The Quest for The Lost Inheritors

Bencana

Warna abu-abu tipis terlihat pudar di langit biru tua pekat dari celah kecil pada atap kayu kandang kuda di sisi barat kota Hail. Suasana gelap gulita menjadikan titik kengerian tersendiri bagi beberapa orang yang melemparkan pandangannya pada kandang kuda tersebut, akan tetapi bagi Gôntra dan Aldérin itu menjadi tempat paling aman di dalam detik-detik kewaspadaan, sebelum keberadaan mereka diketahui oleh yang mencari keduanya.

“Seharusnya kita segera pergi keluar dari sini. Dan semua terjadi karena kau begitu bersikeras untuk mencari rumah di mana si pewaris Estion disembunyikan,” kata Gôntra. “Kenapa harus menyembunyikannya apabila kau tak bisa menemukannya, kelak? Bodoh.”

“Kusembunyikan dia karena dia sakit, Gôntra. Ia merasakan kehadiran kalian di kota ini, begitu pula dengan Estion. Maka kuminta agar dia diberi tempat yang jauh dari jangkauan kalian, karena aku takut kalian kan membunuhnya.”

“Tidak salah, apa yang menjadi dugaanmu. Yähgé memang datang kemari untuk membinasakanmu dan pewaris Estion. Namun, akibat membuang waktu, kini kita terjebak. Dan aku tak bisa membuat sosok lain karena tenagaku cukup terkuras.”

“Sejak awal pun aksi kita telah diketahui, kita takkan mungkin dengan mudah keluar dari Hail,” sanggah Aldérin. “Menjelang malam, barulah kita keluar dari sini dan mencari jalan keluar dari kota. Maka diamlah, dan kumpulkan tenagamu.”

“Aku tak peduli apabila ratusan manusia itu berada di ambang pintu kandang bau ini, mereka bisa kumusnahkan dengan mudah,” desis Gôntra. “Namun, keberadaan Yähgé yang membuatku khawatir, jika ia mengetahui pengkhianatanku, bukan hanya aku yang mati, begitu pun dengan Ninye!”

“Apa kau tak berpikir dugaanmu itu, mungkin sudah berada di dalam benaknya kini?”

“Bisa saja begitu. Tapi mungkin dugaannya adalah, aku tengah menyekapmu dan kini menunggu waktu untuk menemuinya, agar dia sendiri yang menanganimu.”

“Hmm … cukup masuk di akal.” Aldérin mendesah pelan. “Jadi, setelah kita keluar? Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya pada Gôntra.

“Sejak awal pun kita berada di pihak yang bertentangan, Aldérin. Maka tidak mudah bagi kita untuk berjalan berdampingan. Kelak nanti, kita kan berdamai,” jawab Gôntra.

“Atau mengadukan pedang ke kulit masing-masing.” Aldérin menatap Gôntra. “Bahkan kau pun takkan dapat menghindar dari kenyataan, apabila kita ditakdirkan bertempur.”

“Ya. Semoga saja akan menjadi pertarungan yang adil, kelak.” Gôntra tersenyum sinis. “Aku takkan membuat kematianmu menderita, tenang saja.”

“Hm, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama padamu.”

Keduanya sama-sama terkekeh.

“Ada yang datang,” bisik Gôntra, tiba-tiba. Ia segera bersembunyi di balik tumpukan jerami kering. Dan kuda-kuda yang bersuara pelan sembari menaikkan kepala mereka menguatkan apa yang Gôntra rasakan.

“Kau mengatakan bahwa seratus pasukan manusia pun yang berdiri di depan pintu itu akan kau hadapi,” bisik Aldérin berkelakar. Namun, Gôntra sama sekali tak menghiraukan, ia terus mendesak dirinya melesak lebih dalam, merapat ke arah dinding kayu.

Sebenarnya, sebanyak apa pun manusia yang menghadang di pintu masuk ke kandang kuda akan lari terbirit-birit melihat wujud Gôntra yang sebenarnya. Dia yang bertubuh sangat besar dan berkulit merah, dengan gigi-gigi bertaring sudah cukup membuat mereka ketakutan setengah mati. Bahkan para kuda pun begitu gelisah dengan keberadaannya, akan tetapi karena kehadiran Aldérin yang begitu asih dan penuh kasih sayang, para kuda dapat ditenangkan.

Pintu kandang kuda, mendadak saja terbuka. Terdengar langkah seseorang masuk, lalu menutup kembali pintunya.

