Takdir Purba
DARI BALIK KAMERA
“Setiap enam bulan sekali, aku membuat estimasi berapa ribu kubik kayu yang bisa kami panen,” lanjut Galuh pelan. “Aku membuat grafik proyeksi. Aku menentukan blok mana yang ditebang dulu, mana yang ditunda. Aku ikut rapat perencanaan penebangan. Semuanya terlihat rapi, sistematis, profesional. Tapi makin lama aku merasa seperti sedang mengatur jadwal kematian.”
Kata terakhir itu membuat Bapak sedikit menegakkan punggungnya.
“Jadwal kematian?” ulang Bapak pelan.
“Iya.” Galuh mengangguk. “Karena kami tahu persis kapan pohon-pohon itu akan ditebang. Umurnya sudah ditentukan. Tingginya sudah diukur. Bahkan arah rebahnya sudah direncanakan.” Galuh menarik napas dalam-dalam.
“Aku tahu, secara hukum, perusahaan punya izin. Secara ekonomi, banyak orang bergantung pada industri itu. Aku nggak naif, Pak. Aku nggak bilang semua salah. Tapi tiap kali aku berdiri di depan hamparan hutan yang baru dibuka, rasanya ada yang dicabut dari dalam diriku. Awalnya cuma rasa nggak nyaman. Tapi aku bisa menutupinya. Aku sibuk. Aku belajar banyak hal. Aku naik jabatan. Gaji naik. Semua orang bilang aku beruntung”
Bapak menautkan jemarinya, memandang Galuh dengan sorot mata yang lebih lembut dari sebelumnya.
“Lalu?”
“Lalu aku ke Batu Putih.” Suara Galuh sedikit berubah. Ada sesuatu yang berbeda setiap kali bibirnya menyebut tempat itu.
Bapak menangkap perubahan itu. “Apa yang terjadi di sana?”
Galuh terdiam beberapa detik. Ia tahu ia tidak bisa menceritakan semuanya. Tentang getaran aneh di Gua Mengkuris, tentang mimpi bertemu Abah, tentang bayangan batu tegak yang muncul di kepalanya. Bahkan ia sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi.
“Dua tahun lalu, aku masuk ke gua tua. Namanya Gua Mengkuris,” jawab Galuh akhirnya. “Ada cap tangan manusia di langit-langitnya. Ribuan tahun umurnya. Warna merah. Masih jelas.”
Bapak mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Aku memotret seperti biasa. Tapi waktu aku menyentuh dindingnya, terasa aneh. Bukan takut, bukan kagum, gimana ya, Pak, aku seperti terhubung. Kayak ada yang sedang mengingatkanku pada sesuatu tapi aku nggak tahu apa.”
Galuh bangkit dari ranjang dan mengambil laptop di meja. Ia membuka folder foto dan memperlihatkan salah satu gambar telapak tangan merah itu pada Bapak.
“Bapak bisa lihat ini.”
Bapak mendekat, menyesuaikan kacamata bacanya. “Indah,” gumam Bapak.
“Iya. Indah. Tapi bukan cuma itu.” Galuh menatap layar bersama Bapak. “Orang-orang ini, ribuan tahun lalu, mereka meninggalkan jejak supaya dikenang. Mereka nggak punya kamera. Nggak punya laporan tahunan. Tapi mereka tahu pentingnya meninggalkan tanda. Dan aku? Aku memotret hutan yang ditebang. Aku mengarsipkan perubahan. Tapi arsipku itu bagian dari proses yang menghapus jejak lain.”
Kamar kembali sunyi. Bapak menutup laptop perlahan. “Bukankah tiap jejak itu akan selalu terhapus?”
“Iya sih, Pak. Tapi aku nggak mau kalau jejak itu adalah jejak kehancuran. Apalagi aku terlibat di dalamnya.”
“Jadi kamu merasa berdiri di dua sisi yang bertentangan.”
Galuh mengangguk.
“Dan kamu memilih mundur dari salah satunya.”
“Aku memilih berhenti dari sistem itu, Pak. Setidaknya untuk sekarang.”
Bapak berjalan ke jendela dan membuka sedikit tirai. Cahaya sore mulai meredup, menyisakan warna jingga tipis di langit.
“Galuh, kamu tahu kenapa dulu Bapak nggak melarang kamu menggeluti fotografi?”
Galuh mengerutkan kening. “Karena Bapak percaya?”
