Takdir Purba

PERJODOHAN BAGJA DAN GALUH

Sundari mencondongkan tubuhnya. “Cipari punya sejarah sangat panjang. Jauh lebih panjang dari yang pernah orang bayangkan. Leluhur kalian adalah satu, yaitu Batara Giri. Selama ratusan tahun, masyarakat Cipari hidup berdampingan dengan batu. Para lelaki hampir semuanya menjadi pemahat batu. Dari sanalah Menhir lahir. Tidak ada yang bisa menjelaskan kapan persisnya, tapi bisa diperkirakan lebih dari lima abad kemudian, ada satu keturunan Batara Giri yang tidak menjadi pemahat. Namanya Darmaraksa. Jika Batara Giri memahami batu, maka Darmaraksa terkoneksi dengan logam berupa perunggu.” 

“Orang mulai datang dan pergi. Kelompok makin besar dan tersebar. Ada banyak kelompok dari luar Cipari yang datang dengan berbagai tujuan. Ada yang bermaksud baik, ada juga yang ingin menguasai Cipari. Dari sini cikal bakal masyarakat Cipari dikenal sebagai pengrajin dan pedagang. Kapak batu, gelang batu, gerabah tanah liat, dan perkakas lain yang terbuat dari batu, mulai tergantikan oleh perunggu karena ada beberapa kelompok yang bahkan datang dari seberang.”

“Apa mungkin di masa itu, mulai terjalin hubungan dengan orang-orang yang tinggal di Gua Mengkuris?” Tanya Galuh.

“Mungkin. Mamah nggak bisa memberikan jawaban tentang itu. Bisa jadi orang dari seberang yang disebut itu adalah orang-orang yang menempati Gua Mengkuris. Setahu Mamah, sampai hari ini pun masih ada orang-orang Dayak yang rutin berkunjung ke situs Taman Purbakala.” Sundari memberikan jeda sejenak untuk meluruskan punggungnya ke sandaran kursi.

“Selain pedagang dan pengrajin, masyarakat Cipari juga beternak dan bertani. Ternak dan tani ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Tidak mengherankan jika saat ini ternak sapi di Cipari tumbuh begitu pesat. Disadari atau tidak, pada dasarnya orang-orang Cipari itu bisa dikatakan pelit. Bahkan terhadap dirinya sendiri. Orang Cipari sangat transaksional. Jika tidak menguntungkan, mereka tidak akan mau melakukan kerja sama. Dalam hal apapun.”

“Masyarakat Cipari itu pekerja keras. Coba saja kalian amati, ada nggak orang di Cipari yang menghabiskan harinya cuma duduk bermalas-malasan. Mamah jamin, kalian nggak akan menemukan orang seperti itu. Kalau ada, bisa dipastikan dia bukan orang Cipari asli. Terbukti, saat Covid 19 dan wabah penyakit mulut dan kuku. Ketika ekonomi mengalami kemunduran dan ratusan ternak mati, orang-orang Cipari masih bisa bangkit dan kembali berdiri tegak. Bagja pasti bisa merasakannya.”  

 Bagja mengangguk sebagai tanda bahwa dia setuju dengan ucapan Sundari.

“Mamah nggak bisa memberikan penjelasan lebih detail tentang apa yang harus kalian lakukan atau apa yang akan kalian hadapi. Semuanya akan terjawab saat purnama penuh nanti. Sekarang, mumpung Galuh ada di sini, Mamah mau membahas tentang takdir purba. Tadi sudah Mamah katakan, takdir purba bukan hanya tentang jodoh atau pernikahan. Tapi, Mamah berharap banget, takdir purba yang mengikat kalian itu bisa terwujud dalam ikatan pernikahan. Sesuai dengan harapan kedua orang tua kalian.”

Galuh menyela, “Maksud Mamah, Bapak dan Ibu juga tahu tentang perjodohan ini?”

“Lebih dari tahu. Almarhum Duriyat Adrafi dan Sukma Atmaja sudah menjodohkan kalian tepat setelah Galuh lahir. Saat itu, usia Bagja sudah hampir empat tahun. Mamah percaya, alasan Bagja belum menikah karena jodohnya selama ini memang belum datang.”

“Mah, kayaknya nggak enak kalau membahas masalah ini. Kita nggak tahu, jangan-jangan Galuh sudah terikat dengan seseorang. Maaf ya, Galuh.” Bagja menatap lembut tepat ke manik mata Galuh.

Galuh tersenyum. “Nggak apa-apa A. Aa nggak perlu minta maaf begitu.”  

