SIMPANGAN RASA
Ya, Aku Bagas
“Suami lo?” Dion bertanya ketika melihat Rena fokus melihat layar handphonenya.
“Nggak. Dia Cuma nanya gue ada di mana. Nih udah gue bales dan gue bilang aja lagi di luar.” Jawab Rena tak acuh. Sepertinya topik tentang Bagas sangat tidak seru kalau dibicarakan di depan Dion.
“Jangan-jangan di lagi di Jakarta. Makanya dia tanya lo ada di mana.” Tebak Dion.
“Nggak mungkin. Ini hari kerja, bukan weekend. Hal yang mustahil kalo dia cuti tanpa ada alasan yang bisa masuk akal.” Rena menjawab yakin.
“Lo nggak merasakan sesuatu yang aneh? Bukannya lo pernah bilang kalau dia nggak perna hubungin lo duluan ya?” Dion masih sibuk dengan pikirannya yang tidak tenang. Dia merasa ada sesuatu yang aneh tapi tidak tahu apa.
“Udah nggak usah bahas dia. Ngapain sih mikirin dia? Kita di sini kan mau liburan. Mau senang-senang. Gue udah penat banget.”
“Sori.” Dion menjawab pendek.
Mereka menikmati makanan yang sudah dipesan. Sesekali Dion menggoda Rena dengan mencium beberapa bagian tubuh Rena yang bisa dijangkaunya. Rena berusaha menepis wajah Dion. Meski dia sendiri menikmati perlakuan lelaki itu, tapi ini di tempat umum. Rena merasa nggak enak ketika beberapa pasang mata memperhatikan mereka sejak tadi.
“Dion, tolong itu bibir dikondisikan. Gue malu.”
“Apa kita langsung balik ke vila aja?”
“Ya ampun, kita belum satu jam di sini, lo udah ngajak ke vila lagi?” Rena tahu sekali apa yang akan dilakukan Dion jika mereka sampai vila.
“Siapa tahu lo lebih suka gue kurung di kamar daripada keluyuran di luar.”
Mereka diam dan memilih sibuk menikmati pesanan yang yang telah datang. Tanpa Dion sadari, raut muka Rena agak berubah. Entahlah, Rena merasa ada yang salah dengan pesan Bagas yang baru saja diterimanya. Kata-katanya memang biasa saja, yang luar biasa itu adalah Bagasi mengirimkan pesannya duluan dan menanyakan dia ada di mana. Berbulan-bulan mereka menjadi suami istri, baru kali ini Bagas ingin tahu keberadaannya.
“Lo cinta sama suami lo?” Suara Dion terdengar bergantian dengan denting suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring.
“Apa pentingnya buat lo?” Rena malah bertanya. Meski mukanya tampak datar, namun jelas sekali suara itu terdengar sinis.
“Gue cuma memastikan aja. Gue cinta sama elo. Gue nggak mau lo sama yang lain.”
“Kalau lo cinta, kenapa nggak lo nikahin gue aja. Lo bajingan Dion. Udah abis gue lo kobok-kobok, tapi lo nggak pernah sekalipun ngajak gue nikah.”
“Gue bukan nggak mau nikah sama lo Ren. Cuma waktunya belum pas.”
“Banyak alesan lo.”
“Terus gimana perasaan lo ke suami lo?” Dion masih merasa penasaran.
“Gue cinta sama dia.” Rena menjawab lirih.
“Lo cinta sama dia, tapi kenapa lo masih mau berhubungan sama gue?”
“Bagas nggak bisa memuaskan gue. Sejak nikah, dia nggak pernah sama sekali memenuhi nafkah batin ke gue. Terus lo datang. Bohong kalau gue nggak pengen menyalurkan hasrat gue. Kita udah begitu bebas waktu di Australia dulu.”
“Jadi gue cuma pelampiasan lo aja?”
“Udah deh lo nggak usah munafik. Lo nyari gue juga bukan karena cinta kan? Karena lo butuh badan gue aja buat lampiasin hasrat lo. Kita sama-sama nggak rugi kan?”
