Squad Star Girls Story
Kumpul di Rumah Jennie
Obrolan Jennie dan Jihyo terus berlanjut, mereka juga membahas tentang keluarganya yang setiap hari libur pasti selalu mengadakan kumpulan.
Jihyo adalah anak dari kakak Ayahnya Jennie, seharusnya Jennie memanggil Jihyo kakak karena secara Jihyo lebih tua setahun darinya tapi tetap saja patokan umur tidak akan mempengaruhi tingkah laku mereka berdua sebagai saudara, kadang Jennie manggil aunty ke Jihyo tapi keseringan manggil gue lo karena Jihyo sendiri pun gak mau dipanggil aunty dia masih muda katanya.
Kedua orang tua Jennie dan Jihyo sama-sama pebisnis, hanya saja Papanya Jihyo mempunyai istri dua karena saking mampunya, hal itu membuat Jihyo kadang membenci Papanya sendiri yang serakah, padahal Mamanya lebih cantik dari istri mudanya bahkan lebih sexy jika dibandingkan dengan istri mudanya yang kurus itu.
Jennie adalah pendengar setia untuk Jihyo selama ini, jika masalah keluarga cuma Jennie yang selalu bisa memberi solusi dan Tante Irene memang tahu kekesalan Jihyo dengan papanya.
"Lo bayangin aja kalau lo sampai menikah dengan Sanha, pasti hidup Lo akan berubah Jihyo dan pastinya bahagia, karena gue tahu Sanha itu orangnya setia kalau udah sama satu cewek hanya saja banyak cewek yang suka sekali memanfaatkan hartanya," ujar Jennie memberi dukungan kepada Jihyo untuk membuka hatinya buat Sanha.
"Sok tahu Lo Jen, mana bisa hidup gue bahagia sama dia kalau gue aja masih belum cinta?" pekik Jihyo sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.
"Masalah rasa kan bisa Lo jalani sekarang, makanya buka dulu hati Lo buat dia gimana mau rasa cinta itu tumbuh kalau lo nya aja tidak memberi kesempatan kepada Sanha?"
"Lo aja susah kan buat buka hati untuk Taehyung? Karena hati Lo masih ngarepin Eun woo?" celetuk Jihyo membuat hati Jennie mencelos.
Apa yang dikatakan Jihyo memang benar, Jennie akui itu sampai sekarang dia masih menutup hatinya untuk orang lain. Meski banyak yang datang mendekat tapi bukan mereka, yang Jennie tunggu melainkan Eun woo.
"Jangan suka banding-bandingin gue sama lo, jelas kita berbeda." Jennie mengomel tidak setuju jika harus dibandingkan dengan Jihyo.
Ponsel Jihyo bergetar ada panggilan masuk dari Sanha membuat cewek itu menoleh kepada Jennie, yang menyuruhnya untuk angkat telepon terlebih dahulu karena bagaimanapun semalam Sanha sudah menolong Jihyo.
Karena gak mau Jennie mendengar pembicaraan mereka, Jihyo memilih pergi ke luar sekaligus untuk mencari udara segar dia tahu betul jika Jennie orangnya usil pasti dia akan mengejeknya jika telponan dengan Sanha di depannya.
"Assalamualaikum Jihyo," sapa Sanha dengan suara yang lembut.
"Gimana keadaannya udah gak pusing kan?"
"Iya, Alhamdulillah udah enggak kok." Jihyo menjawabnya dengan gugup.
"Gue pengen ngobrol sama lo, apa ada waktu? Sekalian mau bawain petisan kesukaan lo."
Jihyo terdiam sejenak dia memikirkan harus bersikap seperti apa jika nanti bertemu dengan Sanha, jujur saja dia belum mau bertemu Sanha untuk sekarang-sekarang ini tapi dia gak bisa menolaknya juga.
"Boleh, datang saja ke rumah Jennie gue masih di sini kok."
"Oh ya udah deh makasih yah nanti gue ke sana."
Sanha terlihat senang mendengar Jihyo mengizinkannya untuk bertemu, selama ini dia mengira jika Jihyo akan terus menghindar darinya tapi nyatanya tidak.