“Aldérin? Apa kau di sini? Aldérin?” panggilnya, berbisik sangat pelan.

Dengan sigap, Alderin menghampirinya. Menarik lengan orang itu, seolah tak percaya dengan apa yang di hadapinya. “Lya? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Demi langit, untunglah!” terdengar napas Lya terengah-engah. “Entah kenapa aku merasa kau berada di sini, di kandang kuda pribadi milik Crusel. Dan ternyata dugaanku benar. Apa kau baik-baik saja, Aldérin?”

“Ya, aku tidak apa-apa. Lalu bagaimana denganmu?” tanya Aldérin. Lya hanya mengiyakan dan mengangguk pelan. “Lalu Findarel?” tanya Aldérin lagi.

“Paman Blud sudah membawanya ke Pine Tower, penginapan di luar kota. Dua jam perjalanan menuju ke utara. Ia melakukan itu semua karena peringatan tuan Keld, maka kami dengan segera menyembunyikan Findarel agar keluar dari kota ini.

“Bagaimana kau bisa lepas dari cengkraman pria itu? Kami ketakutan, merasa bahwa bayangan kematian sudah berada di ambang mata. Bahkan sempat batin ini merasakan kau sudah tewas, Aldérin. Aku-aku ….” Lya menangis tertahan. Rasa lega membuatnya tak mampu menahan emosi karena begitu bahagia.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Lya. Saat keadaan sudah jauh lebih aman, aku akan berangkat menuju Pine Tower. Di sana kita bisa bicara lebih banyak. Tapi tak lama, karena aku dan Findarel harus ke utara.” Aldérin membuat jeda. “Mengenai keikutsertaanmu dengan kami, maaf, sepertinya kau tak bisa ikut. Aku khawatir bahaya akan mengikuti.”

“Aku mengerti, Aldérin.” Lya tersenyum.

“Cukup! Yähgé di sini!” Tiba-tiba saja Gôntra memotong pembicaraan mereka. Ia membuka telapak tangannya dan sekejap api merah muncul. Cahaya redup pun memperlihatkan segalanya bagi Lya, gadis itu menjerit keras ketika menangkap sosok Gôntra yang sesungguhnya. “Bersiaplah, Aldérin. Ini agak menyakitkan.”

Sekonyong-konyong Gôntra menendang Aldérin, hingga tubuh elf itu pun melayang keluar, menembus dinding kayu kandang kuda. Kilatan-kilatan api yang ganas segera meluncur cepat, menyerang Aldérin, meski tak ditujukan betul-betul oleh Gôntra. Seolah tahu apa yang direncanakan oleh dëia itu, Aldérin lari, dan melompat ke arah semak-semak, menghilangkan jejak. Dia mengerti, bahwa Gôntra takkan mungkin menyakiti Lya.

Lya menangis dan berusaha untuk lari, akan tetapi Gôntra segera menangkapnya. Mengais tubuh gadis itu dan dikepitnya di bagian pinggang. Gôntra bermaksud menyerahkan Lya pada Aldérin, hanya saja lolongan Cahreb membuat rencananya menjadi berantakan. Teriakan kencang pemuda itu memancing perhatian banyak orang, juga Yähgé. Karena tak jauh dari keberadaan Cahreb, Yähgé sudah berdiri di sana, dengan raut geram, dan dari kedua telapak tangannya keluar api. Bahkan ia melupakan wujudnya sebagai manusia biasa.

“Pengganggu!” desis Yähgé. Ia membuka telapak tangannya, “Musnahlah!”

Lya melihat kejadian naas itu.

Sebuah bola kecil berwarna merah meluncur cepat ke arah Cahreb, bola kecil tersebut masuk ke dalam dadanya, lalu seluruh tubuh Cahreb meledak dalam seketika, menjadi serpihan-serpihan memerah yang membanjiri seluruh permukaan tanah. Semua bak adegan mimpi buruk, lalu api pun mulai menyebar di mana-mana. Suara teriakan dan jeritan terdengar ramai, semua tergopoh-gopoh mengejar sosok Yähgé dalam wujud Triala.

Gôntra terlepas dari pandangan orang-orang, dalam kesempatan kecil itu ia pun segera menyelinap dan membawa Lya yang kini sudah terkulai lemas, tidak sadarkan diri.

