Squad Star Girls Story
Jisso Cemburu
Langit sore tampak begitu cantik, terlihat senja pun sudah muncul di sana. Jennie dan Eun woo masih asik bercerita mereka juga bercanda riang terlihat dari Jennie yang selalu tertawa lepas mendengar lelucon yang Eun woo ceritakan.
"Owh ya itu luka Lo harus diobati dulu kalau gak bisa sembuh lama dan besok Lo harus sambutan loh jadi harus tampil terbaik," seru Jennie sembari memperhatikan luka cowok di depannya ini.
Eun woo memajukan wajahnya, lebih dekat dari sebelumnya membuat Jennie terkejut. "Mau obatin?" katanya sembari tersenyum tipis.
Ah Eun woo dia selalu bisa membuat jantung Jennie berdetak kencang, dia jadi susah bernafas, tubuhnya seketika jadi panas dingin.
Berusaha Jennie menetralkan kembali detak jantungnya dan nafasnya agar bisa kembali normal, dia juga menggeser posisi duduknya.
"Ya ampun Jen, kalau mau obatin gue gak apa-apa gak usah takut atau malu kaya sama siapa aja Lo," pekik Eun woo seperti sudah mengetahuinya.
Mendengar ucapan Eun woo akhirnya Jennie mencoba melupakan perasaannya dan membuang harapannya jauh-jauh.
"Tadi Irene ngasih gue hansaplast dan betadine katanya buat obatin luka Lo," tutur Jennie gugup.
Eun woo tersenyum, sejak tadi dia memang sudah tidak memikirkan lukanya tapi sepertinya alam semesta ingin Jennie yang hendak mengobati lukanya.
"Ya udah bantu obatin dong, masa ngobati sendiri sih kan gak kelihatan," keluh Eun woo dengan manjanya.
"Ish manja sekali Lo." Jennie menyipitkan matanya melihat kelakuan Eun woo yang manja.
Jennie pun mengeluarkan betadine dan hansaplast yang ada di dalam tasnya.
"Tutup matanya!!" pinta Jennie dia akan merasa tenang jika Eun woo tidak melihatnya saat mengobati nanti.
"Kenapa?" tanya Eun woo dengan sebelah alisnya yang terangkat ke atas.
"Mau diobati atau mau sendiri?" tukas Jennie sambil ngomel begitu Eun woo masih membantah ucapannya.
"Oke oke gue tutup mata," kata Eun woo sambil memejamkan matanya dia sudah siap untuk diobati Jennie.
Ini adalah kali pertama Jennie menyentuh wajah laki-laki setelah wajah Ayahnya dan mengapa alam semesta seperti berpihak kepada dirinya? Jika dulu Jennie hanya bisa berdekatan dengan Eun woo dalam mimpi kini semuanya menjadi nyata bahkan dia bisa menyentuh wajah cowok yang sudah lama dia kagumi.
Ya ampun sepertinya sangat sulit untuk menolak apa yang cowok itu mau, bahkan Jennie sangat merasa jika Eun woo akhir-akhir ini selalu perhatian kepadanya.
Saat Jennie mulai menempelkan hansaplast di pelipis Eun woo membuka matanya dia mengintip Jennie yang dengan telaten mengobati lukanya.
Kemudian saat tangan Jennie beralih ke bibir Eun woo, dia terkejut melihat Eun woo yang sedang menatapnya begitu tajam sangat tajam sekali namun bukan tatapan amarah cowok itu menatap Jennie dengan tatapan yang meneduhkan.
Keduanya sama-sama terdiam saling menatap satu sama lain, sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya suara dering telepon terdengar berasal dari kantong saku Eun woo.
"Sebentar," kata Eun woo seraya beranjak pergi dari duduknya menjauh dari Jennie.
"Astaga jantungku melemah," gumam Jennie seraya memegangi dadanya. Dia berusaha kembali menetralkan perasaannya yang berkecamuk di sana.
"Apa mungkin Eun woo tahu perasaanku?" pikir Jennie penuh was-was, rasanya sangat malu sekali jika cowok itu sampai mengetahuinya.
Eun woo kembali setelah mengangkat telepon yang entah dari siapa.
"Ada apa?" tanya Jennie penasaran.
Eun woo kembali duduk di samping Jennie, "Tidak ada apa-apa kok, ya sudah lanjutin nih masa setengah-setengah sih."
"Nih obatin aja sendiri," ujar Jennie sembari memberi kapas yang sudah diberi cairan betadine.
Yah Eun woo kehilangan kesempatan untuk dapat perhatian Jennie padahal dia merasa tersentuh hatinya melihat Jennie yang mengobatinya dengan hati-hati.
"Ya udah deh, sensitif ya kalau sudah menyentuh bibir tuh," celetuk Eun woo sambil mengobatinya sendiri, kini pandangannya menatap lurus ke depan.
Sedangkan Jennie masih terpaku dengan ucapan Eun woo, "Apa maksudnya?" batinnya bertanya-tanya.
"Pulang yuk, Lo harus istirahat untuk hari esok yang pasti sangat menguras tenaga." Jennie merapikan tasnya untuk beranjak pulang.
"Thanks ya Jen, sekali lagi maaf udah buat luka ini ada," ujar Eun woo sambil menyentuh jidat Jennie yang sudah dilapisi hansaplast.
"Janji sama gue gak akan berantem lagi kaya tadi!" Jennie mengulurkan jari kelingkingnya.
Untuk hal ini Eunwoo tidak tahu apakah dia bisa untuk menepati janjinya tapi dia memang tidak suka berantem di sekolah karena hal itu akan merusak prestasinya selama ini.
