The Quest for The Lost Inheritors
Penyamaran yang Dibuka
Siang itu, Keld Fielgreen berkunjung ke bar Dorin’s Wheat, karena penginapan Blud tutup tanpa Keld sendiri tahu apa penyebabnya. Hal ini sedikit membuat benak Keld bertanya-tanya. Tidak biasanya Blud menutup penginapan secara tiba-tiba. Sempat Keld berpikir ini disebabkan oleh kejadian penangkapan Aldérin.
Mungkin bisnis Blud kurang menguntungkan hari ini, batin Keld.
Namun, pemikiran yang lain datang melintas. Bisa saja Blud melakukan sesuatu yang sangat penting dan sifatnya rahasia. Bisa saja begitu, tetapi mengapa Blud harus merahasiakan dari dirinya? Ini menjadi pertanyaan besar bagi Keld. Apa mungkin Blud akan melakukan sesuatu yang berkaitan erat dengan perihal Aldérin. Itu cukup masuk di akal kenapa Blud tak mengatakan sesuatu kepadanya.
Sebuah tepukan di bahu mengagetkan Keld, seketika itu lamunannya buyar. Saat menoleh, sosok pria asing yang bertemu dengannya pagi hari tadi, ternyata sudah berdiri tepat di belakang; memberikan senyuman yang tak bisa diartikan.
“Tuan Fielgreen! Tak kusangka kita dapat bertemu secepat ini,” sapanya.
Keld menatap malas, akan tetapi demi kesopanan ia mempersilakan pria itu untuk duduk di sampingnya. “Ya, begitu juga aku. Apa kau mau bergabung denganku?”
Harapan Keld menjadi sia-sia saat pria itu menerima tawarannya. Padahal jelas-jelas raut wajah Keld menunjukan arti yang sebaliknya. Namun, pria itu seolah berpura-pura tidak tahu. Pria itu meletakkan kantung kulit berwarna hitam di atas meja, ia buka talinya dan memperlihatkan isinya pada Keld; hati-hati. Dari celah kecil kantung tersebut Keld dapat melihat kilauan dari dalamnya. Lalu si pria asing cepat-cepat menutupnya kembali.
“Aku adalah pedagang perhiasan, Tuan,” ia berkata. “Namun, tidak sembarang perhiasan. Aku mencari benda berharga yang unik dan antik. Seperti pagi tadi aku mendapatkan sesuatu yang menarik saat kita pertama kali bertemu.” Pria itu menyeringai. “Kau tahu apa maksudku, Tuan Fielgreen.”
Perkataannya sangat mengganggu bagi Keld. Apa dia bermaksud menyogok Keld dengan kantung perhiasan yang ditunjukan olehnya beberapa saat tadi?
Namun, sebelum kecurigaan Keld makin melebar, pria itu segera melanjutkan penuturannya, “Itu merupakan contoh-contoh perhiasan antik yang aku temukan di Vôld dan sangat sulit mendapatkannya.”
“Lalu apa hubungannya semua ini denganku?” tanya Keld. “Gelang yang kau inginkan, maaf, itu milik orang lain dan bukan untuk dijual. Menurut saranku, lebih baik kau mencari perhiasan yang kau inginkan di Ärbyn, di sana ada beberapa pedagang perhiasan. Mungkin salah satunya menarik minatmu.”
Si pria itu kelihatan kecewa lalu ia memasukkan lagi kantung perhiasannya ke dalam saku mantel. “Kalau begitu, bisakah kau memberitahukanku siapa pemilik gelang yang pagi tadi kulihat? Mungkin ia memiliki perhiasan unik lainnya.”
“Pemilik gelang itu tak bisa memberikanmu apa-apa. Ia adalah tahanan, dan tak lama lagi akan diadili oleh raja kami. Bahkan kerabatnya pun tidak diperbolehkan menemuinya.”
Pria itu meneruskan pertanyaannya. “Kudengar tahanan itu berasal dari kota di selatan, apa benar?” ia menghirup ale-nya, lalu berdecak. “Aku mendengar selentingan dari orang-orang, dan pemilik Deliret House mengatakan hal itu padaku secara terang-terangan. Dia memperingatkanku untuk berhati-hati. ‘Kesialan bisa datang kapan saja untuk para pendatang, padahal sebelumnya tak ada satu pun pengunjung dari luar Hail pernah ditahan’, itu yang ia katakan.”
