus mendesah pelan, terpekur dalam duduknya. “Titelénta mengucapkan perpisahan kepada kami semua melalui riakan air. Ia meleburkan dirinya untuk menjadi pelindung terakhir bagi bangsanya,” ujarnya lirih. “Dia memohon agar bangsanya diselamatkan, dan jika dalam tiga belas hari ke depan tak ada yang mengulurkan bantuannya, perlindungan yang ia lakukan akan pecah, dan bangsa dëia akan memasuki kotanya.”

Wédéal terlonjak dari tempat tidur. “Dan kita harus segera ke Nanduél juga Akriár! Aku takkan berdiam diri melihat sahabat dari kaum kami dibantai oleh bangsa api. Tidak ada waktu untuk berpikir,” ia menegaskan. “Aku yang akan menghadapi Gûr’adór!!”

“Tidak, tidak, tidak,” tolak Can’Eru. “Sembuhkanlah dirimu sendiri, dan kami yang akan pergi ke Nanduél, barulah setelah kau baik, kita semua berangkat ke Akriár.”

“Aku setuju itu,” ujar Néverlër, yang sekarang sudah ada di antara mereka. “Kau tidak boleh bepergian sebelum sembuh benar, Ref Wédéal. Kumohon, demi cucumu yang kelak akan lahir ke dunia ini,” ia berkata sembari mengusap perutnya.

“Nanduél tidak bisa dimasuki oleh dryad,” kata Cialla, tiba-tiba. “Ada yang menyimpan sihir di gerbangnya sehingga bangsa kami tak bisa memasukinya. Hanya para centaur yang bisa. Dan kurasa, sihir itu dirapal oleh Gûr’adór.”

“Kalau begitu aku saja yang pergi,” ujar Néverlër. Wédéal menunjukkan gelagat sama sekali tak setuju, terlebih setelah ia mendengar dugaan Cialla bahwa mungkin saja yang menyimpan sihir tersebut adalah Gûr’adór. Namun Néverlër segera meneruskan, “Aku pernah mengalami hari yang jauh lebih buruk dari sekedar mengunjungi kota, Ref. Kau tak perlu mengkhawatirkanku.”

“Aku yang akan mengawalmu, Néverlër,” ujar Élsus. “Dan sebaiknya, kita pergi esok, pagi-pagi sekali. Bagaimana?” tanya druid itu. Néverlër mengangguk setuju.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!