SIMPANGAN RASA
Memelukmu Terakhir Kali
“Kamu yakin dengan keputusanmu ini?” Bu Rahmi memandang lekat wajah Bagas. Putra satu-satunya itu memutuskan untuk mengajukan pindah ke kantor cabang di Bandar Lampung. Bu Rahmi tahu, Bagas pasti ingin menghindar dari Rayu.
“Bagas yakin Ma. Toh Bandar Lampung – Jakarta kan dekat Ma. Bagas masih bisa sering pulang ke sini.” Jawab Bagas sambil mengemasi beberapa barangnya. Lima hari lagi Bagas baru akan pergi. Namun dia memilih untuk menyiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari.
Bu Rahmi menarik nafas panjang. Ucapan Bagas tidak bisa sepenuhnya dia percaya. Bagas tak mungkin akan sering pulang. Malah bisa saja dia menghabiskan waktunya hanya untuk kerja dan kerja. Bertahun-tahun Bu Rahmi melihat bagaimana anak sulungnya itu berjuang untuk Rayu hingga mereka bertunangan. Ketika pertunangan mereka harus berakhir, tentu saja bukan hal yang mudah bagi Bagas.
Perempuan paruh baya itu tentu saja kecewa dengan keputusan Bagas yang memilih mundur dan Rayu yang tidak berusaha mempertahankan hubungan mereka. Namun, suaminya menyadarkan Bu Rahmi bahwa mereka sebagai orang tua tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam urusan jodoh.
“Biarkan mereka memutuskan dan menjalani konsekuensi atas keputusan mereka Ma. Kita hanya bisa mendoakan. Mama juga jangan pernah membenci Rayu. Kita sudah mengenal Rayu sejak mereka remaja. Kita juga sudah menganggap Rayu seperti anak kita sendiri. Papa tidak mau hubungan kita dengan keluarga Rayu menjadi renggang hanya gara-gara mereka tidak jadi menikah.” Pak Imran menasehati istrinya saat Bagas mengatakan bahwa dia mengakhiri pertunangannya dengan Rayu.
Bu Rahmi bersyukur memiliki suami seperti Pak Imran. Bisa menyikapi semua masalah dengan sangat bijaksana. Apalagi saat mereka bertemu dengan keluarga Rayu dan kedua belah pihak bisa menerima keputusan anak-anak mereka dengan lapang dada.
Selepas Bagas mengatakan kalau hubungannya dengan Rayu telah berakhir, Pak Imran langsung mengajak mereka menemui keluarga Rayu. Mengembalikan Rayu pada keluarganya secara baik-baik.
“Kamu hati-hati di sana ya Nak. Jangan bertindak gegabah apalagi melakukan hal-hal yang akan mencoreng namamu sendiri.” Bu Rahmi mengusap sayang kepala Bagas.
“Iya Ma. Bagas sudah dewasa Ma. Bagas tahu harus melakukan apa.”
“Di mata Mama, kamu tetap anak kecil Mama. Jangan mencari pelampiasan yang akan merugikan kamu ya Nak.”
Bagas memeluk erat Bu Rahmi. Mencari ketenangan sekaligus kekuatan dari cinta pertamanya itu.
***
Koridor rumah sakit tampak lengang. Bagas berjalan perlahan menuju ruangan tempat Bintang di rawat. Sesekali Bagas menghentikan langkah. Ada ragu yang kerap berkecamuk dalam dadanya.
Kemarin Bagas menghubungi Rayu. Awalnya hanya ingin menanyakan kabar Bintang. Lalu muncul begitu saja ide untuk menjenguk Bintang dan melihat keadaan Rayu. Bagaimanapun, Bagas tak pernah bisa membenci Rayu. Cintanya begitu besar hingga tak mampu terkalahkan meski oleh rasa kecewa.
Bagas berpikir, mereka bertemu sebagai sahabat baru kemudian berlanjut dengan status pacar dan tunangan. Jika akhirnya status mereka harus kembali berubah, Bagas ingin mereka berakhir seperti semula. Sebagai sahabat.
Perlahan Bagas mengetuk kamar yang ditempati Bintang. Tak ada jawaban. Akhirnya Bagas memberanikan diri langsung masuk. Di sana hanya ada Bintang seorang diri.
“Sendirian?” Tanya Bagas.
“Tadi ada Rayu. Sekarang sedang makan siang dengan Mas Ferdian. Kamu sama siapa?” Bintang balik bertanya.
“Aku sendiri. Gimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?”
“Jauh lebih baik. Terima kasih ya untuk semuanya.”
“Maksudmu?”
