The Quest for The Lost Inheritors

Pencarian Semua

Bayang-bayang gelap menghampiri datang ketika matahari mulai beranjak turun dan menyiratkannya dengan sinar kemerahan nan redup. Siluet pepohonan juga bangunan, tercetak bak tumpahan tinta hitam pada kanvas jalan berbatu ditutupi salutan pasir. Angin berhembus pelan, lelah untuk ribut karena tak lama sebelumnya ia telah bermain dengan puasnya bersama hujan deras dan gemuruh guntur yang menggelora. Menciptakan badai kecil di Kota Hail.

Hujan belum berhenti benar, tetapi tidak begitu keras, hanya titik-titik kecil ringan yang berjatuhan di permukaan tanah. Ini menunjukkan bahwa air yang tumpah dari langit agaknya masih belum puas untuk menyelesaikan permainannya, begitu juga dengan gumpalan awan-awan hitam yang enggan menyingkir di angkasa sana. Namun, jauh di barat, awan hitam sama sekali tak tampak, sehingga orang-orang masih bisa menikmati keindahan pemandangan senja di Hail.

Meski cuaca tak seburuk beberapa jam lalu, sayangnya Aldérin tidak dapat keluar dari persembunyiannya. Penjaga kota dan prajurit istana, semua anggotanya dikerahkan untuk mencari keberadaannya di seluruh kota, bahkan di tiap sudut lorong atau pun rumah bobrok yang tak berpenghuni. Nasib yang sama dialami oleh Gôntra, ia yang sebelumnya datang ke Hail dengan sosok Hering, kini sama-sama dicari oleh pihak keamanan.

Menurut Keld, adalah si sosok orang asing yang ditemuinya di Dorin’s Wheat (Gôntra dalam wujud Hering) ini yang membobol penjara kota lalu melarikan Aldérin dari dalam sana. Dan sosok Hering ini, dianggap jauh lebih membahayakan daripada Aldérin, karena ia dapat merubah wujudnya dalam sosok maupun bentuk siapa pun (orang asing itu mampu merubah diri menjadi Burbock salah satunya buktinya).

Usaha Keld ini hanya untuk menyelamatkan Aldérin, dan ia merasa khawatir bahwa elf dari Lamvorels tersebut disakiti oleh si orang asing, yang ia tahu merupakan komplotan bangsa dëia (padahal, Gôntra adalah kaum dëia itu sendiri), oleh karena itu, ia tak mau apabila Aldérin ditemukan, elf itu akan dihukum dan disiksa. Maka Keld berusaha untuk menemukan Aldérin lebih dulu, dan melarikannya keluar dari Hail, itu pun jika Aldérin masih hidup.

Hanya saja, usaha dari Keld ini dirintangi oleh Crusel Fardrown, si hakim agung. Sang hakim begitu keras mencari kedua pelaku ini untuk diadili seberat-beratnya.

Dan Crusel merasakan gelagat yang mencurigakan dari Keld, sehingga ke mana saja pria itu pergi, selalu dikawal oleh dua orang penjaga kota. Pikiran Crusel pun mengatakan, bahwa Keld, Aldérin, atau si pria asing, merupakan satu komplotan. Begitu pula dengan Lya, Blud maupun Malda. Hanya Cahreb dan Burbock yang mungkin benar-benar tidak bersalah.

Dan pikiran lain merasuki Crusel, apabila dia dapat menekan Blud, Malda maupun Keld, maka keuntungan kedua akan di dapat olehnya. Blud, Keld, juga Malda, pasti takkan mau dipenjara, apabila ketiganya berada dalam ancaman, maka mereka akan melakukan apa saja agar terbebas dari hukuman atau tuduhan. Uang. Crusel akan mendapatkan itu semua apabila ia melakukan suatu tindakan yang tepat dan cepat.

Yähgé pun tak kalah kalang kabut. Ia telah berkali-kali ditemui oleh para prajurit juga penjaga kota, Hakim Agung dan beberapa anggota Dewan Kota. Dan ia pun harus berkali-kali menekankan bahwa ia hanyalah teman seperjalanan si sosok asing bernama Hering ini (alias Gôntra), di mana mereka bertemu di kota Vôld. Hampir semua yang menanyainya, mempercayai sandiwara Yähgé dalam wujud istri Hering—Triala, karena ia melolong, menangis tersedu-sedu bahkan histeris ketika diberitahu bahwa Gôntra merupakan penjahat.

