The Quest for The Lost Inheritors
Selepas Pine Tower
Terdengar derakan-derakan keras pada dinding-dinding Pine Tower, tak lama muncul titik-titik es yang keluar melalui retakan-retakan pada dinding luar. Dalam hitungan yang begitu singkat, es menyelimuti bangunan Pine Tower. Tak ada yang mampu mencegah, bahkan Keld dan Horen pun hanya mematung, karena tak percaya apa yang mereka lihat.
Sayangnya, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Crusel, ia menyelinap pergi ke istal, yang letaknya di sisi sebelah kiri Pine Tower, lalu ia mengambil kudanya dan segera memacu laju sang kuda untuk kembali ke Hail. Baik Keld maupun Horen tak bisa menahan kepergiannya, Keld dan Horen tentu tak mungkin meninggalkan Lya sendirian di tempat itu dalam keadaan tak sadarkan diri, sedangkan mereka sibuk mengejar Crusel.
Lalu tak lama kemudian, setelah benar-benar menjadi bangunan es yang mengepulkan uap-uap beku, pintu masuk ke Pine Tower berderak dan terbuka. Dari dalam, muncul Aldérin yang memapah Findarel, keduanya tak cedera sedikit pun. Aldérin melihat Keld dan Horen duduk di permukaan tanah, menjaga Lya. Sedangkan tanda-tanda Crusel sama sekali tak dilihatnya.
“Tuan Keld, Tuan Horen, apa kalian baik-baik saja?” tanya Aldérin.
“Kami baik-baik saja,” jawab Keld, lalu ia bergegas berdiri dan menghampiri Aldérin juga Findarel. Meski raut wajahnya masih menunjukkan ketidakpercayaan, Keld masih bisa mengatur emosinya. “Lya belum sadar, akan tetapi kurasa ia baik-baik saja. Dan Tuan Muda Findarel, astaga! Kau kelihatan lebih sehat dari sebelumnya!”
Raut wajah Findarel masih terlihat pucat, tetapi senyumannya yang lebar dan manis, menunjukkan bahwa dia sudah sembuh sepenuhnya. Bocah itu segera menghampiri Lya, dan menunggui gadis itu untuk siuman.
“Kami membiarkan si pengecut itu pergi.” Begitu yang dikatakan oleh Keld pada Aldérin mengenai hilangnya Crusel di antara mereka. “Seharusnya ia kuikat sejak awal, kalau perlu kubunuh! Namun perhatianku teralih pada Lya. Bedebah busuk itu kini melarikan diri!” Keld pun meludah setelah mengatakan itu semua.
“Dan biarkanlah dia pergi, Tuan,” sahut Alderin. “Adalah tindakan yang sia-sia apabila kita membunuhnya. Dia tak pantas untuk itu. Yang harus kita khawatirkan adalah orang-orang yang mungkin akan menjadi korban karena termakan hasutan Crusel. Dan aku pun mengkhawatirkan adanya ancaman untuk kalian bertiga; kau, Horen juga Lya.”
“Jika memang hakim agung Crusel Fardrown itu memiliki keberanian melakukannya, aku takkan gentar! Tubuhku ini masih sanggup untuk menghadapinya,” Keld bersikeras.
Horen berdehem keras. “Lalu siapa yang akan bertanggung jawab dengan kerusakan penginapanku?” tanyanya. “Dan astaga!! Apa yang tengah terjadi di dunia ini? Aku tahu, aku tua dan pikun! Tapi lihat!!” Lagi-lagi Horen menunjuk pada bangunan penginapannya. “Itu bukan khayalan! Rumahku, hidup yang kujalani selama ini hancur oleh sihir!!”
“Tenanglah Horen,” hibur Keld, ada perasaan bersalah menyusup di batinnya. “Aku akan menceritakan segalanya dari awal. Nah, duduklah dan beristirahat ….”
“Sebaiknya kau menceritakan alasan yang bagus, Fielgreen!”
Di dalam ketegangan itu, Keld menceritakan apa yang diketahuinya diselingi sisipan dari Aldérin juga Findarel. Si tua Horen berkali-kali berbisik, “Demi langit!” karena selama hidupnya belum pernah sekalipun mendapatkan pengalaman aneh. Terlebih, dongeng di masa kanak-kanaknya tentang makhluk ajaib, kini menjadi sebuah kenyataan yang tak mungkin dipungkiri. Keld pun menambahkan, bahwa keberadaan manusia di dalam bahaya. Karena dimungkinkan adanya serangan dari bangsa dëia, cepat atau lambat. Namun, usaha Aldérin untuk memperingatkan raja dihalang-halangi oleh Crusel Fardrown.