Sosok itu bergerak perlahan di balik pepohonan besar yang berderet sepanjang jalan berbatu menuju ke arah utara. Begitu sepi di sana, kebanyakan orang sedang berkumpul di tempat kejadian naas; kandang kuda milik Crusel Fardrown. Ini merupakan saat yang tepat untuk mencari celah agar dapat terlepas dari bahaya, meski sesaat.

Suara langkahnya berhenti; dengan napas memburu, ia mencium bau yang tak asing lagi baginya. Siluet hitam yang menampakkan bentuk bayangannya di permukaan tanah, mulai menunjukkan sosok sebenarnya dari si bayangan itu.

Dia Gôntra, yang berjalan ke sana ke mari, dengan membopong Lya di bahu, mencari persembunyian sementara. Gôntra pun mengikuti insting penciumannya, ia menjauh dari jalan utama menuju ke utara, dan bergerak ke arah perkebunan senyap, yang takkan mungkin ada manusia di sana, kecuali siang hari. Lalu di perkebunan itu, ia menemukan Aldérin yang sudah mendapatkan seekor kuda, entah dari mana elf itu mendapatkannya.

“Ah, tak kusangka bahwa elf yang begitu dimuliakan oleh seluruh makhluk di dunia ini, ternyata mampu menjadi seorang pencuri,” ucap Gontra.

“Dia adalah Marcus, kuda yang berhasil lari dari istal Crusel Fardrown. Atas keinginannya sendiri, ia bersedia untuk membantuku,” kata Aldérin.

Gôntra menaikkan tubuh Lya di atas pelana dan Aldérin menopangnya dengan kuat. Mata mereka begitu waspada memperhatikan sekitar. “Beruntung kuda ini lepas dari ikatan,” ujar Gôntra. “Pergilah, Aldérin. Ini kesempatan terakhir. Jangan kau sia-siakan.”

“Dan kau, bagaimana denganmu? Kau tidak mungkin berjalan-jalan dengan wujud seperti ini, atau memakai wujud yang sekarang dicari-cari oleh pihak kota.”

“Aku bisa meminjam wujud gadis kecilmu ini, di belakang tudung jubah, takkan ada yang memperhatikanku. Aku menjaminnya.”

“Hm, itu gagasan yang tidak jelek.”

“Hanya untuk sementara. Karena sekarang pun aku akan segera kembali ke selatan, keluar dari kota. Yähgé tentu berpikiran yang sama denganku, ia kan beranggapan bahwa ini hanya kegagalan sementara,” kata Gôntra.

“Aku berhutang banyak padamu, Gôntra. Maaf, aku sempat meragukan bahwa apa yang kau lakukan padaku memang tulus.”

“Cukup, kau terlalu banyak bicara. Bergegaslah pergi.” Namun, tiba-tiba saja Gôntra mencengkram tali pengendali kuda. “Maaf, atas kehancuran kotamu, Aldérin. Namun, sayangnya apa yang pernah terjadi, sama sekali bukan kuasaku untuk menghentikannya.”

“Tidak, mungkin itu memang suratan takdir.” Aldérin menatapnya. “Akhir dari segalanya adalah saat penentuan. Apa maaf darimu itu, kelak kan menjadikan kita kawan atau lawan sejati. Kita lihat saja nanti.”

“Hm, ya. Namun kuharap saat itu kau masih hidup, jadi jagalah dirimu baik-baik. Karena masih ada yang harus diselesaikan oleh kita berdua.”

Aldérin menyodorkan tangannya, yang disambut oleh Gôntra.

“Estelia, Elthan,” ujar elf itu.

“Kuharap bukan kutukan yang kau ucapkan, Aldérin.”

Aldérin menggeleng. “Selamat tinggal, kawan,” katanya.

Gôntra mengangguk, tanda mengerti. Lalu ia pun menepuk leher si kuda dan berkata, “Duraë, elbêzil! Sampai jumpa, teman!”

Lalu si kuda pun meluncur di keremangan malam, melalui jalan-jalan gelap dan terus berlari ke arah Utara. Sedangkan Gôntra, merubah wujudnya menjadi sosok Lya, berjalan menyelinap dan melangkah di dalam kerumunan ramai, ia pun terus melaju ke selatan kota.

Tak jauh dari gerbang masuk Hail di selatan, sosok seorang pria asing tiba-tiba saja mendekati Gôntra. Ia mencengkramkan tangannya dengan kuat pada lengan Gôntra, dan Gôntra sama sekali tak membantah.