Kekehan meremehkan dilontarkan Keld. “Aku setuju. Selama kau berlaku wajar, terali besi itu tetap jauh untuk menjangkaumu,” katanya. Lalu Keld menoleh ke arah pria itu. “Jangan sesekali melakukan tindakan ‘ganjil’, Tuan. Karena akibatnya akan kau rasakan.”
“Seperti Aldérin ini?”
Keld diam. Hanya Blud, dia, dan keluarga Lya yang tahu nama si tahanan. Crusel dan dewan kota, tentu saja. Namun, mereka pasti menjaga nama dengan rahasia, bahkan prajurit kota takkan berani mengumbar nama meski mereka dalam keadaan mabuk berat.
“Bagaimana kau—”
“Senang bertemu denganmu, Tuan Fielgreen,” tukas pria itu, dan tiba-tiba saja ia malah berpamitan. Ia meletakkan secarik kertas di atas meja. Lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Keld yang masih keheranan karena sikapnya yang begitu misterius. Terdengar di belakang Keld pintu terbuka lalu menutup kembali dalam hitungan detik.
Orang itu sudah pergi.
Mungkin dia memang tak berniat meneruskan perbincangannya dengan Keld lebih jauh, namun sikapnya menunjukkan arti yang lain. Terlebih, setelah orang itu meletakkan secarik kertas yang tak mungkin ditinggalkan tanpa sengaja.
Dengan hati-hati Keld mengambil kertas itu, lalu membacanya :
Shryh
Hanya itu yang tertulis.
Keld tak mengerti, akan tetapi pikirannya segera tertuju pada Alderin. Mungkin ia mengetahui sesuatu mengenai shyrh ini. Dengan tergesa-gesa Keld menghabiskan minumannya. Ia beranjak dari duduk, mengambil topi dan jubah lusuhnya dari kapstok lalu berpamitan pada pemilik bar.
Langit yang tadinya biru cerah tanpa noda, mulai didatangi gelombang awan pekat. Angkasa menjadi redup, dan suara gemuruh sesekali terdengar pelan dan berirama. Keld mengeluh pelan. Sebentar lagi mungkin hujan akan datang. Sebelum benar-benar basah kuyup, Keld memutuskan cepat-cepat kembali ke penjara kota dan memberikan kertas tersebut pada Aldérin.
“Tuan Keld!” Lya melambai-lambaikan tangannya ketika Keld hendak berbelok ke tikungan, gadis itu buru-buru menghampirinya. Napasnya terengah-engah dan di dahinya terlihat titik-titik keringat.
“Wah, terlalu siang untuk melakukan olah raga, bukan?” goda Keld, seulas senyum menyungging dari bibirnya.
“Aku mencarimu ke mana-mana.”
“Sebenarnya aku bisa ditemukan di Warren’s Hut setiap hari, sayangnya Blud tutup begitu saja tanpa pemberitahuan,” kata Keld. “Katakan ini sebagai protesku padanya, ya? Bisa-bisa ia kehilangan pelanggan terbaiknya jika kejadian seperti ini terus-menerus terjadi.”
“Karena itulah aku datang!” kata Lya jengkel.
“Apa sesuatu terjadi pada Blud?”
“Tidak secara langsung.” Lya bertumpu pada lututnya. “Astaga, panas sekali.”
“Lebih baik kita bicarakan di ruanganku,” ajak Keld.
Keduanya berjalan menuju penjara kota. Suasana lengang lebih terasa di sana, karena jarang orang yang mau melalui penjara kota. Tetapi beberapa kadang tak memperdulikan jalan mana yang mereka tempuh, selama lebih cepat sampai di tujuan.
Di seberang penjara kota, tepatnya adalah pos prajurit kota, Cahreb sedang asyik memotongi ranting dan daun tua sebuah pohon apel. Jika pohon itu sama sekali tidak dirawat, dipastikan pertengahan musim panas tiga bulan yang akan datang, butiran buahnya takkan terlihat menggairahkan. Hanya merah biasa dan hanya sedikit manis rasanya.
