Takdir Purba
Akhirnya Menikah 1
"Galuh, jawabannya bukan soal siapa yang menang atau kalah," ucap Bagja lembut, suaranya berusaha menyaingi deru angin siang yang kering. "Tapi matahari sudah terlalu tinggi. Tidak baik kita membiarkan Bapak dan Ibu menunggu dalam ketidakpastian di dalam, sementara kita di sini hanya saling beradu diam.”
Galuh akhirnya menoleh. Wajahnya sedikit pucat di bawah terpaan cahaya yang menyilaukan. Ada gurat kelelahan di sana, sebuah kelelahan yang berasal dari beban tanggung jawab yang tiba-tiba dijatuhkan ke pundaknya. "Aa benar-benar siap? Menikah dalam hitungan hari hanya karena batu-batu itu dan sebuah ramalan purba?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik namun penuh tekanan.
Bagja membalas tatapan itu dengan ketenangan. "Aa siap karena Aa percaya bahwa takdir tidak pernah salah memilih alamat," jawab Bagja tegas, menegakkan punggungnya yang bidang. "Lagi pula, seperti kata Ibu tadi, jangan anggap ini penjara. Mari kita anggap sebagai penyelarasan energi agar tidak berhamburan sia-sia. Mereka menjodohkan kita pasti sudah memikirkan semuanya. Entah bibit, bebet, maupun bobot.”
“Bagaimana kalau ternyata aku bukan perempuan yang cocok untuk Aa? Apakah Aa akan pergi meninggalkanku?”
“Bagaimana kalau ternyata kamu adalah orang yang cocok untuk Aa? Lalu bagaimana kalau Aa bukan lelaki yang tepat bagi kamu?” Bagja balik bertanya.
Galuh diam. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Bagja.
“Coba kamu tanya Bapak dan Ibu, apakah mereka benar-benar cocok? Apakah pernah terlintas di pikiran Bapak dan Ibu kalau pasangan mereka adalah bukan orang yang tepat? Aa yakin, tidak ada satu pun pasangan yang benar-benar cocok atau tepat. Mereka melakukan kompromi untuk bisa menerima satu sama lain. Kalau kamu masih ragu, Aa bisa memastikan kalau Aa tidak sama dengan tunangan kamu yang meninggalkan kamu begitu saja.”
“Apa jaminannya kalau Aa tidak akan meninggalkan aku?”
“Tidak ada. Aa tidak bisa memberikan jaminan. Karena, Bapak Aa sendiri tidak bisa menjamin dia tidak meninggalkan istrinya. Aa hanya bisa berjanji, akan berusaha ada di sisi kamu. Sudah, lebih baik kita masuk. Aa yakin kamu tidak berniat menolak perjodohan ini.”
“Kenapa bisa seyakin itu?”
“Karena kamu tidak pernah menolak secara langsung. Kamu tidak berani mengatakan perasaan kamu yang sebenarnya. Kamu mencoba mengingkarinya dengan selalu menyalahkan kata-kata perjodohan.”
“Bukan begitu A…”
“Lalu apa? Mau berapa lama kamu terus menerus mengelak? Benar kata Bapak, kita sudah tidak punya waktu. Sekarang atau nanti, kita pasti akan menikah. Apa lagi yang kita tunggu?”
Galuh akhirnya diam tak membantah. Pun saat tangan Bagja meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan panas yang menyengat di luar. Suasana di dalam ruang tamu terasa jauh lebih sejuk, meski aroma kopi hitam yang mulai dingin dan asap rokok tipis masih menggantung di udara. Sukma Atmaja dan Sekar Taji duduk berdampingan di kursi rotan yang sudah mulai usang.
"Pak, Bu," Bagja memulai pembicaraan setelah mereka berdua duduk kembali. "Setelah berbicara dengan Galuh, saya ingin menegaskan kembali kesiapan saya. Saya menerima perjodohan ini". Bagja melirik Galuh sekilas sebelum melanjutkan, "Bukan hanya sebagai bentuk bakti kepada almarhum Bapak saya, tapi karena saya merasa bahwa berada di sini, bersama Galuh, adalah satu-satunya hal yang benar dalam hidup saya.”