“Ganti wujud yang lain, bodoh! Untuk malam ini kita terjebak, karena gerbang sudah dikunci. Sebaiknya kita cari si elf itu, pasti dia masih ada di kota,” ujar Yähgé, dengan suara berat juga serak, di mana hal tersebut membuat Gôntra geli mendengarnya, terlebih dengan hiasan janggut dan jambangnya. “Aku tak mengerti, mengapa elf itu bisa lolos dari tangkapanmu. Apa kau sudah kehilangan setengah dari kemampuanmu?”

“Gadis yang kupakai wujudnya ini,” kata Gôntra, dengan suara Lya. Dan ia mendadak merasa tak nyaman dengan perubahannya. “Ketika si elf dan dirinya sedang bercakap-cakap dan aku menyelinap mendekat, ia menyadari kehadiranku lalu menjerit keras. Si elf pun lari, dan pada akhirnya, kau bisa melihat sendiri.”

“Apa kau bunuh dia?”

“Tidak. Aku hanya menggeletakkannya di perkebunan. Aku tak tertarik untuk membinasakan makhluk lemah,” cibir Gôntra.

Yähgé tak membantah apa yang dikatakan oleh Gôntra, terlebih ia tahu bahwa pria itu membicarakan tindakan sembrononya beberapa saat lalu dan menewaskan Cahreb. Malah, ia mengajak Gôntra berjalan, menjauh dari orang-orang yang mulai memperhatikan keduanya, seolah sedang berkasak-kusuk. Ia mengawasi setiap manusia yang melewati mereka, dengan sudut matanya yang bergerak ke kiri dan kanan; tetap waspada.

“Aku datang ke tempat itu karena merasakan aura kau dan si elf bercampur cukup lama,” kata Yähgé, setelah mereka melangkah lebih jauh ke sisi kota yang lebih sepi. “Apa tak ada yang kau lupakan di dalam ceritamu itu? Atau boleh kukatakan, karanganmu?”

“Jangan percaya, apabila kau sama sekali tak mempercayaiku,” sahut Gôntra, tampak tersinggung. Padahal ia begitu takut apabila Yähgé mencium sesuatu yang tak beres. “Aku melakukan apa yang harus kulakukan, akan tetapi apa yang tengah terjadi, sama sekali di luar kendaliku untuk membereskannya. Jika kau merasa tak puas, lain kali, lakukanlah sendiri.”

“Astaga, aku hanya bertanya. Kenapa kau harus ketus padaku, Bodoh! Wajar untukku memperhitungkan semua, karena apa yang kau lakukan ternyata tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan,” balas Yähgé. Ia mengeluh pelan. “Lebih baik kita pun segera kembali ke Hamvorels, besok pagi-pagi sekali. Ini benar-benar perjalanan penuh kesia-siaan.”

“Setidaknya kita masih bisa minum ale.”

“Hm, ide yang bagus. Sebaiknya kita mencari wujud yang lain, karena tidak bijak juga menggunakan tubuh yang sama setiap saat,” Yähgé melayangkan pandangannya ke arah belakang. Ia mendapat mangsa yang tepat. “Dua orang di belakang kita, ini kebetulan luar biasa. Kita biarkan mereka tertidur pulas malam ini di kandang babi. Lekas, Gôntra.”

“Yah, yah … sebaiknya kita tunggu beberapa saat, sampai mereka memanggil nama masing-masing,” ujar Gôntra. “Kau tidak mungkin merubah nama orang, terlebih jika ada orang lain yang mengenalimu sebelumnya, bukan?”

*

Aldérin menatap dinding dingin yang menjulang di gerbang utara dan betapa ketatnya penjagaan di sana. Ia mengawasi dari balik semak-semak dan rimbunnya pepohonan. Tiga orang berjaga di dekat gerbang. Dan di dua menara, masing-masing ditempatkan lima orang pemanah, yang berjalan bolak-balik, mengawasi keadaan di luar kota. Tak mungkin bisa keluar dari kota sembari mengendarai kuda, Alderin terpaksa harus berjalan kaki.

Tetapi dengan berjalan kaki pun, tetap mengalami kendala. Apabila Aldérin sendiri, ia bisa dengan mudah mengecoh para penjaga kota dan keluar dari Hail. Namun, saat itu Lya ada di sampingnya, masih tak sadarkan diri, dan mungkin saja jiwanya dalam bahaya. Aldérin tak mungkin membiarkan gadis itu seorang diri.

