Takdir Purba

SEBUAH MALAPETAKA

“A Bagjaaaaa …”

Sebuah teriakan menghentikan langkah Bagja. Bagja membalikkan tubuhnya dan melihat Dudung setengah berlari menuju ke arahnya. Dudung adalah salah satu pekerja Bagja yang bertugas mengurus pakan sapi di kandang.

“Aa mau ke mana?” tanya Dudung sambil mengatur ritme napasnya.

“Ke kandang. Kamu ngapain masih di sini? Kenapa nggak ke kandang?”

Puguh saya teh lagi nyari Aa. Saya tadi ngarit dulu baru ke kandang. Tapi di sana orang nyari Aa.”

“Siapa?”

“Saya nggak tahu. Aa nggak usah ke kandang atuh. Takut ada apa-apa.”

“Ngaco kamu. Justru saya harus ke kandang supaya tahu ada apa.”

“Iya atuh. Saya ikut A Bagja aja.”

“Kamu memang harus ikut saya. Itu sapi-sapi di kandang sudah waktunya makan. Siapa yang mau ngasih makan kalau kamu nggak ikut saya.”

“Siap bos.”

Bagja kembali berjalan. Dudung mengekor di belakang, melanjutkan langkah menuju lokasi kandang sapi Bagja yang terletak di Blok Museum. Persis di belakang Situs Taman Purbakala. Kalau dari rumah Bagja, jaraknya sekitar satu kilometer. Bagja lebih senang berjalan kaki ke kandang dibandingkan mengendarai motor.

“Ka kandang A?”

“Muhun, Ceu.”

“Mampir A. Ngopi dulu di sini.”

“Siap, nanti Mang. Itu kata si Dudung di kandang ada tamu nyari saya.”

“Eh, kaleresan ketemu A Bagja di sini. Punten A, stok botol untuk yogurt sudah mau habis. Kalau untuk produksi minggu ini masih cukup. Laporannya nanti saya kirim ya A.”

“Oke, Ndang. Nanti saya cek lagi ke distributornya.”

“A, kata Dudung juga apa. A Bagja kalau mau ke kandang, enaknya naik motor. Kalau jalan kaki tuh ya begini. Suka berhenti-berhenti dulu. Malah A Bagja mah kadang suka mampir dulu buat ngopi. Meni lama sampe ke kandangnya,” kata Dudung setelah laki-laki itu hilang dari pandangan.

“Ya nggak apa-apa, Dung. Saya senang ngobrol dengan mereka. Namanya juga kita tinggal satu kampung, harus sering-sering ngobrol.”

“Ah capek Dudung mah ngobrol basa-basi begitu.”

“Giliran main gim sama nelepon si Anah kamu nggak cape, Dung.”

“Kalau itu mah beda, A.”

“Itu siapa yang lagi bangun rumah di sana?” Bagja melihat sebuah truk pengangkut pasir dan semen berhenti di pelataran parkir Taman Purbakala.

“Si Egi.”

“Bukannya dia di Jakarta?”

“Iya, mamahnya yang bangun rumah buat si Egi. Kan sebentar lagi si Egi mau nikah. Piraku atuh mau nikah belum punya rumah.”

Bagja mengangguk paham. Di Cipari, kalau sudah menikah selama setahun tapi belum memiliki rumah, sudah pasti akan jadi bahan omongan sekampung. Tidak heran jika para orang tua sibuk membangun rumah untuk anaknya sebelum anak-anak mereka menikah.

“Kapan Egi nikah? Bukannya dia baru lulus kuliah, ya?”

“Katanya habis lebaran tahun depan A. Si Eginya belum mau nikah. Tapi orang tua si Nining udah maksa nyuruh si Egi sama si Nining nikah. Apanan mereka udah lama pacarannya.”

“Ya kalau mereka sudah serius mah, ngapain ditunda-tunda. Baiknya memang segera.”

Menikah di usia muda juga sudah menjadi tradisi di Cipari. Kecuali Bagja. Hingga usianya yang menginjak kepala tiga, Bagja belum menemukan perempuan yang mampu membuatnya mengambil keputusan untuk menikah.

“A Bagja kapan atuh mau nikah? Seinget Dudung mah, Aa teh nggak pernah bawa perempuan ke sini. Siapa pacar A Bagja?”

“Belum ada yang mau sama saya, Dung.”

“A Bagja nyarinya bidadari, sih. Nggak ada lagi bidadari yang turun dari langit, A.”