“Aku tahu kamu berat melepaskan Rayu. Tapi aku sangat berterima kasih kamu mau melepaskan dia untukku.”
“Nggak usah kamu pikirkan. Aku hanya ingin Rayu bahagia. Jangan pernah kecewakan dia. Apalagi menyakitinya.” Bagas memberikan tekanan pada kalimatnya.
“Aku janji akan membuatnya bahagia. Aku benar-benar berhutang banyak padamu. Meski aku tidak pernah mengalaminya, tapi aku tahu bagaimana sakitnya harus memutuskan ikatan pertunangan. Padahal tinggal selangkah lagi untuk kalian bisa bersama.” Bintang berkata lirih.
“Sejak pertama bertemu Rayu, kamulah tujuan hidupnya. Tidak pernah ada satupun lelaki yang bisa menggantikan posisimu di hati Rayu. Termasuk aku. Meski akhirnya dia mau menerima hubungan yang aku tawarkan, tetap saja keberadaanmu tidak dapat aku gantikan. Kalau boleh bicara jujur, aku kecewa dengan takdir yang tidak berpihak padaku. Aku berpikir, setelah proses tunangan, semuanya akan jadi lebih mudah. Tinggal selangkah lagi aku bisa menjadikan Rayu sebagai istriku.” Bagas mulai mengeluarkan keluh.
“Aku benar-benar minta maaf. Tidak ada sedikitpun niatku untuk merebut Rayu darimu. Semua terjadi begitu saja. Bahkan aku sudah berusaha menghilang dari kehidupannya ketika aku tahu dia sudah bertunangan.” Bintang pun menyesali semua yang terjadi padanya dan Rayu.
“Sudahlah bro. Tidak ada yang perlu disesali lagi. Ini sudah menjadi bagian dari takdir kita. Tolong hargai keputusanku dengan janjimu yang akan selalu menjaga Rayu dan membuatnya bahagia. Jangan buat dia menangis karena kesedihan. Berjuanglah. Lawan penyakitmu agar bisa menemani Rayu dan membangun impian kalian. Aku akan bahagia asalkan Rayu bahagia.”
“Aku janji akan memberikan yang terbaik untuknya.”
“Andai aku mendengar sekali saja kamu mengecewakan dia, akulah orang pertama yang akan menemuimu dan menghajarmu.” Bagas menepuk bahu Bintang. Lalu keduanya tersenyum penuh makna. Ada janji dalam senyum Bintang untuk menjaga Rayu, ada janji dalam senyum Bagas untuk memastikan bahwa Rayu akan baik-baik saja. Lalu keduanya pun sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tak lama, terdengar pintu kamar dibuka. Tampak Rayu bersama Ferdian memasuki ruangan. Keduanya terkejut melihat Bagas dan Bintang sedang bersama.
“Kamu di sini? Sejak kapan?” Tanya Rayu pada Bagas.
“Mungkin sekitar lima belas menit. Bisa kita bicara di luar? Bin, boleh aku meminjam Rayu sebentar?” Bagas bertanya pada Bintang.
“Tentu saja. Silahkan kalian bicara sepuas kalian.” Bintang tersenyum memberikan izin.
“Permisi Mas Ferdi, saya mengajak Rayu sebentar.” Bagas pamit pada Ferdian tanpa menunggu jawaban Rayu.
Bagas melirik Rayu. Memberi kode agar perempuan itu mengikutinya ke luar. Rayu pamit kepada Bintang dan Ferdian lalu menyusul Bagas yang sudah lenyap di balik pintu kamar. Mereka berjalan bersisian dalam diam menuju taman belakang rumah sakit. Ada tempat nyaman untuk pasien atau keluarga pasien yang ingin istirahat sejenak atau sekedar menghirup udara segar.
Bagas mengajak Rayu duduk di bangku paling ujung. Lumayan tersembunyi dari lalu lalang orang. Rayu pun duduk di samping Bagas.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Rayu bertanya memecah keheningan.
“Bolehkah aku memelukmu? Sebentar saja.” Bagas memohon.
Untu beberapa saat Rayu diam mencerna ucapan Bagas. Lalu dia mengangguk sebagai jawaban.
Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Rayu. Dia langsung memeluk Rayu erat. Sangat erat seolah mereka tidak akan bertemu kembali.
“Gas, aku tidak bisa bernafas.” Rayu tersengal karena nafasnya mulai terasa sesak.
“Maaf. Aku hanya ingin memelukmu. Mungkin ini pelukan terakhirku.” Jawab Bagas lirih.
“Maksudmu?” Rayu mencari jawaban di kelam mata Bagas.
Namun Bagas hanya diam dan kembali memeluk Rayu.
***