Ia membayangkan, apabila Lya kembali ke rumah, ada kemungkinan Crusel akan mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan Lya bisa dijebloskan ke penjara. Ia harus membawa Lya sementara ini keluar dari kota, sehingga gadis itu takkan dicurigai oleh Crusel.

“Nah, Marcus. Saatnya kita berpisah, aku takkan mungkin bisa membawamu ikut serta keluar dari kota ini,” kata Aldérin. “Carilah jalan keluar untukmu sendiri, kelak kita kan bertemu kembali, itu pun atas seijin dunia langit.”

Aldérin dan Marcus berpisah. Kuda itu berjalan tergesa meninggalkan Alderin, sosoknya menghilang di antara barisan pepohonan sepanjang jalan utama dan terus melangkah ke selatan. Mungkin Marcus berniat kembali ke istal milik Crusel, dan menjalani kehidupan, seperti hari-hari biasanya.

Setelah melepas Marcus pergi, masih ada masalah lain. Aldérin memikirkan bagaimana caranya membawa Lya menuju Pine Tower, tanpa sepengetahuan para penjaga gerbang.

Mendadak saja terdengar suara deritan roda pada jalan berbatu. Aldérin menoleh ke arah jalan, dan astaga! Itu Keld Fielgreen.

Dengan tergesa, Aldérin beringsut berdiri, bersembunyi ke balik pepohonan dan mensejajarkan langkahnya dengan kereta kuda Keld. Bukan hal yang mudah untuk melakukan itu sembari menggendong Lya.

“Tuan Keld,” panggilnya, berbisik. Keld menoleh ke arah kiri, ia mendadak terhenyak. Namun, sebelum ia sempat memberhentikan kereta kudanya, Aldérin memberikan peringatan, “Teruslah berjalan, Tuan Keld. Jangan membuat curiga.”

Keld berusaha bersikap sangat wajar. Ia melirik ke arah Alderin dengan hati-hati, dan begitu terkejut saat melihat sosok Lya duduk terkulai bersandar pada punggung Aldérin.

“Ia tidak apa-apa. Sama sekali tak cedera.” Aldérin seolah tahu isi kepala Keld.

“Demi langit, syukurlah! Kupikir ia tewas atas kejadian tak berapa lama tadi, seperti apa yang dialami oleh Cahreb,” bisik Keld, dengan suara bergetar.

“Tuan Keld, aku dan Lya harus keluar dari Hail. Ia pun berada dalam bahaya, terlebih atas kejadian di istal Crusel. Bisakah kami ikut di keretamu? Kami hendak ke Pine Tower.”

“Aku pun hendak menuju ke sana. Memberitahukan kejadian di kandang kuda Crusel, dan … oh, Cahreb yang malang. Blud pun harus mengetahui pemanggilan yang akan diadakan besok pagi. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang!”

“Pemanggilan?”

“Aku akan memberitahukannya nanti, Tuan,” potong Keld. “Ayo, naiklah. Kita hampir mencapai gerbang. Lekas, mereka tak memperhatikan!”

Aldérin segera melompat ke atas kereta kuda. Lalu ia berbisik, “Terima kasih.”

“Jangan sungkan. Ini demi persahabatan kita, kini dan kelak, Tuan Aldérin. Nah, bersembunyilah dengan baik, aku yang akan mengurus mereka di depan sana.”

Kuda yang menarik kereta Keld berhenti teratur seolah sudah tahu bahwa pemiliknya sedang dalam pemeriksaan penjaga kota. Keld mengangkat topinya yang bundar lebar, dan menyunggingkan senyum sinis pada tiga orang prajurit yang menjaga gerbang kota. Dua dari mereka menghampiri Keld, memberikan senyum sinis penuh kecurigaan.

“Tuan Keld Fielgreen, apa yang membuatmu keluar di larut malam seperti ini? Bertengkar lagi, heh?” kekehan kecil mengiring pertanyaan si penjaga gerbang.

“Aku hendak ke Pine Tower. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Paltisku,” jawab Keld, berusaha untuk tetap ramah dan bersikap wajar.

“Apa istri keduamu menunggu di sana?” timpal penjaga yang lain.

“Cukup, Hewden! Dan hentikan tawamu yang menjijikkan itu, Foble!” sahut Patrick, memperingatkan kedua rekannya. Pat kembali mengarahkan perhatiannya pada Keld. “Maaf Tuan Fielgreen, akan tetapi atas perintah dari dewan kota serta hakim agung, tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan keluar atau masuk ke dalam kota setelah jam malam. Terlebih setelah kejadian tadi, di tanah pribadi milik tuan Crusel Fardrown.”

