The Quest for The Lost Inheritors
Di Pekarangan Sang Hakim
Tiga ratus tujuh puluh satu.
Nomor yang diberikan oleh pelayan Crusel untuk Aldérin. Sedangkan entah kapan mereka akan bisa bertemu dengan Crusel, karena sudah jelas tertera di papan pengumuman, setiap kasus yang ditangani akan berbeda-beda waktunya. Jika satu kasus belum terpecahkan, maka kasus yang lain harus tetap menunggu. DENGAN SABAR.
Aldérin menatap Lya yang membalasnya dengan tatapan putus asa. Mereka pun memutuskan untuk keluar dari ruang depan rumah Crusel dan duduk di atas bebatuan di tengah-tengah pekarangan rumahnya, di mana di sana pun tak kurang dari beberapa puluh orang bergerombol, menggerutu; berkelakar; terbengong-bengong; dan berbincang-bincang satu sama lain.
Untung Crusel memiliki tanah yang luas, sehingga rumahnya mampu menampung banyak orang, tetapi tetap saja terasa sesak dan hiruk-pikuk layaknya di Ärbyn.
“Ini mustahil dilakukan, Lya,” bisik Aldérin. “Aku tak mungkin mengulur-ngulur waktu dan berbicara pada Crusel dengan permasalahan yang belum tentu dapat ia pahami. Apa kau tak memiliki cara lain?”
Dan tak jauh dari samping kiri mereka dua orang sedang sengit beradu mulut, ini salah satu masalah yang dianggap ‘pelik’ oleh Crusel.
Si kumis hitam menjual bebek seharga lima koin perak kepada si rambut merah, hanya bebeknya saja. Sedangkan si rambut merah (yang merasa harga bebek itu terlalu mahal) dia mau membayar lima koin perak, akan tetapi dengan telur yang dierami si bebek. Karena sama-sama bersikeras, akhirnya mereka berkelahi. Dan memutuskan ‘tuk datang ke tempat Crusel, meminta keadilan.
Nomor antrian mereka adalah ke-210, tetapi dikarenakan situasi memanas, Crusel memajukan antrian mereka menjadi keempat, setelah orang ketiga (yang di dalam ruangan peradilan) saat ini, keluar. Hal yang tak mungkin bisa dilakukan oleh Aldérin untuk mendapat kesempatan demikian langka.
Aldérin pun ragu, apa masalah yang akan diutarakannya nanti, akan dimengerti oleh Crusel yang (bahkan) menganggap ‘problem bebek’ merupakan kasus krusial.
Dan mendapat nomor antrian beratus-ratus, bisa menghambat langkah Aldérin selanjutnya. Ia bisa menghabiskan beberapa hari lagi, satu minggu atau mungkin satu-dua bulan ke depan. Menunggu demikian lama, merupakan hal yang sia-sia.
Dan ketika datang beberapa waktu lalu, selang tiga puluh menit, sudah membuat Aldérin jengah mendapati tatapan orang-orang yang heran melihat parasnya. Selama berjam-jam menunggu, melelahkan elf dari Lamvorels itu.
“PENIPU!” teriak si rambut merah, yang membuat Lya tersentak kaget dan merasa terganggu. “Lima koin perak apa tak cukup untukmu? Serakah! Pemeras!”
“Aku tak tahu jika bebek itu bertelur!” Si kumis hitam meludah.
“Apa mereka tak bisa lebih pelan sedikit?” desis Lya. Ia beranjak dari duduk, dan cepat-cepat Aldérin menahan lengannya. Memberikan tatapan peringatan.
Namun, Lya membantahnya sembari berujar, “Aku hanya ingin mengurangi satu atau dua antrian, Tuan 3300 tahun!”
Pertengkaran ‘bebek’ mendadak saja tertunda dan teralihkan sesaat ketika Lya sudah berdiri di antara kedua pria tersebut sembari berkacak pinggang. Puluhan orang lainnya mengamati tanpa bersuara, menganggap itu adalah tontonan yang menarik sembari menunggu keadilan yang ditegakkan oleh Crusel.
“Apa kalian tak terlalu tua untuk memperebutkan sesuatu, heh?” teriak Lya, gusar.
Kedua pria itu hanya menatapnya heran. Bingung karena Lya mendadak marah, dan tak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba ikut campur.