“Justru ini masalah penting, Ja. Kalian bukan anak-anak yang tidak paham maksud Mamah. Usia kalian sudah lebih dari cukup untuk menikah. Mamah yakin, Galuh belum memiliki ikatan dengan lelaki mana pun. Sukma dan Sekar sudah berjanji akan menjaga Galuh hingga pernikahan kalian terlaksana. Janji itu diucapkan lagi oleh Sukma hanya beberapa hari sebelum bapakmu meninggal.” Fokus pandangan Sundari tertuju pada Bagja.

“Jadi, ini alasannya kenapa Bapak selama ini tidak pernah mengizinkan aku dekat dengan lelaki,” gumam Galuh.

“Alasan ini juga yang membuat ibumu mulai sering membahas tentang jodohmu. Galuh, usia Bagja sudah tiga puluh. Kalian hampir tidak pernah bertemu. Wajar ibumu gelisah. Mamah dan ibumu takut jika salah satu dari kalian menikahi orang lain.”

“Mah, maaf sebelumnya. Kabar ini terlalu mendadak bagiku. Aku nggak tahu gimana perasaanku ke A Bagja. Apalagi perasaan A Bagja ke aku. Atau mungkin A Bagja sudah punya calon istri yang belum dikenalkan ke Mamah. Benar kata A Bagja, sebaiknya masalah ini nggak usah kita bicarakan lagi,” saran Galuh.

“Kalian harus memikirkannya. Terutama kamu, Bagja. Mamah tahu, sampai saat ini belum ada perempuan yang dekat dengan kamu.”

“Mah, tidak ada perempuan yang dekat denganku bukan berarti Mamah bisa langsung menentukan bahwa aku harus menikah dengan Galuh,” keluh Bagja.

“Bagja Guna Munggaran, Mamah ini sudah tiga puluh tahun memainkan peran sebagai ibu kamu. Mamah ingat setiap detail kriteria perempuan yang ingin kamu nikahi. Sejak dulu, kamu selalu konsisten dengan kriteria itu. Mamah perhatikan, hampir semuanya ada di Galuh. Sebagai orang tua, Mamah sangat setuju kalau kamu bisa menikah dengan Galuh. Bagja, yang Mamah bicarakan bukan hanya soal perjodohan atau ikatan takdir purba. Lebih dari itu, kami para orang tua di Cipari sangat selektif dalam menentukan jodoh anak. Terutama bibit bobot bebet. Sudah saatnya kalian membicarakan tentang ini. Melihat kalian sekarang, Mamah percaya kalau takdir purba memang sudah mengatur semuanya sampai sejauh ini.”

“Mah, urusan jodoh ini bukan urusan sepele …”

“Siapa yang menganggap sepele?” Sundari memotong ucapan Bagja. “Mamah tidak pernah menganggapnya sebagai urusan sepele. Justru karena ini urusan penting, makanya Mamah ingin menyelesaikannya segera. Tunggu, Galuh, Mamah mau memastikan sekali lagi. Tolong jawab dengan jujur. Ada laki-laki yang sedang dengan kamu atau nggak?”

“Nggak ada, Mah.” Galuh menjawab lirih.

“Bagus. Sudah seharusnya seperti itu. Pantas saja frekuensi kalian langsung terhubung. Karena sejatinya hati dan pikiran kalian belum diisi oleh nama orang lain.’

“Nanti kami bicarakan, Mah. Iya kan, Galuh?” Bagja mulai merasa jengah.

“I.. Iya, Mah.” Galuh menjawab sedikit gugup.

“Sudah hampir jam satu,” Galuh menunduk melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangan kanannya. “Aku harus pulang, Mah, A. Takut Bi Yoyoh nanti nyariin. Aku tadi bilangnya cuma sebentar.”

“Kenapa buru-buru sekali, Galuh? Mamah masih kangen. Masih pengen ngobrol.”

“Nanti aku bisa ke sini lagi, Mah. Kebetulan tadi pamit ke Bi Yoyoh cuma sebentar.” Galuh memberikan alasan.

“Aku juga harus pergi. Ada janji sama distributor pakan.” Bagja berdiri.

“Iya, a.” Galuh ikut berdiri dan pamitan.

“Kamu mau ke mana, ikut-ikutan pamit segala.” Sundari memberikan tatapan tajam ke Bagja.

“Ada janji Mah. Beneran. Mau bahas masalah pakan dengan distributor yang baru.” Bagja meyakinkan Sundari.

Sundari melepas Bagja dan Galuh dengan senyum sumringah. Ada perasaan lega yang menyelusup di relung hatinya. Serat benang takdir sudah mulai terpilin. Sundari yakin, saat ini Duriyat pun sedang bahagia.    

*** 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!