“Begini, Tuan Elf.” Horen membuat jeda, setelah mendengar kisah dari Keld. “Kukira akan sangat sulit untuk kembali ke Hail dan meluruskan semua. Saranku adalah, pergi ke utara dan yakinkan penguasa di Ferden’lyf mengenai bangsa dëia ini. Dengan begitu, jika kau sudah mendapat dukungan dari penguasa di sana, ada harapan bahwa raja kami akan mempertimbangkan kisahmu. Kelak, jika kau telah kembali dari utara,” jelas Horen.
“Tapi, banyak yang tak pernah kembali dari Ferden’lyf!” sanggah Keld.
“Aku percaya Tuan Elf bisa keluar dan kembali ke Hail dengan selamat,” ujar Horen, yakin. “Dan di saat Tuan Elf pergi, aku dan kau, Keld, yang akan mengurus semua masalah di sini sampai tuntas. Sedangkan Lya, kurasa ia harus ikut bersama Tuan Elf ke utara. Ia bisa dicelakakan oleh Crusel.”
“Maka Tuan Keld pun harus ikut bersama kami, karena yang diketahui oleh Crusel bahwa dia adalah komplotan kami,” tegas Findarel. Horen menyadari hal itu, lalu ia pun mengangguk setuju dengan pendapat bocah dari Lamvorels tersebut.
“Aku tak mau lari! Aku bukan pengecut!” desis Keld.
“Jika kau tewas, kau tetap takkan berguna, Keld Fielgreen,” cibir Horen.
“Tuan Keld, mungkin hanya ini gagasan yang bisa kuutarakan,” sahut Aldérin. Ia pun membuat jeda. “Kurasa Tuan Horen dapat menyelesaikan segala masalah di sini dengan baik. Ia bisa mengatakan bahwa kau, aku, Findarel juga Lya telah melarikan diri ke utara, dan biarkanlah kita menjadi tersangka atas kejadian ini. Dan Tuan Horen bisa menambahkan, Blud (semoga ia hidup tenang untuk selamanya), Malda, Paltis, maupun putra dan putri keturunan mereka, berada di bawah ancaman kita berempat, sehingga tak bisa melaporkan apa-apa.
“Dan kau Tuan Keld, kumohon agar kau bergegas menuju ke anak bukit Gunung Rupert. Pergilah menuju sebuah mata air pertama yang alirannya menuju ke sungai Imp. Temuilah temanku Élsus di sana,” tutur Alderin. “Jika bangsa dëia bergerak lebih cepat dari dugaanku, maka kau membutuhkan bantuan dari makhluk lain. Kita ingin Hail dan penduduknya selamat. Kau harus meyakinkan para centaur dan dryad bersama Élsus!”
Dan kesepakatan tersebut dibuat.
Keld setuju pergi menuju kediaman Élsus, dan membawa gelang milik Aldérin, Rünga, sebagai tanda pengenal agar druid itu tidak menaruh curiga dan mau membantu Keld. Findarel pun menghadiahkan Langle, cincin yang berarti Kepekaan, kepada Horen, cincin yang merupakan tanda kelahirannya di Khâli. Horen menerima cincin itu penuh suka cita dan berjanji akan menjaganya, sampai Findarel kelak kembali ke Hail. Namun, apabila usia Horen berakhir pendek, ia akan mewariskan pada Newtor atau Larker, sampai mereka mengembalikannya pada Findarel.
Dan sebagai pengganti kerusakan penginapan Horen, Aldérin menyerahkan dua batu mulia pada pria tua itu, tourmaline dan opal. Dua buah batu hadiah dari bangsa dwarf ketika ia menjalani upacara penobatan memasuki usia esval beberapa ribu tahun lalu. Karena merasa tak membutuhkan kedua batu tersebut, Aldérin berpikir bahwa Horen bisa menggunakannya. Dan tak hanya dapat memanfaatkannya, Horen mendapatkan biaya ganti rugi yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kerusakan si penginapan.
Mereka pun membereskan segala hal yang harus diselesaikan pada saat itu juga di Pine Tower. Mereka segera menidurkan tubuh Blud dengan layak di belakang kereta kuda milik Keld, yang akan dibawa oleh Horen ke Hail pagi itu juga. Menidurkan jenazah-jenazah lain di dalam istal, agar binatang liar tak mengoyak tubuh-tubuh tak bernyawa itu. Aldérin dan Keld yang melakukannya. Karena Findarel menunggu Lya yang masih belum siuman, sedangkan si tua Horen sibuk menyiapkan perbekalan untuk teman-temannya.