"Kenapa Lo senyum-senyum gitu?" tukas Mark memandang Sanha sinis.
"Gue mau pulang yah, makasih nih bang Dongsaeng atas semuanya kapan-kapan kita kumpul lagi disini yah Bang," ujar Sanha sambil tersenyum kepada Dongsaeng yang sedang bermain ponselnya.
"Lah gak bareng Eun woo?" tanya Dongsaeng melihat Eun woo yang masih mandi.
"Biarin dia pulang sendiri aja, gue mau ketemu Jihyo dulu soalnya," sahut Sanha sambil meraih tas sekolahnya.
Chen menepuk bahu Sanha saat cowok itu berpamitan dengannya, "Semoga sukses yah bro!" katanya.
"Thanks bang," sahut Sanha sambil menundukan kepalanya memberi hormat.
"Kalau sudah berhasil dapatkan Jihyo jangan sakiti dia yah, jangan kaya Abang Lo tuh ngejar cinta cewek pas udah dapat malah ninggalin." Dongsaeng menunjuk Chen dengan dagunya, membuat Sanha tersenyum.
Eun woo keluar dengan tubuhnya yang tidak berbalutan pakaian atau handuk, cowok itu memakai celana pendek dengan menampilkan tubuh bagian atasnya yang terlihat mempesona, kulitnya yang putih dan perutnya yang kotak-kotak jika sampai para cewek melihatnya sudah pasti pingsan semua.
"Mau ke mana si Sanha, pulang?" tanya Eun woo kebingungan.
"Iya, sekalian mau ketemu Jihyo dulu katanya," sahut Mark.
Seketika pikiran Eun woo teringat kepada rumah Jennie, sudah pasti Sanha pergi ke sana karena semalam Jihyo menginap di rumah Jennie.
"Sialan, dia gak ngajak gue kalau mau ketemu Jennie," gerutunya dalam hati.
Akhirnya Eun woo pun meraih kaosnya yang berwarna hitam lalu memakai jaket kulitnya dia berniat untuk pulang ke rumah karena semalam Ayahnya sudah menelponnya untuk kembali.
"Jen, Sanha mau datang ke sini gak apa-apa kan?" ujar Jihyo dia meminta izin kepada tuan rumah.
Jennie menoleh ke arah samping melihat Jihyo yang sudah datang sejak mengangkat telepon Sanha.
"Yaudah gak apa-apa, oh ya gue juga mau ada kumpulan bareng sahabat-sahabat gue di sini jadi Lo ajak Sanha di taman belakang aja yah yang deket pintu dapur, kalau mau gabung juga gak apa-apa kalau Lo gak malu," tukas Jennie memberitahu tangannya meraih jus alpukat yang sudah setengah gelas.
Tak langsung menjawab Jihyo terdiam berpikir, dia memang malu jika harus gabung dengan teman-teman kelas Jennie, yang pasti circle nya beda apalagi dia membawa Sanha yang katanya mau bahas sesuatu, jadi lebih baik jika dirinya berpisah saja dari geng Jennie dan teman-temannya.
Jihyo pun menggelengkan kepalanya, "Tidak deh, gue lebih baik di taman belakang aja lagian gak enak kalau gue berduaan sama Sanha ada teman-teman Lo," katanya dengan memanyunkan bibirnya.
"Oke, udah jam 2 gue mau siap-siap dulu yah bentar lagi pasti mereka datang." Jennie beranjak dari duduknya kakinya melangkah meninggalkan Jihyo yang masih asik bermain ponsel.
Hari ini Jennie sangat merasa senang bisa kembali mengundang sahabat-sahabatnya untuk datang ke rumah, yang pastinya selalu ramai dan seru ada aja yang dibahas, bersama sahabat-sahabatnya Jennie bisa kembali ceria seakan-akan pun masalah yang dihadapinya hilang begitu saja.
Jennie mengambil seikat rambut kanan dan kirinya lalu menggabungkannya dan menjepitnya dengan cantik, dia memilih baju kaos putih lengan pendek dengan celana jins longgar berwarna biru dongker.