“Bisa aja kamu.”

Bagja dan Dudung sampai di kandang. Benar saja, ada dua orang laki-laki yang tidak Bagja kenal sedang duduk di saung yang biasa dipakai Bagja untuk istirahat.

Punten, aya naon ieu teh?” tanya Bagja ramah.

“Aduh maaf mengganggu. Betul dengan Pak Bagja?” Salah seorang dari mereka menjawab pertanyaan Bagja.

“Iya, saya Bagja.” Bagja mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri.

“Saya Radit.” Orang yang tadi bertanya membalas uluran tangan Bagja.

“Saya Kemal.”

Bagja duduk setelah semuanya menyebutkan nama masing-masing.

“Ada apa ya ini teh?”

“Begini, Pak Bagja,” Radit mulai menjelaskan. “Kami dari BRI. Mau menawarkan kredit usaha rakyat ke Pak Bagja. Mungkin Pak Bagja berminat.”

“Kebetulan saat ini saya sedang tidak butuh kredit, Pak.”

“Bisa dipakai untuk mengembangkan usaha yogurt Pak Bagja, loh. Kami lihat, produksi yogurt Pak Bagja sedang sangat bagus.”

“Saya masih merintis. Itu usaha kecil-kecilan saja, kok.”

“Kredit ini bisa dipakai untuk mengembangkan usaha tersebut, Pak.”

“Betul, Pak Bagja. Kredit dari kami bisa pakai untuk membeli mesin, perluasan tempat usaha, atau kebutuhan lainnya.”

“Mohon maaf sekali. Bukan saya menolak rezeki, tapi saya memang sedang tidak membutuhkan pinjaman dari Bank.”

Bagja bersikukuh menolak pinjaman tersebut. Almarhum Bapak sudah mewanti-wanti agar Bagja tidak pernah mengulangi kesalahan yang dilakukan Bapak. Pinjam ke bank dalam jumlah besar, tetapi tidak bisa mengelolanya. Untuk saat ini, Bagja merasa sudah cukup di back up oleh koperasi.

“Pak Bagja sudah lama mengurus sapi?” tanya Radit.

“Sejak sebelum lahir, saya sudah dikenalkan ke sapi. Bapak saya yang merintis peternakan ini. Saya hanya meneruskan. Baru sembilan tahun sejak bapak saya meninggal.”

“Sudah lama juga ya, Pak. Dua tahun lau sempat banyak sapi yang mati, ya?”

“Iya. Sapi-sapi saya juga banyak yang mati. Ada dua puluh.”

“Bukan jumlah sedikit itu.”

“Betul. Sebelum wabah itu, kami juga berjuang pulih dari Covid-19. Kejadian itu, membuat para peternak banyak yang stres dan tumbang. Untung ada koperasi yang bisa membantu kami. Kalau nggak ada koperasi, kami belum tentu bisa bangkit.”

“Dengan kondisi seperti ini, Pak Bagja tidak memerlukan kredit dari kami?”

“Sekali lagi, mohon maaf. Saat ini saya sudah sangat dibantu oleh koperasi. Jadi, belum memerlukan kredit dari bank.”

“Atau mungkin Pak Bagja ada rekomendasi, siapa yang sedang membutuhkan kredit?”

“Aduh, mohon maaf. Saya nggak ada rekomendasi. Kami di sini memang tidak terbiasa untuk mengambil kredit dari bank. Kami akan berusaha semampu kami dengan dana yang kami miliki. Kalaupun kami perlu modal untuk sapi, kami pasti minta bantuan ke koperasi. Jadi, saya memang tidak tahu siapa yang sedang membutuhkan kredit.”

Obrolan berlanjut membahas hal-hal yang tidak penting, sebelum keduanya berpamitan. Bagja mengantarkan tamunya ke mobil mereka yang diparkir di halaman situs Taman Purbakala. Setelah memastikan tamunya pulang, Bagja kembali ke kandang.

Bagja duduk memandangi sapi-sapinya. Tinggal lima belas ekor yang tersisa. Sebanyak dua puluh ekor sapi mati ditengarai terkena wabah penyakit mulut dan kuku. Namun, Bagja meyakini alasan kematian sapi-sapinya bukan hanya karena penyakit. Ada takdir lain yang sedang menunggunya. Bagja membuka lipatan ingatan di dalam kepalanya. Mengenang kembali kejadian dua tahun lalu.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!