Akhirnya Eun woo melingkarkan jari kelingkingnya ke jari Jennie, "Oke gue janji," sahutnya sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah yuk pulang!" ajak Jennie dengan langsung menarik kembali tangannya.
****
Dear malam, seperti ini kah rasanya, sekencang inikah degupannya?
Jennie menuliskan perasaannya dikertas kosong yang selalu menemani kegundahannya dan perjalanannya selama ini.
Jennie memandang ponselnya, membuka Instagram lalu menonton reel dance Exo-el yang udah lama banget tapi lewat di berandanya.
Squad star girls
*Lisa
"Jennie, lo sehat kan?"
*Jisso
"Emangnya kenapa ka Jennie?"
*Rose
"Dia tadi di sekolah habis kena pukulan Baekhyun gara-gara ngelindungi Eun woo."
*Lisa
"Iya gue jadi penasaran gimana rasanya dipukul Baekhyun @jennieya?"
*Jisso
"Ya ampun emangnya ka Eun woo dan ka Baekhyun berantem tadi di sekolah?"
*Rose
"Iya Jisso cantik, tadi kita kaya nonton drama Korea lihat Jennie mencoba melerai pertengkaran kedua cowok itu yang akhirnya dia kena pukulan Baekhyun."
Jisso berhenti mengetik begitu mendengar penjelasan dari Rose, dia terkejut mengetahui jika Eun woo bertengkar dan dia lebih terkejut lagi saat mendengar jika Jennie melindungi Eun woo sampai dia terkena pukulan Baekhyun.
"Ya ampun kok gue sakit hati banget yah dengernya, jangan-jangan ka Jennie suka lagi sama ka Eun woo?" pekik Jisso wajahnya tampak cemberut namun sebisa mungkin dia tidak menuduh sembarangan tanpa bukti.
Saat itu juga Jisso mencoba menghubungi Eun woo untuk memastikan kebenarannya.
"Tapi gue kan gak punya hak buat cemburu sama ka Jennie," gumam Jisso menyadari faktanya.
Telepon masih memanggil menandakan jika Eun woo sedang tidak aktif, membuat Jisso mendengus kesal dibuatnya.
Keesokkan harinya, Jennie terbangun oleh suara alarm yang berdering sangat kencang di samping telingannya, begitu dia melihat masih jam 6 pagi Jennie kembali memejamkan matanya karena hari ini dia sedang halangan jadi tidak sholat subuh.
"Makanya jadi orang harus tinggi!" pekik Eun woo sambil mengukur ketinggian dirinya.
"Bodo amat, emang gue peduli mau tinggi ke pendek ke yang penting otak harus tetap jalan," sahut Jennie dengan ketus mendengar ejekan Eun woo.
"Yah kalau pendek nanti susah nyari kerjanya," timpal Eun woo tidak mau kalah.
Jennie tidak tahan dengan sikap cowok sombong di depannya ini, dia pikir dengan tubuhnya yang tinggi akan mudah gitu mencari pekerjaan? Perkataannya sungguh membuat Jennie emosi.
"Menggir gue mau lewat!" Jennie mencoba melangkah meninggalkan Eun woo.
Tiba-tiba dia tersandung dan hampir jatuh jika Eun woo tidak menganggapnya, Jennie kini telah diselamatkan oleh Eun woo yang dengan cepat menarik tangannya hingga dia jatuh ke dalam pelukan Eun woo.
Deg, deg, jantung Jennie berdetak lebih kencang melihat Eun woo yang begitu dekat sangat dekat sekali dia juga bisa merasakan kehangatan dari sentuhan Eun woo yang mendekap tubuhnya.
"Astaghfirullah." Jennie langsung beristighfar lalu menarik tubuhnya untuk kembali berdiri.
"Makanya lain kali kalau jalan lihat-lihat," tukas Eun woo dengan tegas.
"Sayang, bangun!!" Vera mencoba membangunkan putrinya yang masih terlelap.
Jennie menggeliat, perlahan matanya terbuka dia rasakan tubuhnya yang lemas begitu sadar jika yang tadi dialaminya hanyalah mimpi, ya Eun woo kembali datang dalam mimpinya.
"Ya Allah," lirih Jennie sembari mengusap wajahnya dan menghembuskan nafasnya perlahan yang terasa sangat berat.
Vera duduk di kasur putrinya. "Ada apa sayang? Kamu mimpi buruk yah?" tanyanya khawatir.
"Iya Bun, aku mimpi buruk duh ya ampun sekarang udah jam berapa Bun?" Setiap kali Eun woo datang dalam mimpinya dada Jennie terasa sesak, dia pun jadi susah bernafas dan begitulah dia menyebut mimpinya karena faktanya semua harapannya itu hanya mimpi, yang gak mungkin jadi nyata.
"Udah jam 07:30 sayang," ujar Vera sambil menatap jam yang ada di atas nakas Jennie.
"Ya Allah Bun, Jennie kesiangan sekarang ada acara ulang tahun sekolah Jennie panitianya. Apa Ayah ada di rumah sekarang?" Jennie panik bukan main begitu mendengar sudah jam 07:30 sedangkan dia harus ada di sekolah jam 07:45.
"Iya Ayah ada di rumah, ya sudah kamu mandi dulu sana biar Bunda siapkan bekal dan kasih tahu ayah kamu yah," ujar Vera begitu mengerti perasaan Jennie.
Akhirnya Jennie bangkit dari kasurnya, dua langsung mengambil handuk yang digantung dan berlari menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sedangkan Vera merapikan tempat tidur putrinya sebelum turun untuk menghampiri suaminya yang sudah nunggu di ruang makan.