“Ah, dengan begitu kau mau bertanggung jawab apabila Blud Pramber tidak bisa menghadiri pemanggilannya esok? Dia berada di Pine Tower sekarang, dan sama sekali tak tahu menahu atas berita pemanggilan tersebut, karena Cahreb yang seharusnya mengantarkan surat itu ke tangannya, sudah tewas!!

“Dan kalian tahu? Perjalanan menuju Pine Tower menghabiskan waktu dua jam! Gerbang kota dibuka pukul enam pagi, sedangkan pemanggilan tepat pukul delapan diadakan! Demi Blud kupaksakan diriku pergi pukul dua pagi, demi tugas yang takkan pernah bisa diselesaikan oleh Cahreb!!”

“Astaga Tuan Fielgreen, kau pemarah sekali,” ujar Pat. Ia menganggukkan kepala pada kedua rekannya untuk membuka gerbang. “Kami sama sekali tak mengetahui bahwa hal penting yang akan kau bawa menuju Pine Tower. Hal itu dapat dijadikan pengecualian. Namun, pukul delapan pagi nanti, kuharap kau dan tuan Pramber menepati janji kalian.”

“Ya, tentu saja. Karena aku sendiri pun harus menghadiri pemanggilan itu,” jawab Keld. “Ini masa yang sangat sulit bagi semua orang.”

“Hm, kami mengerti,” balas Pat. Ia menoleh ke gerobak yang ditarik oleh kuda milik Keld. “Apa yang ada di belakang itu?”

“Hanya beberapa barang rongsokan yang selalu kubawa setiap hari. Silakan saja kau periksa,” ujar Keld. Meski di dalam hati ia tak ingin Pat benar-benar memeriksanya, karena Aldérin dan Lya bersembunyi di sana.

“Sepertinya tidak perlu,” balas Pat. Ia menepuk leher si kuda. “Selamat jalan dan berhati-hatilah, Tuan Fielgreen.”

“Terima kasih, Pat,” Keld mengangguk pada kedua rekannya yang lain. “Nah, sampai nanti, Foble, Hewden. Selamat bertugas!”

Perjalanan menuju Pine Tower berlangsung tenang, sayup-sayup suara dari binatang derik dan gemerisik daun yang ditiup angin mengiringi langkah kuda yang menarik kereta dengan santainya. Lya pun siuman setelah setengah jam mereka keluar dari gerbang utara kota Hail, akan tetapi yang ia lakukan hanya diam, sama sekali tak merespon apa yang dikatakan atau ditanyakan oleh Keld maupun Aldérin. Lalu ia meringkuk kembali di atas tumpukan karung, dan tertidur lelap.

Sepanjang jalan itu pun dihabiskan Keld dan Aldérin bercakap-cakap mengenai apa yang telah terjadi; pelarian Aldérin yang dilakukan oleh Gôntra, kepergian Blud menuju Pine Tower, tindakan yang dilakukan oleh Crusel, hingga cerita naas yang terjadi di kandang kuda Crusel di mana nyawa Cahreb berakhir di sana dan sosok wanita misterius yang merenggut nyawa pemuda itu. Namun, Aldérin sudah memiliki gambaran, bahwa wanita tersebut adalah Yähgé di dalam penyamaran.

Namun hal yang paling mengejutkan bagi Keld (setelah kematian tragis yang dialami Cahreb, tentu saja) adalah apa yang dilakukan oleh Gôntra. Keld tak menyangka bahwa Gôntra melepaskan Aldérin dari penjara merupakan salah satu tindakan penyelamatan. Meski Keld ragu, apakah hal itu akan lagi dilakukan oleh Gôntra, apabila Aldérin bertemu dengan bangsa dëia tersebut tuk kedua kalinya.

“Mereka bangsa keji, kuketahui hal tersebut tentunya darimu, Tuan Elf, maksudku, Tuan Aldérin. Mungkin ini semacam permainan bagi sosok dëia yang bernama Gôntra itu,” ujar Keld. “Kita tak pernah tahu, apa yang sebetulnya tersembunyi di dalam batinnya.”

“Apa yang kau katakan tidaklah salah. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa ia pun memiliki nurani,” balas Aldérin. “Akan ada saatnya segala sesuatu yang tersembunyi di bumi ini, akan muncul ke permukaan.”

Keld mengangguk, mengiyakan.