“Dengar! Kau salah karena tak bicara sejak awal mengenai telur yang bebek itu erami,” tunjuknya pada si kumis hitam. Lalu pada si rambut merah ia berkata, “Dan kau pun sembrono karena tak menanyakan apa itu termasuk harga telurnya atau tidak! Seharusnya kau lebih teliti!”
“Inilah yang kami akan utarakan pada Tuan Fardrown, Nona Kecil,” sungut si rambut merah. “Keadilan harus dilaksanakan!”
“Kau mau keadilan?” tanya Lya, sinis. “Bagi saja telur itu dalam jumlah yang sama, jika ganjil, si penjual yang berhak mendapatkan lebih banyak, karena atas telur itu, ia akan terus beternak dan menjual bebek-bebek penerusnya!”
Si kumis hitam ragu. Ia pun tak ingin rugi, tetapi apabila Crusel memutuskan bahwa seluruh telur untuk si rambut merah, ia akan lebih rugi dari sebelumnya. Hal yang sama dipikirkan oleh si rambut merah. Siapa pun yang memenangkan perkara, sedikitnya harus mengeluarkan beberapa keping perak untuk Crusel. Yang sebenarnya jauh lebih merugikan, ketimbang masalah bebek dan telurnya.
“Bagaimana?” Lya menunggu, agak tak sabar.
“Telurnya ada tiga belas, jika menurutmu itu sebaiknya dibagi, yah … sama sekali aku tak keberatan,” kata si kumis hitam. “Jika dia mau menerimanya.”
“Tidak apa-apa, enam butir cukup untukku. Kau bisa ambil sisanya!” sambut si rambut merah. “Kau jauh lebih membutuhkannya dari aku, sebagai peternak.”
“Selesai?” tanya Lya, meyakinkan. Keduanya mengangguk, berbarengan. “Dan apa yang kalian tunggu? Berdamai dan pergilah!” tukas Lya.
Aldérin hanya tersenyum-senyum geli melihat kedua pria itu bertingkah kikuk ketika mereka berjabat tangan. Bahkan si kumis hitam berjanji akan memberikan sebutir telur itu untuk Lya, sebagai rasa terima kasih, dan menganggap itu akan adil kepada dua belah pihak karena sama-sama mendapatkan enam butir telur.
“Aku akan kembali secepatnya,” janji si kumis hitam dari balik pagar rumah Crusel dan sosoknya menghilang di balik pagar sesemakan, begitu pula si rambut merah.
“Ia akan kembali untuk memberikan telur?” tanya Aldérin, bergurau.
“Ya, lucu sekali, bukan?” Lya pun tertawa.
Namun tawa itu mendadak berhenti ketika beberapa orang mulai datang dan mengerumuni Lya, mengungkapkan kesusahan mereka yang berbeda-beda tanpa diminta. Satu berkata begini, satu berkata begitu; satu mengeluh ini, yang satu mengeluh itu; dan semuanya mengacu pada kalimat akhir, “Demi keadilan, Nona!”
Lya menatap penuh harap pada Aldérin untuk membantunya. Kali ini Aldérin yang tertawa terbahak-bahak melihat Lya kebingungan. Dengan santai, Aldérin hanya mengangguk sembari melipat tangan, membuat Lya semakin jengkel.
“Kau lebih tua dariku, dan kau lebih bijak,” desis Lya pada Aldérin. “Tidak bisakah kau bantu aku? Aku kewalahan di sini.”
Mata Lya melirik pada Aldérin, bergantian dengan orang-orang yang mulai mengerumuninya untuk meminta bantuan peradilan secara cuma-cuma.
“Oh, tidak. Aku hanya pendatang dari selatan yang ingin bicara dengan tuan hakim,” kelakar Aldérin. “Ini adalah tugasmu, sebagai penduduk dari Hail.”
“Tetapi—”
“Nona, bantulah aku. Ini hal yang sangat genting,” potong seseorang.
“Tidak, aku yang ingin meminta bantuannya lebih dulu,” balas yang lain sengit.
“Stop! Hentikan! Aku tidak mau mendengar pertengkaran apa pun. Berbarislah, aku akan akan membantu sebisaku,” tukas Lya dengan tegas.
Aldérin hanya menyunggingkan senyum, lalu dia bergerak menjauh dari Lya dan kerumunan orang-orang. Dia bersandar pada sebuah pohon, di tempat yang lebih sepi, meski masih bisa mengawasi Lya dengan matanya. Di mata Aldérin, gadis itu tampak bersinar ketika bicara pada orang-orang dengan penuh semangat. Sosok yang unik gadis bernama Lya.