Squad Star Girls Story
Surat Cinta Dari Taehyung
"Indah bukan? Gue kalau lagi banyak masalah sering ke sini, dengan begitu pikiran gue bisa lupa dengan masalah itu."
"Gue baru tahu ternyata di sekolah ini punya tempat yang nyaman juga selain kantin," tukas Jennie dia selalu berpikir jika dengan pergi ke kantin pikirannya akan rileks kembali.
Taehyung pun menyentil jidat Jennie sampai membuat wajah cewek itu meringis kesakitan, "Pikiran Lo ya makanan terus."
"Bye the way Lo mau ngomong apa sih kayaknya serius banget deh?" tanya Jennie dia masih penasaran dengan apa yang akan Taehyung katakan.
Taehyung merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan sebuah surat, "Nih buat lo tapi ingat jangan dibuka saat di kelas tapi dibuka nanti setelah Lo pulang dan masuk ke kamar," pesannya.
"Apa ini?" Jennie memandang surat itu dengan heran.
"Lo baca aja sendiri, ingat dibuka saat sudah sampai di rumah oke?"
Surat cinta pertama yang dia dapatkan dari Taehyung yang masih disimpan rapi di lemari pakaiannya sampai saat ini. Senyum Jennie terbit mengingat kejadian itu dia merasa geli jika mengingatnya kembali.
Taehyung memiliki visual yang tampan, dia cuek, perhatian dan agresif. Taehyung bergabung dengan tim futsal bersama Baekhyun dia juga sangat tidak suka dengan Eun woo.
Jennie melipat surat cinta tersebut lalu menyimpannya di dalam lemari baginya membaca surat cinta tersebut akan mengingatkannya kembali dengan sosok Taehyung, akhirnya dia bergegas mengambil kaos hitam untuk Jihyo begitu dia berbalik badan kebetulan Lisa keluar dari kamar mandi.
"Astaghfirullah, Lo bikin gue jantungan Lisa!" pekik Jennie dengan napas yang terengah-engah, tangannya memegangi dadanya merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Lah Lo kenapa?" Lisa berjalan menuju kasur Jennie, dia heran melihat ekspresi kaget sahabatnya.
Jennie berpikir kalau Lisa sudah berada di sana sejak tadi, membuatnya panik dan terkejut.
"Sejak kapan lo berdiri di sana?" tanya Jennie mengintrogasi dengan tatapannya yang tajam.
Lisa yang melepaskan handuk dari kepalanya, "Gue baru aja keluar, emang kenapa sih?" tukasnya heran.
"Nggak apa-apa aku turun ke bawah dulu ya mau nganterin baju untuk..." Jennie keluar dari kamarnya dengan hati yang lega, karena Lisa tidak melihat dan mendengar kejadian tadi saat dia membuka surat cinta dari Taehyung
"Aneh banget tuh anak," ujar Lisa melihat tingkah Jennie, "Untuk siapa kaosnya?" teriaknya namun sudah tidak terdengar oleh Jennie.
Begitu keluar dari kamarnya, Jennie langsung berhadapan dengan Rose yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Jen, Lisa sudah keluar dari kamar mandi belum gue gerah banget nih belum mandi," ujar Rose yang lagi-lagi membuat jennie terkejut.
"Udah tuh, masuk aja," kata Jennie dan berlalu pergi turun ke bawah.
Sedangkan Rose langsung masuk ke dalam kamar gini dan menghampiri Lisa yang sedang bermain ponsel di kasurnya Jennie.
"Lo udah selesai mandi Lis, by the way handuknya mana ya?" ujar Rose yang sudah berdiri di depan sahabatnya itu.
"Ada di kamar mandi lo masuk aja," sahut Lisa tanpa menoleh dia sibuk bermain dengan ponselnya.
Rose pun menaruh ponselnya di atas nakas samping tempat tidur Lisa sedangkan dia langsung beranjak pergi ke kamar mandi karena hari sudah mulai sore.
Di bawah Jennie melihat Jihyo yang sedang memasak di dapur. "Katanya mau mandi kok malah masak?"
"Buat nanti malam, biar lo nggak kelaparan setelah ini gue mau mandi, kalau lo mau mandi silahkan duluan aja," sahut Jihyo yang sibuk memotong bawang.