Pemuda itu melihat kedatangan mereka, tangannya melambai riang. Terlalu riang, bahkan. Dan dipastikan kejadian selanjutnya, tiba-tiba Cahreb kehilangan keseimbangan, ia terjatuh dari atas tong yang dijadikan pijakan olehnya.
“Cahreb!!” pekik Lya. Ia dan Keld memburu ke halaman pos prajurit, di sana Cahreb masih terduduk di atas tanah, meredakan kekagetannya, meski secara fisik, sepertinya ia baik-baik saja.
“Halo, Lya!” Cahreb melambaikan lagi tangannya. Ia menoleh pada Keld. “Ah, selamat siang, Tuan Fielgreen. Hari ini mendadak mendung.”
“Kenapa kau sangat ceroboh sekali,” gerutu Keld. Ia mengulurkan tangannya yang disambut oleh Cahreb. Pemuda itu membersihkan noda tanah kering yang menempel di pakaiannya. “Kau harus lebih berhati-hati, Nak!” nasihat Keld.
Cahreb terkekeh.
“Jika sudah selesai, datanglah ke ruanganku. Aku dan Lya hendak minum teh, kurasa kau pun perlu istirahat sejenak,” kata Keld. Cahreb hanya mengangguk. “Dan jangan jatuh atau menjatuhkan sesuatu!” tambah pria tua itu.
…
Secangkir teh kayu manis dingin diletakkan di atas meja di hadapan Lya, Keld pun mengeluarkan dua toples kue dan setoples gula-gula. Camilannya selama ia bertugas di penjara kota.
“Ada kik blueberry jika kau mau,” tawar Keld. Tetapi Lya hanya menggeleng. “Nah, apa yang ingin kau bicarakan, Nona kecilku? Sampai kau melewatkan kik buatan Paltis yang sangat lezat,” tanya Keld.
“Ini mengenai Findarel,” Lya mengawali. “Sakitnya semakin keras, oleh karena itu paman Blud merasa sangat khawatir.”
“Hingga ia menutup bar,” tambah Keld. Lya mengiyakan.
“Paman Blud menyuruhku memberitahukan perihal ini pada Aldérin, karena ia hendak membawa Findarel pergi,” ujar Lya. “Sebelumnya aku telah datang kemari, akan tetapi Tuan Redboot tak memperbolehkanku menemui Aldérin! Oleh karena itulah, hampir kuintari seisi kota untuk mencarimu. Kuharap kau dapat membantuku, Tuan Keld.”
“Maaf sekali, Lya. Memang begitulah peraturannya, dan kau seharusnya tahu bahwa Burbock Redboot lebih keras dibandingkan aku,” kata Keld. “Namun, aku pun tak bisa membiarkanmu masuk begitu saja menemui tuan Aldérin.”
“Tetapi aku harus menyampaikannya!”
“Kau bisa memberitahukannya melalui aku. Nanti kusampaikan.”
Lya berpikir sejenak. Akan menjadi masalah besar jika ia memberikan surat dari Blud untuk Aldérin, ia harus mencari cara agar elf dari Lamvorels itu benar-benar mengerti apa yang direncanakan oleh Blud. Keld tidak tahu menahu tentang bangsa dëia ataupun serentetan masalah yang kini tengah terjadi. Ia belum boleh tahu, sebelum segalanya menjadi jelas dimuka raja kota Hail.
“Masalahnya agak rumit, Tuan Keld,” sahut Lya. “Kumohon, pertemukan aku dengan Aldérin, kau boleh mengawasi apa yang kami bicarakan.”
Keld menimbang-nimbang. Ia sebenarnya tak ingin terlalu keras pada masalah ini, tetapi jam itu merupakan giliran jaga Burbock, dan Keld tidak bisa seenaknya melakukan ini-itu di jam kerja orang lain. Ia berpikir, dan sebuah gagasan muncul.
“Burbock!! Burbock!!” seru Keld.
Terdengar ketak-ketuk langkah seseorang yang mendekat. Pintu ruangan Keld pun terbuka, dan dari balik pintu menyembul wajah seorang pria berusia 30-an, berambut kuning jerami, dengan janggut lebat tak terawat.
“Kulihat di luar mendung, tentu akan sangat dingin jika benar-benar hujan nanti. Apa kau punya simpanan ale, Burb?” kata Keld. Burbock menggeleng. “Sayang sekali. Padahal saat bekerja lebih enak ditemani minuman hangat,” gumam Keld.