Hanya Keld yang sama sekali tak mempercayai muslihat dari wanita itu, akan tetapi ia tak melakukan apa-apa, hanya bertekad akan mengawasi Yähgé.

Oleh karena itu, Yähgé sendiri tak bisa dengan mudah keluar dari penginapan dan mencari Gôntra. Ia mengutuk pria dëia itu, karena telah memberikan banyak kesulitan. Namun, Yähgé cukup senang dan bergairah, bahwa Aldérin keluar dari penjara, dan lebih mudah untuk membunuhnya di luar daripada di dalam sel. Dan Yähgé, hanya menunggu waktu, hingga Keld terlalu lelah untuk mengawasinya.

Apa yang diinginkan oleh Yähgé pun terkabul, setelah menjelang malam.

*

Karena suasana menjadi kacau, Blud memutuskan membawa Findarel keluar dari Hail, setelah mendengar kabar dari Keld yang langsung datang ke rumah Malda ketika hujan melanda kota begitu hebatnya, tak lama kemudian setelah terjadinya insiden pelarian Aldérin. Dan pada saat hujan deraslah, merupakan saat yang tepat pula untuk membawa Findarel pergi dari Hail, karena takkan ada yang memperhatikan kepergiannya menuju Pine Tower. Dengan begitu, Aldérin akan lebih mudah menemui mereka di sana, dan lebih cepat pula untuk segera lari karena tak ada lagi yang dikhawatirkan oleh elf itu di Hail.

Malda menyanggupi untuk menghadapi Crusel apabila sang Hakim Agung itu datang tiba-tiba ke kediamannya hanya untuk melihat Findarel. Malda mengatakan pada Blud, ia akan mengarang satu atau dua cerita mengenai penyakit yang—mungkin—dapat ditularkan oleh Findarel pada orang lain. Wanita tua itu telah tahu siapa Alderin dan juga Findarel sebenarnya, dari cerita yang dipaparkan oleh Lya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Diberkahi oleh langit, Malda bersedia untuk membantu pelarian para elf tersebut ke utara.

Bahkan dia yang membujuk Estion untuk melepaskan dinding perlindungannya pada Findarel, agar bocah dari Lamvorels itu dapat keluar dari Hail tanpa dicurigai. Estion pun mau dibujuk; setelah mendengar penjelasan Malda, sang pelindung tersebut menghilang dan rohnya pun kembali masuk ke dalam bandul.

Blud pun dapat melanjutkan perjalanannya tanpa rasa khawatir, kecuali atas apa yang ia cemaskan terhadap Aldérin. Perasaan yang juga dirasakan oleh Keld, Lya, maupun Malda. Terlebih Lya, ia tak tahu ke mana harus mencari Aldérin, tapi ia tahu, Aldérin masih hidup. Lya ingin mencarinya, akan tetapi dia pun memiliki beban tersendiri terhadap Findarel. Ia bertanggung jawab penuh atas bocah itu.

“Lya? Hendak ke mana kau malam-malam begini?” tanya Malda heran, ketika ia membuka pintu kamar Lya dan melihat putrinya sedang mengemasi pakaian.

“Pine Tower.”

“Tidak. Aku tak mengizinkanmu. Pergilah besok pagi,” tolak Malda. Lya sama sekali tak menghiraukan, ia terus memasukkan barang ke dalam tas besarnya. “Jika kau begini bersikeras, mengapa kau tak pergi bersama-sama Blud, tadi?”

“Aku ingin menemukan Aldérin. Aku—”

“Semua ingin menemukannya,” potong Malda. “Kau takkan mungkin bertemu dengan tuan Varwendil semudah itu (dan tolong, panggil dia dengan nama yang baik). Kau telah melihat kenyataannya, seluruh penjaga kota dan prajurit istana telah mencarinya ke seluruh pelosok kota, dan sampai saat ini belum menemukan jejaknya. Apa kau dapat melakukan apa yang mereka tak mampu lakukan?”