“Ah, cahaya redup di depan sana! Rupanya Pine Tower sudah hampir dekat,” tunjuk Aldérin. “Semoga tuan Blud tidak terganggu tidurnya.”

Keld tertegun sejenak. Seolah memikirkan sesuatu yang ganjil di dalam benaknya. “Kita mungkin baru saja melakukan perjalanan selama satu jam lamanya. Ini mustahil.”

“Aku meminta Rosie mempercepat perjalanan dan ia dengan baik hati sekali menyanggupinya,” jawab Aldérin.

“Ah, kuangkat topiku untukmu, Tuan Elf, maksudku Tuan Aldérin. Bahkan kau pun tahu nama Rosie yang kusayangi, tanpa kuberitahukan sebelumnya,” sahut Keld. “Kau memang keajaiban bagi dunia ini.”

“Kita semua adalah sumber keajaiban bagi bumi, Tuan Keld.”

Sesampainya di Pine Tower, Keld segera mengetuk pintu beberapa kali. Lya yang terbangun dari tidurnya, berdiri terhuyung di belakang Aldérin, dan begitu merasa letih, hingga ia bersandar pada lengan elf itu. Tidak lama kemudian, pintu penginapan pun terbuka, seorang pria yang sangat tua, mungkin berusia sekitar tujuh puluh tahunan, berdiri di ambang pintu, dengan wajah terkantuk-kantuk.

“Keld Fielgreen? Di pagi buta kau datang, ada keperluan apa? Sesuatu yang penting terjadi di Hail?” tanyanya. Dan bukan hal yang aneh bahwa Keld merupakan sosok dikenali banyak orang. Pria tua itu menguap lebar, ia menatap Aldérin dengan seksama lalu mengalihkan perhatiannya pada Lya. “Apa dia baik-baik saja?” tanyanya, pada gadis itu.

Aldérin mengangguk. “Ia hanya kelelahan.”

“Ah, lebih baik tempatkan saja ia di dalam kamar,” ujarnya. Lalu pria tua itu mempersilakan ketiganya untuk masuk. “Atau beristirahat di sofa.”

“Atau di penjara, jika itu memang pantas untuknya.” Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah perapian.

Keld, Aldérin dan Lya terhenyak, mendapati Crusel dengan beberapa orang penjaga kota dan prajurit istana berada di Pine Tower. Dan di dekat perapian, Blud beserta Findarel, di dudukkan di atas bangku dengan tangan dan kaki terikat.

“Aku tahu, kalian memang berkomplot,” kata Crusel, puas. “Oleh karena itu, setelah kuberikan surat pada Cahreb, kuputuskan untuk menyusul tuan Pramber ke tempat ini. Mungkin ia berpikir takkan ada yang memperhatikan kepergiannya menuju Pine Tower, tapi aku memiliki banyak mata-mata! Jangan meremehkan kehebatan hakim agung.”

“Maaf, Keld. Aku tak bisa membantahnya,” bisik pria tua pemilik penginapan. “Aku hanya melakukan apa yang diperintahkannya padaku.”

“Tidak apa-apa, Horen,” balas Keld.

“Ayo, ayo, duduklah di sini dengan nyaman, sebelum kami membawa kalian ke kota dan mengadili kalian,” ejek Crusel. “Berikan mereka kursi dan bawakan makanan serta minuman terbaikmu, Horen. Karena belum tentu esok nanti, mereka dapat menikmatinya.”

“Tidak,” erang Lya. Ia menangis terisak lalu mencengkram lengan Aldérin lebih erat. “Jangan biarkan mereka melakukan ini, Aldérin. Lakukan sesuatu, pergilah jauh dan bawa Findarel, biarkan kami yang menanggung semua,” bisiknya.

“Aku tak bisa melakukannya,” balas Aldérin.

“Jangan banyak bicara!!” bentak salah satu penjaga kota yang langsung saja memukulkan kepalan tangannya ke arah perut Aldérin. Elf itu seolah mengerang hebat, padahal yang ia rasakan hanya gelitikan kecil.

Namun, Findarel memberikan penilaian berbeda. Tatapan di wajahnya menyiratkan kebencian yang amat sangat, dan bandul Estion yang dipakainya tiba-tiba mengeluarkan cahaya redup kebiruan. Blud terkesiap, tetapi ia sama sekali tak mengatakan apa-apa, hanya memberikan isyarat pada Aldérin bahwa sesuatu tengah terjadi pada Findarel.