“Kau tidak salah,” Burbock agak kecewa. “Seharusnya aku membeli satu atau dua botol saat pergi dari rumah tadi.”
“Sebenarnya aku hendak membelikannya untukmu, tapi aku sedang berbicara sangat serius dengan Lya,” kata Keld. Burbock hanya mengangguk-angguk. “Nah, bagaimana jika kau saja yang membeli? Akan kuberikan uangnya,” tawar Keld.
“Tetapi aku sedang bertugas, Keld.”
“Aku akan di sini sampai kau kembali, dan kujamin, takkan ada yang tahu!” Keld mengeluarkan dua keping koin perak dari saku mantel depannya. Burbock agak ragu, tetapi melihat uang yang diperlihatkan Keld cukup banyak, ia pun mengangguk setuju. “Belilah yang cukup keras. Aku mengalami hari yang berat.”
Burbock tertawa kecil saat menerima uang itu. “Bisa kulihat,” katanya. “Tidak heran kau berbicara serius dengan Lya. Ini mengenai masalah wanita.”
Keld meringis, tetapi ia mengangguk setuju. “Ya, kau tahu bagaimana Paltis.”
“Aku mengerti,” Burbock ikut-ikutan meringis. “Sebaiknya aku pergi sekarang, sebelum benar-benar hujan. Nah, selamat berbincang-bincang.”
“Tak usah tergesa-gesa, Burb!”
Keduanya masih sama-sama diam hingga sosok Burbock hilang dari balik pintu penjara.
“Seburuk itukah sikap Nyonya Paltis?” tanya Lya, menyindir.
Karena ia tahu, Paltis adalah wanita tua yang ramah dan senang berbicara. Dan ia sangat sayang kepada Newtor juga Larker. Meski agak sedikit cerewet, terlebih pada Keld.
Keld hanya terkekeh mendengar penuturan Lya. Namun, ia tak mau membahas masalah itu lebih lanjut. Hanya Blud yang menjadi tempat curahan hatinya, entah karena mereka sama-sama pria, entah karena Blud tak pernah memusingkan apa yang dibicarakan Keld.
Si penjaga penjara kota itu beranjak, membuka lemari yang tepat berada di belakangnya. Di sana, berjejer paku yang digantungi oleh kunci. Keld mengambil satu, lalu memberi isyarat agar Lya segera mengikutinya.
Penjara kota tidak terlalu besar bangunannya, hanya ada sepuluh sel kecil yang saling berhadapan, dua ruangan sempit yaitu ruang kerja Keld dan Burbock, dan sebuah ruangan tempat bersantai sekaligus ruang menerima tamu dengan perapian mungil di sudut kiri ruang. Warren’s Hut jauh lebih besar ukurannya dan yang jelas, tempat tidurnya lebih nyaman daripada di penjara kota.
Aldérin terkejut mendapati Lya mengunjunginya. Ia buru-buru mengeluarkan jari-jarinya dari sela terali besi dan mengusap kepala gadis itu. Ada rasa haru menyelimuti, hingga air mata tak dapat dibendung oleh Lya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Aldérin.
“Ya, aku tak apa-apa.” Lya menghapus air matanya. “Ini mengenai Findarel.”
“Aku sudah mendengar dari Tuan Keld, sakitnya semakin parah,” kata Aldérin. “Tetapi aku tak mungkin bisa keluar dari sini.”
“Aku mengerti,” ujar Lya. “Oleh sebab itulah Paman Blud hendak membawa ia pergi. Kau tahu ….” Lya membuat jeda, memikirkan caranya menyampaikan pada Aldérin. “Kurasa penyakit Estion makin membesar, Aldérin. Tubuh Findarel dingin bagaikan es, seolah penyakit itu tengah melindungi dia, tetapi sebaliknya, itu bisa mengundang penyakit lain, ya itu … penyakit dëia. Kau mengerti maksudku?”
Benak Aldérin mencerna dengan cepat. Estion berusaha melindungi Findarel, akan tetapi aura yang ditimbulkannya bisa mengundang bahaya. Bangsa dëia pasti bisa merasakan ada kekuatan besar datang dari rumah Malda, sedangkan Aldérin pun tahu, bangsa itu sudah ada di Hail, meski entah bagaimana caranya mereka dapat menyusup dengan mudah.
