The Quest for The Lost Inheritors
Berita dari Elethäs
Néverlër hanya menyunggingkan senyum dan mengangguk seraya berkata, “Hal ini berkaitan dengan banyak hal di Halrunën. Akan kujelaskan.”
Maka Néverlër pun menceritakan kisahnya,
“Sepuluh tahun yang lalu, Gûr’adór—pamanku, berniat pergi ke utara untuk mengambil batu Ratera dari puing-puing kota nymph air di sana. Ia dan beberapa centaur terlatih, terpaksa pergi, demi kelangsungan hidup alam di Elethäs. Baik Tylosae maupun ratu Titelénta mengetahui hal ini, meskipun mereka tak begitu setuju dengan keputusan pamanku, karena beresiko tinggi, akan tetapi pada akhirnya mereka merestui perjalanan Ref Gûr’adór.
“Tiga bulan setelah pergi, Ref Gûr’adór kembali ke Halrunën, sendirian. Alasan yang ia katakan adalah, mereka diserang oleh manusia dan Ref Gûr’adór berhasil menyelamatkan diri. Namun, semenjak kepulangannya, perangai Ref Gûr’adór berubah, bahkan aku tak tahu, apa dia benar-benar pamanku atau bukan.
Raut wajah Néverlër tampak keruh.
“Sering kulihat ia menerawang lama sekali, dan berbicara sendiri, meski aku tak tahu apa yang menyebabkan ia bisa berbuat demikian. Dan ia pun seringkali menghilang, satu dua bulan kemudian baru kembali, meski tak ada yang tahu ke mana ia pergi.
“Lima tahun setelah kejadian tersebut, tiba-tiba Ref Gûr’adór mengatakan agar kami membuat koloni baru di barat, ‘Tinggal di Elethäs hanya menunda kematian, lebih baik tinggal di Andû, para dryad pun telah mengetahui hal ini dan setuju atas permintaanku, tiga tahun aku meyakinkan mereka dan ini adalah hari menuju kemenangan kita!’, itu yang ia paparkan. Ayahku marah, karena Ref Gûr’adór begitu lancang di hadapan para dryad dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tak diketahuinya. Mereka bertengkar hebat lalu puncaknya adalah lima tahun yang lalu, ayah mengusir pamanku.
“Pendukung ref Gûr’adór diam-diam mengikutinya, entah apa yang dikatakan oleh pamanku itu, tetapi mereka mulai membangun Nanduél, lima tahun lalu. Ayahku begitu malu dengan tindakan Ref Gûr’adór, oleh karena itu dia tak pernah memberitahukan ini kepada bangsa elf, baik kepada Tylosae, maupun ratu Titelénta. Dan tak satu pun pendukung ayahku yang mau membuka mulutnya atas perilaku Ref Gûr’adór. Mereka melakukan aksi yang sama dengan ayahku.
“Wédéal, adik kedua ayahku, tak ingin ada perpecahan, karena itulah ia menjadi penghubung bagi ayahku dan Ref Gûr’adór. Ia berusaha mencairkan amarah di antara keduanya. Setahun sekali ia selalu pulang, ketika rombongan dari Halrunën berangkat, dia akan muncul di kota kami beberapa hari setelahnya. Rombongan terakhir, berangkat setahun yang lalu, meskipun begitu ref Wédéal berjanji, ia akan selalu datang tiap tahun.
“Namun ayahku sudah tidak bisa menunggu setahun sekali, keadaan sudah sangat genting. Terlebih, Tylosae mengatakan bahwa Estion seringkali memberi tanda aneh, katanya bandul itu sering bersinar secara tiba-tiba, memberitahukan sesuatu akan terjadi. Keberadaan Estion sangat penting bagi bangsa kami juga.
“Maka atas kejadian itulah, ayahku mengirimkan kurir pembawa pesan selama setengah tahun ke reruntuhan Éba, meminta siapa pun yang di sana memberikan bantuan, meski itu menjatuhkan harga diri kami, khususnya ayahku. Dan dia pun meminta agar kaum centaur maupun dryad, melindungi pewaris bandul, karena nyawa mereka dalam bahaya, tapi tak terdengar balasan apa-apa. Sampai kota kami hancur pun, tak pernah ada yang datang.”