Seorang prajurit istana menangkap keganjilan pada bocah dari Lamvorels itu, ia menunjuk dengan tangan bergetar. “Anak itu! Dadanya bersinar!!”

“Penyihir!!!” teriak yang lain.

“Tidak, tunggu dulu,” seru Keld, menenangkan mereka semua.

“Bunuh dia!!” Terdengar suara-suara lainnya, yang membuat suasana menjadi semakin ricuh. “Penyihir!! Bunuh!! Bunuh dia!!”

Crusel pun tidak mampu mengendalikan keadaan. Ia hanya berdiri di sudut ruangan, menunjuk ke sana ke mari dengan wajah penuh ketakutan. Lalu sebilah pedang tajam, terhunus ke arah Findarel. Seorang prajurit istana berlari dengan cepat dan mengarahkan pedangnya pada bocah itu.

Blud melompat dari duduknya, menghalangi Findarel. Dan suara robekan itu, bak suara halilintar yang menggerat langit. Dalam sekejap, ceceran kemerahan menggenang di karpet berwarna hijau, diiringi jatuhnya tubuh Blud ke lantai, bersimbah darah dengan luka menganga, akibat pedang, di dadanya. Semua seolah menahan napas, sama-sama tak menyangka dengan apa yang telah terjadi sesaat tadi. Jeritan Lya membangunkan kekagetan mereka.

Belum juga satu pun dari semua orang di tempat tersebut melakukan tindakan, tiba-tiba saja lampu-lampu minyak mulai bergoyang dengan hebat, seolah ditiup angin kencang. Seluruh pun ruangan bergetar, memperdengarkan suara gemuruh dalam dan mengerikan. Lya bertopang pada Aldérin, dan Keld bersimpuh di lantai sembari menangis. Gempa besar! Gempa bumi!

“Kalian! Manusia-manusia yang kejam dan keji! Hukuman berat merupakan hal yang paling pantas bagi kalian semua,” suara itu terdengar dari Findarel, akan tetapi itu bukanlah suaranya, karena suara tersebut merupakan suara seorang pria yang dalam dan terdengar amat murka. “Kalian seharusnya saling melindungi! Terlebih melindungi pewaris dari yang mewarisi kekuatanku!!”

“Keluar! Cepat!” Aldérin menarik tubuh Keld dan Lya, dengan sesigap mungkin ia melemparkan tubuh keduanya keluar dari Pine Tower. Kekuatan Estion bukan sesuatu yang dengan mudah dapat dihadapi oleh manusia biasa, bahkan Aldérin pun sempat merasakan kekuatannya, hingga ia dibuat tak sadarkan diri.

Tubuh Findarel sudah sepenuhnya terlepas dari ikatan. Ia berdiri terhuyung, dan membayang di belakangnya, sosok Estion dengan raut penuh amarah. Baik Crusel maupun para penjaganya tak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya diam tak berkutik, menatap penuh ketakjuban sekaligus rasa takut luar biasa.

“Kemusnahan adalah peradilan yang paling adil bagi kalian semua!”

Estion! Héstel, likä ish-anorá-in atâ (Tolong, jangan melakukan itu),” pinta Aldérin. “Héstel!”

“Urn, Aldérin. Liorion-in nu, nu arah ish-anora-in’dal (Tidak, Alderin. Maafkan aku, aku harus melakukannya).”

“Likä! Estion!!”

Namun permintaan Aldérin sama sekali tak dihiraukan oleh Estion. Roh itu pun menghunus pedangnya ke lantai, dan dalam sekejap, bunga-bunga es merambat dari ujung dinding dan terus naik hingga ke atas. Tidak ada yang bisa keluar dari ruangan itu, kecuali mungkin, Crusel dan Horen yang dengan cepat menyelinap.

Tubuh Aldérin pun membeku, akan tetapi ia tak merasakan dingin, kecuali orang-orang malang yang berada di dalam Pine Tower. Apa yang dilakukan oleh Estion seolah tidak berpengaruh bagi Aldérin, sepertinya, Estion memang tidak berniat untuk menyakiti Aldérin.

Namun apa yang telah dilakukan oleh Estion menyakitkan batin elf dari Lamvorels itu. Manusia memang sering berbuat salah, terlebih karena mereka tidak tahu menahu mengenai keberadaan bangsa lain. Namun bukan begitu cara mereka diperlakukan. Hukuman dari Estion terlalu berat.

“Estion! Urn!!” teriakan Aldérin, tenggelam dalam kerasnya hembusan angin dan salju.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!