“Gue nggak nyangka lo punya pikiran begitu.”
“Apa perlu gue bilang, elo yang bikin gue jadi begini. Gue balik ke sini, lo nggak nyari gue sama sekali. Gue mau hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, lo selalu menghindar.” Rena mulai meninggikan suaranya.
“Sori. Gue ngaku salah. Terus kapan lo mulai berhubungan sama suami lo?”
“Dia anak temennya nyokap. Gue dikenalin sama nyokap. Bisa dibilang dijodohkan lah. Tapi gue tertarik sama dia, makanya gue nggak nolak disuruh nikah sama dia. Daripada gue nunggu lo nggak pernah ada kejelasan, kenapa nggak gue terima aja yang udah pasti di depan mata gue.”
Kembali mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Rena benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Dion sekarang. Lalu tampak seorang pelayan restoran menghampiri meja mereka.
“Maaf Bu, apa betul saya dengan Bu Rena?” Pelayan itu bertanya sopan. Memastikan kalau orang yang ada di depannya adalah benar Rena.
“Iya, saya Rena. Ada apa ya?”
“Bu Rena mohon bisa ikut dengan saya. Pemilik restoran ingin bertemu dengan Bu Rena.” Jawab pelayan itu.
“Hei, jangan sembarangan. Memangnya kekasih saya ini berbuat apa sampai dipanggil oleh pemilik restoran?” Dion menatap tajam ke arah pelayan di depannya.
“Maaf Pak, saya tidak tahu. Hanya saja saya mendapat perintah dari atasan saya untuk menyampaikan pesan ke Bu Rena. Atasan saya sedang menunggu Bu Rena di ruangannya.”
“Sudah Dion, nggak apa-apa. Aku ketemu bos dia dulu. Aku pikir di sini aman kok. Mungkin dia teman lamaku.”
“Tapi Ren, lo nggak bisa ke sana sendirian. Lo bisa ke sana kalau sama gue.” Dion bersikeras.
“Nggak usah. Gue bisa ke sana sendiri. Lo bisa tunggu gue di sini. Ayo, antar saya ke ruangan bos kamu.” Rena bangkit lalu mengikuti langkah si pelayan yang membawanya ke ruangan pemilik restoran. Dari luar, Rena memang bersikap tenang. Tapi hatinya mulai bergemuruh bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Kenapa dia harus bertemu dengan pemilik restoran?
Rena sampai di salah satu ruangan yang terletak di belakang restoran. Posisinya yang tersembunyi menyebabkan tidak semua orang dapat melihat ruangan itu. Perlahan, Rena membuka pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Ruangan itu lumayan luas. Ada partisi yang menjadi pembatas antara pintu dan meja kerja di dalam. Dari tempatnya berdiri Rena tidak bisa melihat sosok yang sedang duduk di dalam. Rena mengayun kakinya melewati partisi. Tampak dua orang sedang duduk di sofa merah yang ada di balik partisi itu. Kaki Rena membeku. Mulutnya tiba-tiba saja kelu.
Di sana, di sofa itu, Rena melihat Bagas sedang duduk dan menatap lekat ke arahnya. Rena tidak mengenal orang yang ada di samping Bagas. Dia tidak peduli. Otaknya langsung dipenuhi berbagai pertanyaan kenapa Bagas bisa ada di sini? Apa saja yang sudah dilihat Bagas? Apa Bagas tahu kalau dia ke sini bersama Dion? Semua berkecamuk seakan menghantam kepala Rena.
“Hai Ren. Ngapain berdiri di situ? Kamu nggak kangen sama suamimu?” Bagas menyunggingkan senyum yang terasa mencemooh bagi Rena.
“Gas?” Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Rena. Tubuhnya masih tegak laksana patung.
“Ya, aku Bagas. Suami kamu. Masa kamu tidak kenal sama suami sendiri?” Bagas kembali menekankan kata suami yang diucapkannya.
***