“Aku begitu khawatir, Bu. Terlebih setelah mendengar penuturan tuan Keld, aku sempat berpikir untuk mencarinya, oleh karena itu, kuurungkan niatku untuk berangkat bersama paman Blud menuju Pine Tower tadi,” kata Lya.

“Kau menarik dirimu ke dalam masalah! Jika pria asing itu menangkapmu, kau dalam kesulitan. Atau jika kau tertangkap bersama tuan Varwendil, itu pun perkara besar!” ujar Malda, tegas. “Tugasmu cukup menemani bocah malang itu selama di sini dan menjauhi bahaya!”

“Aku mengerti, Bu. Maka saat ini aku menyerah mencari Aldér … maksudku tuan Varwendil, dan akan menyusul Paman Blud malam ini juga.”

“Pine Tower dua jam perjalanan dari Hail. Aku takkan mengizinkanmu ke sana sendiri,” kata Malda. Terdengar erangan membantah Lya. “Besok pagi. Kecuali, jika ada yang mau menemanimu. Kau sudah mendengar keputusanku!” tukas Malda, keras.

Ketukan di pintu tiba-tiba saja mengagetkan keduanya. Larker dan Newtor yang berada di kamar sebelah, berlarian menyambut siapa gerangan yang datang. Terdengar sapaan riang Larker pada si tamu, “Cahreb!!”

Seolah mendapat kesempatan untuk pergi, Lya segera menoleh penuh harap pada Malda. “Jika aku berangkat dengan Cahreb, apa Ibu memperbolehkanku pergi malam ini juga, menuju Pine Tower?” pintanya.

Malda mendesah pelan. “Baiklah. Itu pun jika dia bersedia.”

“Akan kutanyakan padanya.”

Lya keluar dari kamar, bergegas ke ruang depan dan mendapati sosok Cahreb di ambang pintu yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Larker juga Newtor. Pemuda itu terlihat rapi, meski garis-garis kelelahan tampak amat jelas di rautnya.

“Ini yang kedua kalinya aku datang, kuharap aku tak mengganggumu, Lya,” sapa Cahreb setelah ia menyadari kehadiran gadis itu di antara mereka.

Lya tersenyum manis. “Tidak sama sekali. Bahkan ada yang ingin kutanyakan padamu,” balasnya. Cahreb pun membalas dengan tatapan heran. “Di luar cukup dingin. Masuk dan duduklah dulu.” Lya mengalihkan perhatiannya pada Newtor dan Larker, “tolong bawakan teh dan kue untuk Cahreb.”

Ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman, Cahreb segera membuka pokok pembicaraan perihal kedatangannya. Secarik kertas bersegel ia serahkan pada pada Lya. Kertas yang telah dibubuhi tanda tangan hakim agung dan ketua dewan kota, dengan dua stempel lilin berwarna merah di sisi kanan kedua tanda tangan tersebut.

“Ini menjadi sangat serius dan pelik,” decit Cahreb. “Esok pagi, tepat pukul delapan, di gedung pertemuan para dewan, pamanmu, tuan Pramber, harus menghadiri penyelidikan yang akan diadakan oleh seluruh dewan kota. Begitu pula dengan kau dan ibumu, Lya.”

“Tunggu, Cahreb. Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Seperti yang tertera, bahwa kalian dianggap sebagai tersangka atas pelarian tuan Varwendil. Bahkan tuan Fielgreen pun mendapat surat pemanggilan,” jawabnya dengan suara gemetar. “Tuan Fielgreen berpikir, ini semua merupakan ulah Tuan Fardrown.”

“Dan itu tak mungkin salah lagi. Pria tua itu memang makhluk busuk,” ujar Malda, yang ternyata sudah ada di ruang depan, berdiri di samping Lya dengan wajah geram. Ia meraih surat tersebut dari Lya, sekilas ia pun membacanya tanpa antusias, lalu si surat, Malda lemparkan ke atas meja. “Ia sangat hebat, bisa mendekati Liédik dan mempengaruhinya, maka surat ini pun dengan mudah juga dikeluarkan.”

“Lalu, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?” tanya Cahreb.