“Kenapa kalian tak datang ke Lamvorels?” tanya Alderin.
“Ayahku takut Tylosae menganggap semua ini adalah pengkhianatan karena kami menyembunyikan masalah Ref Gûr’adór kepadanya, dan sudah kukatakan padamu bahwa ayahku terlalu keras kepala. Ia berpikir bisa mengatasi masalah ini sendirian. Namun, saat ia putus asa dan sudah dalam batas kemampuannya, satu berita baru datang, yaitu kehancuran Lamvorels. Harapan bagi kami untuk tetap hidup tenang di Halrunën menjadi mimpi belaka. Dëia sudah muncul….”
“Dan ayahmu tak tahu harus ke mana, karena semua sudah terlambat.”
Néverlër mengiyakan. “Aku satu-satunya yang lolos dari serangan dëia, dan memaksa diri melalui jalan ini, jalan yang penuh bahaya karena kehadiran manusia. Namun aku tak bisa membuang waktu lagi. Aku harus memperingatkan penghuni Nanduél dan Akriár.”
“Tunggu sebentar, aku teringat sesuatu. Temanku, Cialla Yewa, dryad dari Akriár juga memaparkan hal yang sama denganmu. Sebelumnya ia mengatakan menunggu utusan centaur dari Halrunën, akan tetapi tak satu pun dari kaum kalian muncul, tetapi sepengetahuanku ia baru menunggu satu bulan lebih,” kata Aldérin.
“Satu bulan?”
“Ya, itu yang ia katakan. Selama sebulan ia menunggu di reruntuhan Éba, dia mengatakan demi misi penting bagi ratu mereka.”
“Apa kau merasa ada serpihan yang hilang dari cerita kita berdua, Aldérin?”
“Kurasa begitu. Sayangnya, aku tak memiliki banyak waktu untuk menyelidikinya, Néverlër. Aku harus segera ke Hail, dan ke utara, demi misi menyelamatkan dunia yang harus kujalani. Ini merupakan petunjuk dari Fel Meth. Namun aku bisa menemanimu hingga Nanduél, hanya sekedar berjaga-jaga, demi keselamatanmu,” tawar Aldérin.
Néverlër menggeleng tegas. “Jangan. Kau dalam ketergesaan, bahkan sedetik pun bisa terbuang sia-sia jika kau melenceng dari misi utamamu, Aldérin. Lebih baik kau teruskan perjalananmu, dan aku akan meneruskan langkahku, tetapi di akhir, kita akan bertemu lagi, pada saatnya berhadapan dengan bangsa dëia.”
Néverlër pun beranjak berdiri, dia sudah cukup bertenaga dan merasa jauh lebih dari sebelumnya. Dan bukan waktunya terus beristirahat, ada hal yang lebih mendesak, dan Néverlër harus segera tiba di Nanduél.
“Siapa yang akan kau temui di Nanduél?” tanya Aldérin.
“Ref Wédéal, tapi aku sangat ingin menemui kakakku, Nevêrther. Kurasa kau mengenalnya, Aldérin,” jawab Néverlër.
“Ya, tentu saja. Jika kalian saling bertemu, sampaikan salamku untuknya.”
Néverlër mengangguk. “Baiklah, sudah waktunya ‘tuk berpisah. Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian, takkan kulupakan sampai kapan pun.”
“Bawalah ini,” pinta Findarel. Ia menyerahkan kantung air dan kantung lainnya yang berisi buah-buahan kering. “Kami memiliki cukup banyak perbekalan, kurasa kau sangat membutuhkannya. Tolong, jangan kau tolak.”
“Aku ….” Néverlër memandang Aldérin, di mana elf itu pun mengangguk setuju. Dan bulir-bulir air mata pun jatuh membasahi pipi Néverlër. “Aku takkan mungkin menolaknya, sungguh ini merupakan bantuan yang tak terkira.”
“Satu hal lagi, Néverlër,” kata Aldérin. “Lebih baik kau temui terlebih dahulu temanku, Élsus, yang tinggal di mata air menuju aliran sungai Imp. Kau terus melangkah ke timur, tempat dia bermukim adalah sebuah pohon rowan besar di dekat anak bukit Rupert. Jika kau tak temukan sosoknya, tunggu sampai ia kembali. Pergilah dengannya ke Nanduél, dan katakan pada Élsus ini adalah permohonanku. Ia pasti akan menemanimu ke sana.”