Setelah segalanya selesai, saatnya bagi mereka semua berpisah. Horen berangkat ke Hail, Keld menuju anak bukit Rupert. Sedangkan Findarel bersama dengan Aldérin (yang menggendong Lya di punggungnya) segera bertolak menuju perjalanan panjang ke utara. Rencana telah dipersiapkan dengan matang. Mereka tak menghiraukan mengenai Crusel lagi, melainkan mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan oleh bangsa deia. Terlebih jika Yähgé dan Gôntra, telah menghadap raja mereka yang kini menduduki Lamvorels.
Kini mereka diburu oleh waktu dan berharap, apa yang mereka jalani sekarang, takkan terlambat sebelum waktunya.
*
Pagi datang dan titik-titik embun pun mulai meleleh, menetes-netes dari dedaunan dan jatuh ke tanah dengan anggunnya. Pemandangan indah tersebut, sangat sayang jika dilewatkan, tetapi kedua elf dari Lamvorels tersebut tak ada waktu untuk berlama-lama menikmati suasana pagi tersebut. Perjalanan Aldérin bersama Findarel begitu tergesa, ditambah keberadaan Lya yang sedikit memberatkan keduanya. Mereka khawatir, karena gadis itu belum juga menunjukkan gejala-gejala siuman.
“Apa sebaiknya kita berikan Lya minuman yang diberikan oleh para drianal, Ial? Lihat, tubuhnya semakin dingin, meski kita tetap berusaha membuatnya hangat,” usul Findarel.
Aldérin mengangguk. Ia menurunkan Lya dari punggungnya, dibaringkannya gadis itu di atas permukaan tanah yang kering dan mengganjal kepalanya dengan kantung bawaan mereka. Aldérin dengan hati-hati meminumkan isi kantung kulit yang berisi minuman dari para dryad ke bibir Lya. Beberapa tetes jatuh melewati ujung bibir dan dagu gadis itu, tapi sebagian banyak telah memasuki kerongkongannya. Tak perlu lama menunggu, tiba-tiba saja Lya terbatuk-batuk hebat dan dengan cepat pula, tubuhnya menghangat.
Dia siuman.
“Lya! Lya! Kau baik-baik saja?” tanya Findarel, girang.
Lya membuka kelopak matanya perlahan, menatap dua sosok yang elok dan memakai syal di kepala mereka, di mana mereka kini duduk di hadapannya. Ada perasaan aneh yang mengganjal di batin gadis itu.
“Kalian?” Lya terbatuk-batuk lagi. Dengan suaranya yang parau, akhirnya ia pun mengatakan sesuatu, “Kalian … kalian ini siapa?”
“Ashfear!” ujar kedua elf itu berbarengan.
“Jawab aku! Kalian ini siapa?” desak Lya, marah.
“Aku Aldérin dan dia Findarel, kami adalah teman Blud, pamanmu,” ujar Aldérin.
“Benarkah? Kenapa aku sama sekali tak ingat tentang kalian?” gumam Lya. “Dan apa yang terjadi padaku? Hutan ini … ini bukan di Hail.”
“Memang bukan,” timpal Findarel. “Kami menemukanmu di Pine Tower dalam keadaan tak sadarkan diri. Oleh karena itu, kami membawamu ikut serta, karena kami harus segera pergi ke utara. Tak ada waktu untuk mengantarkanmu ke Hail,” tegasnya.
“Pine Tower? Aku?” Lya termenung agak lama. “Entahlah, aku sama sekali tak ingat apa-apa. Terakhir yang kuingat, aku hendak ke penginapan pamanku, di malam hari, saat hujan turun agak deras. Setelah itu … aakh, semua mengabur.”
“Jangan paksakan untuk mengingatnya,” nasihat Aldérin. “Kau masih terlalu letih.”
“Bisa kau katakan lagi, ke mana tadi kalian akan pergi, Aldérin?” tanya Lya.
“Utara,” jawab Findarel.
Raut wajah Lya, mendadak berubah lebih ceria. “Aku takkan kembali ke Hail, lebih baik aku ikut bersama kalian. Kakakku Thane berada di Ferden’lyf, dengan adanya teman seperjalanan kes ana, ini merupakan kesempatan untukku bertemu Thane!” ujarnya.
“Jika memang itu adalah keputusan akhirmu, kami takkan menolak,” putus Aldérin. “Kita harus berangkat. Jika kau masih begitu letih, aku bisa menggendongmu, Lya.”
“Sebenarnya, aku masih lelah, tapi akan kupaksakan berjalan,” ujar gadis itu sungguh-sungguh. Aldérin menggeleng dan menyodorkan tangannya. Dengan penuh keterpaksaan, Lya pun meraih tangan elf dari Lamvorels tersebut, sembari mengatakan, “Akan kukatakan secepatnya apabila aku sudah cukup kuat untuk melangkah.”