“Datang, tentu saja! Kami tidak melakukan apa pun yang menurut kami salah, kami hanya melakukan apa-apa yang menurut kami benar,” jawab Malda, masih dengan nada suara marah.

Meski ia sama sekali tak menujukan amarahnya pada Cahreb.

“Namun begitu,” Malda menoleh pada Lya, “Hari ini kau harus segera berangkat menuju Pine Tower, Lya. Blud sama sekali tak mengetahui mengenai perihal pemanggilan, ia bisa dianggap pembangkang apabila tak datang. Memang aku begitu berat hati membiarkanmu pergi seorang diri, akan tetapi ini merupakan desakan. Pergilah, aku mengizinkanmu.”

“Aku bisa mengantarkannya, itu pun jika Nyonya tidak keberatan,” tawar Cahreb. “Memang ada beberapa surat lagi yang harus kusampaikan pada anggota dewan kota lainnya, tetapi aku bisa langsung mengantar Lya setelah surat-surat ini sudah sampai kepada yang dituju. Mungkin akan agak larut tiba di Pine Tower, aku pastikan Lya akan tetap aman bersamaku daripada ia berangkat seorang diri.”

“Entahlah, aku tak ingin membuatmu susah, Cahreb,” sahut Malda, ragu.

“Astaga, Nyonya. Aku benar-benar ingin membantu. Percayalah kepadaku.”

“Aku percaya padamu, Cahreb. Dan aku tak keberatan menemanimu terlebih dulu untuk mengantarkan surat-surat itu,” kata Lya. Dengan begitu ia pun dapat mencari sosok Aldérin di jalan atau di tempat-tempat tertutup di bagian kota, karena ia yakin, bahwa elf masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat. Di mana tak ada seorang pun yang bisa menemukannya. “Terima kasih atas tawaranmu, aku menerimanya.”

“Baiklah, jika itu memang sudah kalian putuskan,” ujar Malda. Ia mendesah pelan, lalu pikirannya seolah teralih pada sesuatu. “Newt! Lark! Omong-omong, di mana tehnya?”

Terdengar langkah tergesa ke ruang depan dan Larker muncul.

“Newt sedang menjerang tehnya, Bu, karena sudah dingin. Bukankah tidak baik menghidangkan teh yang sudah dingin untuk tamu?”

Cahreb pun terkekeh. “Sudahlah, Lark. Aku dan Lya akan segera berangkat menuju Pine Tower. Sampaikan maafku atas jerih payah Newt, sayangnya, kami harus bergegas, acara minum teh hari ini harus kulewati.”

“Tolong bawakan tasku di atas tempat tidur, Lark,” pinta Lya.

“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya Lark, tiba-tiba.

“Astaga, tentu saja. Aku hanya pergi hari ini dan esok kan kembali.”

Lark menatap Lya sedih. “Aku merasa kita takkan lagi bertemu dalam waktu dekat.”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” Lya mengelus rambut Lark. “Ayo, lekas. Ambilkan tasku. Aku dan Cahreb harus segera pergi.”

Lya menoleh ke samping dan menatap Cahreb yang menarik tali pengekang kudanya dengan wajah lesu. Entah mengapa, ada perasaan nyaman menyusup mengisi seluruh rongga batin gadis itu. Ini merupakan saat pertama kalinya dia dan Cahreb menghabiskan waktu cukup lama berdua. Lya merasa amat senang.

Tiba-tiba saja Cahreb menoleh dan menangkap basah Lya sedang memperhatikannya. Mereka saling berpandangan, sama-sama membisu selama beberapa detik, membiarkan momen tersebut di dalam suatu keheningan tersendiri.

“Kau tidak apa-apa, Lya?” tanya Cahreb, memecah kesunyian di antara mereka. Lya menggeleng lemah. “Aku ikut prihatin dengan masalah yang kau alami, ah … seandainya ada sesuatu yang bisa kulakukan agar kau tetap hidup normal,” lanjutnya.

“Aku hidup normal, Cahreb.”

“Kau tak mengerti,” gumam pemuda itu. “Aku mendengar banyak tentangmu, dan mengenai perjodohan yang dilakukan ibumu. Itu sedikit menggangguku. Yah … begitulah.”

“Apa yang kau maksudkan?”

