The Quest for The Lost Inheritors
Para Dryad
Cialla Yewa. Itu adalah namanya. Salah satu dari bangsa dryad yang tinggal di dalam hutan Andûe terletak agak jauh di sebelah Barat dari Danau Crath.
Dan kedatangan Cialla jauh-jauh ke reruntuhan Éba adalah menunggu pesan dari kaum centaur yang tinggal di dalam hutan Elethäs. Namun lebih dari sebulan dia menunggu, tidak satu pun dari kaum itu muncul.
Oleh karena itulah, Cialla mulai menyerang siapa pun yang datang, selain kaum centaur, sebab ia berpikir bahwa manusia telah menangkap kurir dari kaum mereka.
Namun, setelah ia mendengar penjelasan Aldérin, bahwa kemungkinan besar kota kaum centaur pun dimusnahkan bangsa dëia, barulah Cialla mengerti. Bahwa keadaan jauh lebih genting akibat serangan bangsa yang jauh lebih membahayakan dari manusia.
“Dëia?” tanya Cialla, setelah mereka berbincang semalaman penuh dan keadaannya sudah jauh lebih baik dari sore tadi. “Bangsa kami tidak pernah mendengar mengenai mereka.”
“Tentu saja begitu, karena bangsa kalian muncul setelah bangsa itu hancur di dalam peperangan puluhan ribu tahun yang lalu, tetapi bangsa kami tak menyangka bahwa sebagian dari mereka ternyata selamat dari kepunahan,” jawab Aldérin.
Ia pun mulai menjelaskan sejarah di masa lampau. “Ketika peperangan berhenti dan dunia ini mulai sekarat, Avinlár, salah satu dari Shlikalla Naorma, mengutus Len Arna ke dunia untuk dibangun kembali. Karena sudah tidak ada lagi hutan, salah satu dari Len Arna menanam sebuah bibit pohon Akishá, yang dikatakan adalah induk dari segala pepohonan yang ada di dunia sebelum masa peperangan.
“Para elf menyambut penuh suka cita ketika pepohonan kembali menumbuhi dunia dan berkembang pesat. Karena sangat bersyukur akan hal tersebut, beberapa elf datang mengunjungi tempat di mana pohon Akishá ditanam, selama tujuh puluh hari mereka bernyanyi dan membacakan puisi-puisi indah kepada pohon itu, lalu keajaiban pun terjadi ….
“Para elf mendengar suara di batin mereka. Suara batin yang mengatakan bahwa mereka adalah para Shlikalla Naorma yang tersanjung dan terharu mendengar nyanyian para elf yang tiada henti. Lalu atas seijin dari Shlikalla Naorma, para elf diberi satu anugerah untuk menyatakan apa keinginan terdalam mereka. Dan mereka ingin para Shlikalla Naorma memberikan kekuatan kepada pohon Akishá. Yang terjadi adalah, tumbuh empat tunas baru di sekitar pohon tersebut.
“Karena bahagia, para elf bernyanyi lagi, membacakan lirik-lirik indah kembali selama 70 hari 70 malam tiada henti. Ketiga pohon baru tumbuh besar, kokoh sekuat batu karang, dan memasuki malam hari ke-71, suara para Shlikalla Naorma pun kembali terdengar di batin para elf. Mereka memberikan satu anugerah lagi, kepada para elf atas nyanyian mereka. Para elf mengatakan, ‘Berilah belas kasih, dan kebaikan kepada pepohonan terberkati ini’.
“Anugerah Shlikalla Naorma kembali dibuktikan. Pohon induk dan empat tunasnya tumbuh berbeda dari pepohonan di sekitar mereka, jauh lebih besar dan kuat, sehingga pepohonan lain muncul di atas banyak tanah kosong; kering; gersang lainnya. Pohon Akishá bersama tunas-tunasnya pun bisa berbicara kepada para elf dan begitu juga dengan pohon-pohon yang lain.
“Keharuan meliputi perasaan bangsa kami. Maka para elf di masa lampau itu pun kembali bernyanyi, memberikan cita rasa dan kasih sayang kepada pohon Akishá dan tunas-tunasnya. Mereka bernyanyi selama 70 hari 70 malam, dibarengi suara-suara nyanyian dari pepohonan.