Bapak tersenyum tipis. “Karena Bapak tahu kamu nggak akan tenang kalau dipaksa jadi sesuatu yang bukan kamu.”
Bapak berbalik, menatap Galuh lurus-lurus. “Kalau sekarang kamu merasa nggak tenang, berarti memang ada yang perlu diubah.”
Galuh terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.
“Tapi,” lanjut Bapak, “berhenti kerja bukan masalah kecil. Kamu siap kalau nanti hidupmu nggak semapan sekarang? Siap kalau orang-orang mulai bertanya lebih cerewet? Siap kalau sesuatu yang kamu impikan ternyata nggak langsung menghasilkan apa-apa?”
Galuh menggigit bibir bawahnya.
“Aku takut, Pak. Takut banget. Tapi kalau aku tetap di sana, aku lebih takut lagi. Takut jadi orang yang mati rasa. Ada satu lagi yang belum aku ceritakan ke Bapak. Ini tentang Abah?”
“Kakekmu? Ada apa dengan Abah?
“Waktu di Kalimantan, setelah pulang dari Gua Mengkuris, malamnya Abah datang di mimpiku. Abah nyuruh aku untuk pulang ke rumah Abah. Katanya Abah kangen.”
“Kamu yakin dengan mimpi itu?”
“Aku ingat tiap detailnya, Pak. Aku yakin, aku harus ke Cipari.”
Bapak mengangguk pelan.
“Baiklah. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Yang penting kamu tahu kenapa kamu memilih melakukan hal itu.”
Galuh mendekat dan memeluk Bapak tanpa berkata apa-apa. Pelukan itu tidak lama, tapi cukup untuk menenangkan sesuatu yang selama ini bergetar liar dalam dada Galuh.
“Terima kasih, Pak,” bisik Galuh.
Bapak keluar dari kamar. Galuh menjatuhkan tubuhnya telentang di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar, tetapi pikirannya menerobos jauh menembus batas plafon dan melampaui waktu. Ingatan menyeretnya pada peristiwa di Gua Mengkuris dua tahun lalu yang menjadi alasan kenapa dia memilih keluar dari pekerjaan.
***
Langit-langit gua penuh dengan cap telapak tangan. Sebagian berwarna merah, sebagian merah muda, sebagian lagi merupa garis hitam samar.
Meski sudah beberapa kali Galuh melakukan perjalanan dinas ke Batu Putih, baru kali ini dirinya mengunjungi Gua Telapak Tangan yang ada di Batu Lepoq. Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Gua Mengkuris. Ide ke Gua Mengkuris itu datang dari Musyafak, pekerja kebun yang baru dua bulan diangkat jadi mandor.
Dari balik lensa kamera, Galuh melihat telapak tangan itu melambai. Seolah-olah mengajak Galuh untuk lebih mendekat. Tubuh Galuh bergetar. Labirin ingatannya mengenali lambaian tangan itu. Galuh merasa tidak asing dengan panggilan yang kini dirasakannya. Entah di mana. Entah kapan. Jemari Galuh membeku, tak kuasa menekan shutter kamera.
Galuh berhenti memotret. Kakinya beranjak mendekati dinding gua. Jemari Galuh menyentuh dinding, lalu mengusapnya perlahan. Ada semacam magnet yang membuat tangan Galuh tak bisa lepas begitu saja. Kulit tangannya mengenali tekstur gua sama baiknya dengan dia memahami tekstur kamera miliknya.
“Mbak, Mbak Galuh kenapa?” tanya Musyafak. Perempuan yang bersikeras tidak mau dipanggil ibu itu tampak pucat saat Musyafak memberanikan diri menatap wajahnya. Sebenarnya, Galuh sudah terlihat agak pasi sejak sebelum masuk gua. Kini pun, dia hanya diam memandangi dinding-dinding gua.
“Nggak apa-apa. Memangnya saya kenapa?” Galuh malah balik bertanya.
“Muka Mbak Galuh pucat. Mbak sakit?”
“Aku baik-baik aja.”
Sejujurnya, Galuh merasakan gairah luar biasa ketika melihat telapak tangan di atas kepalanya dan meraba dinding gua. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya. Bukan sekadar rasa kagum, melainkan getaran yang lebih dalam, lebih personal. Seolah-olah dia sedang menyentuh bukan hanya dinding batu, tetapi lapisan waktu yang menyimpan rahasia tentang dirinya sendiri.
***