"Harus ceria," ujar Jennie berbicara pada pantulan dirinya di cermin.
Setelah dirasa sudah rapi Jennie turun ke bawah untuk menyiapkan makanan namun saat dia sedang menuruni anak tangga sudah terdengar suara ketukan pintu.
"Sepertinya mereka sudah datang deh," ujar Jennie bergegas untuk menghampiri knop pintu.
Saat Jennie membuka pintunya ternyata benar itu adalah Lisa dengan Jisso.
"Hello baby," teriak Lisa dengan heboh tangannya terlentang sambil menunjukan wajahnya yang begitu ceria.
"Ya ampun cantik banget sih Lo," seru Lisa memuji penampilan Jennie hari ini yang tampak berbeda.
"Apaan sih bisa aja lo." Jennie mencubit pinggang Lisa sambil tersenyum malu, "Yuk masuk!" ajaknya kemudian.
"Seriusan Lo cantik banget kaya mau diner sama seseorang." Lisa terus menggoda Jennie sambil terkekeh.
"Iya benar, ka Jennie kan emang mau diner sama Oppa Song Joong Ki ya gak ka? Hahaha," timpal Jisso sembari terkekeh.
Jennie memukul bahu Jisso, "Nah, benar banget gue kan mau ketemu Song Joong Ki, jadi harus cantik."
Seketika Lisa berhenti tertawa, "Awas yah nanti Oppa Lee min ho nya gue ambil setelah dia wamil biarin orang Lo aja selingkuh," celetuknya tidak suka.
"Ett jangan dong Oppa Lee min ho kan, gak akan tergantikan, emang kenapa sih bagi-bagi bahagia nya gue kan selama ini sedih terus gara-gara Oppa gue pergi wamil," lirih Jennie meminta agar dirinya bisa berselingkuh dengan Oppa Song Joong Ki.
"Yah kan jadi ribut, udah-udah Oppa Song Joong Ki buat gue aja yah," celetuk Jisso tidak merasa berdosa atas ucapannya.
Dengan sikap bercanda Lisa mendorong bahu Jisso, "Eh anak bawang udah berani ambil pacar orang, udah deh kalian tuh yah kan udah punya pasangannya masing-masing masa iya mau merebut Oppa gue sih?" Wajah Lisa begitu marah.
Jennie memegang kedua bahu Lisa dari belakang, "Syutt udah gak usah dilanjutin mari duduk dulu gue ambilkan minum yah, kita tunggu Rose datang baru nonton Drakor bersama," katanya meleraikan perdebatan kedua sahabatnya.
Mereka bertiga akhirnya duduk di ruang tengah, tampak televisi 325 inch membuat Lisa dan Jisso terkejut karena baru saja melihatnya.
Rumah Jennie begitu luas, dan banyak foto-foto Jennie dan keluarga yang tertempel di dinding bahkan ada foto masa kecil Jennie yang begitu imut dan eksis.
Lisa memandang foto Jennie sembari senyum-senyum sendiri, "Ternyata Lo dari dulu udah suka selfie ya Jen," ujarnya memberikan kesimpulan.
Jisso ikut memandang sekitarnya, "Orangtua ka Jennie pergi ke Singapura terus ka Jennie tinggal sendiri di rumah?"
Jennie datang sembari membawa minuman jus jeruk untuk sahabat-sahabatnya. "Kalian kepo banget sih lihat-lihat foto gue segala, malu tau." Setelah meletakkan jus di meja Jennie menjawab pertanyaan Jisso, "Gue tinggal sendiri tapi semalam Jihyo menginap di rumah ini," katanya tanpa menjelaskan kejadian Jihyo kepada para sahabat-sahabatnya, dia hanya menjaga jaga takut pandangan Lisa dan Jisso jadi negatif setelah mendengar ceritanya.
Meski Jennie tahu jika semalam Jihyo hanya dijebak oleh pacar sahabatnya yang diam-diam menyukai Jihyo tapi tetap saja, dengan Jihyo menyetujui pergi ke tempat itu pasti semuanya akan berpikiran negatif.