“Lalu saran Tuan Blud?” tanya Aldérin.
“Ia menyarankan agar Findarel dibawa keluar dari Hail, demi keamanan semua orang, karena bisa saja penyakit ini menyebar,” kata Lya.
Keld mendengarkannya dengan seksama, dan bulu kuduknya mendadak merinding.
Lya melanjutkan, “Tempat yang sangat sepi, misalnya seperti penginapan Pine Tower, di luar kota. Itu agak jauh dari jangkauan banyak orang, hingga kemungkinan penyebaran penyakit lebih kecil. Tetapi sebaiknya ia segera dibawa ke utara, secepat mungkin! Dengan atau tanpa keputusan akhir, begitu kata Paman Blud.”
Singkatnya, Blud akan menunggu Aldérin di Pine Tower dan ia harus segera melarikan diri dari penjara kota. Tak perlu lagi menunggu persidangan, karena hal lain datang dengan desakan kuat. Nyawa Aldérin dan Findarel sudah terancam, karena kedatangan penyusup bangsa dëia. Dan mereka sebaiknya meninggalkan kota, pergi menghindar sebelum melakukan serangan balasan, kelak.
“Kapan ia akan membawa Findarel?”
“Malam ini juga.”
“Baik, aku setuju dengan keputusan Tuan Blud.” Aldérin pun berpikir cepat. Ia segera teringat pada Thila, bandul milik Tylosae. “Aku tak ada uang untuk bekal mereka di perjalanan. Pinjamlah uang pada siapa saja yang kau kenal, jadikan bandul ini jaminan. Paling lambat dalam dua hari, aku akan menggantinya. Kau bisa menjual sebagian dari barang-barangku, Lya. Atau tidak, jaminkan bandul dan barangku pada Blud. Jika masalah ini sudah selesai, aku akan membayar hutangku pada pamanmu.”
Lya memang sangat pintar menangkap apa yang dimaksud oleh Aldérin. Itu berarti dalam dua hari, selambat-lambatnya, Aldérin akan berusaha melarikan diri dari penjara kota. Dan barang-barangnya lebih baik dibawa oleh Blud bersama Findarel. Dengan begitu, Aldérin akan leluasa pergi dan lebih cepat menyusul Blud juga pewaris Estion itu.
“Semoga berhasil,” bisik Lya, sembari menggenggam erat jari Aldérin.
“Terima kasih. Aku berhutang banyak pada kalian.”
Tiba-tiba saja Keld teringat sesuatu. Ia yang awalnya menjaga jarak dari mereka, lalu datang menghampiri, secarik kertas ia serahkan pada Aldérin.
“Dua kali aku bertemu pria aneh ini, sekali di pagi hari, sekali di siang hari,” ia berkata. “Namun pertemuan kedua membuatku bingung. Dia mengajakku berbincang dan pergi begitu saja dengan menyimpan kertas itu di atas meja, seolah memang ditujukan untukku. Tetapi, aku tak tahu apa yang ia maksud. Hanya satu kata yang ia tulis, dan bahasanya asing.”
Aldérin melihat isi kertas itu, dan mendadak saja tangannya meremas kertas tersebut dengan geram. Lya hanya menatap heran, tak mengerti mengapa sikap Aldérin berubah muram. Lalu Aldérin berdesis pelan, “Shryh di Hail.”
Tubuh Lya mendadak kaku. Napasnya terasa tercekik.
“Tuan Keld, bisakah aku mempercayaimu?” tanya Aldérin, tiba-tiba. Ia dalam keadaan terdesak saat ini. “Karena aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”
“Ya, tentu saja,” suara Keld sedikit terkejut. “Apa pun, Tuan Aldérin. Kau bisa mengandalkanku. Dan akan kujaga rahasiamu sebaik mungkin.”
Lya menggeleng cepat ketika Aldérin hendak membuka syal di kepalanya, tapi elf itu bersikeras. Ikatan itu terlepas sudah dan kini Keld Fielgreen membeku di tempatnya, menyandar pada dinding dengan tangan menjulur ke arah Aldérin dan bibirnya bergerak-gerak kaku, tetapi tak ada suara yang keluar.