Cahreb menatap lurus ke depan, tak menjawab. Ia mengencangkan pegangan tali pengekang dengan erat, lalu kembali menoleh pada Lya. “Tidak kau sadarikah selama ini?” tanyanya, tiba-tiba. Lya memandang Cahreb, keheranan. “Kita sudah saling mengenal cukup lama, tapi tidak cukup bagiku menganggap semua ini adalah masalah persahabatan semata. Aku ….”

Desahan terdengar dari bibir Cahreb.

“Aku menginginkan hubungan kita lebih erat. Aku ingin menjalin sesuatu yang lebih.” Ia menatap Lya, membutuhkan reaksi yang dia bayangkan. “Selama ini aku bekerja keras untuk mengumpulkan harta yang cukup, untuk meminangmu, kelak.”

Tubuh Lya bergetar. Karena tak menyangka atas apa yang dikatakan oleh Cahreb, tiba-tiba saja air matanya bergulir. Ini merupakan berita yang paling menyenangkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

“Maaf aku ….” Cahreb kehilangan kata-kata.

“Jangan meminta maaf,” tukas Lya. “Aku tak menduga bahwa kau akan mengatakan ini, pada akhirnya.”

Lya mengenggam tangan Cahreb. “Aku akan menunggu saat itu tiba, Cahreb. Ibuku takkan keberatan, percayalah. Ia takkan memaksakan perjodohan tersebut apabila aku telah memiliki seseorang yang sudah berjanji untuk menikahiku.”

“Syukurlah,” Cahreb mempererat genggaman tangannya pada Lya. “Setelah ini semua berakhir, aku akan membicarakannya sesegera mungkin kepada orang tua kita berdua. Namun, aku takkan mungkin mengadakan pesta yang megah.”

Lya menggeleng dan tersenyum bahagia. “Aku lebih suka pesta yang sangat sederhana, akan tetapi sangat berkesan,” ujarnya.

Cahreb mendadak saja menghentikan gerobaknya. Ia menatap sekeliling dan seulas senyum tersungging dari bibirnya. Ia memutar tubuhnya condong ke arah Lya, lalu menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Lya Brander,” Cahreb berdehem keras, diikuti kekehan lirih Lya. “Lya Brander, maukah kau menikahiku? Seorang pemuda tanpa derajat dan harkat yang tinggi, tetapi ia akan melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia,” tanyanya.

Air mata kembali membasahi pipi Lya. “Ya, aku bersedia menikahimu.”

Dan di kegelapan malam, di mana tidak banyak orang berlalu lalang, Cahreb pun menyematkan sebuah cincin mungil berbatu berlian di jari manis Lya yang telah ia simpan di saku mantelnya. Desiran angin seolah memberikan ucapan tulus atas kebahagiaan keduanya. Dan ketika Cahreb mendekatkan wajahnya ….

Lya mendadak menahan tubuh Cahreb yang hendak mengecupnya. Gadis itu menoleh ke sana ke mari, ke mana jarak pandang matanya dapat melihat. “Cahreb, aku bersedia menikah denganmu. Tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Lya turun dari gerobak, selayaknya mendapatkan firasat lain di tempat itu.

Embusan angin yang berdesir tadi memberikan arti lain di batin Lya, seolah membisikkan sesuatu. Gadis itu berjalan menyusuri pagar tanaman tinggi yang melindungi kediaman Crusel Fardrown, dan apabila ia tak bisa menahan emosi, tentu sudah ia bakar rumah milik hakim agung jahat itu.

Cahreb yang sama sekali tak mengerti tingkah Lya, mengikutinya di belakang.

“Di sana,” bisik Lya, mengarah pada sebuah bangunan kayu yang gelap di tengah-tengah halaman luas. “Dia di sana.”

“Seharusnya kita tak berada di sini, Lya. Kita bisa dianggap sebagai penyusup.”

“Sebaiknya kau di sini, mengawasi keadaan,” kata Lya. “Kau setuju?”

“Tetapi—”

“Terima kasih, Cahreb.”

Lya pun segera mengecup pipi pemuda itu, dia pun bergegas melompati pagar kayu dan berlari sekencang mungkin agar tidak ada yang memperhatikan apa yang ia lakukan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!