“Tetapi mengapa?”
“Kau masih ingat dengan ‘serpihan yang hilang’ yang tadi kau katakan?” sahut Aldérin, dan Néverlër mengangguk. “Aku tak mau kau pun menjadi ‘serpihan yang hilang’, ada sesuatu yang ganjil terjadi, dan kurasa kau pun harus berhati-hati.”
“Aku mengerti, Aldérin,” balas Néverlër. “Akan kutemui Élsus. Dan sebenarnya, siapakah dia ini? Elf yang tinggal di sana untuk menyepi?”
Aldérin menggeleng. “Dia adalah druid.”
“Oh astaga! Élsus? Maksudmu, druid pertama yang ada di dunia Khâli? Apakah dia yang kau maksud?” tanya Néverlër, tak percaya. Aldérin mengangguk. “Kukira dia hanya legenda belaka, ini merupakan berita bagus. Sungguh kehormatan jika aku bisa bertemu dengannya, meskipun ia adalah manusia pada awalnya,” ujar Néverlër.
“Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik, Néverlër,” sahut Aldérin.
“Tunggu.” Néverlër membuka ikatan belati yang melingkari pinggangnya. “Ambil ini, Aldérin. Lautara; si Titik Es, ini milik mendiang ayahku, tetapi aku ingin kau memilikinya.”
“Tidak, aku tak mungkin menerima benda yang begitu berharga untukmu.”
Néverlër menggeleng. “Tanpa senjata, aku masih bisa menjaga diriku sendiri mulai sekarang. Lagipula, merupakan beban berat untukku membawa belati itu, kenangannya terlalu menyakitkan,” katanya. “Kumohon, demi persahabatan kalian berdua di masa lalu, terimalah, Aldérin.”
“Baiklah, akan kujaga belati ini dengan baik, demi ayahmu.”
“Terima kasih, itu membuatku sangat lega.” Néverlër tersenyum bahagia. “Dan apabila kau dalam keadaan terdesak, katakan saja ‘lautara terda’, maka keajaiban dari Fiamäl akan datang untukmu.”
Néverlër pun mengecup pipi Aldérin dan dahi Findarel ketika mereka hendak berpisah. Dan memperingatkan agar keduanya lebih berhati-hati karena bahaya yang mungkin mengintai di belakang mereka. Berkali-kali ia menolehkan wajahnya ke belakang, lalu sosoknya hilang di balik pepohonan yang rindang. Aldérin sangat khawatir padanya, tetapi takdir Néverlër bukan berada dalam jangkauannya, centaluna itu memiliki jalan hidupnya sendiri, yang akan ia ukir dalam perjalanan waktunya.
“Apa dia akan baik-baik saja, Ial?” tanya Findarel. Masih memandang ke arah pepohonan di mana sosok Néverlër menghilang.
“Entahlah, Findarel. Bahaya besar masih mengejarnya, tetapi kuharap Néverlër dapat menghindar darinya,” jawab Aldérin. “Perasaanku begitu kuat, ada sesuatu yang disembunyikan oleh seseorang di Nanduél.”
“Maksud Ial, pamannya? Gûr’adór? Wédéal? Atau mungkin Nevêrther?”
“Semua hal dapat menjadi mungkin. Kau harus tahu, ketika seseorang berada di ujung mata pedang, ia bisa melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri, meskipun itu harus mengorbankan nyawa orang lain, bahkan orang yang disayanginya.”
“Menurutku, itu adalah tindakan yang amat egois.”
“Kita tak bisa mengadili siapa pun yang menurut kita salah, karena kita pun belum tentu benar. Mungkin ia melakukan hal itu, karena menurutnya, itu tindakan yang benar.”
“Aku tetap pada pendirianku, Ial. Egois tetap egois.”
Aldérin terkekeh mendengar penuturan Findarel. Ia mengusap-usap rambut elterhel itu dengan lembut. “Baiklah, aku takkan berdebat lagi denganmu. Lebih baik kita pergi, karena malam sudah menjelang.”
Aldérin dan Findarel meneruskan lagi langkah mereka menuju ke Utara, saat di mana matahari mulai memerah dan bersiap pulang ke peraduannya.