“Dan kembali memasuki hari ke-71, para Shlikalla Naorma datang ke dalam batin para elf dengan suara agung mereka. Kali ini masih pun memberikan satu anugerah, hanya saja … mereka mengatakan itu adalah anugerah terakhir, maka dipikirkanlah baik-baik apa yang diinginkan oleh para elf. Bangsa kami pun diberi tiga hari untuk memikirkannya. Pada hari terakhir, para Shlikalla Naorma kembali membisikkan suara-suara mereka, meminta jawaban atas keinginan bangsa kami. Dan keinginannya adalah, memberikan jiwa kepada pohon Akishá.
“Para Shlikalla Naorma memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar hati. Dari ke semua pohon tersebut termasuk pohon induk, muncul lima sosok wanita yang rupanya elok dan agung, dengan tanda-tanda yang berbeda di punggung mereka, segitiga; lingkaran; bentuk daun; dan tidak bertanda sama sekali. Wanita yang terlahir dari pohon induk terlahir dengan tanda bola api di punggungnya, hal itu pertanda sebagai awal baru dari kehidupan pohon Akishá, dan keruntuhan dari bangsa dëia, lalu kemudian para wanita pohon itu pun dinamakan dryad.
“Lambat laun para dryad menganggap bahwa para elf yang telah meniupkan roh kepada pohon-pohon tersebut sehingga mereka terlahir, padahal itu semua karena kekuatan dari Shlikalla Naorma, meski melalui nyanyian bangsa kami. Bangsa kalian pun memuja Avinlár dan merindukan dunia miliknya yang penuh cahaya, yaitu Élfarä. Sama seperti kami,” jelas Aldérin.
Findarel yang mendengarkan kisah mengenai kaum dryad hanya mengangguk-angguk, padahal ia sudah berkali-kali membaca sejarah kaum wanita pohon itu, tetapi mendengar cerita dari Aldérin, kisahnya menjadi jauh lebih menarik seperti sebuah dongeng untuk para elter.
“Namun, memang karena bangsa kalian lah, kami pun muncul di dunia ini. Bahkan kami pun hidup damai, meski aku tidak tahu, sampai kapan damai itu akan berakhir di dunia ini,” bisik Cialla.
“Aku pun tak pernah tahu, apa kedamaian akan benar-benar berakhir di dunia ini,” tambah Aldérin. “Tidak ada satu pun yang dapat meramalkannya.”
“Omong-omong, Aldérin. Jadi kaum kami yang bertanda bola api adalah kaum yang dikatakan sebagai pengubah keadaan?” tanya Cialla.
“Simbol, dari keadaan yang telah berubah,” jawab Aldérin, yang sekaligus meralatnya. “Para Takala, mereka disebut seperti itu. Mereka memang dikatakan bisa mengubah keadaan di dalam kaum dryad, tetapi mengubah keadaan dunia, aku sendiri tidak tahu. Hanya atas seijin dari Shlikalla Naorma, hal itu bisa terjadi.”
“Hmm … simbol? Pantas saja hanya ada tiga di kaum kami yang bertanda bola api, jadi Takala adalah sebagai simbol. Bagaimana aku bisa tak tahu akan hal ini?” kata Cialla, dahinya mengerut, seperti tak percaya.
“Kau tidak tahu?” tanya Aldérin, heran.
Cialla menggeleng. “Tak ada catatan di Akriár, yang ada hanya kisah turun temurun, atau bisikan pepohonan, tetapi tak satu pun pernah menyinggung asal muasal dari Takala,” jawabnya, enteng. “Mungkin karena para pepohonan tahu bahwa Takala hanyalah sebagai simbol semata, oleh karena itu mungkin mereka berpikir tidaklah begitu penting untuk membisikkan kisah-kisah di masa lampau kepada penerus dryadan.”
“Ya, mungkin mereka berpikir seperti itu, Cialla. Namun, sesungguhnya para Takala patut dihormati, karena mereka memiliki kemampuan yang hebat, mereka memiliki pemikiran yang agak berbeda dari dryad lain, bisa dikatakan bahwa para Takala memiliki jiwa pemimpin alami.”
“Pendapatmu tidak sepenuhnya benar, Aldérin,” kata Cialla, sedikit mengeluh. Ia pun menyunggingkan senyum getir.
“Dan kenapa begitu?”
Cialla membuka jubah yang menutupi punggungnya dan menunjukkan tanda bola api yang terukir berwarna hitam sebesar buah lemon. “Aku salah satu dari Takala, aku datang dan menunggu kurir dari kaum centaur di Éba selama lebih dari satu bulan—demi misi penting, begitu kata Ratu bangsa kami—tetapi sebenarnya aku dibuang ke tempat ini,” ujarnya. “Sesungguhnya, Aldérin, Takala tidak diinginkan di kota Akriár.”