Galuh duduk di samping ibunya, kepalanya tertunduk namun tangannya kini digenggam erat oleh Sekar Taji. "Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang, Pak? Jika memang pernikahan ini tidak bisa ditunda lagi?" tanya Galuh dengan suara yang mulai lebih tenang, meski ada getaran kecil di sana.
“Bapak mau kalian siapkan semua berkas untuk didaftarkan ke KUA. Tidak perlu ada lamaran. Kalian bisa menikah di KUA saja. Resepsi bisa dipikirkan nanti.”
Galuh melongo. Matanya nyalang menatap Bapak. Galuh tidak habis pikir, kenapa bisa semudah itu Bapak membicarakan sebuah pernikahan?
***
Tiga hari kemudian, pernikahan itu pun berlangsung.
Waktu tiga hari bagi sebagian orang mungkin cukup untuk merencanakan sebuah pesta ulang tahun sederhana, namun bagi Galuh, tiga hari itu terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah pengabdian yang tak dia pahami ujung pangkalnya. Semuanya bergerak dalam kecepatan yang tidak masuk akal, seolah-olah semesta sedang terburu-buru menyatukan dua kepingan artefak yang telah lama terpisah agar sebuah mekanisme kuno bisa segera berputar kembali.
Bapak benar-benar memegang kendali penuh atas skenario ini. Tidak ada tenda besar yang menutupi jalanan, tidak ada suara ibu-ibu dan aroma masakan yang menguar dari dapur sejak dini hari, juga tidak ada daftar tamu yang panjangnya berlembar-lembar. Suasana rumah di kaki Gunung Ciremai itu justru terasa sunyi, seolah-olah mereka sedang mempersiapkan sebuah upacara rahasia yang terlarang bagi mata orang awam, daripada sebuah hajatan syukur yang semestinya penuh suka cita.
"Hanya berkas ke KUA, Galuh. Saksi cukup keluarga inti," kalimat tersebut diucapkan Bapak dengan nada yang lebih mirip titah seorang raja daripada saran seorang ayah.
Pagi itu, kabut tebal turun dari lereng gunung, menyelimuti atap-atap rumah penduduk seolah sedang memberikan perlindungan ekstra bagi rahasia yang tersimpan di dalamnya. Galuh berdiri di depan cermin tua berbingkat ukiran kayu jati di kamar bagian belakang rumah Bi Yoyoh yang untuk sementara waktu menjadi kamarnya, menatap pantulan seorang wanita yang hampir tidak ia kenali.
Ia mengenakan kebaya putih tulang milik Ibu—kebaya yang disimpan rapi dalam peti kayu jati selama tiga dekade. Kainnya beraroma kamper dan kenangan masam, namun masih terasa megah saat bersentuhan dengan kulitnya yang pucat. Tidak ada perias profesional yang datang membawa koper penuh kosmetik bermerek. Galuh mendandani dirinya sendiri. Jemarinya yang biasanya lincah mengganti lensa kamera di tengah hutan kini gemetar saat memoleskan lipstik berwarna nude.
Pikirannya melayang jauh. Sepuluh hari yang lalu, dia masih mengenakan bot lapangan penuh lumpur, memegang kamera DSLR kesayangannya, dan memburu cahaya matahari di balik rimbunnya kanopi hutan. Saat itu, dunianya adalah tentang kebebasan, tentang menangkap momen yang bisa dia kendalikan lewat viewfinder. Sekarang, dia berdiri di sini, dibalut kain jarik yang melilit ketat pinggangnya, membatasi setiap langkahnya persis seperti hidupnya saat ini yang perlahan dikunci oleh takdir yang tidak dia pilih sendiri.
"Biarkan Ibu yang bantu."
Suara itu memecah keheningan yang menyesakkan. Ibu masuk ke kamar dengan langkah yang sengaja dibuat lembut, meski Galuh tahu ada badai yang sama besarnya di balik dada perempuan itu. Ibu mengambil alih tugas mengancingkan kebaya di bagian punggung yang sulit dijangkau. Tangan Ibu yang mulai keriput namun tetap terasa kuat itu bekerja dengan cekatan, satu per satu kancing kutubaru terpasang, mengunci Galuh dalam identitas barunya.***