"Ya udah gue mandi duluan aja ya nih bajunya gue taruh disini." Jennie meletakkan kaosnya di meja makan, tidak sabar ingin melanjutkan nonton Vincenzo.
Bagi pecinta drama Korea, pasti pernah merasakan seperti Jennie saat ini kadang jika memang lagi seru-serunya sampai lupa untuk mandi bahkan makan, karena bayangan-bayangan adegan dan cerita di dalam drama tersebut menghantui pikirannya membuatnya terus merasa penasaran sampai tahu bagaimana endingnya.
****
"Eun woo, dari mana aja kamu?" tanya Siwon begitu melihat anaknya yang baru pulang setelah dua hari pergi.
Dengan sopan Eun woo bersalaman kepada Ayahnya, "Aku baru saja selesai ngurus acara sekolah Yah," katanya sambil mendudukkan bokongnya di bangku ruang kerja Ayahnya.
"Kamu tahu kenapa Ayah manggil kamu ke sini?" Siwon menatap putra sulungnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
Eun woo menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu, memangnya ada hal penting apa yang ingin Ayah sampaikan kepada Eun woo?" Tidak biasanya Siwon menyuruh Eun woo untuk datang ke ruang kerjanya jika karena ada hal penting yang ingin Siwon sampaikan kepadanya.
"Ayah ingin kamu kuliah mengambil jurusan bisnis di Singapura karena Ayah sudah menyuruh sahabat ayah untuk mengurus semuanya," ujar Siwon yang sudah menyiapkan masa depan Eun woo.
Eun woo kaget mendengar ucapan sang Ayah, "Aku tidak mau Yah, Aku kan sudah bilang kalau aku ingin mengambil jurusan kedokteran bukan jurusan bisnis yang ingin ayah mau," sahut Eun woo dengan sedikit emosi.
"Eun woo, kamu itu adalah anak pertama di keluarga ini jadi siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan ayah jika bukan kamu." Seketika Siwon menjadi emosi mendengar penolakan anak sulungnya.
Eun woo mendengus kesal dengan sikap Ayahnya yang selalu saja mengatur hidupnya. "Bisnis lagi bisnis lagi, aku tidak tertarik dengan hal itu! Pokoknya Eun woo mau kuliah jurusan Kedokteran bukan bisnis," tukas Eun woo penuh penekanan dalam kalimatnya. "Lagi pula ada Jeamin yang bisa Ayah suruh untuk mengurus perusahaan, kenapa harus aku?" lanjutnya.
"Jaemin itu masih SMP dia masih anak kecil, sedangkan kamu anak pertama Ayah yang memang seharusnya kamu yang mengurus perusahaan," jelas Siwon.
Eun woo membuang mukanya ke samping lalu kembali menatap Ayahnya, "Tapi aku tidak tertarik dengan bisnis, aku tetap akan menolaknya jadi mohon jangan larang aku lagi."
Tidak mau berlama-lama di ruangan kerja Ayahnya dengan membahas hal yang tidak dia sukai membuat Eun woo langsung pergi begitu saja, sehingga Siwon harus lebih sabar lagi memberikan pemahaman kepada putranya.
"Eun woo, Ayah harap suatu saat nanti kamu bisa mengerti bagaimana kondisi Ayah," gumam Siwon dia mengkhawatirkan keadaan dirinya yang sudah semakin tua sedangkan sampai saat dia belum bisa membujuk Eun woo untuk memimpin perusahaan, jika dia memberikannya kepada Jaemin usianya masih muda dan tidak terlihat sosok pemimpin dalam diri putra keduanya itu.
Eun woo pergi ke kamar dengan marah, dia tidak suka hidupnya diatur-atur dengan seenaknya tanpa persetujuan dirinya baginya masa depannya dia lah yang berhak menentukannya bukan orang lain.
Gong Hyo jin mengetuk pintu kamar putranya begitu mendengar suara keras dari dalam sana. "Cha Eun woo, buka pintunya sayang ini Mamah," katanya sembari terus mengetuk pintu kamarnya.
Terpaksa Eun woo membukakan pintu kamarnya, dia belum bertemu dengan Mamahnya dan tidak ingin menolak permintaan Mamahnya yang ingin masuk.